Rona

Rona
eps . 78



rembulan telah berganti menjadi matahari yang telah menyapa pagi yang sunyi dan masih dapat tercium bau tanah basah dari akibat hujan kemarin malam . kini pancaran matahari menebus lapisan jendela kaca , sehingga membangunkan seorang wanita terbangun dari tidurnya . perlahan mata terbuka akibat pacaran matahari yang menyilaukan matanya .


Namun , betapa terkejutnya dirinya ketika melihat wajah pria yang merupakan suaminya berada dihadapannya . sehingga dia mengira ini hanya mimpi , tapi ketika dia mengingat kejadian semalam membuat mengerti . kenapa pria ini ada di hadapannya , tidur bersama dalam satu ranjang dan satu kamar .


" tampang , tapi ... apa benar yang kemarin itu dia ? apa kemarin malam dia salah makan obat ? " dalam hati wanita yang tak lain adalah Dina , Dina hanya bisa menerka dengan apa yang terjadi kemarin malam . dia merasa heran , mengapa sikap pria dingin yang merupakan suaminya mau meminta maaf dan bahkan tutur kata yang terucap begitu lembut terdengar di telinganya


Dina pun berusaha melepaskan tangan suaminya dari perutnya dengan pelan . tapi bukannya terlepas , Mala semakin erat . membuatnya kembali menatap wajah suaminya , dan sungguh terkejutnya Dina . saat tau jika mata yang kian tertutup rapat , kini sudah terbuka lebar . bahkan sorot mata suaminya tidak terasa dingin atau pun tajam .


" aku tidak akan melepaskan mu , sebelum kamu mau memaafkan aku " ujar suaminya yang tak lain adalah Diyan , Diyan sejak tadi sudah terbangun . tapi dia sengaja melakukan ini dan tak tau mengapa hal yang dia lakukan membuatnya merasa tenang . seakan sangat nyaman bila hanya memeluk tubuh ramping istrinya


" lepas " pinta Dina dengan nada kesalnya sambil berusaha melepaskan tangan kekar yang masih melingkar di perutnya


" tak akan "


" harus "


" sepertinya aku harus melakukan sesuatu " kata Diyan dengan menyeringai di bibirnya


" apa yang akan kau lakukan ? " tanya Dina dengan perasaan was-was


Diyan dengan secepat kilat menarik tubuh Dina dalam dekapannya , kemudian dia langsung menempelkan bibirnya di bibir ranum yang sejak tadi menggodanya dan hal ini membuat Dina terkejut dengan mata yang terbelalak . namun , perlahan Dina terlena dengan sebuah benda kenyal yang merasa manis di bibirnya . karena Diyan melakukannya dengan lembut , sehingga Dina dapat merasakan desiran aneh .


" apa masih tak ingin memaafkan ku ? " tanya Diyan , setelah melepaskan pangutan bibirnya terhadap istrinya


Dina tak mampu berkata , karena perlakuan dadakan dari Diyan dan bahkan tatapan mata tak percaya terlihat di sorot matanya . menatap wajah suaminya yang kemarin malam menyakitinya dan kini masih berusaha meminta maaf dengan cara yang sungguh tak terduga olehnya .


" sepertinya ... aku harus melakukannya lagi " kata Diyan lagi , karena Dina hanya diam menatapnya


" lepas , bila kau ingin ku maafkan " ketus Dina , setelah sadar dari pikirannya


" emm baiklah "


Diyan pun melepaskan pelukannya , dan dengan cepat Dina bangkit dari baringannya . kemudian dia langsung melangkahkan dengan cepat memasuki kamar mandi , bahkan pintu kamar mandi yang di tutup terdengar nyaring . sedangkan Diyan menggerutuki kelakuannya , yang entah mengapa bisa dengan mudah dia lakukan terhadap Dina yang merupakan istrinya .


" kenapa aku bisa melakukan itu ? ya ... ampun Diyan , sungguh bodoh diri mu . apa tak adakah cara lain untuk kau meminta maaf ? " cecar Diyan , menolog dirinya sendiri dengan kesal


sedangkan Dina berusaha untuk menetralkan detak jantungnya yang terasa begitu cepat sambil dirinya menatap cermin di wastafel kamar mandi .


