
hari telah siang , sang Surya telah berada tepat di atas langit biru dengan di temani awan putih di dekatnya . shalat ashar telah terlewatkan dan tentunya telah dilakukan bagi kaum muslim . kala itu , Calista dan Basri sedang makan siang di sebuah kafe yang dekat dengan perusahaan .
" kenapa berkata begitu ? " tanya Calista pada Basri , setelah dirinya selesai menghabiskan semua makanannya
" untuk meyakinkan para direktur " jawab Basri yang tau arah pembicaraan Calista
" tapi gak harus berkata begitu , bagaimana jika kamu tak bisa melakukannya dalam waktu sebulan ? " ujar Calista kesal
" apa kau meragukan ku ? " tanya Basri balik pada Calista , dan Calista seketika diam serta rasa kesalnya pun pudar
" ter...se..rah " sahut Calista terbata-bata , karena Calista tidak meragukan Basri . bahkan dia sangat yakin dan percaya bila Basri bisa menjalankan perusahaan milik papanya
" bagus , sekarang kamu . kenapa kamu mengatakan pada rekan bisnis mu ? bila aku calon suami mu ? " cecar Basri menatap wajah Calista dengan serius , membuat Calista diam membisu
" apa harus sekarang ? aku mengatakan syarat ke tiga ku ? atau ...." dalam hati Calista
" apa mungkin ? syarat ke tiga yang dia maksud ? adalah aku menjadi suaminya , tapi apa itu mungkin ? " dalam hati Basri
Calista tetap diam , kemudian dia langsung berdiri dan tentunya hal itu membuat Basri ikut berdiri dengan tetap menatap wajah Calista untuk mencari kebohongan atau sesuatu yang bisa dia baca .
" jam makan siang sudah selesai " ucap Calista dan berlalu pergi keluar kafe . namun , langkah Calista terhenti , saat sebuah tangan kekar mencekal pergelangan tangannya
" jawab dulu " titah Basri tanpa melepaskan cekalan tangannya pada Calista
" gak ada waktu " kilah Calista yang masih tak mau mengaku dan dia berusaha untuk lepas dari cekalan tangan kekar Basri
" seperti harus dengan paksaan " hardik Basri dingin
" lepaskan ! " seru Calista geram
" gak akan pernah ku lepaskan "
" lepaskan ! "
Basri bukannya melepaskan pergelangan tangan Calista , tapi Mala menarik tangan Calista untuk mengikutinya dan kini sekarang mereka telah berada di koridor perusahaan .
" apa yang akan Basri lakukan ? sekarang dia bukan lagi bawahan atau pun anak buah ku . tapi dia pria yang telah ku pilih untuk masa depan ku , apa aku beritahu saja tentang rencana ku padanya ? agar Basri tidak seperti ini , aku takut bila dia juga akan pergi dari ku " dalam hati Calista
" sepertinya aku harus jujur dengan perasaan ku , agar Calista tidak membuat sebuah permainan apa pun lagi . tapi bagaimana jika dia menolak cinta ku ? apa aku harus menerima kenyataan yang pahit lagi ? masa bodoh , aku akan ungkapkan perasaan ku , urusan di tolak itu belakangan . sekarang aku harus mengungkapkan perasaan ku , dan aku tak akan biarkan dia lepas dari ku . walau dia menolak ku , biarlah semesta menyebut ku pria egois " dalam hati Basri yang tetap mencekal erat pergelangan tangan Calista , seakan tak membiarkan Calista lepas
semua mata menatap Calista dan Basri yang saling bergandengan tangan dan berpikir bila mereka memamerkan kemesraan . namun , mereka tidak tau dibalik sikap Calista dan Basri yang santai saat ini yang katanya sedang memamerkan kemesraan , Calista dan Basri sebenarnya sedang menyimpan rasa kesal dan marah di antara mereka berdua . sedang mengalami perdebatan , karena Calista masih teguh pada rencananya dan Basri masih berusaha untuk mengetahui apa yang di simpang oleh Calista .
