Rona

Rona
eps . 77



kala matahari berpindah posisinya , dan kini hari telah sore . namun , Dina masih suka menghibur diri bersama ke dua temannya di sebuah tempat karaoke , sehingga Dina melupakan tugasnya dan kewajiban sebagai seorang istri , yaitu pulang ke rumah dan sepertinya Dina lupa waktu karena hal ini yang ingin menghibur diri bersama sahabatnya .


" sekarang giliran kamu Dina ! " seru Gita sambil menyerahkan mic pada sahabatnya yang sejak tadi hanya berjoget bersama


" malas ah , kalian aja yang nyanyi . aku joget gini aja " jawab Dina sambil tetap meliuk-liukan tubuhnya mengikuti musik yang masih berbunyi dengan keras di ruang yang di pijaki


" ayo dong ... masa kita aja yang nyanyi . giliran mu sekarang ! " pinta Mila sambil berdiri yang kini sedang sibuk mengganti lagu dengan menggunakan retmo


" huuu... baiklah "


akhirnya pun Dina pasrah menurut perkataan sahabatnya untuk menyanyikan sebuah lagu yang telah di siapkan oleh Mila dan bahkan tangan kanannya sudah terdapat sebuah mic yang di berikan oleh Gita .


" lagu dangdut , jangan yang sad " ketus Dina pada Mila , dan Mila hanya terkekeh geli


" ok , gimana kalo lagu syantik ? " tanya Mila dan di angguki Dina


" ayo Ratu dangdut ! " seru Gita dengan kepalan tangannya terangkat keatas meninju udara


Dina pun mulai nyanyi lagu dangdut yang pernah di nyanyikan oleh salah satu wanita artis Indonesia . bahkan kedua sahabatnya itu ikut berjoget bersamanya , sambil dirinya tetap bernyanyi dengan hebohnya .


sementara di tempat lain , Diyan sudah berada di dalam mobil dan kini menyalakan mobilnya . kemudian melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah sakit tempat kerjanya . sampai dalam perjalanan Diyan tetap fokus menyetir , hingga hampir satu jam mobilnya berhenti tepat di halaman rumahnya .


" kenapa sepi sekali ? tumben dia gak menyambut ku ? " cecar Diyan saat membuka pintu yang tak terkunci , kemudian melangkahkan memasuki rumah dengan tak lupa menutup pintu


Diyan langsung melangkahkan kakinya menuju dapur , tapi dia tak menemukan apa pun . kemudian Diyan melangkahkan lagi menuju kamar Dina , dan ternyata juga tak menemukan apa pun dan kini Diyan memilih untuk menuju kamarnya yang berada di lantai dua .


" kemana dia ? aku sudah pulang , tapi dia tak ada di rumah . apa jangan-jangan dia masih bersama temannya itu ? atau dia ... ah terserah dia lah mau apa ! " ujar Diyan dengan nada dinginnya


Diyan kemudian melakukan ritual mandinya , setelah selesai dia menuju melangkahkan dapur dengan pakaian santai yang telah melekat di tubuh kekarnya . Diyan sengaja menyibukkan dirinya , seperti saat ini yang sekarang sedang menonton TV di ruang keluarga yang cukup dekat dengan dapur . namun , walau pun begitu Diyan masih memikirkan Dina yang tak kunjung pulang . bahkan langit sudah terlihat gelap , membuat dirinya merasa tak tenang .


" kemana si dia ? jam segini masih juga belum pulang , apa aku cari saja ... ya ! aku cari saja " kata Diyan


Diyan pun berdiri dari duduknya dan dia langsung matikan TV . kemudian mengambil kunci mobil di atas nakas samping ranjang kamarnya . kini Diyan sudah sibuk menyetir , mengikuti pentunjuk jalan tempat keberadaan Dina melalui GPS yang sengaja dulu dia masukkan di ponsel Dina dan tentunya hal itu tak di ketahui Dina .


Diyan langsung menghentikan mobil di sebuah tempat yang dia tak tau tempat apa . karena terlihat sangat rame , dan bahkan banyak sekali sepasang kekasih keluar masuk dari tempat itu . Diyan yang memang sifatnya dingin dan datar tak memperdulikan tatapan mata aneh atau hal lainnya . dia tetap bersikap cuek dan fokus mencari keberadaan Dina dengan tetap menatap ponselnya dan sekitar dengan bergantian .


