Rona

Rona
eps . 72



" Vero , Rona , Tante , om dan semuanya . saya izin pamit dulu ya ... saya ada urusan di kantor " ujar Rio tiba saja membuka suara pada orang-orang yang ada di hadapannya


" ya sudah " sahut Raka cuek dan Rio hanya tersenyum dengan sikap Sahabatnya Raka


" terus itu Erlina gimana bang Rio ? apa langsung ikut Abang ? dan akan Tinggal di mana ? " cecar Serly menatap Rio yang berdiri tidak jauh dari hadapannya


" Abang sudah mengbocking apartemen di sebelah apartemen tempat Abang tinggal " jawab Rio seadanya dengan senyuman simpul di wajah tampannya


" makasih ya bang Rio " sahut Erlina menatap Rio dan Rio hanya diam dengan kembali fokus mengotak-gatik ponselnya


" kenapa bang Rio bersikap begitu pada Erlina ? bukannya dulu bang Rio sangat dekat dengan Erlina ? pasti ada sesuatu , dan aku harus tanya itu pada bang Raka . pasti bang Raka tau apa yang terjadi " dalam hati Rona manatap Erlina dan Rio bergantian


semua orang yang ada di situ merasa aneh dengan sikap dingin Rio terhadap Erlina . Raka yang merupakan Sahabatnya hanya bisa tersenyum tipis . karena dia tau apa yang terjadi dengan Rio , sedangkan Erlina hanya diam melihat sikap dingin dan cuek Rio terhadapnya .


" ada apa dengan bang Rio ? apa aku pernah membuat kesalahan di masa lalu ? tapi apa ? tapi ... untuk pertama kalinya aku melihat sikap sedingin bang Rio , dulu bang Rio begitu homoris . tapi kali ini dia begitu berbeda " dalam hati Erlina menatap sedih dengan sikap Rio yang berbeda dengan yang dulu


" jadi tidak ? " tanya Raka tiba saja sambil menatap Rio yang baru menyimpan ponselnya ke saku celana jeansnya panjangnya


" jadi ! kalo gitu saya pamit . assalamualaikum " sahut Rio , kemudian dia melangkah dengan sopan keluar dari ruang rawat Rona


" Erlina " panggil Rona


" i...ya " jawab Erlina tersadar , yang sejak tadi memerhatikan Rio yang telah keluar


" pergi ikutlah dengan Rio " pinta Raka yang mengerti dengan situasinya


" baiklah , kalo gitu aku juga pamit ya . assalamualaikum "


" wa'alaikumsalam "


setelah kepergian Rio dengan di susul Erlina . Jeki , Evan dan Roky serta Elsa , Nura dan Serly juga ingin pamit pulang . sedangkan Rona , Vero , Raka dan orang tua Vero hanya mengangguk dengan senyuman serta ucapan terima kasih . karena sudah meluangkan waktu untuk datang ke rumah sakit .


kini Rona dan Vero serta Raka dan mama papa pun merasa senang dan bahagia dengan melihat tingkah mungil Rangga dan Anggita . sehingga ruangan Rona tidak terasa sunyi . sedangkan di tempat lain , di dalam mobil Rio hanya fokus menyetir dan Erlina hanya diam dengan sekali-kali melirik Rio . Rio menyadari hal itu , tapi dia bersikap biasa saja . sampai akhirnya mobil merah Rio berhenti di depan sebuah apartemen yang terlihat mewah dengan bernuansa gold edition .


tanpa berkata apa pun Rio keluar dari mobilnya dan Erlina mengikuti Rio . sampai akhirnya Rio berhenti di depan pintu apartemen dan Erlina yang berdiri di belakangnya hanya diam tanpa mampu untuk bertanya . karena dia masih merasa heran dengan sikap dingin Rio .


" ini tempat tinggal mu " ucap Rio sambil membuka pintu dengan menggunakan kunci yang baru dia keluarkan dari saku belakang celananya


" makasih bang "


" masuk dan istirahat "


setelah mengatakan itu , Rio langsung melangkahkan ke arah barat dan langsung membuka pintu apartemen yang tepat berada di sebelah Erlina . Erlina terus memperhatikan Rio sampai Rio hilang dari pandangannya yang telah memasuki apartemen dan pintu yang sudah tertutup .


