
Pagi menjelang tiba. Terlihat mentari bersinar terang di langit biru dan awan putih atas sana. Seorang wanita yang sejak semalam duduk membisu di jendela kamarnya , dia tidak tidur hanya terus menatap langit dan dengan setianya dia menemani alam semesta yang kian gelap dengan deraian air dari langit hitam yang kini telah terang kembali tanpa ada lagi badai atau pun kilatan petir.
Dia adalah Bella. Wanita yang kemarin malam menyaksikan kematian ibundanya di tangan ayahnya sendiri. Mungkin sekarang pria yang sejak dulu merawatnya dari kecil , bukan ayah lagi baginya. Tapi , penjahat , pembunuh ibundanya dengan sangat sadis dan kejam seperti psikopat.
" Bu... Apa yang harus Bella lakukan ? Bella takut... Jika Bella tak mampu melepaskan diri dari ayah , Bu ? " keluhnya lesu dangan masih menatap langit yang di lapisan kaca jendela kamar
Bella pun mencoba berdiri dari duduknya , dia berpikir untuk mencari pertolongan dari seseorang atau setidaknya dia bisa memberitahukan kepada sahabat tentang rencana licik ayahnya. Bella pun membersihkan dirinya dan kemudian memakai baju santai. Setelahnya dia memakai make up untuk menutupi kantung matanya yang menghitam karena tidak tidur dan hidungnya yang memerah akibat menangis kelamaan.
Tok tok tok
" Bella ! "
Tiba saja terdengar suara ketukan dari liar di pintu kamarnya serta suara berat memanggil namanya. Bella tau siapa yang memanggil , siapa lagi jika bukan pria yang sudah tega membunuh ibundanya.
Ceklek
Bella pun membuka pintu kamarnya dan terlihatlah pria paru baya dengan badan kekar yang di balut kemeja merah maron serta celana hitam panjang yang melekat di tubuh pria yang di tau seorang pembunuh ibundanya.
" siang nanti datang ke kantor dan tak ada bantahan ! " satu kalimat yang terucap dengan nada tajam dan dingin terhadap anaknya sendiri yang kini hanya menundukkan kepalanya
" baiklah " sahut Bella tanpa menatap wajah ayahnya
" bagus ! O ya ! Di mana adik mu itu ? Bukankah seharusnya dia sudah pulang dari perkemahannya ? " tanya ayahnya seketika teringat anak bungsunya
" Bella tidak tau " jawab Bella seadanya
" jangan bohong Bella ! Di mana adik mu itu ? " bentak ayahnya dengan sangat tajam menatap dingin Bella yang masih menundukkan kepalanya
" Bella benar-benar tidak tau. Ponsel Alvin mati " jelas Bella dengan nada ketakutan karena rasa takut yang sudah menjalar di tubuhnya , ketika mendengar bentakan dari ayahnya
Ayah Bella pun pergi begitu saja sambil mengakat ponselnya dan mendekatkan di telinga kanannya , setelah mendengar penjelasan anak perempuannya. Sedangkan Bella langsung menutup pintu kamar.
" kemana si Alvin ? " ucap ayah Bella , setelah berulang kali menghubungi nomor anak bungsunya yang selalu saja off. Membuatnya sangat marah
" sudahlah. Yang penting Bella bisa ku manfaatkan " hardiknya dengan senyuman kemenangan
Sementara Bella telah keluar dari kamarnya dan kini dia melangkah mendekati ayahnya untuk meminta izin keluar rumah dengan alasan mencari Alvin.