" sungguh ini bukan dirinya " ucap Dina menatap kaca , tapi tanpa sadar tangan kanannya menyentuh bibirnya


" bahkan untuk yang pertama kali bagi ku , dia telah mengambil ciuman pertama ku . ya Tuhan ... jika ini mimpi , maka segera bangunlah Dina " ujar Dina pada dirinya sendiri , merasa tak percaya dengan apa yang terjadi barusan


Dina pun memilih untuk membersihkan dirinya , dari pada larut dalam hal yang baru saja dia alami . setelah Dina selesai mandi , dia langsung keluar dengan baju tidur yang berbeda . karena Dina sengaja menyediakan baju tidur di kamar mandi , dan untungnya sangat berguna untuk saat ini .


" dimana dia ? " ucapnya setelah keluar dari kamar mandi dan tak menemukan Diyan di kamarnya lagi


Dina pun memilih untuk melakukan kewajiban sebagai seorang istri , yaitu menyediakan baju ganti untuk suaminya dan kebetulan Diyan sudah berada di kamar mandi . sehingga memudahkannya untuk menyediakan baju ganti suaminya , kemudian melanjutkan untuk membuat sarapan pagi .


" kali ini sarapan apa ? " tanya seseorang yang tak lain adalah suaminya


" kau lihat saja " jawab Dina acuh Tampa menatap suaminya


" apa kamu masih marah ? " tanya Diyan sambil menatap wajah cantik Dina


" entahlah "


Diyan hanya bisa menghela nafas , mungkin memang sulit untuk memaafkan dirinya dan kini akhirnya mereka berdua sarapan bersama dalam keheningan , hanya dentingan piring dan sendok yang menemani keheningan di antara mereka berdua . walau pun sudah terbiasa dengan kebiasaan ini , tetapi ada rasa kecanggungan karena masih mengingat kejadian di kamar tadi .


" hari ini kamu mau kemana ? " tanya Diyan pada Dina , setelah meneguk habis air minumnya . karena dirinya telah selesai sarapan , sedangkan Dina masih tetap diam walau pun dia juga sudah selesai makan


Dina menghiraukan Diyan , dan bahkan Dina mengagap Diyan tak ada di dekatnya . dengan santai dia membersihkan meja makan dan kemudian mencuci peralatan dapur yang kotor serta piring bekas makan . sedangkan Diyan hanya tetap duduk di kursinya , dan belum beranjak dari tempatnya .


" Dina " panggil Diyan , saat Dina ingin melangkah memasuki kamarnya


" apa " sahut Dina tanpa menatap wajah Diyan


" kemas baju mu " pinta Diyan , dan sontak Dina menatap wajah suaminya itu . kini Dina dapat melihat bila suaminya tidak memakai baju yang dia sediakan dan Dina dapat mengartikan bila suaminya tidak berkerja hari ini . karena Diyan memakai pakaian santai


" buat apa ? " tanya Dina dengan sorot mata dinginnya , membuat Diyan terkejut mendapatkan tatapan dingin dari istri . tapi Diyan tetap masih bisa menunjukkan wajah datarnya


" kita akan liburan selama 2 hari "


" terserah "


Dina melanjutkan langkahnya menuju kamar dan langsung mengemas beberapa baju ke dalam kopernya yang berwarna pink . sedangkan Diyan juga melakukan hal yang sama , Diyan sudah meminta cuti pada atasannya selama 3 hari . karena hari ini dia juga tidak akan kerja , karena dia sudah merencanakan untuk berliburan bersama istrinya .


" Dina " pekik Diyan dengan menenteng koper di tangan kirinya , yang kini dirinya sudah menunggu Dina di ruang tamu .


Dina pun datang dengan mengerek kopernya mendekati Diyan . tapi , tak di sangka oleh Dina , jika Diyan mengambil koper dari tangannya dan mau membawakannya . Dina pun mengikuti langkah Diyan yang keluar rumah dan terlihat Diyan sedang menyimpang koper ke dalam bagasi mobil .


