Rona

Rona
eps . 46 Panik dan khawatir



pagi kini telah tiba , terlihat matahari memancarkan sinarnya dengan sempurna di langit biru atas sana . sehingga pancaran sinar mentari menelusup melalui sela jendela kamar dan membangunkan seorang yang masih terlelap di dalamnya .


" emm Uda pagi ya " ucap si empunya sambil merenggangkan otot-ototnya


Ceklek !


terlihat pintu kamar terbuka , sampai menampil seorang wanita yang berjalan menuju ranjang dengan senyuman .


" Hay bidadari ! aku ada dimana ? " tanya si empu yang melihat wanita di hadapannya bercahaya , mungkin di karenakan sinar matahari yang menerpa wajah cantik wanita itu


wanita itu hanya tersenyum dan sedikit menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh pria yang duduk di ranjang kamar yang dia pijaki ini .


" Uda pergi mandi sana ? aku Uda siapkan sarapan " ujar wanita itu kepada pria yang masih belum benar sadar


" tapi aku masih mengantuk bidadari ! " seru pria itu dan kembali berbaring di ranjang empunya


" gak ! kamu harus mandi dan setelah itu sarapan ! " pinta wanita itu sambil menarik tangan kanan pria itu


namun , bukannya pria itu langsung bangun . dia Mala menarik kembali tangannya , sampai akhirnya si wanita menimpa tubuhnya .


" Ardi ! " teriak wanita itu yang merasa terkejut mendapat perlakuan dadakan dari pria yang bernama Ardi , sang suami


" jangan berteriak dong bidadari , kita main dulu ok . ini kan masih pagi dan lagian hari ini weekend " ujar Ardi dengan senyuman dan mata yang kembali terpejam


" gak mau ! " seru wanita itu dengan cepat sambil mendelik matanya dan berusaha menjauh dari atas tubuh Ardi . namun , tak mudah untuk menjauh . karena Ardi terlalu memeluknya erat dengan ke dua tangannya


Ardi yang mendengar penolakan tersebut , langsung membalikan posisi . sehingga si wanita ada di bawa tubuhnya , dan Ardi menatapnya dengan tatapan mendambakan . membuat si wanita menelan salivanya dengan kasar , saat matanya menatap mata Ardi yang ingin segera menerkamnya .


" Yanti ku tersayang ! kemarin malam kau membuat ku begadang karena permintaan aneh mu yang membuat ku harus merasakan sakit di bokong ku . sekarang kamu yang akan ku buat sakit " ujar Ardi dengan lembut " sakit yang terasa nikmat " lanjut di telinga Yanti , membuat tubuh Yanti meremang mendengar itu dan merasakan nafas hangat yang menerpa telinganya .


" ta..Pi.. ini masih pa..gi dan kemarin itu karena permintaan mintaan anak mu Lo . jadi bukan salah ku bila aku sangat menginginkan kelapa kemarin malam " kata wanita itu yang bernama Yanti sambil mengalihkan matanya menatap pintu dan bukan menatap Ardi di atasnya


" emang benar si ! tapi kan kamu yang makan ! " seru Ardi dengan senyuman penuh arti


saat Yanti kembali menatap wajah Ardi dan ingin mengatakan sesuatu . membuatnya mendapatkan rasa manis di bibirnya , karena sebuah benda kenyal menyentuh bibir ranumnya dan perlahan dan pasti Yanti terbawa harus . karena perlakuan lembut dan hangat dari Ardi . sehingga mereka sarapan di ranjang dengan rasa manis dan kenikmatan yang luar biasa .


sementara di tempat lain Rona sibuk memandikan anaknya yang berusia 1,5 tahun itu bersama dengan Vero yang juga ikut memandikan anak manisnya .