" mau kemana ? " tanya ayahnya , ketika melihat penampilan Bella yang sudah rapi dengan pakaian santai serta make up yang sempurna mempercantik wajahnya
" mencari Alvin " jawab Bella seadanya
" ya sudah. Pergilah ! Tapi ingat ! Datang ke kantor sebelum Jam makan siang ! " ujar ayahnya mengingat Bella lagi dengan perintahnya
" baiklah " satu kata yang dapat Bella keluarkan dari mulutnya untuk melakukan keinginan ayahnya
Bella pun pergi dengan menggunakan taksi online yang sudah dia pesan tadi yang kini sudah menunggu di depan gerbang rumahnya. Bella pergi tanpa ada lagi senyuman di bibirnya yang biasanya akan selalu tampil sempurna di wajah cantiknya. Tapi kini yang terlihat hanya wajah datar dengan tatapannya yang kosong menatap jendela mobil taksi yang dia tumpangi. Sang sopir hanya fokus menyetir menelusuri jalan aspal dengan di temani kendaraan lainnya.
" anda ingin kemana Nona ? " tanya sang sopir taksi dengan nada sopan sambil tetap fokus menatap kedepannya. Membuka suara setelah lama terdiam dengan keheningan di dalam mobil
Bella pun memberitahukan alamat yang ingin dia tuju dan sang supir taksi pun menuruti saja. Sampai akhirnya mobil berhenti tepat di depan gerbang coklat dengan panduan gold yang melekat di pagar sebuah rumah mewah.
Sementara di tempat lain Rona masih berada di dalam kamarnya. Dia tak tau harus apa , setelah di tinggal sang suami tercinta subuh tadi dan kini dia hanya menatap pemandangan pagi di balkon kamarnya menghirup udara sejuk.
" siapa yang datang ? " ucap Rona ketika tanpa sengaja tatapannya teralihkan ke depan gerbang rumahnya yang di sana terlibat sebuah taksi berhenti
Rona menajamkan matanya , melihat siapa yang turun dari taksi dan terlihat seorang wanita dengan pakaian santai . Sedangkan taksi sudah pergi meninggalkan perumahan elit Rona.
" siapa dia ? Kenapa terasa familiar ? "
Rona pun memilih keluar dari kamarnya dan turun menggunakan lift yang ada di rumahnya dari pada dia terus bertanya-tanya dalam pemikirannya. Setelah pintu lift terbuka Rona kembali melangkah mendekati ruang tamu yang berdekatan dengan pintu masuk dan di sana dia dapat melihat seorang wanita telah duduk bersama dengan nenek tercinta.
" siapa yang datang nek ? " tanya Rona pada akhirnya
" duduk dulu... cucu nenek. Ini ada teman kamu yang datang dan namanya Be...Be... Apa tadi nama kamu cu ? " ujar nenek bingung yang kini kembali menatap wanita muda di depannya
" Bella nek " sahut Bella dengan senyuman semanis mungkin
" Bella ? " ucap Rona mengulang sebuah nama yang tak asing di ingatannya
" ini aku Rona. Bella ! Bella Angelina " sahut Bella dengan senyuman yang dia paksakan terhadap sahabatnya yang kini sudah duduk di depannya di samping nenek dengan berbatasan meja. Namun , Bella tidak menambahkan nama ayahnya , karena dia tak akan mau menjadi anak dari pria yang bernama Wirajaya dan baginya ayahnya sudah tiada bersamaan dengan ibundanya tercinta
Ternyata Bella datang ke rumah Rona , sahabatnya. Sahabat yang merupakan istri dari pria yang akan dia rebut hatinya dengan atas permintaan dari ayahnya. Walau dulu memang dia sangat ingin mendapatkan Vero , suami dari sahabatnya. Tapi , dia sadar jika hal. Itu tidak mungkin dan apalagi Rona dan Vero sudah memiliki seorang anak. Sehingga Bella sudah yakin pada keputusannya , jika dia akan berusaha kabur dari ayahnya , agar dirinya tak akan menjadi perusak rumah tangga sahabatnya.
" Bella ! Kamu apa kabar ? Dari mana aja ? Kenapa baru sekarang kita bertemu ? " cecar Rona antusias , ketika mengingat sahabatnya yang sudah lebih 2 tahun tak bertemu
" sorry. Aku baru bisa sekarang , karena belakangan ini aku ada masalah di kantor dan lagi sibuknya " jawab Bella dengan masih tersenyum , tapi tidak di paksakan.
