
pagi menjelang tiba , di suatu tempat . tepatnya di sebuah bandara sepasang suami istri baru sampai dengan mobil yang masih setia di dekat mereka , serta ada 5 pria gagap dengan tubuh kekar dengan pakaian hitam yang begitu rapi di yakini seorang pengawal , tapi salah satunya juga ada seorang sopir yang mengantarkan mereka tadi .
" 3 orang ikut saya , 2 orang tetap disini dan kalian tau kan apa yang harus kalian lakukan ? " kata Ardi dengan tegas sambil menatap satu persatu pria di depannya itu
" iya pak " jawab ke-5 pria kekar itu dengan hampir bersamaan sambil menunduk kepala Dengan hormat
" bagus , saya akan berangkat dan kalian selalu beritahu saya tentang apa pun itu yang berhubungan dengan keluarga Grawijaya ! ngerti ! ? " ujar Ardi lagi dengan penekanan di setiap kalimatnya , membuat ke-5 pria itu semakin menunduk kepala karena takut . karena Ardi adalah bos mereka
" ngerti pak "
Ardi pun pergi sambil menggandeng tangan sang istri yang hanya diam dari tadi di sampingnya , serta tak lupa 3 pria pengawal yang di perintahkan di belakang mengikuti mereka .kini Yanti masih diam saja dengan duduk di jet pribadi sang suami yang setia berada di sampingnya .
" sayang kamu tidur saja , nanti bila sudah sampai aku akan membangunkan mu " tutur Ardi dengan lembut sambil melingkarkan tangannya kanannya di pundak sang istri
Yanti tidak menjawab , namun dirinya menuruti saja dengan diam . yaitu , berada dalam dekapan hangat suami tercintanya . sedangkan Ardi tak tau berkata apa lagi , selain tetap berada disisi sang istri tercintanya yang sedang mengandung anak pertama darinya .
" Rona sudah saatnya kita berpisah dan sudah saatnya aku pergi menjauh dari mu . serta ku kan tetap mengingat janji yang sudah terungkap dari bibir ku dan ku tak akan pernah melupakan itu . ku harap kau bahagia bersama orang yang kau sayangi dan kau cinta " dalam hati Yanti yang kini membalas pelukan Ardi , sang suami .
" sudah saatnya ku berusaha untuk hidup dalam rasa cinta yang ku miliki dan ku tak akan pernah ingin merelakan mu pergi dari ku yanti . Rona dan Vero sudah saatnya diri ku menjauh dari kalian berdua dan ku harap kalian tak akan ada yang memisahkan dan sungguh ku minta maaf akan masa lalu . aku janji bila saatnya aku kembali lagi kesini aku akan melakukan apa pun untuk mendapatkan maaf dari mu Vero , Rona " dalam hati Ardi dengan tetap memeluk erat istri tercintanya
jet pribadi yang mereka naiki pun mulai menyala dan perlahan pastinya berangkat menuju tujuan yang mereka inginkan . sementara di tempat lain Rona masih tetap berada dalam kamar sambil bermain ponsel , karena dirinya tak di perbolehkan keluar rumah sebelum hari untuk ke puncak telah tiba nantinya . karena hal ini atas ke inginan Vero , suami tercintanya Rona .
namun , Rona terkejut membaca sebuah pesan dari Yanti yang beberapa waktu lalu .
" Rona ku harap suatu hari kita dapat bertemu , walau aku juga ragu dan tak yakin akan hal itu . tapi aku akan tetap menepati janji ku , dan sudah saatnya aku pergi meninggalkan kota ini . bila saatnya tiba nanti aku akan segera memberikan anak ku pada anak mu untuk menepati janjiku , dan ku akan selalu mendoakan mu bahagia . sampai jumpa Rona , assalamualaikum "
selesai Rona membaca pesan dari Yanti , dia langsung menghapus air matanya yang tanpa sengaja jatuh membasahi pipinya . setelah Rona menghapus bersih air matanya , Rona pun langsung membalas pesan Yanti .