" ayo , masuk " seru Diyan menatap Dina yang hanya diam berdiri mematung


Dina pun masuk mobil , sedangkan Diyan melangkahkan kakinya mendekati pos satpam dan Dina memerhatikan itu dari lapisan kaca depan mobil . selang beberapa menit Diyan pun masuk kedalam mobil dan kemudian menyalakan mobil serta langsung melajukannya meninggalkan perkarangan rumah.


" apa kamu tak ingin bertanya ? kita mau kemana ? " ujar Diyan memulai pembicaraan , setelah lama keheningan melanda diantara dirinya dengan istrinya


" kemana ? " tanya Dina acuh


" kenapa ke sana ? " tanya Dina lagi dengan perasaan terkejut dan bahkan dia sudah sudah menoleh menatap wajah suaminya


" nanti kamu bakal tau "


" terserah "


Dina pun kembali acuh , dan sepertinya hal ini terbalik . kini Dina yang terlihat dingin dan acuh , sedangkan Diyan mencoba untuk bersabar dan mengerti dengan sikap istrinya .


Bandung merupakan tempat tinggalnya dulu bersama Diyan dengan orang tuanya . di Bandung adalah masa-masa indah , dimana tempat Dina dan Diyan tubuh besar bersama . menjadi teman , dan saudara yang saling membutuhkan . namun , entah apa yang membuat orang tua Diyan pindah ke Jakarta , sehingga Dina tentu harus ikut bersama orang tua Diyan . karena Dina hanya punya orang tua Diyan yang dianggap sebagai orang tuanya sendiri .


karena itu lah Dina terkejut , dan bertanya-tanya . mengapa Diyan memilih tepat liburan di Bandung ? apa ingin bernostalgia dengan masa kecil mereka dulu ? masa-masa indah yang penuh dengan kebahagiaan . Dina tak tau apa jawabannya , walau dia menebak . tapi dia belum yakin dengan jawabannya , karena dia masih belum mengerti dengan sikap Diyan yang merupakan suaminya selama 6 bulan ini .


matahari kini sudah semakin terasa akan panasnya , menandakan hari sudah siang dan bertepatan dengan mobil yang di tumpangi Diyan dan Dina sudah berhenti di rumah lama mereka yang terbuat dari kayu dengan tanaman sekitarnya yang masih terlihat indah . membuat Dina teringat masa kecil , masa dia dan Diyan selalu bermain di teras rumah .


" Dina " panggil Diyan yang ternyata sudah berdiri di pintu rumah kayu , dan sontak Dina terkejut yang masih berada di dalam mobil


Dina pun keluar dari mobil dan tak lupa menutup pintu mobil kembali . kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah yang telah lama dia tinggal , dan ternyata semua barang - barang masih berada pada tepatnya . tak ada yang berubah , dan tanpa di sadari oleh Dina bila bulir kristal sudah jatuh dari mata indahnya .


" kenapa menangis ? apa kamu tak suka , bila kita tinggal disini ? " cecar Diyan yang tiba saja bersuara , membuat Dina dengan cepat menghapus air matanya yang telah membasahi pipinya


" aku suka " jawab Dina pelan , tapi masih dapat di dengar Diyan . karena Diyan berdiri di samping Dina , dan tentunya Dina tak menyadari Diyan yang berada disampingnya


" baguslah , kalo kamu suka " ucap Diyan yang langsung memeluk Dina dan membuat Dina sungguh terkejut dengan perbuatan Diyan yang secara tiba-tiba


" lakukan apa yang kamu mau , aku akan membelikan makanan untuk kita berdua " kata Diyan lagi , setelah melepas pelukannya terhadap Dina


" belanja keperluan saja , biar aku yang masak " sahut Dina , saat Diyan melangkah ke arah mobil . Diyan pun berbalik badan dan menatap Dina


" baiklah nyonya " jawab Diyan dengan senyuman , membuat Dina semakin heran dengan sikap Diyan yang berubah dalam satu malam


Diyan pun pergi meninggalkan Dina di rumah yang akan mereka tempati selama dua hari ini . sedangkan Dina , dia tak tau dengan perasaannya . apakah dia harus senang kerena perubahan sikap Diyan terhadapnya ? atau dia harus tetap pada pendiriannya , yaitu bersikap dingin dan acuh terhadap Diyan ? sungguh Dina merasa bimbang dengan perasaannya .


