Rona

Rona
Eps. 79



Waktu telah berlalu, malam kini telah tiba. Terlihat bintang menghiasi langit gelap di atas sana, serta sinar rembulan yang bersinar terang dengan indahnya . Seakan alam semesta tau, bila ada seorang wanita yang kini sungguh sangat bahagia. Tapi tidak dengan seorang pria yang sibuk di dapur untuk menyediakan makan malam.


" aku sangat menyesal, karena telah mengatakan untuk menuruti dirinya. Lihat... Sejak kecil saja aku tak pernah masak. Mala dengan teganya dia meminta ku masak " Gerutu Diyan kesal yang kini dirinya berkutat dengan alat dapur


" uda masak belum mas? " tanya Dina yang tiba muncul sambil menatap Diyan dengan senyuman


“ belum. Kamu kira mudah. Masak aja sendiri " jawab Diyan dalam hati tanpa menatap Dina


" emang kamu masak apa? Ko belum siap juga " ujar Dina lagi, karena Diyan Hanya diam


" menurut mu? Aku masak apa? Jika bukan kamu yang mau " umpat Diyan lagi dalam hati


" gimana mas? Enak ku kerjain. Ini masih lumayan kali mas. Belum lagi yang ku lakukan selama 6 bulan ini dengan sikap dingin mu " dalam hati Dina


Dina hanya tersenyum senang melihat wajah kesal Diyan yang merupakan suaminya dan dengan santainya Dina tetap berdiri dengan melipat kedua tangannya di atas perutnya serta bersandar pada tembok di samping kulkas sambil tetap menatap Diyan.


" mas... Lama banget si ! Aku uda sangat lapar ! " seru Dina dengan wajah cemberutnya, membuat Diyan seketika tersenyum seakan menemukan harta karung


" makan di luar aja gimana? hitung-hitung aku dan kamu kencan " sahut Diyan memberi usulan dengan tersenyum senang menatap Dina


" ya uda. Tak apa, tapi besok-besok mas... Cepat masak , Jangan lama dong. Aku mau ganti baju dulu "


Setelah Dina mengatakan itu, dia langsung pergi menuju kamarnya untuk berganti baju. Sedangkan Diyan mengcibir dengan kesal sambil melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.


Setelah berpakaian rapi. Kini Dina dan Diyan sudah berada dalam mobil. Diyan dengan tenang mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang menelusuri jalan aspal yang hanya di lalui oleh beberapa mobil yang berlintas di dekat mobilnya.


" kita akan makan di sini mas? " tanya Dina saat mobil yang di tumpanginya berhenti di sebuah restoran yang terkenal di bandung


" tentu saja. Dulu kamu kan sangat ingin makan disini " jawab Diyan dengan senyuman, kemudian membuka pintu. Sedangkan Dina terdiam mendengar hal itu


" Ternyata... Kamu masih mengingatnya " dalam hati Dina menatap Diyan yang mengitari mobil yang di lapisi kaca depan mobil


Pintu mobil pun terbuka oleh Diyan menyadarkan Dina dari lamunannya. Dina pun langsung keluar dengan menerima uluran tangan Diyan dan dengan senyuman di wajah mereka berdua serta detak jantung yang semakin berdetak kencang.


Langkah demi langkah, Dina dan Diyan di sambut dengan sopan oleh pelayan restoran dan di persilahkan duduk pada sebuah ruangan VVIP. Kemudian pelayan Wanita memberikan buku menu dan meletakkannya di atas meja persegi yang berada di antara Dina dan Diyan. Setelah selesai Dina dan Diyan memesan makanan, serta sang pelayan wanita pun mencatatnya.


" mohon di tunggu sebentar Tuan , Nyonya " ucap pelayan wanita dengan sopan dan Dina hanya mengaguk dengan senyuman. Sedangkan Diyan terlihat cuek dengan sibuk pada ponsel nya, karena tadi sempat bunyi


" pesan dari siapa? " tanya Dina pada akhirnya, setelah kepergian pelayan wanita


" dari teman " jawab Diyan seadanya, kemudian kembali menyimpan ponsel nya pada saku jaket kulit hitam yang dia pakai


" masa? "


" emang iya "


" terserah de. Setelah ini kemana lagi? " tanya Dina dengan mengubah pembicaraan


" kamu maunya kemana? " tanya Diyan balik membuat Dina kesal


" terserah " jawab Dina dengan kesal


" serius? "


" emm "


" lihat aja nanti ! " seru Diyan dengan senyuman penuh arti dan Dina hanya memutar mata malas dengan perasaan kesal


Pesanan mereka pun datang pada akhirnya, di hidangkan oleh pelayan wanita yang sama dengan yang menyambut Dina dan Diyan. Setelahnya pelayan wanita pergi dengan sopan meninggalkan sepasang kekasih yang sedang marahan di dalam ruangan VVIP.