" ternyata kamu sedang asyik-asyiknya " gumam Diyan dengan tatapan tajamnya seperti elang menatap Dina dengan bersama dua wanita lainnya yang sedang meliuk-liukan tubuh mereka


Dina dan kedua sahabatnya masih sibuk meliukkan tubuh mereka mengikuti alunan musik yang cukup keras , tapi kini yang bernyanyi Gita dengan sangat hebohnya . bahkan ketiga wanita ini tak menyadari , bila ada sepasang mata yang menatap mereka dari balik lapisan kaca tempat mereka berada.


" Din . ko aku merasa merinding ya " bisik Mila di telinga Dina , sambil dirinya mengusap tengkuknya dan Dina terus saja meliuk-liukan tubuhnya menghiraukan bisikan Sahabatnya


" Dina " pekik seseorang dengan begitu keras dan dingin . bahkan musik yang sedang berbunyi pun kala


Dina yang namanya di panggil oleh seseorang merasa terkejut , karena dia mengenal suara yang memanggilnya dan kini dengan perlahan Dina menggerakkan kepala ke arah pintu ruang karaokenya . sungguh Dina sangat terkejut melihat suaminya sudah berada di tempat yang sama dengannya . bahkan tatapan dingin dan tajam membuat tubuh Dina menjadi kaku , bahkan kerongkongannya terasa tercegat membuatnya sulit untuk menelan salivanya .


Dina yang sudah seperti patung tak tau harus apa dia hanya menatap suaminya dengan diam dengan perasaan terkejut dan was-was . sama halnya dengan kedua sahabatnya yang juga terkejut , bahkan Gita sudah menjatuhkan mic yang tadinya berada dalam genggamannya . sedangkan Mila hanya diam saja dan tak tau harus apa.


" pulang " hardik Diyan dingin , kemudian melangkahkan pergi meninggalkan tempatnya berdiri


" Din ... kamu jangan pulang , nginap di apartemen aku aja " kata Gita setelah lama diam mematung , dan kini menatap wajah sahabatnya yang sedang menghela nafasnya yang sempat tercegat


" gak perlu Git , aku pulang duluan ya ... kalian tenang aja . aku gak akan kenapa-napa ko " ujar Dina menyakinkan ke dua sahabatnya yang terlihat khawatir dengan dirinya


" kamu yakin ? suami kamu aja tadi terlihat menyeramkan ... dan pantasan saja aku merasa merinding . rupanya ada suami kamu " sahut Mila yang kini juga menatap wajah Dina , dengan dirinya yang juga merasa takut melihat wajah datar dengan tatapan tajam Diyan


" aku jamin , aku tidak akan kenapa-napa . mas Diyan pasti tidak akan main kasar ko " tutur Dina yang masih setia meyakinkan sahabatnya


" benaran ya ... kalo sampai suami kamu main kasar , langsung aja hubungi aku atau Mila yang Din " sunggut Gita kesal yang masih merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya


" iya de iya , ok aku pulang ya . sampai ketemu lagi sahabat ku "


Dina dan kedua sahabatnya pun berpulang sebelum akhirnya berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing dan kini Dina sudah berada di dalam mobil , serta terlihat ke dua sahabatnya masih berdiri di samping mobilnya dengan jendela yang terbuka , sehingga masih terlihat wajah khawatir sahabatnya terhadapnya dan dia hanya bisa memberikan senyumannya , seakan berkata bila dia akan baik-baik saja . sampai akhirnya dia melajukan mobil menuju rumah dengan perasaan was-was .


" semoga saja mas Diyan tak melakukan sesuatu yang akan menyakiti ku ... rasanya aku ingin lari saja dan tak ingin pulang ke rumah " gumam Dina dengan matanya yang tetap fokus kedepan menyetir mobilnya


namun , Dina tak mengetahui jika ada sebuah motor ninja hijau yang mengikutinya dari belakang . sampai akhirnya Dina menghentikan mobil di depan rumahnya . sedangkan motor ninja hijau yang mengikutinya juga berhenti , tapi sedikit jauh dari tempatnya berada .