" terserah dialah mau apa , aku tak perduli . aku tak ingin lagi merasa tersakiti , jadi memang lebih bagus bukan ? jika aku bersikap dingin padanya ? " ujar Dina , menolog dirinya sendiri . walau masih ada sedikit keraguan dengan keputusan yang dia perbuat


Dina melangkahkan kakinya keluar rumah menuju di samping rumah yang terdapat ayunan yang terbuat dari papan kayu serta tali yang tergantung pada ranting pohon yang besar yang masih kokoh . padahal pohon itu sudah sangat lama dari dirinya masih kecil dulu . Dina pun duduk pada papan kayu , dan berpegangan pada tali yang masih dapat menahan berat tubuhnya .


" disini aku merasa bahagia bersama dengan Diyan , yang dulunya dia memanggil dengan sebutan kakak . aku dan dia terlihat sangat bahagia , bermain sesuka hati . melakukan sesuatu yang konyol , tapi kenapa ketika kami dewasa . aku dan dia harus terjerat dalam hubungan ini ? hubungan yang tak pernah ku pikirkan , aku hanya berpikir bila Diyan selalu ada untuk ku dan bahkan Diyan terlihat berubah, dia menjadi sangat dingin dan cuek terhadap ku. Padahal aku hanya menginginkan dia menjadi teman tempat ku berbagi suka dan duka . tapi ... sudahlah , semua hanya bisa menjadi khayalan dan bahkan aku tak tau . haruskah aku melanjutkan hubungan ini ? atau harus mengakhiri hubungan pernikahan ku dan dia ? sungguh ... aku tak tau harus apa ? aku hanya bisa berharap pada jalan takdir " jelas Dina dengan senyuman getir menatap kedepannya , bahkan sekelebat kenangan kecilnya terbayang di depan matanya . membuat senyumnya semakin mengembang , senyum bahagia dengan sorotan mata yang berkaca-kaca


Dina masih sibuk mengingat kenangan indah di masa kecil dengan Diyan . sampai akhirnya terdengar suara yang memanggil dirinya .


" Dina " panggil seseorang yang ternyata suaminya yang berjalan mendekat ke arahnya


" kenapa ? " tanya Diyan saat melihat Dina meneteskan air mata


" aku hanya sedang mengingat masa kecil ku " jawab Dina seadanya tanpa menatap wajah Diyan dengan tatapan mata yang berkaca-kaca


Diyan yang mendengar itu tersenyum , ini lah yang dia inginkan . Dina mengingat masa-masa indah , di saat kebersamaan mereka dulu yang masih kecil sampai remaja . Diyan kemudian melangkah lagi dan berdiri di depan Dina . setelahnya dia langsung bersujud di hadapannya Dina dengan sebuah kota kecil berwarna biru yang berada di tapak tangannya . membuat Dina sangat terkejut melihat Diyan yang bersujud di hadapannya .


" apa yang kau lakukan ? " tanya Dina pada Diyan , kemudian kepala celingukan melihat sekitarnya yang ternyata sangat sepi


" Dina duduklah " pinta Diyan lembut , Dina pun nurut seakan terhipnotis dengan permintaan Diyan yang merupakan suaminya


" Dina ... aku sengaja membawa kamu ke Bandung , aku ingin kamu mengingat kenangan indah kita di rumah ini . karena ku ingin mengatakan ... aku akan menerima pernikahan ini , walau ku tau usia ku lebih mudah dari mu dan ya . hanya perbedaan satu tahun " jeda Diyan dengan terkekeh geli " tapi ... Aku ingin memulai hubungan kita dari awal , aku ingin kamu teman kecil ku selalu berada di dekat ku . aku akan melakukan apa pun untuk membuat mu senang , aku akan berusaha merubah diri ku untuk mu dan maafkan kesalahan ku selama ini yang dingin pada mu . Dina ... izinkan aku menjadi suami mu , aku akan belajar untuk mencintai mu . Dina ... mau kah kamu hidup menua bersama ku sampai maut memisahkan kita " jelas Diyan dengan yakin , dengan senyuman yang masih menghiasi wajah tampannya


Dina yang mendengar itu merasa tersentuh , dia tidak menduga jika harapan dan doanya terkabulkan secepat ini . bahkan kristal bening jatuh begitu saja , karena rasa haru yang menyelimuti hatinya . mungkin saatnya telah tiba untuk dirinya dan Diyan untuk menjalan pernikahan ini seperti suami istri lainnya .