" jawab " hardik Basri setelah mereka telah berada dalam lift
" apa ? " tanya Calista yang berpura-pura tidak tau arah bicara Basri
" jangan berpura-pura "
" siapa yang berpura-pura "
Basri yang mulai sangat kesal langsung menjerat Calista dalam pelukannya dan tentunya hal itu membuat Calista terkejut dan dia mencoba memberontak untuk melepaskan diri dari pelukan Basri .
" jawab atau tau resikonya " bisik Basri di telinga Calista , sehingga nafas hangat Basri menerpa tengkuk Calista dan seketika dirinya seakan terkena aliran listrik
" lepaskan Basri " bentak Calista , sehingga suara Calista menggelegar di dalam lift
Basri pun melepaskan Calista , saat lift telah terbuka sempurna . kemudian Basri langsung keluar dari lift dan meninggalkan Calista terdiam di dalam lift . sedangkan Calista langsung melangkahkan kakinya , di saat pintu lift ingin tertutup . Calista mengikuti langkah kakinya menuju ruang CEO dengan tatapan matanya yang kosong ke depan .
Ceklek
saat Calista membuka pintu , seketika sebuah tangan menariknya . siapa lagi jika bukan Basri , Basri Langsung mengunci pintu kaca yang tak tembus pandang itu dengan menggunakan remote control .
" lepaskan " ucap Calista , saat tau bila Basri yang menariknya dan kini Mala menjeratnya dalam dekapan Basri
" tak akan ku lepaskan sampai kapan pun "
mendengar itu , Calista berhenti memberontak . kemudian dia menatap lekat mata Basri yang sangat dekat dengannya yang hanya beberapa centimeter . Calista mencoba mencari kebohongan di sana , tapi yang dia temukan adalah sebuah rasa cinta .
" kenapa ? kenapa kamu tak mau melepas ku ? apa pentingnya aku untuk mu ? " tanya Calista sambil tetap menatap lekat mata Basri
" kau sangat penting buat ku " jawab Basri dengan lembut dan tak sekeras tadi
" apa yang membuat mu pentingnya diri ku ? "
" apa kau sangat ingin tau ? "
seketika Calista mengaguk dan Basri langsung tersenyum . kemudian Basri mendekatkan bibirnya di daun telinga Calista , dan tentunya hal itu membuat Calista dapat merasakan nafas hangat Basri yang menerpa tengkuknya yang mulus , putih bersih .
" aku mencintaimu Calista Amadea " bisik Basri , kemudian Calista langsung memeluk erat Calista dan Calista sangat bahagia . ternyata Basri juga memiliki perasaan yang sama untuknya
" kau tidak berbohongkan ? " tanya Calista untuk memastikan lagi sambil tetap menatap lekat mata Basri , mata pria yang telah menjeratnya dengan kehangatan yang nyata dan cinta yang dapat di rasakannya
" aku tak berbohong , semenjak kamu mengajak ku pergi ke pasar malam itu . aku sudah mulai menyukai mu , tapi ku terus menepis rasa ini . karena kamu dan aku sangatlah berbeda . sekarang aku mengakuinya , bila aku sangat mencintai mu Calista Amadea " ujar Basri sambil tetap memeluk erat Calista
" tapi ? apa kamu juga mencintai ku Calista ? " tanya Basri yang mulai melonggarkan pelukannya , dan menatap wajah Calista yang cantik serta mata Calista yang berkaca-kaca
Calista dan Basri saling berpelukan dengan rasa bahagia yang begitu indah , begitu luar biasa . Calista telah mendapatkan kebahagiaan yang dia inginkan , kebahagiaan yang penuh cinta , dan Basri telah mendapatkan wanita yang dia cintai dalam hidupnya .
sementara Rona di dalam kamar , dia sedang berbalas pesan dengan sang sahabat di grup Chet yang mereka ciptakan sendiri .
