
sementara di tempat lain , di sebuah perkampungan yang sangat sejuk dan asri , serta juga tak ada polusi seperti di kota . membuat seorang wanita merasa senang menikmati udara segar di perkampungan yang baru dia pijaki . bahkan dia sampai menutup matanya dan merentangkan kedua tangannya untuk merasakan angin yang masih terasa berhembus di sore harinya .
" Calista " panggil seorang pria yang sejak tadi memperhatikan wanita yang kini telah berdiri di hadapannya dengan membelakanginya
" emmm luar biasa " ucap wanita itu yang tak lain adalah Calista dan kini dia langsung membalikkan tubuhnya menghadap pria yang ada di hadapannya
" aku sudah siap ! " seru Calista sumringah pada pria tampan yang ada di hadapannya
" baiklah tuan putri ... mari ikut dengan hamba " sahut pria tampan yang tak lain adalah Basri dengan senyuman berdramatis sambil mengulurkan tangannya kehadapan Calista
" dengan penuh cinta pangeran ku " ujar Calista sambil menerima uluran tangan Basri dengan senyuman senang
Basri pun menuntun Calista ke sebuah rumah dengan berjalan kaki , serta tangan sebelah kirinya membawa sebuah paper bag yang lumayan besar . sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah rumah yang terlihat sederhana , tapi cat hijau yang begitu cerah serta di cat putih sebagai pendampingnya .
" di rumah kamu ? " tanya Calista pada akhirnya , setelah menatap setiap sudut luar rumah yang begitu banyak di tumbuhi macam-macam bunga cantik
" tentu saja sayang ku " jawab Basri dengan lembut sembari senyuman yang tak pudar sejak tadi
Tok tok
Basri langsung mengetuk pintu hijau yang ada di hadapannya sambil mengucap salam dan memanggil orang tuanya .
" assalamualaikum ma pa " ucap Basri berulang kali sampai akhirnya terdengar suara yang bersamaan dengan pintu yang terbuka perlahan
" wa..... Alaikumsalam Basri ! " jawab seorang wanita paru baya yang terlihat sedikit keriput dengan pintu yang sudah terbuka lebar , menatap wajah tampan Basri dengan wajah yang terpancar penuh kebahagiaan , sedih dan terkejut
" ma " panggil Basri langsung memeluk wanita paru baya yang tak lain adalah mamanya
" kamu apa kabar nak ? kenapa tak bilang bila kamu mau pulang ? mama sangat merindukan mu nak ... " tutur mama Basri sambil berlinang air mata karena rasa bahagia dan sedih menyelimuti relung hatinya
" Basri baik ma , Basri juga rindu mama dan maafkan Basri yang tidak memberitahu mama bila Basri pulang " jawab Basri dengan suara bergetar bahkan air bening pun sudah bercucuran di kelopak matanya merasakan hal yang sama dengan mamanya
" Uda . sekarang kamu masuklah , mama akan panggil adik dan papa kamu " kata mama Basri sambil melepaskan pelukannya terhadap putranya
Basri pun masuk ke dalam rumah sambil menarik tangan Calista untuk ikut masuk juga bersamanya . sedangkan Calista hanya bisa menuruti langkah Basri membawanya dengan perasaan yang campur aduk di hatinya .
" kamu duduklah . kamu jangan takut dan rileks aja . orang tua ku tak akan makan kamu ko " ujar Basri dengan tertawa ringan melihat wajah wanita tercintanya yang terlihat aneh dan Calista hanya mengangguk kepala menanggapi perkataan Basri dengan perlahan menarik dan membuang nafas
" kamu mau kemana ? " tanya Calista sambil mengerutkan keningnya menatap Basri yang ingin melangkah pergi meninggalkannya yang duduk sendirian di kursi kayu dan berbahan busa yang terasa empuk di duduki olehnya
" aku ingin menemui papa , kamu tenang saja . sebentar aja ko " jawab Basri menyakinkan Calista dengan senyuman yang sudah kembali terukir di wajah tampannya menatap wanita pujaannya merasa gugup
Calista hanya mengangguk , tapi saat Basri ingin melanjutkan langkahnya . Basri dapat melihat seorang pria paru baya yang terlihat sedikit berkeriput dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya , muncul dari balik kain horden yang menjadi pembatas dengan ruang tamu dan ruang lain .