" terima kasih atas janji yang kau ucapkan , dan ku harap janji yang kau ucapkan menjadi nyata . aku juga berdoa semoga kau bahagia di mana pun kau berada Yanti . semoga anak mu juga selalu saat dan dia yang akan menjaga anak ku bila diri ku tak ada di dekatnya nanti "
Rona kembali menyimpan ponsel pada nakas , saat mengetahui sang suami masuk kamar dengan tadinya pintu tertutup dan kini telah terbuka lebar oleh Vero , suami tercintanya . membuat Rona bernafas lega , karena dirinya berhasil membalas pesan Yanti dan sang suami tak merasa curiga sama sekali .
" yank aku ingin ke taman ! " seru Rona dengan nada manja saat sang suami sudah duduk di sampingnya
" baiklah "
Vero pun langsung menggendong Rona , dan sontak membuat Rona terkejut dan dengan spontan kedua tangannya melingkar sempurna di leher sang suami tercintanya .
" aku bisa jalan sendiri yank " tutur Rona sambil menatap wajah suaminya yang begitu dekat
" nurut aja , dan jangan gerak-gerak . biar ku gendong sampai taman belakang , kita jalan-jalan di taman rumah saja " pinta Vero dengan nada lembut , namun dengan penekanan di setiap katanya . membuat Rona hanya mengangguk pasrah menuruti perkataan Vero , suami tercintanya
Vero berjalan menuju ke taman belakang dengan tetap mengendong Rona dan ke betulan rumah sepi , hanya mereka berdua serta 2 pembantu dalam rumah . sedangkan di luar rumah ada beberapa pengawal dan orang tua Vero serta anak mereka sedang keluar bermain bersama keluarga Rona . agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama-sama , sebelum lusa harinya Vero akan keluar kota untuk masalah bisnis .
" apa tidak capek yank ? " tanya Vero yang melihat Rona masih asik berjalan di sekitar taman rumah mereka
" bila ada kamu , aku tak akan capek " jawab Rona sambil menatap wajah sang suami yang nampak cemas di sampingnya
" pintar gombal sekarang ya ! " kata Vero yang kembali tersenyum mendengar suara istrinya
" iya dong "
" tau dari siapa ? "
" kamu ! "
" o....kalo begitu kita ke kamar Yo , agar kamu bisa ku bikin capek " bisik Vero di telinga sang istri dan tentu saja Rona mendengus kesal dengan pikiran suami tercintanya itu
" gak mau " jawab Rona acuh sambil memalingkan wajahnya menatap ke depan
" kenapa ? tadi katanya gak capek ? " tanya Vero dengan senyuman nakal menatap sang istri yang terlihat kesal di wajah Rona
" aku capek , aku mau duduk ! " ketus Rona dengan kesal , membuat Vero tertawa
" baiklah ratu ku , hamba akan selalu menuruti perintah ratu ! " seru Vero dengan tetap tersenyum senang karena berhasil mengerjain istrinya
Vero pun langsung mendudukkan Rona di bangku taman yang membelakangi pintu belakang rumah dan di depan mereka terdapat bunga-bunga segar yang terlihat baru mekar dengan angin yang bertiup lembut , sehingga tumbuhan di sekitar mereka menari-nari mengikuti arah angin yang segar di pagi hari .
" yank " panggil Rona pada Vero , sang suami
" iya , ada apa ? " tanya Vero sambil menatap sang istri yang juga menatap wajahnya
" aku ingin kamu selalu mengatakan kepada anak-anak kita , untuk selalu mengikuti kata hati mereka dan ku harap kau tak akan melupakan permintaan ku ini " jelas Rona
Vero yang mendengar suara lembut dari sang istri , merasa tidak senang . namun , firasat hati itu dia tepis dan menyakinkan hatinya bila semuanya akan baik-baik saja .
" baiklah aku akan selalu mengatakan itu , aku akan mengatakan pada anak kita untuk selalu mengikuti kata hati mereka " sahut Vero sambil mengelus perut berisi sang istri
Rona yang mendengar menghembuskan nafas lega dan kini kepalanya bersandar di pundak sang suami tercintanya yang membuatnya merasa tenang dan nyaman . Vero pun melingkar tangannya di pundak sang istri untuk memeluknya dalam ke hangatannya .