" emmm ya sudahlah . sepertinya aku memang membuat kesalahan di masa lalu dan besok atau nanti aku harus menanyakannya " gumam Erlina mengambil kunci dari ganggang pintu , kemudian masuk dan kembali menutup pintu apartemen


sedangkan Rio sudah berada di kamarnya yang berada di lantai dua sedang melamun . karena apartemen yang di miliki Rio terdapat tiga lantai . lantai tiga hanya Rostov dan lantai satu hanya ada dapur , ruang TV atau ruang tamu . sedangkan lantai dua memiliki tiga kamar dan Rio berada di kamar yang kedua yang langsung pintunya berhadapan dengan tangga yang berwarna coklat yang terbuat dari kayu .


" andai waktu bisa ku ubah , mungkin kau sudah berada di samping ku . tapi ... itu hanya mimpi buat ku . sehingga aku tidak percaya lagi dengan namanya cinta dan aku lebih memilih hidup sendiri dalam kesepian dengan kenangan manis dan pahit yang kau berikan " tutur Rio menatap sebuah bingkai foto seorang wanita cantik yang sedang tertawa , sehingga memperlihatkan wajahnya yang begitu cantik


Rio kemudian bangkit dari duduknya dan melangkahkan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa menutup pintu kamarnya yang masih terbuka lebar . sedangkan Erlina yang baru saja selesai membersihkan dirinya langsung melangkahkan mendekati lemari baju yang ada di kamar yang dia tempati .


" gimana ni ? masa gak ada pakaian sama sekali " ucap Erlina dengan tatapan kesalnya


kemudian Erlina dengan terpaksa memakai kembali pakaiannya yang jelek tadi . setelahnya dia keluar dari apartemennya dan memasuki apartemen Rio dan kebetulan pintu tidak di kunci . sehingga mempermudah Erlina memasuki apartemen Rio .


" bang Rio " pekik Erlina berulang-ulang sambil melangkahkan kakinya menaiki tangga dan kemudian dia melihat pintu terbuka


" pasti itu kamar bang Rio . tapi ... aku masuk gak ya ? " gumam Erlina yang merasa ragu untuk memasuki kamar Rio


Erlina pun masuk walau hatinya merasa ragu dan was-was . karena dia ingin menemui Rio , tapi saat mata Erlina sedang menatap satu-persatu tiap benda yang berada di dalam kamar Rio . kemudian matanya tanpa sengaja menatap sebuah bingkai foto besar yang tak sengaja dia lihat .


" siapa wanita itu ? apa itu kekasihnya bang Rio ? tapi sepertinya aku mengenal wajah yang terlihat cantik dengan ekspresi tertawa itu " ujar Erlina sambil tetap menatap bingkai foto besar yang tergantung di atas samping pintu kamar mandi yang tertutup rapat


Erlina terus mengingat wajah wanita dalam foto itu yang tidak asing menurutnya . tapi saat dia sadar dan ingat serta bersamaan dengan itu Rio telah keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya serta ke dua tangannya sambil mengeringkan rambutnya tanpa menyadari ke hadiran Erlina di kamarnya .


" itu aku waktu remaja ... saat itu aku berada di rumah Rona bersama dengan yang lainnya . bercanda dan tertawa tapi ... kenapa bang Rio memajang foto ku sebesar ini di kamarnya ? " dalam hati Erlina menatap bingkai foto besar yang menyadari bila itu dia dengan tatapan terkejut dan penasaran menjadi satu


" Erlina " teriak Rio dengan tatapan tajam dan dingin , setelah menyadari bila Erlina sudah berada di kamarnya . Erlina langsung terlonjat kaget dan berbalik badan menatap Rio


" bang ... Rio " ucap Erlina dengan wajah yang terlihat ketakutan di saat melihat tatapan tajam dan dingin seperti seekor harimau milik Rio