Dina Kemudian turun dari mobilnya dengan tak lupa mengunci mobilnya dengan remote control mobil , setelahnya Dina melangkahkan kakinya memasuki pintu rumahnya yang terbuka lebar yang seakan menantikan kepulangannya . Dina pun masuk , kemudian langsung menutup pintunya serta menguncinya . walau sebenarnya dia engga menguncinya , tapi dia harus berfikir positif . bila Diyan tak akan mungkin berbuat kasar , hanya karena dirinya mencari hiburan dan terlambat pulang .


sementara seseorang yang sejak tadi memperhatikan Dina yang masih setia duduk di motor ninja hijaunya , masih berada di tempatnya dan kini dia kembali menyala motornya dengan berputar arah . setengah jam perjalanan , motor ninja hijau pun berhenti tepat di rumah mewah . kemudian orang yang menumpangi motor ninja hijau pun turun setelah mematikan mesin motornya . setelahnya dia melangkah memasuki rumah dengan pintu yang terbuka sebelah dan tentunya dia sudah melepaskan helmnya .


" assalamualaikum " ucapnya memasuki pintu rumah mewah


" wa'alaikumsalam , siapa ya ? " sahut seorang wanita paru baya


" saya Lisa Bu , sahabatnya Calista " jawabnya yang ternyata adalah Lisa


" o... sahabatnya Calista , kalo gitu ayo masuk . Calistanya lagi nonton TV " ujar wanita paru baya dengan senyuman pada Lisa dan Lisa hanya tersenyum dengan mengagukkan kepalanya


wanita paru baya tersebut pun melangkahkan menuju ruang TV dengan di ikut oleh Lisa di sampingnya . sesampainya si ruangan TV , Calista yang asik nonton tak menyadari kehadiran sahabatnya . membuat Lisa sedikit kesal , tapi juga senang . karena bahkan dulu Calista sangat tak suka untuk menonton TV .


" Calista ... ada sahabat kamu nak " kata wanita paru baya tersebut dan sontak Calista langsung menolehkan kepalanya


" Lisa " pekik Lisa sedikit keras , kemudian dia berdiri dan langsung memeluk sahabatnya


" masih ingat aku ternyata " ketus Lisa yang langsung membalas pelukan Sahabatnya


" ya jelas ingat dong ! " seru Calista dengan wajah cemberutnya yang kini telah melepaskan pelukannya


" masa ? kirain Uda lupa . karena bentar lagi kan kamu mau nikah "


" terserah kamu de mikirnya apa , eh tapi ada apa Lis ? tumben malam gini kamu mau kesini , ini kan larut Lisa "


" aku ada berita , dan pastinya akan membuat kamu terkejut "


Lisa bukannya menjawab tapi Mala menarik tangan Calista dan Calista menahan dirinya . karena merasa tak enak dengan orang-orang yang berada di rumahnya .


" Lis .. tunggu dulu " ucap Calista dan Lisa pun berhenti melangkahkan kakinya , kemudian Calista menatap orang-orang yang sejak tadi menatap interaksi mereka berdua


" ma , pa Calista tinggal bentar ya " kata Calista menatap orang-orang yang berada di rumahnya , kemudian menatap pria yang tadinya duduk di sampingnya dan semuanya hanya mengangguk mengerti bila Calista perlu waktu bersama sahabatnya


Lisa yang mendengar perkataan Calista terkejut , membuatnya tersenyum kikuk setelah menyadari . bila wanita paru baya tadi yang bersamanya , merupakan calon mertua sahabatnya .


kini Calista yang menarik tangan Lisa menaiki tangga menuju kamarnya dan Lisa hanya menuruti langkah sahabatnya . karena dirinya juga tak sabar ingin menyampaikan berita yang dia lihat sendiri tadi .


" ok , sekarang cerita . berita apa yang kamu dapatkan Lis ? " tanya Calista akhirnya setelah menutup pintu kamarnya dan kemudian duduk di pinggir ranjang di samping Lisa


" tadi saat aku mau pulang ke rumah , aku tak sengaja melihat Rona keluar bersama dengan dua wanita dari tempat karaoke . tempat kita dulu , kamu ingatkan tempat kita dulu yang kadang karaokean dengan minuman " jeda Lisa dengan masih menatap wajah sahabatnya


" masa si dia ke situ ? bukannya dia tekun agama ya ? terus ke dua wanita yang kamu bilang itu siapanya ? " cecar Calista yang juga terkejut mengetahui hal yang di ceritakan Lisa , setelah Calista mengingatkan tempat dirinya menghilangkan beban


" mana aku tau soal itu dan bahkan perutnya tak buncit lagi . mungkin dia depresi , karena suaminya ...."