" kau tak ingin bertanya ? mengapa aku berkata begitu ? " tanya Rona dengan masih berada dalam dekapan sang suami
" baiklah , coba katakan apa yang membuat mu berkata begitu ? " tanya Vero balik
" sudah saatnya aku mengatakan ini ...pasti kamu bertanya-tanya , mengapa aku bisa bertahan untuk menanti mu selama 5 tahun ! "
" iya , katakanlah aku ingin tau . apa yang membuat mu sanggup menanti ku selama itu " sahut Vero dengan tatapan sendu tanpa di ketahui sang istri , karena Rona menatap bunga taman di hadapannya
selesai Rona mengatakan itu dan Vero hanya diam mendengarkan saja dengan air mata yang perlahan luruh ke bawah , sehingga pipinya basah dan dengan semakin memeluk erat sang istri . Rona yang semakin di peluk erat oleh sang suami , hanya bisa tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca sambil membalas pelukan erat sang suami .
" baiklah , bila sudah saatnya aku akan selalu mengatakan pada anak-anak kita untuk selalu mengikuti kata hati mereka . aku tak akan pernah melupakan itu , aku akan selalu mengingat untuk mu dan anak kita " ujar Vero dengan suara yang bergetar karena tangisnya
Rona dan Vero saling berpelukan , seakan tak ingin saling melepas dalam rasa cinta yang semakin membesar diantara mereka berdua . namun , tidak dengan Rona yang merasa takut akan sesuatu yang membuat hatinya tak tenang . tapi dia mencoba menepis akan hal itu dan berusaha untuk menyakinkan hatinya bila semuanya akan baik-baik saja .
sedangkan di tempat lain sebuah ruangan redup itu lagi yang terdapat foto-foto Rona dan Vero tertempel dengan tersusun rapi pada tembok yang berada di hadapan seseorang yang belum di ketahui siapa itu . karena dirinya memakai jubah yang menutupi seluruh tubuhnya . namun , dari suaranya terdengar seperti seseorang wanita .
" sepertinya kalian semakin bahagia ya ? sungguh luar bisa . baiklah , sudah saatnya aku menjalankan rencana ku dan kamu Rona siap-siaplah . aku akan selalu berada di belakang menjadi pengikut mu serta pembuat masalah untuk mu dan di hadapan mu , aku akan menjadi teman mu yang paling manis " hardiknya dan di akhiri dengan tawa yang bergema di ruang yang redup itu
ruangan yang di tempati itu hanya di terangi oleh sinar mentari yang masuk dari cela tembok yang berlubang di atasnya . ruangan itu berukuran sedang , tidak besar dan tidak juga kecil . wanita itu berpakaian hitam , sehingga wajah tak terlihat jelas . kecuali anak buahnya yang berada di sekitarnya yang mengetahui siapa dirinya .
" bos ! " panggil seorang pria dengan tertunduk sopan dan tak lupa dengan jeket hitam yang melekat sempurna di tubuhnya
" apa ? katakan ? apa yang kamu ketahui ? dan kamu dapatkan ? " cecar wanita itu dengan dingin setelah menghentikan tawanya dan sontak saja pria itu merasa merinding . dirinya merasakan hawa dingin , namun dirinya harus bisa bersikap profesional untuk bos nya ini
" Nona Yanti dan Tuan Ardi sudah pergi meninggalkan kota ini dengan jet pribadi Grawijaya " kata pria itu dengan jelas dan terdengar bijak
" pergi ? kemana ? " tanya wanita itu lagi pada anak buahnya yang kali ini menatap wajah anak buahnya dari tempat dia duduk di kursi kayu yang berada di tengah ruangan
pria berjeket hitam itu merasa semakin tegang , karena kali ini bos nya langsung menatapnya . membuat dirinya Sulit untuk mengeluarkan suara , seakan ada yang mencegat kerongkongannya .
" kenapa diam ? apa kau sudah tuli ? " sarkasnya dengan tatapan tajam menatap pria yang berdiri di pembatas pintu ruangan
" mereka menuju Singapura bos " jawab pria itu pada akhirnya dengan masih menunduk kepalanya
wanita itu hanya diam dan tak mengatakan apa pun . namun , senyuman yang menyeramkan dia tampilkan di wajahnya yang tak terlihat jelas itu . karena dia memakai jubah yang juga menutup kepalanya seperti iblis . membuat pria dia hadapannya semakin tegang dan merinding . namun dia mencoba untuk tetap terlihat tegas dan tidak menunjukkan rasa yang dia miliki saat ini .