" Basri ! kamu kah itu nak ? " ucap pria paru baya dengan suara bergetar , bahkan mata yang sudah berkaca-kaca
" ini Basri pa , maaf ... Basri baru pulang sekarang " jawab Basri setelah memeluk pria paru baya yang tak lain adalah papanya
saat putra dan sang papa sedang asik berpelukan melepaskan rindu dalam ke hangatannya yang tiba-tiba terlepas , saat terdengar suara cempreng seorang wanita .
" Abang Basri ! " teriak ke dua wanita yang terlihat masih remaja yang muncul dari balik pintu utama
ke dua wanita itu pun ikut memeluk Basri dengan erat dan Basri dengan senang hati membalas pelukan wanita remaja dalam dekapannya . sedangkan Calista yang duduk diam sejak tadi , hanya memperhatikan saja dengan senyuman haru . melihat sebuah keluarga yang penuh kehangatan dalam saling merindukan .
" Basri " panggil mamanya , sehingga Basri dan kedua wanita remaja pun melepaskan pelukan hangat mereka
" iya ma " sahut Basri manatap mamanya yang berada di samping sang papa tercintanya
" wanita ini siapa ? " tanya mama pada Basri sambil menatap Calista yang terduduk diam sejak tadi dengan senyuman
" dia ... calon istri Basri ma " jawab Basri dengan perasaan was-was , kemudian Basri melangkahkan kakinya menghampiri Calista dan jawaban Basri membuat orang tua dan ke dua wanita remaja pun terkejut
Calista pun berdiri dari duduknya , saat Basri sudah mendekat padanya . sedangkan orang tua Basri terus memperhatikan penampilan Calista secara intens , membuat Calista merasa gugup dan salting karena di perhatikan oleh orang tua dari pria yang mencintainya . sedangkan kedua wanita remaja yang merupakan adiknya basri pun juga memperhatikan Calista yang merupakan calon istri Abang mereka .
Basri pun memperkenalkan keluarganya dan Calista bergantian . kemudian orang tua Basri pun duduk dan Basri juga Calista pun duduk kembali dengan bersebelahan . sedangkan kedua wanita remaja hanya berdiri di belakang orang tuanya .
" Basri ... kenapa kamu tak bilang ? jika kamu akan datang dengan membawa wanita yang akan menjadi istri mu " ujar papa membuka pembicaraan setelah lama terdiam dalam keheningan di ruang tamu yang berukuran sedang
" maaf pa , Basri baru bilang sekarang dan Basri ingin restu papa dan mama " tutur Basri sopan menjawab ujaran sang papa
" emmm baiklah , lagian umur mu juga sudah seharusnya untuk menikah . tapi kapan rencana kalian akan menikah ? " kata papa Basri sambil menatap kedua sejoli yang ada di hadapannya
" rencananya si Minggu depan pa , karena lebih cepat lebih baik " jawab Basri dengan senyuman dalam perasaan berbunga-bunga , sedangkan Calista terkejut mendengar jawaban Basri dan dia hanya diam mendengarkan dan pasrah . karena ini pengalaman pertama baginya , bertemu orang tua dari seorang pria tercintanya
" iya pa iya , Basri tau ko . apa yang harus Basri lakukan ? karena Basri kan anak papa " canda Basri setelah papanya berhenti berbicara
orang tua Basri dan Basri pun saling berbicara untuk rencana pernikahan putra mereka dan Calista juga bersuara bila ada yang bertanya padanya . sedangkan ke dua adik Basri hanya diam mendengarkan , walau dalam hati mereka juga merasa sangat bingung dan terkejut . di tambah lagi orang tua Basri tau , bila Calista ternyata wanita kaya yang memiliki perusahaan dan saat itu lah orang tua Basri dan adik Basri merasa ragu dan tak enak hati . karena mereka dari kalangan sederhana yang tinggal di perkampungan .