" gak terasa ya sayang bila anak kita sudah sebesar ini , rasanya baru semalam aku melahirkannya ! " seru Rona kepada Vero di sampingnya sambil masih memandikan anaknya di bak yang berukuran kecil yang khusus mandi untuk bayi


" yaaaaa tentu saja dong yank , nanti saat mereka dewasa . pasti mereka akan sangat tampan dan cantik ! " ujar Vero dengan senyuman senang menatap dan memandikan anak manisnya


mendengar itu Rona hanya tersenyum getir , karena rasa takut masih menyelimuti hatinya . namun , apa daya hati dan jiwa raganya , bila mana suatu hari takdir bisa saja berkata lain .


" semoga saja ya nak , semoga mama masih bisa melihat kalian tumbuh dewasa . jujur mama sangat takut , bila mama tak ada dalam pertumbuhan kalian " dalam hati Rona dengan senyuman pasak yang tercetak di wajah cantiknya


Vero yang sibuk memandikan anak laki-lakinya , tak menyadari perubahan wajah Rona . sampai akhirnya Rona selesai terlebih dulu memandikan anak perempuannya dan langsung menggendongnya dengan handuk yang melekat di tubuh mungil anak manisnya .


kini Rona dan Vero sudah selesai memakai baju anak mereka berdua dan sekarang giliran Vero yang mandi . sedangkan Rona sudah selesai mandi dan memakai baju rapi sebelum dirinya memandikan anak manisnya .


hari weekend ini Rona dan Vero berencana untuk pergi ke taman . untuk meluangkan waktu bersama keluarga kecil bahagia mereka . karena Vero terkadang jarang ada waktu untuk bermain dengan anak-anaknya , karena Vero sibuk kantor dan mencari pelaku dari peneror Rona .


" sayang cepatan dong ! " seru Vero yang kini sedang menggendong Rangga sambil berdiri di pintu masuk


" sebentar sayang , aku sediakan dulu susunya " sahut Rona dari arah dapur


" Vero kamu duduk aja dulu nak " kata mama yang sejak tadi duduk bermain dengan Anggita di ruang tamu


Vero pun menuruti perkataan mamanya untuk duduk di sofa yang ada di dekatnya , yaitu di ruang tamu . sedangkan Rona masih sibuk di dapur membuat susu kedua anaknya dan di bantu oleh salah satu pelayan di rumah mamanya ini . karena Rona memang tak ingin menggunakan baby sitter , dia takut bila saja anaknya kenapa-napa . dia lebih percaya pada orang yang dia kenal dan dia sayang .


selang 15 menit Rona sudah selesai bergelut di dapur dan kini dirinya menyusul Vero di ruang tamu .


" sayang sudah siap ni ! ayo ! " seru Rona dengan semangat empat lima


" ya uda ayo , ma kami pamit " kata Vero pada mamanya dengan nada lembut


" iya sudah , hati-hati ya nak . Jangan ngebut-ngebut " pinta mama memperingati dengan lembut kepada Vero , setelah mama memberikan Anggita pada Rona


" iya dong ma , pasti . kalo gitu Rona pamit ma , mama ada nitip sesuatu gak ? biar nanti di beliin sebelum pulang " ujar Rona dengan senyuman menatap wanita paru baya di hadapannya dengan dirinya menggendong Anggita


" martabak aja " jawab mama membalas senyuman Rona


" iya sudah , kami pigi dulu ma . assalamualaikum " kata Vero dan Rona mengucapkan salam dan pergi menuju mobil


kini Vero dan Rona sudah di dalam mobil dengan mengunakan sopir dan kecepatan sedang . ingin pergi menuju taman terfavorit mereka berdua , selang 30 menit perjalanan . mereka akhirnya sampai dengan di temani dua pengawal di belakang mereka , yang tadi juga mengikuti mereka dari belakang .