" iya uda. Nenek di kamar aja dan kalian lanjutkan saja obrolannya " sahut nenek yang sejak tadi diam , terabaikan oleh cucunya dan wanita , teman cucunya
" eh , nek. Dimana kak anjani dan Zahra ? " tanya Rona ketika teringat kakak ipar dan keponakannya yang tak terlihat dimana pun
" Anjani dan cicit Zahra ada di taman. Ya uda... Nenek pergi dulu "
Nenek pun pergi menuju kamarnya dan meninggalkan kedua wanita muda yang merupakan cucu dan teman cucunya. Sedangkan Rona dan Bella pun melepas rindu dengan canda tawa dan senyuman di ruang tamu sampai seketika candaan mereka berdua menjadi serius. Saat Bella ingin mengatakan sesuatu yang penting dan Rona pun menatap mata sahabatnya yang seakan menyimpan luka dan kesedihan mendalam.
" katakanlah Bel ? Jangan ragu. Jika itu sebuah masalah... Aku akan mencoba membantu mu " tutur Rona lembut dengan senyuman untuk meyakinkan sahabatnya
" Ron... Aku... " Bella tak mampu mengucapkan kalimat yang seakan ada yang mencegat di kerongkongannya serta lidahnya terasa lengket dan sulit di gerakan
" Bella... Kita sahabat sudah lama dan walau pun kita sempat berpisah cukup lama. Tapi... Yakinlah ! Bila aku bisa membantu mu. Apakah ada hubungannya dengan ayah mu ? " ujar Rona , saat teringat dulu jaman SMA , Bella sering bercerita padanya. Jika ayahnya sangat kasar dan terkadang Ayah dan ibunda Bella bertengkar
Rona langsung berpindah tempat duduknya di samping Bella , dia mencoba menguatkan dan menenangkan hati sahabatnya yang terus menangis tersedu-sedu.
" jika kamu belum sanggup bercerita... Maka jangan. Lebih baik kamu ikut ke puncak aja. Mungkin di sana kamu mau bercerita " tutur Rona dengan tulus sambil tetap menenangkan sahabatnya
" puncak ? " tanya Bella menatap wajah sahabatnya setelah menghapus sisa air matanya
" iya Bel dan di sana juga ada sahabat kita yang juga baru kembali "
" siapa ? "
" Erlina "
" Erlina ? " ucap Bella dengan dahi berkerut menatap bingung sahabatnya
" tu kan.. Kamu juga gak ingat " kesal Rona yang seketika senyum luntur
" ya uda. Aku ikut ke puncak aja de. Aku butuh ketenangan juga " putus Bella pada akhirnya menurut perkata sahabat dan seketika senyum Rona kembali terukir dengan manisnya
" alhamdulillah... Akhirnya kita bisa kumpul lagi ! " seru Rona sangat senang dan Bella hanya tersenyum melihat sahabatnya yang begitu senang
Rona dan Bella pun bercanda tawa lagi dengan berbagi cerita. Bella kini sangat senang bisa berkumpul lagi dengan sahabat-sahabatnya dan mungkin pertemuannya nanti dengan sahabatnya untuk yang terakhir kalinya. Mengingat hal itu membuat Bella tersenyum getir , tapi dia bisa apa selain hanya pasrah pada takdirnya.