" keluar " hardik Rio dingin dan tajam kepada Erlina . Erlina yang seketika langsung lari keluar dari kamar Rio


setelah Erlina keluar dari kamarnya , Rio langsung bergegas memakai pakaian santainya dan membiarkan handuknya di lantai begitu saja . Rio langsung turun kebawah dan tak melihat Erlina di mana-mana . sedangkan Erlina sudah menangis dengan duduk bersandar pada pintu kamarnya .


sedangkan Rio sudah memasuki apartemen Erlina , karena pintu apartemen Erlina terbuka lebar . sehingga mempermudah Rio untuk masuk kedalamnya dan tanpa lupa menutup pintunya .


" Erlina " teriak Rio berulang-ulang sampai lah kakinya menaiki tangga


Tok tok


Rio mengetuk pintu dengan sedikit keras sambil memanggil nama Erlina . namun , tidak ada respon atau pun sahutan dan Rio yang mendengar suara tangis dari kamar yang pertama menyakini bila Erlina berada di dalamnya .


" Erlina buka pintunya " hardik Rio sambil tetap mengetuk pintu dan Erlina tetap tidak menyaut


" bila kau tak buka pintunya ! aku akan dobrak pintu ini ! "


Erlina yang mendengar suara Rio yang sudah meninggi , segera bangun dari duduknya dan langsung menghapus kasar air mata yang membasahi wajahnya . kemudian dia langsung membuka pintu dan terlihat Rio dengan wajah datar dengan tatapan dingin .


" apa maksudmu ? " tanya Rio tajam dan dingin menatap Erlina


" aku hanya ingin memberitahu , bila aku membutuhkan baju untuk ku pakai " jawab Erlina dengan seadanya dengan mata yang masih berkaca-kaca


" diam di situ "


Rio kembali pergi menuju apartemennya dan meninggalkan Erlina yang mematung dengan membisu . sedangkan Rio dia kembali ke kamarnya dan membuka lemari mengambil sebuah paper bag yang berisi sebuah pakaian . kemudian dia juga mengambil ponsel yang berada di laci kecil dalam lemarinya dan setelahnya dia kembali kepada Erlina dengan wajah yang masih datar .


" pakailah , dan ini ponsel . gunakan sesuka mu , jika ingin makan pesan saja dan sekali lagi jangan masuk apartemen ku tanpa izin ku " ujar Rio dengan nada yang masih tajam dan tatapan dingin


Erlina pun mengambil barang yang di berikan Rio dengan tangan yang bergetar sambil tetap memerhatikan wajah Rio yang begitu datar dan dingin . setelah barang yang kian di tangan Rio kini sudah di tangan Erlina . kemudian Rio berbalik dan ingin melangkah meninggalkan Erlina .


" apa salah ku ? apa aku punya kesalahan sehingga kau bersikap begitu ? " cecar Erlina dengan suara bergetar , sehingga menghentikan langkah Rio yang ingin menuruni tangga


" jawab aku " hardik Erlina menatap Rio yang masih membelakanginya


Rio kemudian berbalik badan dan kembali melangkahkan kakinya mendekati Erlina dengan tatapan yang masih sama dan wajah yang masih datar .


" apa kau ingin tau ? " ucap Rio sambil melangkah maju dan Erlina perlahan mundur


" iya , aku ingin tau " ketus Erlina tanpa menundukkan kepalanya tanpa rasa takut menatap mata dingin dan tajam Rio


" kau pergi tanpa alasan dan kabar . tanpa mengatakan apa pun dan itu kesalahan mu "


" apa masalah mu ? kau bukan siapa ku ! dan aku bukan siapa mu "


" memang benar kau bukan siapa-siapa ku untuk sekarang "


" maksud mu ? "


Rio tak berkata lagi , dia hanya menatap mata indah Erlina . mata yang dulu pernah menusuk hatinya dengan sesuatu yang membuatnya senang dan bahagia . tapi , sekarang ... dia sangat membenci mata indah yang ada di hadapannya . sedangkan Erlina yang terus mundur dan Rio yang terus maju pun berhenti . karena Erlina sudah bersandar pada dinding kamarnya , sehingga jarak antara Erlina dan Rio hanya beberapa senti lagi .


