
pagi telah tiba terlihat matahari sudah menampakan wujudnya di atas sana , sehingga tanah yang basah menguap ke atas dengan sempurna , akibat pacaran sinar matahari yang membekas akibat hujan semalam dan dapat tercium oleh Indra penciuman bau tanah yang basah .
kala itu di sebuah kamar , sepasang suami istri sedang berdebat tentang sang suami yang bersikeras tetap ingin keluar kota untuk urusan bisnisnya . namun , sang istri selalu saja merasa khawatir dan tak setuju bila sang suami pergi di saat situasi cuaca yang tidak memungkinkan untuk berkendara . siapa lagi jika bukan Rona dan Vero .
" yank , kamu yakin ? apa tak bisa di tunda saja rencana bisnisnya ? " cecar Rona pada Vero , sang suami tercintanya yang kini dirinya duduk berselonjorkan kakinya di atas ranjang sambil melipat tangannya
" tak bisa sayang , aku sudah sering menundanya dan aku harus pergi . kamu jangan khawatir , aku akan segera pulang secepat mungkin setelah masalah di sana selesai dan kamu , sayang ku harus jaga dede ya " ujar Vero meyakinkan sang istri , yang kini dirinya sedang mengemasi baju dalam koper hitam
" janji ya ? harus pulang " ketus Rona
" janji ratu ku "
Vero selesai mengemasi bajunya , kemudian dirinya mendekati sang istri yang sedang ngambek di atas ranjang , membuat Vero merasa gemas melihat wajah sang istri yang terlihat cemberut .
" itu bibirnya kenapa di majuin ? mau aku lahap ya ? " goda Vero dengan senyum nakalnya , membuat Rona mendengus kesal
Vero yang mendapati sang istri diam saja , membuatnya semakin gemas dan tanpa nunggu lama lagi Vero pun mencumbu Rona dan Rona tidak menolak . bahkan Rona semakin meminta lebih , sehingga tak terasa jam sudah menunjukkan jam 9 pagi dan pada akhirnya mereka selesai melakukan olahraga pagi di ranjang itu .
Tok tok
suara pintu yang di ketuk oleh seorang pun terdengar , Vero yang mendengar itu langsung turun dari ranjang dan langsung melangkahkan menuju kamar mandi . sedangkan Rona memakai kembali pakaiannya dan merapikan penampilannya yang terlihat acak-acakan . setelah Rona bercermin dan merasa yakin bila sudah tidak acak-acakan lagi , Rona langsung mendekati pintu kamar .
Ceklek
Rona membuka pintu , terlihat mama berdiri di sana dengan senyuman yang penuh arti .
" sudah selesai olahraganya kan ? " tanya mama , membuat Rona mengaguk dengan malu-malu
" Vero itu Persis seperti ayahnya , sudah kamu suruh cepat tu anak . jam 10 pesawat lepas landas dan dia tak punya banyak waktu " ujar mama lagi
" iya mama "
mama pun pergi meninggalkan Rona yang masih diam mematung karena malu . kemudian selang berapa detik Rona kembali menutup pintu , dan saat dia berbalik . Rona dapat melihat sang suami sudah rapi kembali dengan setelan jas yang melekat sempurna di tubuhnya yang kekar dan tegap itu . seketika Rona terpesona dengan ketampanan sang suami .
" aku tau ko , kalo aku itu tampang " kata Vero dengan percaya diri , membuat Rona tersadar
" narsis " ketus Rona sambil mengalihkan pandangannya , membunyikan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus
" baiklah ratu ku , hamba memang narsis . tapi sekarang temani saya " ucap Vero berdramatis sambil berjalan dengan menderek koper mendekati sang istri , membuat Rona hanya tersenyum dan menuruti perintah sang suami
Rona dan Vero pergi melangkahkan meninggalkan kamar mereka . kemudian menuju ruang tamu yang disana sudah ada mama dan papa yang menunggu kehadiran mereka berdua . kini mereka sudah berada di depan pintu , mengantar Vero hanya sampai di sini saja . karena Vero yang meminta hal ini , bila Rona bisa lebih memperbanyak istirahatnya.