" ibu tak perlu begitu , saya mencintai putra ibu dan saya menyukai sikapnya dan bukan kasta " kata Calista menyakinkan orang tua Basri dan Basri tersenyum mendengar perkataan Calista
" baiklah , mama cuma ingin ... putra mama bahagia dan mama sangat bersyukur bila putra mama sudah menemukan pendampingnya " ujar mama Basri dengan senyuman Hangatnya menatap wanita cantik di samping putranya
" ma pa dan kedua adik ku . besok ikut Basri ya ? ke Jakarta . karena tak mungkinkan Basri nikah tanpa ada ma dan papa " tutur Basri
" pasti dong Abang ku dan semoga kak Calista tidak meninggalkan Abang ku yang jelek " celoteh Zira dengan nada bercandanya , membuat Basri mendengus kesal dan yang lainnya hanya tersenyum geli melihat wajah kesal Basri
" Uda , untuk malam ini kalian nginap . besok kita siap-siap untuk pergi " ujar mama melerai pertikaian anak-anaknya , Basri dan Calista hanya mengangguk dengan senyuman
pada akhirnya Calista dan Basri merasa lega , karena telah mendapatkan restu dari orang tuanya dan persetujuan adiknya . sementara di tempat lain Rona telah kembali ke rumah , rumah tempat dirinya tumbuh dari kecil sampai dewasa yang memiliki begitu banyak kenangan manis dan pahit di rumah yang kini dia pijaki kembali .
" Alhamdulillah ... cucu nenek " ucap nenek menyambut kedatangan Rona , cucu perempuannya ke dalam pelukannya
" nek ... Rona kangen nenek " Rajuk Rona dalam pelukannya sang nenek
" kakak gak kangen ni " canda Anjani yang tiba saja muncul sambil menggandeng tangan mungil anak perempuan yang bernama Zara
" eh kakak , aku juga kangen " kata Rona sambil melepaskan pelukannya terhadap nenek dan kemudian memeluk Anjani
" Uda , saatnya masuk . sebentar lagi magrib " pinta Raka yang sejak tadi memperhatikan wanita yang bergenerasi saling melepas rindu dengan berpelukan dan mengabaikan dirinya
mereka pun semua masuk ke dalam rumah dengan perasaan senang dan bahagia dalam hati mereka dan kini sekarang Rona telah berada di kamarnya . Rona dapat melihat kamarnya yang masih sama yang terlihat bersih dan rapi . serta masih ada gitar lamanya yang terdiam dengan setia di tempatnya di pintu sudut balkon kamarnya .
" semua masih sama , tak ada yang berbeda " kata Rona dengan senyuman
" tentu saja cucu nenek " ucap nenek yang tiba saja masuk kamar Rona
" nenek ... ko gak ketuk pintu si . Rona kaget tau " sunggut Rona dengan wajah cemberutnya , membuat nenek terkekeh geli melihat sikap cucu perempuannya
" ayo duduk dulu , kamu tak boleh berdiri terlalu lama . ingat kamu lagi hamil dan nenek tak mau kamu kenapa-napa " tutur nenek lembut sambil menggiring Rona ke pinggir tempat tidur dengan menarik lembut tangan Rona
" baiklah " pasrah Rona dengan sikap neneknya
" cu ? kamu yakin tak ingin beritahu nenek ? " tanya nenek pada akhirnya , karena sudah lama nenek ingin menanyakan hal ini
Nenek terus kepikiran dengan perkataan cucunya Rona , serta kalung yang membuat nenek semakin merasa penasaran dan was-was . merasa bila ada sesuatu yang di simpan Rona dan ada sesuatu yang akan terjadi suatu saat nanti . namun , nenek juga belum tahu apa yang akan terjadi , tapi firasatnya selalu menggangu pikirannya . sedangkan Rona hanya diam dengan senyuman semanis mungkin .
" aku juga tak tau nenek , aku juga tak tau kenapa aku harus memberikan kalung itu pada nenek ? dan aku juga merasa aneh dengan firasat yang ku rasakan . aku hanya bisa berharap dan berdoa , bila semua akan baik-baik saja " dalam hati Rona menatap wajah keriput sang nenek
" apa mungkin masa lalu itu akan terulang ? nenek harap itu tak akan terjadi ... semoga masa depan mu selalu indah cu . semoga masa lalu tak lagi menghampiri mu " dalam hati nenek yang juga menatap wajah Rona yang terlihat cantik
keheningan pun tercipta , Rona tak tau harus berkata apa ? dan dia juga tak ingin mengatakannya firasat aneh yang dia miliki belakangan ini . sedangkan nenek hanya diam , menunggu jawaban cucunya Rona .