" Rona lagi ngapain ni ? " Nura
^^^" lagi nungguin kabar " ^^^
" kabar apaan ? " Elsa
^^^" kabar suami , dari kemarin belum memberi kabar sama sekali "^^^
" paling suami kamu si bucin lagi sibuk berbisnis di sana " Serly
^^^" emang suami kamu gak bucin Serly ? "^^^
" ehehheh iya gitu de , gak bucin amat " Serly
Elsa , Nura dan Serly hanya bisa berusaha menghibur Rona dari jarak jauh . walau mereka juga sangat bersedih mengetahui kabar yang sesungguhnya . namun , mereka bisa berkata apa selain hanya bisa memanjatkan doa untuk keselamatan sahabat mereka .
" sayang , raja ku . dimanakah diri mu ? aku sangat takut , takut kehilangan mu . aku mohon berikanlah aku kabar tentang mu , agar dirinya tak selalu merasakan cemas dan khawatir terhadap mu ? tolong beri aku kabar , agar firasat ini tidak benar , dan hanya rasa takut kehilangan mu saja . suami ku semoga Allah SWT selalu melindungi mu , di mana pun kau berada " dalam hati Rona dengan tatapan sendu , sambil tangannya sekali-kali berbalas pesan dengan sang sahabat di grup Chet
" ya Allah , selamatkanlah suami sahabat hamba . saya tak tega melihat kesedihan di mata sahabat hamba " dalam hati Elsa dengan matanya yang sudah meneteskan air mata sambil tangannya tetap berbalas pesan di grup sahabat
" kenapa selalu seperti ini ya Robbi ? kenapa engkau selalu menguji cinta Rona dan Vero ? saya sungguh tak sanggup , bila melihat sahabat saya terpuruk dan saya berharap engkau dapat memberikan Vero kekuatan serta mengembalikan Vero pada Rona , sahabat saya " dalam hati Serly yang juga ikut bersedih dengan tangannya yang juga sedang berbalas pesan pada sang sahabat
" Vero bertahanlah , demi Rona dan anak-anak mu . mereka sangat membutuhkan kehadiran mu , cepatlah kembali jangan menundanya lagi . ya Robbi , ya Allah . saya mohon berikanlah kekuatan untuk sahabat yang saya sangat sayangi " dalam hati Nura yang juga ikut menangis , merasakan kesedihan yang di dapatkan oleh sahabatnya tersayang
Rona sampai saat ini , belum mengetahui kabar yang sesungguhnya . karena dirinya terus berada di kamar dan mama atau pun papa juga tidak mempermasalahkan soal dirinya yang tetap berada di kamar . bahkan itu memudahkan mama dan papa untuk menghindari Rona , karena mama dan papa juga tak sanggup bila tidak menangis melihat Rona yang akan membuat mereka teringat pada sang putra tercinta .
" pak , apa sudah ada kabar dari Raka ? apa Raka sudah menemukan anak kita ? " tanya mama pada papa dengan linangan air mata yang berada dalam pelukan sang suaminya
" belum , kita berdoa saja . semoga Vero , putra kita masih di beri umur panjang dan semoga Vero segera pulang dengan ke adaan selamat dan sehat " tutur papa yang ikut menangisi sang putra yang belum kembali atau pun mendapat kabar tentangnya
sementara di tempat lain , Raka dan Rio sudah memijakkan kakinya di tanah . karena Raka ingin menelusuri hutan dengan berjalan kaki . Raka dan Rio melangkahkan di temani dua anak buahnya serta seorang dokter pria dan suster , serta sinar matahari yang menerpa , memberikan panasnya pada bumi dan hal itu dapat dirasakan oleh Raka , Rio dan lainnya .