Menit pun berlalu, Dina dan Diyan selesai makan malam. Kemudian mereka melangkah keluar pintu utama restoran dan tentunya tak lupa Diyan sudah membayar tagihan pesanan makan tadi. Namun, saat langkah Dina dan Diyan memasuki pintu mobil. Mereka berdua tak menyadari bila ada sepasang mata yang sedang memantau mereka dari jarak yang tak terlalu jauh.


" itu... Seperti Rona. Tapi... Apa mungkin? Dan siapa pria yang bersamanya itu? Kalo di lihat bukan Vero " gumam seorang wanita pemilik sepasang mata, yang kini dirinya sedang duduk di sebuah mobil hitam


" sayang... Ini satenya " kata seorang pria yang tiba saja memasuki mobil sambil memberikan sebuah kantung plastik berwarna putih


" emm makasih " sahut wanita sambil mengambil kantung plastik putih dari tangan pria yang sudah duduk di sampingnya


" kamu liatin apa si Nura? " tanya pria tampan dengan kesal pada wanita di sampingnya yang ternyata Nura, sahabat Rona


" kamu lihat sana dulu yank " jawab Nura sambil menunjuk dengan jari telunjuknya kedepan mobil


" apaan? Jangan minta yang aneh de " sunggut pria yang tak lain adalah Evan, menatap sebuah mobil yang sudah mulai berjalan


" bukan gitu yank. Tadi tu aku lihat Rona dengan pria yang lain "


" gak mungkin, kamu salah lihat kali. Kamu kan tau, Rona lagi di kurung di rumah kak Raka "


" masa si aku salah lihat "


" uda... Kamu tu perlu istirahat sayang ku. Besok kita harus hadir acara mantan pacar mu itu "


" mantan pacar kamu juga kali " ketus Nura yang tak mau kalah berdebat dengan suaminya


" terserah, sekarang kita pulang. Atau kamu masih mau minta yang lain? Tapi jangan aneh " ujar Evan yang mulai menyalakan mesin mobilnya


" emmm ke nya gak ada lagi de. Tapi aku pengen ngikutin mobil tadi, aku merasa lihat Rona tadi " sahut Nura yang masih penasaran dengan yang lihat tadi


" engga boleh, kamu harus istirahat. Kalo kamu masih yakin jika yang kamu lihat tadi itu sahabat kamu. Maka telpon saja Nura sayang " jelas Evan panjang lebar dengan nada lembut, Karena dia tahu. Semenjak hamil Nura jadi sangat sensitif, tidak seperti dulu. Yang keras kepala dan suka berdebat dan kini semenjak hamil moob Nura mudah sekali berubah-ubah


" pintar sekali suami ku, kenapa aku gak kepikiran sampai situ ya? " ucap Nura dengan tersenyum senang, sedangkan Evan hanya menghedikan bahunya dan memhela nafas, karena harus lebih banyak sabar


" kenapa wanita kalo hamil jadi pendek si pemikirannya, bukan gue sesak nafas mulu dah " dalam hati Evan yang kini dirinya fokus menyetir mobilnya


Nura langsung mengambil ponselnya di dalam tasnya dan kemudian menghubungi nomor sahabatnya.


" assalamualaikum Rona " ucap Nura ketika sambungan telpon yang ketiga terangkat di seberang telponnya


" wa'alaikumsalam Nura " sahut orang di seberang telpon yang terdengar dengan nada senang


" di kamar ni, emang kenapa? Kamu mau kesini? Tapi bukannya kamu di bandung "


" ehehee aku memang lagi di bandung Rona ku sayang. Jadi kamu masih di rumah kak Raka ni? "


" iya Nura ku. Emang kenapa si? "


" gak ada apa-apa ko. Aku cuma mau tau kabar kamu aja "


" aku masih baik, alhamdulillah. Kamu di sana baik-baik aja kan? "


" iya, alhamdulillah . Aku juga baik , Kalo gitu uda dulu ya Rona ku tersayang , assalamualaikum "


" *alhamdulillah kalo gitu. Wa'alaikumSalam "


TUT* !!!


Sambung telpon pun mati dan Nura kembali menyimpan ponselnya kedalam tas. Kemudian kembali menatap wajah tampang suaminya yang masih mengemudikan mobil.


" benarkan... Ya aku bilang? Kamu salah lihat " kata Evan pada istrinya yang hanya menunjukkan senyuman semanis mungkin


" iya de, kamu benar yank. Tapi... "


" Nura Argentina " hardik Evan memotong perkataan istri tercintanya dan Nura langsung diam. Karena jika nama lengkapnya telah di sebutkan itu tandanya, suami tercintanya sudah sangat kesal, walau masih dengan nada suara yang terdengar lembut


Evan pun tetap fokus menyetir mobilnya menuju salah satu apartemen miliknya, tempat dirinya dulu tinggal saat kuliah di salah satu universitas Bandung. Sedang Nura sudah tertidur karena perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh dari jakarta ke bandung.