" ya sudah , jika kamu tak ingin mengatakannya . nenek hanya bisa berdoa dan berharap untuk kebahagiaan mu dan kamu juga jangan banyak pikiran , jangan stres . ingat cucu nenek dalam kandungan mu ini " tutur nenek lembut , setelah lama terdiam dan kini telah bersuara sambil mengelus perut Rona
" makasih nek " ucap Rona dengan senyuman tipis sambil memegang perutnya yang sudah membesar . tapi tiba saja ada sebuah pergerakan dari dalam perutnya
Rona dan nenek hanya tertawa merasa pergerakan dari dalam perut . usia kandungan Rona sudah 4 bulan lebih dan pergerakan di dalam perutnya pun mulai sering merespon dan mereka juga tahu jenis kelaminnya adalah merupakan perempuan . membuat ke dua keluarga merasa senang mengetahui hal itu .
sampai waktu isya pun tiba , mereka melakukan shalat isya dan setelahnya mereka makan malam bersama . setelah selesai Rona menggunakan lift untuk ke kamarnya di temani sang nenek tercintanya .
" kamu istirahat ya cu , dan cucu buyut nenek juga istirahat ya " kata nenek dengan mengelus perut Rona dan kemudian langsung ada pergerakan yang membuat Rona sedikit meringis dengan tetap tersenyum , nenek juga tersenyum senang mendapatkan respon dari cucu buyutnya yang masih dalam kandungan Rona
nenek pun pergi dari kamar Rona dengan tak lupa menutup pintu kamar cucunya . sedangkan Rona melangkahkan kakinya menuju balkon kamar yang telah pintunya dia buka . kemudian Rona mengambil gitar miliknya , setelahnya dia duduk di kursi yang berada di balkon dengan menatap langit gelap gulita di atas sana dengan di hiasi gemerlap bintang dan rembulan malam .
" hai bintang , hai bulan . apa kalian merindukan ku ? dulu kalianlah menjadi tempat ku berbagi luka dengan hati ku yang saat itu sedang menanggung rindu . tapi ... kini aku telah mendapatkan apa yang ku mau . dia sudah berada di dekat ku , tapi entah mengapa hati ku selalu merasa tak tenang dengan firasat yang ku rasakan . aku merasakan ... bila akan ada yang terjadi suatu saat nanti . namun , aku belum tau apa yang akan terjadi ? ku harap anak ku tidak memiliki kisah cinta seperti ku " tutur Rona pada bintang dan rembulan malam , dan tanpa Rona sadari bila sang nenek telah berdiri di dalam kamarnya dengan tatapan sendu mendengarkan penuturan cucunya
nenek pun langsung keluar sebelum Rona mengetahui kehadirannya , nenek langsung menutup pintu kamar Rona tanpa suara . kemudian nenek melangkahkan memasuki kamarnya dengan langsung duduk di sandaran kepala ranjang dan perlahan air bening pun menetes tanpa dapat di cegah oleh matanya .
" masa lalu itu terulang kembali ...kenapa ? kenapa takdir ini terulang lagi ? nak ... apa kau dapat mendengar mama di sana ? mama takut bila hal itu benar akan terjadi , mama gak ingin kehilangan cucu mama lagi . apa dia masih hidup ? " ujar nenek sambil mengelus sebuah foto yang di ambil nenek dari laci nakas yang berada di samping ranjangnya , menampilkan sebuah gambar seorang pria muda dengan senyuman bahagia dalam foto tersebut
sebuah kisah tersembunyi , sebuah kisah yang telah terkubur oleh waktu . kini terulang kembali , hanya air mata yang menjadi saksi bisu . hanya waktu yang telah menentukan langkah kehidupan yang di lalui dan hal itu hanya nenek yang mengetahui . kisah kelam yang telah terlupa , kini nenek menyakini bila kisah itu akan terulang kembali terhadap cucu tercintanya .
" nenek harus bisa menemukan dia nak , semoga kamu tetap bahagia di sana " kata nenek lagi dengan perasaan pilu sembilu di relung hatinya , dengan tatapan nanar pada sebuah foto yang masih di genggam erat yang berada di ke dua tapak tangannya .
...Bersambung...