" Rona maafkan aku. Aku tak mampu memberitahu rencana dia untuk saat ini. Tapi... Kamu tenang dan tetaplah bahagia. Aku akan pergi meninggalkan kota ini dan sahabat ku. Mungkin pertemuan kita nanti di puncak... Adalah yang terakhir kita bisa bersama dan aku tidak tau. Apakah masih ada kesempatan kita bisa bertemu dan bersama lagi ? Aku tidak tau... Selain hanya waktu dan takdir yang akan menentukan dengan Tuhan... Allah Swt yang telah menulis jalan kehidupan " dalam hati Bella. Dia hanya berusaha tersenyum menanggapi cerita Rona , sahabatnya yang tau semua tentangnya. Karena dulu dia sering bercerita pada Rona tentang keluarganya yang terus berselisih dan bertengkar
Bella pun izin pamit , ketika Rona dan dia selesai berbagi cerita dengan apa saja yang mereka alami selama 2 tahun lebih terakhir ini. Bella sangat senang berada bersama sahabatnya Rona yang mengerti dirinya. Namun , dia masih belum bisa memberitahukan Rona tentang apa yang terjadi kemarin malam dan tentang rencana ayahnya. Karena Bella tidak sanggup mengatakan hal itu , dan bahkan juga tak sanggup membayangkannya.
" aku pamit ya sahabat ku. Kita akan bertemu di puncak nanti dan semoga ayah ku mengizinkan ku " ujar Bella dengan senyuman manis yang terukir di wajah cantiknya yang kini dirinya dan Rona berada di depan pintu masuk rumah
" amin. Semoga saja... dan Besok kamu datanglah kesini. Kita akan berangkat bersama " sahut Rona dengan senyuman senang
" baiklah. Kalo gitu aku pamit... Assalamualaikum ! "
" hati-hati di jalan sahabat ku... Wa'alaikumsalam "
Bella pun tersenyum melambaikan tangannya pada sahabatnya yang berdiri di pintu rumah yang juga melambaikan tangan padanya. Bella kini sudah berada dalam mobil taksi yang sudah dia pesan online tadi dan telah meninggal pekarangan rumah elit Rona.
" bagaimana aku bisa mendapatkan izin darinya ? Apakah aku katakan saja ? jika keinginannya akan ku lakukan di puncak nanti... Ya ! Aku katakan begitu saja dan pasti dia mengizinkan ku ke puncak " dalam hati Bella menatap kosong pada jendela kaca mobil taksi yang dia tumpangi
Hari kini menjelang siang , dan Bella segera menuju kantor ayahnya. Taksi pun akhirnya berhenti tepat di depan gedung yang tidak terlalu tinggi. Bella pun keluar dari taksi dan menemui ayahnya yang berada di lantai paling atas. Karena gedung perusahaan yang dia pijaki saat ini adalah milik ayahnya.
" bagus ! Akhirnya kamu datang tepat waktu nak " ucap ayahnya dengan senyuman senang , ketika melihat kedatangan Bella di kantornya dengan dirinya yang duduk di kursi kebesarannya
" kita akan kemana ? " tanya Bella to the point , dengan wajah datar dan tatapan matanya yang menatap tak suka pada pria yang merupakan ayahnya
" kamu gak sabar ternyata...baiklah. Ayo kita pergi. Kita akan bertemu seseorang dan kamu harus bisa menggodanya " jelas ayahnya dengan lembut tapi dengan penuh penekanan , yaitu nada memerintah
Bella hanya mengaguk kepalanya dengan pasrah , dia tak tau harus apa selain menuruti kemauan ayahnya. Dengan wajah datar dia mengikuti langkah ayahnya menuju mobil di parkiran perusahaan kantor.
Mobil pun pergi meninggalkan perusahaan dengan asisten ayahnya yang menjadi sopir dan di samping asisten ada sekretaris ayahnya juga. Sedangkan dia duduk di samping ayahnya di kursi belakang. Sampai akhirnya mobil berhenti tepat di depan sebuah restoran yang terlibat mewah dan besar.
" siapa yang harus ku goda ? Kenapa aku seakan hanya menjadi alat ? Apa aku bisa melakukannya nanti ? Rasanya aku ingin lari saja dari sini ! " dalam hati Bella dengan kakinya yang terus mengikuti langkah ayah memasuki restoran , setelah keluar dari mobil
Ayahnya pun berhenti berjalan di sebuah ruangan Vip dan kini telah duduk di depan pria yang sibuk dengan berkas di tangannya serta ada pria tampan yang menemani . Sehingga Bella belum bisa melihat wajah pria yang akan dia goda yang pria itu sibuk dengan menatap berkas di tangannya.