" semoga masa lalu tak terulang lagi nak , semoga kalian selalu bersama untuk selamanya . sampai maut yang akan memisahkan kalian berdua " dalam hati mama yang menatap Vero dan Rona di hadapannya dengan bergandengan tangan
" ma , pa Vero pamit ya . tolong jagain Rona selama aku belum kembali " ucap Vero pada kedua orangtuanya sembari tersenyum
" iya nak , kamu hati-hati disana . jaga diri dan kesehatan dan jangan lupa kabari bila kamu sudah sampe disana ya nak " tutur mama dengan wajah yang terlihat khawatir
" iya ma , Vero pasti akan jaga kesehatan ko . Vero berangkat dulu ya ma , pa dan sayang ku assalamualaikum "
" wa'alaikumsalam "
" kali ini aku tak akan membiarkan sayang ku menangis lagi , aku akan kembali dengan selamat ratu ku dan jaga diri mu demi aku dan anak kita " dalam hati Vero dengan tersenyum hangat menatap sang istri sebelum dirinya hilang tersembunyi di balik pintu mobil
Vero pun berangkat menggunakan mobil serta sopir yang mengemudikannya meninggalkan perkarangan rumahnya . Rona hanya bisa diam dengan perasaan gundah gulana di dalam hati , saat sang suami sudah pergi jauh darinya .
" ku harap perpisahan kali ini tidak akan terulang lagi , aku tak ingin masa lalu kembali terulang dan ku hanya bisa berharap dalam doa ku pada Tuhan ku , Allah SWT agar kau kembali dengan selamat suamiku " dalam hati Rona dengan tatapan sendu
" Rona , ayo masuk . kamu harus banyak istirahat dan jangan khawatir . Vero pasti akan baik-baik saja " ujar mama menyakinkan menantunya tersayangnya yang sudah di anggap sebagai putrinya sendiri
Rona hanya mengangguk dan menyakinkan hatinya bila semuanya akan baik-baik saja . walau dia masih takut , bila mana nantinya Vero akan hilang lagi dan hal yang terjadi di masa lalu takut terulang lagi .
Rona , mama dan papa memasuki rumah untuk menemani Rona di taman belakang rumah . disini Rona hanya tersenyum melihat ke dua anak kembarnya yang berbeda jenis sedang bermain dengan mama dan papa yang merupakan nenek dan kakek anak-anaknya . Rona hanya bisa menikmati suasana pagi yang begitu terang , menikmati kesenangan anaknya yang bermain di hadapannya .
sementara di tempat lain Calista dan Lisa baru terbangun dari tidur mereka di akibat dari pancaran sinar matahari yang menerpa wajah bantal mereka berdua , yang menembus dinding kaca pada jendela kamar yang mereka berdua tempati sehingga mereka terbangun dengan terasa pusing kepala . mungkin akibat mabuk kemarin yang menyebabkan mereka merasa pusing yang begitu luar biasa .
Calista langsung turun dari ranjang dan berjalan gontai memasuki kamar mandi yang ada dalam kamar tersebut . sedangkan Lisa , dia bersandar pada kepala ranjang sambil dengan merenggangkan otot-ototnya yang terasa berat .
selang beberapa waktu , Calista sudah selesai dengan ritual mandinya . bahkan kini dia sudah duduk di meja rias dengan pakaian modis yang melekat di tubuh rampingnya .
" kamu mandi lah segera , agar kita bisa menjalankan rencana yang sudah kita buat " hardik Calista menatap Lisa dari pantulan cermin
Lisa yang tadinya duduk bersandar pada kepala ranjang , kini turun dari ranjang dan menuruti perkataan Calista yang merupakan Sahabatnya itu . beberapa menit kemudian Lisa sudah rapi dengan pakaiannya yang terlihat seperti pria atau lebih tepatnya Lisa adalah tomboi . karena Lisa memakai baju kaos hitam di balut dengan jeket jeans dan celana jeans panjang .
" kau tak bisa Makai baju yang lain ? " tanya Calista yang terlihat kesal dengan penampilan sahabatnya
" gak , lagian apa enaknya si pakai baju yang beginian . geli tau " ujar Lisa dengan tatapan tak suka melihat baju yang di kenang oleh sahabatnya
" terserah " hardik Calista yang malas untuk berdebat dengan Lisa dan pergi meninggalkan Lisa yang masih sibuk di dalam kamar
Calista pergi menuju meja makan yang di sana sudah ada makanan yang dihidangkan oleh pembantunya . Calista makan dengan lahap sampai kandas dengan tanpa menyadari Lisa sudah duduk disampingnya yang juga ikut makan bersama .