" apa kamu bersungguh-sungguh dengan perkataan mu ? " tanya Dina memastikan sambil menatap netral dalam mata Diyan , tapi disana dia menemukan ketulusan dan tidak ada sedikit pun keraguan


" jika kamu meragukan ku ... beri aku waktu , aku akan tunjukkan " jawab Diyan yang masih pada posisinya


" aku beri kamu waktu sebulan " kata Dina , setelah berpikir dan memutuskan hal yang dia katakan terhadap Diyan


" baiklah . izinkan aku memakaikan isi kotak ini , tapi kamu harus menutup mata " ujar Diyan dan Dina pun menuruti , dia langsung menutup matanya dengan perlahan


kemudian Diyan berdiri dari sujubnya , setelahnya melangkahkan kakinya kebelakang Dina . Diyan membuka kota kecil yang berwarna biru dan terlihatlah sebuah kalung emas yang berbandul huruf D dengan berlian yang menghiasi di pinggirannya . Diyan pun langsung memakaikan kalung berbandul D di leher Dina . setelahnya , dia kembali berdiri di hadapan Dina , dia sedikit membungkukkan tubuhnya .


Cup


sebuah kecupan sekilas di bibir Dina , dan sontak membuat Dina membuka mata lebar-lebar . merasa terkejut dengan perbuatan Diyan yang selalu tak terduga , tapi Diyan hanya menunjukkan senyum simpulnya . membuat Dina semu merah , dan Dina langsung memalingkan wajahnya .


" aku sudah lapar " seru Diyan untuk mengganti suasana yang terasa canggung , karena dia dan Dina hanya diam sejak beberapa menit


" ya... Uda , ayo masuk kalo gitu " sahut Dina dengan senyuman yang kembali terukir di wajah cantiknya


Dina pun berdiri , kemudian melangkahkan kakinya . tapi , tiba saja sebuah tangan terpaut dengan tangannya . bahkan sela jemarinya terisi penuh , membuat dia hanya terdiam dengan perlakuan Diyan yang selalu dadakan .


" waktunya sebulan ... aku pasti bisa . Diyan , kamu harus bisa belajar mencintai istri mu dan menunjukkan padanya , jika kamu bersungguh-sungguh dengan yang kamu katakan . karena aku tak ingin lagi di tinggal pergi oleh seorang wanita , cukup sekali dan tidak yang kedua kali . Dina ... ku harap , kamu juga tak akan meninggalkan ku " dalam hati Diyan , menyemangati dan meyakinkan dirinya sendiri. Walau dia merasa ragu sedikit keraguan di hatinya, tapi dia mencoba menepis keraguan yang bergelut di hatinya


" mari ku lihat , sampai mana usaha mu . mampukah kamu meluluhkan hati ku ? dan aku juga akan melihat kesungguhan mu ... tapi jangan salahkan aku . jika aku akan mengerjain mu , walau aku sudah melihat ketulusan mu. Karena aku sangat ingin tau , bagaimana seorang dokter Diyan yang dingin bisa dapat berubah dan meluluhkan hati seorang wanita " dalam hati Dina tersenyum senang dengan rencananya yang akan dia perbuat untuk suaminya


Diyan yang melihat senyuman istrinya , merasa senang , dia berpikir jika yang dia lakukan hari ini membuat Dina senang . namun , dugaan Diyan salah dan yang sebenarnya . Dina lagi memikirkan cara untuk mengerjain atau membalas dirinya dengan sesuatu yang tidak akan dia duga nantinya


...Bersambung...