" yank ! kenapa harus ada pengawal segala si " gerutu Rona merasa kesal yang kini mereka sudah duduk di pinggir danau beralaskan tikar kecil untuk mereka kelurga


" ya harus dong yank ! ini kan untuk jaga-jaga . ingat bang Raka juga menyarankan ini , kalo gak . mana mau aku membiarkan mu keluar rumah tanpa ada nya pengawasan dan pengawal dan aku gak ingin kamu kenapa ! " ujar Vero menjelaskan panjang lebar untuk meredakan rasa kesal sang istri


Rona yang mendengar itu menghembuskan nafas pasrah , dan membenarkan apa yang di katakan Vero . kemarin bang Raka datang bersama yang lainnya , kecuali Revan yang masih sibuk di Singapura , yang berjuang demi cintanya dan pendidikannya .


" sayang ingatkan apa kata bang , boleh keluar rumah bila kamu ada pengawal dan pengawasan ! " seru Vero mengingat perkataan Raka yang kemarin


" iya de " jawab Rona pasrah


" mama ! "


" papa ! "


suara itu lah yang berulang kali di ucapkan oleh ke dua anaknya dan kemudian Rona serta Vero memeluk anak mereka dengan rasa yang begitu bahagia dan rasa haru .


" tetap kuat ya nak dan maafkan mama " dalam hati Rona


Rona hanya bisa menangis dengan senyuman getir yang terhias di wajahnya . Rona juga tidak tau , mengapa belakangan ini dia sangat merasa takut dan selalu merasakan sesuatu yang sulit dia mengerti . namun , Rona tidak terlalu memikirkan itu dan Rona hanya bisa pasrah dan menanggapi semua hal dengan senyuman .


" semoga kebahagiaan ini akan selalu ada , dan ku ingin kita selalu seperti itu " dalam hati Vero tersenyum bahagia serta haru menyelimuti hatinya yang kini dia masih memeluk Rangga dalam dekapannya serta Rona juga masih memeluk Anggita dalam dekapannya


namun , rasa bahagia dan rasa haru Vero terganti dengan rasa panik dan khawatir melihat Rona yang duduk kian di sampingnya . kini sudah pingsan sambil masih mendekap erat tubuh mungil Anggita .


" Rona ! ku kenapa ? pengawal bantu saya ! " teriak Vero dengan sangat panik , tapi Vero tak melupakan anaknya . sehingga dia bisa meredakan emosi dan rasa paniknya agar tidak membuat anaknya ketakutan atau pun nangis


" kamu bawa anak ku pulang dan beritahu bila aku ke rumah sakit ! " seru Vero memerintahkan pengawal yang sudah mendekat di hadapannya


" baiklah pa " jawab salah satu pengawal itu dengan mantap


Vero Langsung menggendong tubuh Rona yang tidaklah ringan . namun , itu tak ada apa-apanya selain rasa khawatirnya terhadap Rona . Vero langsung membawa Rona menuju rumah sakit menggunakan mobil serta sopir yang sama mengemudikannya . saat ini Vero duduk di kursi belakang dan Rona yang masih pingsan bersandar di dada bidang Vero , yaitu dalam dekapan Vero .


" cepat dan hati-hati ! " seru Vero dengan penekanan di setiap perkataannya pada sopir


sopir yang mendengar hanya mengangguk dan tetap fokus menyetir dengan tenang menuju rumah sakit . walau dalam diamnya sopir itu , sebenarnya merasa takut . karena untuk pertama kali baginya mendengar suara tuannya yang terdengar menyeramkan .


selang 5 menit mobil yang di tumpangi Rona dan Vero sudah sampai di rumah sakit . segeralah Vero turun dan kembali menggendong Rona seperti bayi yang meringkuk dalam dekapannya .


" dokter ! suster ! " teriak Vero saat memasuki rumah sakit


dokter dan suster yang mendengar suara teriakkan Vero langsung mendekati sambil membawa ranjang pasien dan dengan itu Vero meletakkan Rona dengan perlahan di ranjang pasien tersebut .


kemudian ranjang pasien itu terdorong memasuki sebuah ruang rawat bersama di temani suster dan dokter serta Vero yang terus menggenggam erat tangan Rona .