" cepat dong Lisa , lemot amat " kesal Calista
" sabar " sahut Lisa dengan mulut penuh
Calista sungguh merasa kesal dengan Sahabatnya ini , sehingga dia memiliki untuk keluar terlebih dulu dan memutuskan menunggu Lisa di ruang tamu . saat Calista melangkah menunjuk ruang tamu , ternyata di depan pintu Basri sudah berdiri dengan tegap disana .
Deg
" ada apa dengan ku ? kenapa jantung ku berdegup hanya karena melihat dia ? masa iya aku ..." dalam hati Calista
Calista mengurumkan niatnya untuk menunggu Lisa di ruang tamu , Mala dia melangkahkan kakinya menuju Basri yang masih setia berdiri di depan rumahnya .
" selamat siang bos " ucap Basri
" emm siang " sahut Calista sambil menetralkan detak jantungnya
" apa bos ingin pergi sekarang ? "
Basri hanya mengangguk sopan tanpa menatap wajah Calista , sehingga membuat Calista merasa marah karena Basri sejak tadi hanya menunduk kepala dan tanpa menatap wajahnya .
" kalo bicara itu tatap mukanya , dasar tak sopan " hardik Calista sambil melipat Tangan di atas perut , mendengar itu Basri masih tetap menunduk kepalanya dan semakin membuat Calista marah
" apa kau tuli " ketus Calista
" tidak bos " jawab Basri sambil mengangkat kepalanya menatap sekilas Calista dan kembali menundukkan kepalanya
Calista sungguh merasa dirinya sial di hari yang cerah ini , yang tadi sahabatnya dan sekarang pria yang ada di depannya . namun , dia juga belum tau apa yang membuatnya semarah ini dengan Basri . hanya karena Basri acuh padanya dan tak mau menatapnya membuat darahnya seakan mendidik .
" Calista kamu kenapa ribut di bagi yang cerah ini ? dan siapa pria tampang ini ? " cecar Lisa yang tiba saja muncul dan berdiri di sampingnya Calista
" ini siang Lisa " jawab Calista dengan kesal
" oooo kirain eheheh "
Calista yang sudah mengenal sifat Sahabatnya ini hanya bisa menghembuskan nafas berat . kemudian dia menatap Lisa dengan ekor matanya , dan betapa terkejutnya dirinya . Lisa menatap Basri dengan tatapan seperti seorang wanita yang menyukai seorang pria .
" Lisa " pekik Calista di telinga Lisa
" apaan ? " ketus Lisa sambil menatap Calista yang masih berdiri di sampingnya
" Uda kau hubungi ? "
" belum "
" Analisa Syahputri ! " seru Calista yang sudah memerah padam di wajahnya
Lisa yang sudah mengenal lama Calista hanya pergi menjauh dari sahabatnya itu . Lisa tau , bila sahabatnya itu sudah memanggil nama lengkapnya , itu artinya Calista sudah sangat marah . buktinya terlihat di wajahnya yang putih mulus itu sudah menjadi merah padam .
Huuuh
Calista menghembuskan nafas beratnya , seakan membuang beban pikirannya dan hatinya . kemudian Calista kembali menatap Basri yang masih menundukkan kepalanya .
" jangan dekati Lisa " pinta Calista dengan tegas
" sesuai dengan keinginan mu bos " sahut Basri
Calista hanya bisa mendengus , karena Basri masih saja menundukkan kepalanya . namun , itu memang sudah sewajarnya . memang seharusnya seorang pengawal atau bawahannya menunduk dengan hormat pada bosnya . tapi Calista tidak tau mengapa dirinya merasa kesal dengan sikap Basri , dia sempat berpikir . mungkinkah aku menyukainya ? namun hal itu dia tepis jauh-jauh dari pikirannya .