" apa kau sudah menikah ? " tanya wanita itu sambil tetap menatap pria di hadapannya
" belum bos " jawab pria itu , walau di dalam hati dia sudah merasa terkejut dan berpikir untuk apa bosnya bertanya begitu ?
" pacar ? "
" belum juga bos "
" umur ? "
" 28 tahun bos "
Hahahaha !!!
wanita itu tiba saja kembali tertawa , mungkin dia merasa terhibur dengan sikap anak buahnya yang selalu menjawab setiap pertanyaan yang dia ucapkan dan tawanya itu membuat pria di hadapannya semakin bingung dan bertanya-tanya dalam hati .
" kamu tau umur ku ? " tanya wanita itu lagi setelah menghentikan tawanya dan kembali menatap pria yang ada di hadapannya
" tidak tau bos " jawab pria itu dengan tetap pada posisinya
" rumah mu dimana ? "
" kenapa bos bertanya tentang saya ? " tanya balik pria itu pada akhirnya , membuat wanita di hadapannya menampilkan senyum menyeramkan lagi
pria yang berdiri tegap di pembatas pintu semakin merasa tak nyaman . mungkin karena suasana yang redup . sehingga terlihat menyeramkan dan menenggangkan di ruangan yang di pijaki oleh dirinya .
" mungkin sudah saatnya aku memanjakan diri ku dan kau harus menuruti itu ! " seru wanita itu dengan lantang
" maksudnya bos ? " tanya pria itu yang kini sudah mengakat kepalanya menatap wanita berjubah hitam di hadapannya
" ikut dengan ku "
wanita itu pun berjalan keluar meninggalkan ruangan yang redup dan menyeramkan itu dan tentunya pria berjeket hitam yang bersamanya tadi , mengikuti dirinya di belakang . sampai menuju mobil dalam diam wanita itu tak berkata apa pun . pria itu pun duduk di kursi samping depan kemudi bersama supir. sedangkan wanita itu duduk di belakang tanpa membuka jubah yang dia pakai .
" nama mu siapa ? " tanya wanita itu lagi , sontak membuat supir dan pria tadi terkejut
" saya Nona ? " tanya supirnya
" bukan " jawab wanita itu singkat dan dingin
" nama saya Basri bos " sahut pria tadi yang bernama Basri itu
" Basri " panggil wanita yang duduk dengan santai di belakang
" iya bos " jawab Basri dengan tetap sopan
wanita itu kembali diam , dan itu membuat Basri merasa bingung sendiri dan bertanya-tanya . sedangkan supirnya hanya tetap fokus menyetir menuju suatu tempat dengan menampilkan senyum tipis di wajahnya yang tak muda lagi .
" ada apa dengan bos ? dan apa maksudnya tadi ? memanjakan diri ? apa mungkin aku di suruh sesuatu yang harus seorang pria lakukan untuk memanjakan wanitanya ? masa iya si ? aku kan cuma anak Buahnya , bukan ke kasihnya ? " dalam hati Basri bertanya-tanya sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong
" selamat nak , kamu pria pertama yang akan merasakan kesenangan bersama Nona " dalam hati sang supir dengan senyuman tipisnya
" tidak ada salahnya bila aku memanjakan diri ku sendiri bukan ? lagian aku hanya ingin balas rasa sakit hati ku terhadap Vero lewat Rona dan kini aku tak akan menahan lagi . sudah saatnya aku memanjakan diri ku ini " dalam hati wanita dengan senyuman manisnya yang tak di sadari oleh siapa pun dalam mobil itu
mobil tetap melaju membela jalan kota yang sudah menjelang siang hari . sang supir tetap fokus menatap kedepan sambil menyetir mobil mengarah arah tujuan . sedangkan Basri dan wanita yang di panggil bos serta Nona itu hanya diam dalam kebisuan di mobil . sehingga suasana dalam mobil begitu Hening , namun ini sudah hal biasa untuk mereka bertiga .
...Bersambung...