" silahkan bapak isi formulir terlebih dulu , dan bapak harus menunggu di luar ! " pinta suster itu dengan sopan sambil menyodorkan sebuah kertas beralas papan persegi yang berukuran sedang kepada Vero


" baiklah sus , tolong istri saya " kata Vero dengan masih terselimuti rasa khawatirnya dan cemas yang terlihat jelas di wajahnya


suster itu hanya mengangguk dan langsung menutup pintu ruangan rawat . sedangkan Vero mengisi formulir tersebut , setelah selesai dia langsung memberikannya kepada repsionis .


Vero hanya duduk menunggu kabar dari pintu yang kunjung belum terbuka . sampai waktu sudah hampir 1 jam , pintu itu pun terbuka sempurna dan keluarlah seorang wanita berjas putih . melihat itu seketika Vero bangkit dari duduknya dan mendekati wanita berjas putih .


" bagaimana ke adaan istri dan calon anak saya dokter ? " tanya Vero dengan rasa kepanikan yang dia masih rasakan


" Alhamdulillah ibu Rona tidak kenapa-napa pak Vero , cuma belakang ini seperti ibu Rona banyak pikiran dan stres " jelas dokter spesialis kandungan itu , yang biasanya memeriksa Rona


" stres dan banyak pikiran ? apa dokter bercanda ? tolong katakan dok , istri saya kenapa ? " tanya Vero yang masih tak percaya mendengar penjelasan dokter tersebut , karena seingatnya Rona baik-baik dan biasa saja dan Rona juga tak pernah menyimpan sesuatu darinya .


" pak Vero tenang , ibu Rona hanya stres dan banyak pikiran dan karena itu menyebabkan tekanan pada kandungannya . sehingga menyebabkan Bu Rona pingsan " jelas dokter wanita itu lagi dengan tetap tenan dan terdengar sopan


" baiklah dokter , terima kasih . apa saya bisa menemui istri saya dok ? dan apa istri saya perlu di rawat di rumah sakit ? " tanya Vero berturut-turut


" tidak perlu pak Vero , sore nanti Bu Rona sudah bisa kembali pulang " jawab dokter dengan sopan dan senyuman


" sekali lagi makasih dokter "


" ya , sama-sama pak "


dokter wanita itu pergi meninggalkan Vero dan saat Vero ingin melangkah masuk ke ruangan Rona . tiba saja ada suara samar-samar yang memanggil namanya .


" Vero ! "


Vero langsung menoleh mengikuti arah suara yang memanggil namanya dan terlihatlah Raka , Anjani yang sedang menggendong anak perempuan serta mama dan Kelin serta Juhan yang datang mendekat ke arahnya .


" bagaimana keadaan adik ku sekarang ? apa dia baik-baik saja ? dan apa yang terjadi ? " tanya Raka sambil menarik kerak baju Vero


" iya nak , bagaimana keadaan Rona ? dan cucu mama ? " tanya mama yang ikut merasa panik dan khawatir


" kak ! " pekik Kelin ditelinga kakak nya yang hanya diam saja


" Rona tidak kenapa-napa , dokter hanya bilang Rona stres dan banyak pikiran . sehingga menyebabkan Rona pingsan " jelas Vero


mendengar itu semua mengucapkan syukur dan juga bertanya dalam pikiran mereka masing-masing . apa yang di pikirkan Rona ? dan kenapa Rona memendamnya sendiri ? serta soal apa yang Rona pikirkan sehingga dirinya stres ? sampai-sampai Rona harus pingsan .


semua pun masuk ke dalam ruang rawat Rona , yang kini Rona masih berbaring dengan mata yang terpejam di ranjang pasien .


...*Bersambung...


bagaimana menurut kalian ? apa yang Rona pikirkan ? pasti kalian menemukan jawabannyakan ?


ok teman-teman , salam hangat dari ku Grasella


assalamualaikum*