Calista melangkahkan kakinya dengan angkuh mendekati mobil dan dengan sigap Basri membuka pintu mobil untuk bosnya . Calista akhirnya tersenyum tanpa di sadari olehnya dan tanpa di lihat oleh Basri . Calista sudah berada dalam mobil menunggu sahabatnya yang tomboi yang masih sibuk dengan ponselnya .
" terima kasih " ucap Lisa dengan lembut pada Basri yang membukakan pintu mobil untuknya dan Basri hanya mengangguk sopan tanpa mengeluarkan suara
kini Lisa sudah duduk di samping Calista , tapi Lisa tak menyadari tatapan tajamnya Calista . karena Lisa selalu menatap kedepan yang di mana ke beradaan Basri .
" bagaimana ? " tanya Calista dengan tatapan dinginnya kepada Lisa , Lisa yang mendengar suara sahabatnya . terpaksa mengalihkan perhatian pada Calista
" dia tidak mau " jawab Lisa acuh dan kembali menatap Basri yang sedang mengemudikan mobil
" kenapa ? "
" entahlah "
" Lisa ! "
" apa si ? " tanya Lisa sambil menatap wajah Calista yang langsung mendapat tatapan dingin dari sahabatnya , membuat dia merasa merinding
" kalo ngomong itu tengok orangnya " hardik Calista dengan masih menampilkan tatapan dinginnya pada Lisa , sahabatnya
" emm baiklah " pasrah Lisa
" terus kapan dia akan mau ? " tanya Calista dengan tatapan yang tak lagi dingin
" kalo soal itu aku tak tau lagi , dan sepertinya dia memang tidak akan mau . apa kamu gak ingat ? saat si balok es pergi ke Australia , Rona di sekolah kebanyakan melamun seakan tak punya semangat hidup " jelas Lisa sambil menerawang ke masa lalu
" benar juga si , tapi tak ada salahnya bila kau mencoba terus untuk menghubungi dia " ujar Calista dengan santainya
" terserah "
Lisa kembali mengacuhkan Calista dan dia kembali menatap wajah tampan Basri yang dengan serius menatap ke depan mengemudikan mobil .
" bos , ingin kemana ? " tanya Basri yang sejak tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan dua wanita yang ada di belakangnya
" terserah " ketus Calista acuh
" apa aku membuat kesalahan ? tapi ...apa kesalahannya ku ? apa mungkin dia kesal karena ku tak menatapnya ? tapi ...masa iya si karena hal itu ? " dalam hati Basri
Calista dan Lisa sama-sama diam dalam keheningan di dalam mobil dan mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing . sedangkan Basri tetap fokus menyetir tanpa tau arah akan kemana yang akan di tujuan olehnya .
keheningan yang mereka lakukan di dalam mobil , hanya di temani oleh suara klekson kendaraan lainnya yang berada di sekitar mereka yang terlihat hari sudah semakin siang karena terlihat matahari sudah berada di atas sana dengan panasnya yang semakin terasa yang menandakan pukul 12 siang .
" kita makan siang " ucap Calista membuka suara pada akhirnya
" baiklah " jawab Basri
Basri mengemudi mobil menuju sebuah restoran mewah yang kemarin malam dia tempati bersama dengan Calista dan hal ini membuat Calista senang terlihat dia tersenyum manis tanpa tersadari olehnya . namun , senyuman itu terlihat oleh Basri dan tentunya Basri juga ikut tersenyum . Lisa yang sejak tadi menatap Basri ikut merasa senang melihat senyum hangat yang di miliki oleh Basri .
" sangat tampang " dalam hati Lisa
Basri turun dari mobil , kemudian mengitari mobil untuk membuka pintu penumpang untuk bosnya dan hal ini membuat ke dua wanita yang ada di dekatnya merasa senang dengan senyuman di wajah mereka yang satu sama lain tidak mereka sadari sama sekali . mereka pun memutuskan untuk makan siang bersama , walau Basri sudah menolak dengan sopan . tapi tetap saja ke dua wanita di hadapannya memaksa dirinya untuk makan siang bersama dengan Calista yang mengancamnya akan memotong gajinya .
walau di dalam hati Basri merasa ragu menuruti kemauan dua wanita cantik . namun , dia juga tak punya pilihan selain mengiyakannya saja . orang yang berada di restoran merasa tertegun melihat Basri di temani oleh dua wanita cantik .
...Bersambung...