Sementara di tempat lain, Diyan sudah menghentikan mobilnya di sebuah tempat yang terlihat pancaran cahaya yang redup. Sedangkan Dina hanya bisa diam dalam perasaan terkejut dan bertanya-tanya dalam hati.


" kenapa harus ke sini si? Gelap lagi, apa gak bisa tempat lain? " dalam hati Dina


Diyan langsung membuka pintu mobilnya dan kembali menutupnya. Kemudian membukakan mobil untuk wanita yang telah lama menjadi istrinya dan kini dia sedang berusaha untuk melakukan tugasnya sebagai seorang pria.


" ayo turunlah Dina " ucap Diyan sambil mengulurkan tangannya pada Dina dan Dina pun menyambut tangan Diyan yang merupakan suaminya dengan perasaan was-was


" kenapa kamu membawa ku kesini? " tanya Dina pada akhirnya ketika dia sudah turun dari mobil dan kemudian sambil menatap tiap arah yang hampir semuanya gelap dan hanya sinar rembulan yang memeranginya


" tempat ini pasti kamu gak ingat, karena sudah ada perubahannya di sini " ujar Diyan sesudah menutup pintu mobil setelah Dina turun dari mobilnya


" emang ini tempat apa? Gelap dan sunyi gini kita mau apa? Jangan buat aneh " kata Dina yang sudah berbalik menatap Diyan yang kini sudah berdiri di sampingnya, bahkan kini Diyan tertawa mendengar perkataan Dina


" jika kamu berpikir begitu... Mari kita buat " goda Diyan, setelah menghentikan tawanya


" aku gak memikirkan apa pun " sahut Dina kesal dan menggerutuki kebodohannya yang sudah menebak ke hal yang lain


" masa si Dina ku sayang " ucap Diyan sambil melangkah maju perlahan dan tentunya Dina mundur


" ka..mu..mau apa si Diyan " kata Dina dengan wajah yang terlihat takut, membuat Diyan harus bisa menahan tawanya


" aku mau seperti yang kamu pikirkan Dina ku sayang " sahut Diyan dengan senyuman


Dina sudah bersandar pada pintu mobil sedangkan wajah Diyan semakin dekat ke wajahnya dan spontan Dina langsung menutup matanya. Bahkan Dina dapat merasakan nafas hangat yang menerpah wajah kulit putih mulusnya, membuat bulu kuduknya meremang.


Diyan yang melihat wajah Dina yang terlihat aurat ketakutan dan juga terlihat lucu di matanya. Membuat Diyan tak sanggup lagi menahan tawanya dan seketika Dina langsung membuka matanya serta Merasa kesal dengan Diyan yang sudah mengerjaiinnya.


" sudah puas tertawa " ketus Dina kesal, ketika Diyan sudah meredahkan tawanya. Namun, tak bisa di pungkiri, hatinya juga sangat senang melihat tawa Diyan yang dulu hilang entah kemana dan kini sudah ada


" ok, maaf ya. Wajah kamu lucu sekali tadi " ucap Diyan dengan tersenyum geli menatap wajah kesal Dina


" ya sudah , cepat katakan . Kamu membawa ku kesini untuk apa ? " ujar Dina yang kembali ke topik pembicaraan dan bahkan wajahnya sudah kembali biasa saja tidak seperti tadi yang ketakutan


" huuuuh... Tempat ini , tempat kita pertama kali bertemu. Kamu ingat... Saat itu aku sedang bermain di sini bersama dengan papa dan mama dan kamu datang mendekat pada ku ketika aku sedang mengambil bola . Awalnya aku menjauh, tapi saat melihat mata mu yang sembab membuat ku mendekat dan aku langsung mengulurkan tangan ku untuk menjadi teman mu " jelas Diyan panjang lebar setelah tadi dia menghela nafas untuk menetralkan jantungnya yang berdetak kencang hanya untuk mengatakan kisah masa lalu kecil pertemuannya dengan Dina


" iya , kamu benar. Saat itu aku tak tau nama ku siapa? Rumah ku di mana? Tempat tinggal pun aku tak punya dan hanya langit sebagai atap ku dan tanah sebagai alas kaki ku dan aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan mu serta memiliki orang tua yang mau merawat ku . Bahkan aku mempunyai nama dan kehidupan yang layak " tutur Dina ketika mengingat yang di katakan Diyan padanya


" dan sampai sekarang aku masih menjadi teman mu dan bahkan aku sudah menjadi teman hidup mu sampai maut dapat menjemput " ujar Diyan lembut dan langsung memeluk tubuh ramping sang istri yang sudah bergetar karena tangis dengan mengingat masa lalunya di saat kecil yang begitu pahit dan manis bersamanya