" emm mungkin saja , berarti maksud kamu Rona ke guguran gitu ? "


" bisa jadi , dan bahkan dia sepertinya sudah punya pengantin "


" maksud kamu ? "


" saat dia meninggalkan tempat itu dengan mobilnya , aku ngikutin dia dan dia berhenti di sebuah rumah yang lumayan mewah dan bukan di rumahnya . coba kamu pikirkan de , ngapain dia ke rumah itu ? jika dia masih punya rumahnya sendiri ? "


" kamu jangan suzon dulu Lis , mungkin ajakan rumah yang kamu sebut itu . rumah sahabatnya yang lain "


" emm bisa jadi si , ya Uda itu aja berita yang ku dapat . tapi apa mungkin Vero tiada ? "


" I don't care "


" yeeeeee . mentang-mentang Uda punya calon suami , merasa tak peduli ni " ledak Lisa , walau sebenarnya dia juga tak peduli . karena dia Uda bertekad untuk tidak memandang pria mana pun yang nantinya akan menyakiti hatinya lagi


" jelas dong , kalo ada yang lebih mudah . kenapa harus cari yang sulit " kata Calista dengan senyuman manisnya , merasa sangat senang . karena dirinya sudah menemukan kebahagiaannya sendiri dan bahkan dia sebentar lagi akan menjadi istri seseorang


Calista dan Lisa pun sedikit bercanda dengan tawa serta senyuman yang terpancar di wajah cantik keduanya . sampai azan isya terdengar , membuat Calista dan Lisa menghentikan pembicaraan mereka . semua yang ada di rumah Calista pun melaksanakan shalat isya di ruangannya masing-masing .


sementara di tempat lain , Dina sedang menangis di dalam kamarnya . setelah mendapat ke marahan dari suaminya , yaitu Diyan . Dina hanya bisa meratapi nasibnya yang begitu pedih , dengan berandai dan berharap . membuat Dina hanya bisa menangis untuk sekarang dan berharap bila ada yang membawanya pergi dari sebuah hubungan yang membuatnya tertekan .


" mama , papa . apa kalian masih ada ? apakah aku punya saudara ? aku mohon , pertemukan aku dengan keluarga ku yang sesungguhnya . aku tak ingin selalu seperti ini " gumam Dina dengan suara bergetar akan tangisnya yang terus melanda , karena luka di hati dan serta harapan yang belum menemukan titip terang


Dina berharap bila ada keluarga atau kerabatnya yang mencarinya dan bisa membawanya pergi . walau sebenarnya dia masih ragu , jika masih ada keluarga atau kerabatnya . tapi , baginya tak ada salahnya bila dia berharap pada takdir yang sudah di tuliskan oleh Tuhannya . takdir dan nasib yang dia jalani dengan senyuman dan kesabaran dalam harapan yang dia inginkan .


sedangkan Diyan , juga merasa menyesal telah memarahi Dina . namun , dia juga bingung dengan sikapnya yang marah hanya karena tak mendapatkan Dina di rumah untuk menyambutnya pulang seperti biasa .


" kenapa aku semarah ini dengannya ? " gumam Diyan menatap kosong Langit gelap , yang tak di hiasi gemerlap bintang dan sinar rembulan


seakan semesta mengerti dengan perasaan wanita yang telah dia sakiti . wanita yang merupakan istrinya , istri yang tak dia cintai telah dia sakiti dengan perkataannya sendiri . wanita yang dulu dia anggap sebagai seorang kakak , karena perbedaan usianya hanya 1 tahun yang kini telah menjadi istri . karena dulu Diyan tak pernah membayangkan akan menikah dengan Dina , tapi karena ayahnya yang meminta dia harus menuruti akan hal itu .


saat dia sudah menjadi suaminya Dina , Diyan bertemu dengan salah satu wanita yang merupakan pasiennya . namun , wanita itu sudah pindah ke Singapura . dia tau hal itu dari atasannya , dan saat itu dia semakin menutup diri dengan menggunakan sikap dinginnya yang akan membuat orang atau wanita menjauhinya . namun , kini dia Mala menyakiti hati wanita yang merupakan istrinya yang sabar menghadapi sikapnya .