" pak... Pak Wira sudah datang " ucap pria di samping pria yang masih sibuk dengan berkas di tangannya
Pria itu pun menutup berkasnya setelah mendengar pemberitahuan dari pria di sampingnya yang merupakan asistennya. Sedangkan Bella yang duduk di sampingnya ayahnya yang sangat dekat dengan pria itu , kini seketika terkejut melihat siapa pria yang akan dia goda.
" Halo pak Vero " sapa ayah Bella dengan senyuman semanis mungkin
" iya pak Wira. Bisa kita mulai saja... Karena saya masih ada urusan " sahut pria dengan sopan yang tak lain adalah Vero menatap ayah Bella tanpa menatap wanita yang duduk di sampingnya
" Bisa pak. Tapi perkenalkan ini anak perempuan saya dan namanya Bella Angelina Wirajaya. Pak Vero bisa memanggilnya Bella , dia anak saya yang berbakat dalam dunia bisnis " ujarnya memperkenalkan Bella pada Vero dengan senyuman senang
" saya sudah tau pak. Bolehkah sekarang kita mulai " sahut Vero datar dengan sekilas melirik Bella dan Bella hanya berusaha menampilkan senyuman semanis mungkin
" iya bisa pak... Mari kita mulai "
Vero dan ayah Bella pun sibuk berdiskusi dan sekali ayah Bella meminta pendapat Bella. Agar Vero merasa terpesona dan kagum dengan anak perempuannya. Namun , Vero hanya fokus pada konsep dalam berkas untuk masalah kontrak kerja sama.
" baiklah pak Wira. Saya permisi dulu dan bapak bisa menandatangani kontrak kerja sama kita dua minggu lagi " ujar Vero dengan sopan sambil mengulurkan tangan ingin menjabat tangan pak Wira
" terima kasih pak Vero atas kepercayaan anda , saya sangat senang " sahut ayah Bella sambil menerima jabatan tangan Vero
Vero pergi begitu saja dengan di ikuti oleh asistennya , setelah menjabat tangan ayah Bella dan tanpa menerima uluran tangan Bella.
" Ternyata Bella anak pak Wira dan sepertinya aku harus berhati-hati terhadap ayah dan anaknya " dalam hati Vero sambil tetap melangkah keluar restoran
Sedangkan Bella tak masalah jika Vero tak ingin menjabat tangannya , sehingga dia kembali menarik tangannya , dan yang penting dia sudah melakukan kemauan ayahnya. Namun , sikap Vero yang dingin dan tak memperhatikannya , membuat rencana ayahnya gagal.
" Bella ! Kamu harus bisa mendapatkan hati pak Vero dan jika kamu tidak berhasil. Maka kamu taukan apa yang bisa saya lakukan ? " ancam ayahnya dan Bella hanya mengaguk kepalanya
" tapi... Berikan aku izin untuk liburan bersama sahabat ku. Karena di sana juga ada pak Vero " jelas Bella datar tanpa menatap wajah ayahnya , dia hanya menatap kepergian Vero dengan asistennya
" anak yang pintar. Baiklah... Aku izinkan dan liburanlah sepuas mu untuk mendapatkan hati pak Vero ! " seru ayahnya dengan senyuman yang semakin merekah mendengar penjelasan Bella
Bella dan ayahnya serta asisten dan sekretaris wanita ayahnya pun pergi meninggalkan restoran. Mereka langsung kembali ke perusahaan dan Bella langsung kembali ke rumah dengan di antar sopir kantor ayahnya. Dalam perjalanan Bella sangat senang , karena akhirnya dia bisa berlibur dan menghabiskan waktu dengan sahabat - sahabatnya besok ke puncak.
...Bersambung ...