" kita kemana lagi Raka ? sejak tadi jalan dan tak berhenti , kita masih belum menemukan Vero atau pun orang lain yang selamat . apa mungkin tidak ada yang selamat ? " ujar Rio yang sudah merasa lelah berjalan , yang kini dirinya di samping Raka
" coba kita ke sana " kata Raka melanjutkan langkahnya menuju barat
semua pun mengikuti langkah Raka , selang berapa lama berjalan . mereka dapat melihat seorang pria paru baya duduk bersandar pada pohon besar dengan wajahnya yang pucat .
" pak " panggil Raka
" kalian siapa ? apa kalian juga korban pesawat ? " tanya pria paru baya itu , sambil memperhatikan orang-orang yang berdiri di hadapannya
" bukan pak , kami ingin menyelamatkan korban pesawat . apa cuma bapak yang selamat ? atau masih ada kan yang lainnya ? " tanya Rio balik dengan sopan sambil menatap pria paru baya
" mari saya antar , masih ada beberapa orang lagi nak . terima kasih sudah mau membantu " tutur pak paru baya itu , yang mencoba untuk bangkit dari duduknya . namun , sulit karena tubuhnya yang lemas
" bapak tenang di sini , jangan memaksakan diri . bapak coba kasih saya petunjuk arah saja , biar dokter bisa merawat bapak " ujar Raka sopan sambil menampilkan senyum simpul
" o baiklah " sahut pria paru baya , kemudian dia menjelaskan arah petunjuk para korban pesawat yang masih selamat . Raka dan Rio mendengarkan saja dengan teliti serta mengingat agar mereka berdua menemukan orang yang lainnya , melalui pentunjuk arahan pria paru baya
" dokter , tolong prisah bapak ini . bila telah selesai suruh anak buah saya untuk membawanya ke Jakarta , agar bisa segera mendapatkan perawatan medis " titah Raka pada dokter yang kini berada di depannya
" baiklah pak Raka " sahut dokter dengan sopan
" kalian berdua ! satu ikut saya dan satunya temani dokter " pinta Rio tegas pada pria tegak yang kini ada di hadapannya , siapa lagi jika bukan anak buahnya Raka
" baiklah pak "
Raka dan Rio pun melanjutkan langkahnya mengikuti arahan pria paru baya tadi dan tentunya satu anak buahnya mengikuti mereka dari belakang . Raka dan Rio terus melangkah , sampai dia dapat melihat kumpulan orang-orang . ada yang terbaring kaku , ada yang duduk melamun dan ada juga yang melakukan sesuatu dengan bambu dan kayu .
" ternyata dugaan ku salah , masih ada yang selamat ternyata " ucap Rio tiba saja dengan senyuman memperhatikan orang-orang yang tidak jauh dari hadapannya
" iya sudah ayo kita harus cari Vero , aku tak ingin adik ku terus menunggu " kata Raka dengan wajahnya yang lesu karena rasa lelah
" bentar aku panggil helikopternya dulu " ujar Rio sambil mengeluarkan ponselnya . namun , tak bisa karena tak ada sinyal
" eh kamu ! pergi bawah helikopter kemari . cepat dan gak lama " hardik Rio pada anak buah yang ikut dengan mereka tadi
" baiklah pak , saya akan segera kembali dengan helikopter " sahut pria bertubuh tegak dengan sopan , kemudian dia berlari menuju tempat helikopter yang di tinggalkan tadi
Raka dan Rio melanjutkan langkah mereka mendekati kumpulan orang-orang yang sibuk dengan aktivitas mereka . saat kehadiran Raka dan Rio semua mata menatap kearah mereka berdua dan tentunya hal itu membuat Raka dan Rio juga menatap orang-orang . memperhatikan tiap wajah yang asing mata Raka dan Rio .
...*Bersambung...
menurut kalian ? diantara kumpulan orang-orang yang saat ini ada di hadapannya Raka dan Rio . apakah Vero ada di antara orang-orang asing yang di temukan Raka dan Rio ?
jangan lupa vote dan komen !
assalamualaikum*