" aku harus menemui Dina sekarang " putusnya setelah berpikir panjang


Diyan pun melangkahkan kakinya keluar kamar , kemudian menuruni tangga dan langsung menuju pintu kamar Dina .


" Dina " panggil Diyan berulang kali sambil mengetuk pintu , tapi tak ada sahutan dari dalam . membuatnya berpikir yang tidak-tidak


tanpa berpikir lagi , Diyan langsung memdopra pintu yang terkunci yang hanya terbuat dari kayu . memdopra dengan tenaga yang dia miliki , sampai pada akhirnya pintu terbuka dan dia langsung melihat kamar Dina dan menampakkan seorang wanita duduk di sudut kamar dengan memeluk ke dua lututnya . Diyan yang melihat merasa sakit di hatinya , tapi dia langsung mendekati Dina yang berada di sudut kamarnya dengan jendela balkon yang terbuka lebar . bahkan angin bertiup kencang memasuki ruang kamar Dina , sehingga terasa dingin .


Diyan langsung mengambil selimut yang berada di ranjang kamar yang dia pijaki saat ini , kemudian langsung menutupi seluruh tubuh Dina dan duduk di lantai di hadapannya Dina .


" maaf " hanya satu kata yang dapat terucap dari bibir Diyan , setelah menyelimuti wanita yang telah dia sakiti


" Dina " panggil Diyan , karena Dina tak kunjung mengakat kepalanya . membuat dirinya semakin merasa bersalah dan menyesal


" maaf , aku tak tau . kenapa aku semarah itu dengan mu . maafkan aku Dina , aku akan melakukan apa pun agar kamu memaafkan ku . kamu bisa memukul dengan apa pun , tapi tolong maafkan aku " tutur Diyan dengan nada lembut , membuat Dina perlahan mengakat kepalanya dan terlihatlah wajah sembab akibat tangisnya


" lakukan apa yang kamu mau terhadap ku , aku tidak akan membalas itu . tapi , plis ... maafkan aku " ujar Diyan terus menerus , karena Dina hanya menatap tanpa mau berkata apa pun


Dina tidak mengatakan apa pun , dia langsung berdiri melepaskan selimut yang tadi berada di tubuhnya dan melangkah memasuki kamar mandi yang ada di kamarnya . Diyan pun berdiri , dan menggusar rambut dengan kasar melihat Dina hanya diam .


Diyan pun menutup jendela balkon kamar , agar angin tak lagi masuk ke kamar Dina dan bahkan dia juga menutup pintu kamar serta menguncinya . setelah , semuanya di tutup Diyan langsung duduk di sisi ranjang menunggu Dina keluar dari kamar mandi . Diyan ingin menyelesaikan masalahnya malam ini juga .


selang 15 menit menunggu , akhirnya Dina keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan baju tidur yang berwarna pink . Diyan menebak jika Dina mandi dan dia terus menatap Dina . Dina yang hanya diam dan tak di pungkiri dia sangat terkejut bila Diyan masih di kamarnya .


" Dina " panggil Diyan , saat melihat Dina ingin membuka pintu . namun , tak bisa karena Diyan sudah mengunci . membuat Dina semakin merasa terkejut dengan perubahan sikap Diyan


" maafkan aku " ucap Diyan dengan lembut , bahkan kini Diyan sudah berada tepat di belakang Dina


Dina pun membalikkan tubuhnya dengan perlahan setelah menyadari jika Diyan berdiri di belakangnya . namun , saat mata mereka saling bertatapan . tiba-tiba saja lampu padam dan sadar tidak sadar Dina memeluk Diyan . karena dirinya memang takut kegelapan , sedangkan Diyan tidak menolah bila Dina memeluknya . bahkan entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat .


" kenapa dengan jantung ku ? apa mungkin karena Dina yang memelukku ? " dalam hati Diyan yang masih setia memeluk Dina


" Dina " panggil Diyan akhirnya setelah lama terdiam dengan perasaannya yang campur aduk


" diam , aku takut gelap . kali ini temani aku " ketus Dina dan Diyan pun menuruti


Diyan pun membawa Dina ke ranjang , dan alhasil mati lampu . Diyan dan Dina tidur seranjang untuk pertama kalinya . perlahan-lahan Diyan dan Dina pun tertidur dengan kehangatan yang mereka ciptakan dalam pelukan yang entah mereka sadari atau tidak .


...Bersambung...