" jawab ! apa maksudmu dengan yang sekarang ? " tanya Erlina yang masih tetap menatap mata Rio dengan matanya yang masih berkaca-kaca . bahkan barang tadi yang kian ada di genggaman sudah berada di lantai tanpa dia sadari


Rio tak menjawab sama sekali Mala dia melangkah mundur menjauhi Erlina dengan tatapan yang masih sama . namun , ekspresi wajahnya sudah berbeda dia hanya menunjukkan senyum sinisnya sambil menatap wajah Erlina .


" dia masih sama , tapi ... dia sudah tiada sejak itu . sejak dia pergi tanpa alasan dan tanpa memberikan kabar . apakah aku masih bisa mengatakan yang dulu ingin ku katakan ? atau rasa ini ku biarkan terkubur sedalam mungkin di hati kecil ku ? Erlina ... kau ... " dalam hati Basri kemudian dia berbalik dan seketika butiran bening pun jatuh


sedangkan Erlina yang sejak tadi menyadari tatapan mata Rio pun mulai mengerti , tanpa pikir panjang lagi dia berlari dalam memeluk Rio dari belakang yang sudah berdiri dan menghentikan langkahnya di ruang TV .


" maaf " satu kata terucap dari bibir Erlina dengan masih memeluk tubuh kekar Rio


Rio kemudian melepaskan tangan Erlina yang melingkar di perutnya dan Erlina pun melepaskan pelukannya . kemudian Rio berbalik dan menatap wajah cantik Erlina serta mata yang sudah kembali berlinangan air mata . sedangkan Erlina yang melihat wajah tampang Rio serta tatapan mata yang sendu . membuat dia yakin jika dia telah menyakiti hati Rio di masalah . kemudian dia terkejut dia saat Rio memeluknya erat dan berapa detik kemudian Erlina pun membalas pelukan Rio .


Belum sampai 5 menit Erlina dan Rio berpelukan . Rio langsung melepaskan pelukannya dari tubuh mungil Erlina dan kemudian dia kembali melangkah mundur menjauhi Erlina . sedangkan Erlina merasa sedih melihat tatapan sendu Rio .


" Erlina telah pergi dan kau bukan Erlina ku " kata Rio dengan suara bergetar menahan tangisnya yang terasa sesak di dadanya


" aku masih Erlina yang dulu " ucap Erlina dengan suara yang juga bergetar dengan linangan air mata


" bukan , kau bukan dia . jangan mendekat , kau dan aku orang asing "


setelah mengatakan itu Rio pergi meninggalkan Erlina yang sedang di Landa kesedihan dan Rio juga bersedih yang kini menatap bingkai foto yang telah lama tergantung di kamarnya .


" Erlina ... andai waktu bisa ku putar kembali dan aku kan mengatakan isi hati ku . tapi ... apa kau akan tetap pergi ? setelah aku mengatakan bila aku mencintaimu " tutur Rio lembut menatap bingkai foto besar dengan tatapan sendu dan senyuman manisnya yang kembali terukir sempurna di wajah tampannya


cinta yang kian telah terkubur di relung hati kecilnya , kini telah bersemi kembali . Rio dulu sangat mencintai Erlina di saat remaja dan Erlina dulu sangat menyayangi Rio yang homoris yang selalu membuatnya tertawa . tapi , kini Rio tidak ingin kembali ke masa lalu , walau sebenarnya dia sangat ingin waktu dapat berputar ke masa lalu . dimana masa itu Rio sangat bahagia dan Erlina yang selalu senang berada di dekat Rio . namun , semua itu hanya kenangan hanya sebuah rasa cinta yang singkat dan Rio maupun Erlina hanya pasrah pada takdir dan Tuhan sang penulis kisah makhluk-nya .


...Bersambung...