" terima kasih... Karena kamu. Aku masih bisa berdiri dengan kaki ku dan Karena mu... Aku dapat merasakan kasih sayang orang tua seperti papa dan mama "


" nangislah Dina, aku akan selalu ada di saat kamu butuh dan maafkan kelakuan serta sikap ku pada mu di saat kita dewasa "


" aku ingin tau , apa yang membuat mu berubah sikap pada ku ketika kita sudah pindah ke jakarta ? " tanya Dina pada akhirnya dan langsung melepas pelukannya dari tubuh kekar suaminya


" aku berubah itu karena permintaan papa untuk menikahi mu " jawab Diyan dan Dina hanya diam " aku ingat... Saat itu kamu masih mempunyai seorang pria di dekat mu dan aku hanya menganggap diri mu kakak bagi ku dan aku bahagia melihat kamu bahagia dengan pria pilihan mu. Namun, karena papa ku, kamu pasti terpaksa mau menerima pernikahan yang sudah kita jalani selama 6 bukan ini " lanjut Diyan dengan jelas


Dina terdiam mendengar Perkataan Diyan, yang di katakan Diyan memang benar. Saat itu Dina memiliki seorang kekasih di hidupnya yang membuatnya merasakan cinta yang sesungguhnya. Namun, Dina tak tau apa yang membuat kekasih hatinya pergi begitu saja tanpa kabar apa pun dan kini Dina menyadari jika kekasihnya pergi dulu pasti ulah papa Diyan.


" berarti papa sudah merencanakan pernikahan kita dan Jangan-jangan papa yang telah menghilang kabar keberadaan Kevin ? " ujar Dina , setelah lama terdiam memikirkan yang terjadi di masa lalunya


" jadi apa keputusan mu ? Apa kamu akan pergi meninggalkan ku ? Atau kamu ingin mencari keberadaan kekasih mu ? " cecar Diyan dengan tatapan dinginnya dengan perasaan hati yang terasa sakit


" aku tak tau apa yang harus ku lakukan. Tapi... Yang jelas aku tak akan pernah meninggalkan diri mu " jawab Dina dengan lembut dan kembali memeluk tubuh kekar suaminya


" kamu janjikan... ? Tak akan meninggalkan ku . Aku mohon jangan pernah pergi dari diri ku " tutur Diyan yang kembali lembut , selembut tiupan angin malam yang terasa dingin dan tatapan matanya yang sendu


" aku janji suami ku "


Diyan yang mendengar suara lembut Dina merasa senang dan dengan bahagianya dia memeluk erat tubuh ramping istrinya. Sedang Dina dengan bahagia juga menerima dekapan hangat dari pria yang selalu ada didekatnya. Walau tak dipungkiri dia juga sempat merasa terluka mengingat apa saja yang terjadi selama 6 tahun ini. Karena selama 6 tahun dia menerima sikap dingin dan cuek dari pria yang dia anggap sebagai adiknya. Kemudian sebuah permintaan dari orang tua yang telah rela merawat dan menjaga dirinya dan bahkan dia harus bisa melupakan kekasihnya yang telah lama pergi dan tak pernah kembali.


" aku harus bisa memulai kehidupan ku Yang baru, aku tidak boleh terlalu mengharapkan kehadiran seseorang lagi. Cukup sampai disini , cukup hanya Diyan yang ada di dekat ku. Mas Diyan... Ku harap diri mu tak melukai ku lagi " dalam hati Dina yang kini dirinya masih mendekap erat tubuh kekar pria yang dulu berstatus sebagai adiknya dan kini telah menjadi suaminya


" Dina... Ku harap kau bisa menepati janji mu, aku harap kamu tak akan pernah mencoba berpikir atau pun berencana meninggalkan diri ku. Aku akan berusaha mengurung mu di rumah dan aku akan berusaha memberikan apa pun yang kamu inginkan. Aku Diyan Endra prabowo akan berusaha memberikan mu cinta " dalam hati Diyan yang kini kedua tangannya masih melingkar sempurna di tubuh ramping wanita yang dulu menjadi kakak dan teman baginya dan kini telah menjadi istri dan teman hidupnya


Cukup lama Dina dan Diyan berpelukan sampai akhirnya Diyan melepaskan dekapan hangat dari tubuhnya. Karena suasana malam yang terasa dingin dan Diyan maupun Dina kembali memasuki mobil. Kemudian Diyan melajukan mobil menuju rumah dan dalam perjalanan mereka berdua hanya diam di temani langit gelap dengan rembulan malam yang masih bersinar terang serta gemerlap bintang yang menghiasi dan memperindah langit gelap bumi.


...Bersambung ...