
Revan yang terkenal dingin menjadi lembut terhadap Adis , membuat para kaum hawa merasa kesal dan membenci adis . sedangkan Revan dia juga merasa bingung ada apa dengan dirinya yang bisa begitu dekat dengan adis dan Adis yang juga tidak tau kenapa dia makin dekat dengan Revan yang terkenal dingin itu .
waktu kebersamaan Revan dan Adis selama 2 bulan . ya mereka dekat kemungkinan karena tugas kelompok . tapi Revan dia tetap juga dekat dengan Adis , sedangkan Adis hanya dengan senang hati bisa berada di dekat Revan .
" Van Lo mau gak liburan akhir pekan nanti " tanya Adis yang duduk di belakang Revan
" emang dimana " tanya Revan yang fokus mengemudi menatap ke depan
" ada de , yang penting Lo mau gak " tanya Adis lagi yang masih melingkarkan tangannya di pinggang Revan
" ok kalo gue terserah Lo aja " jawab Revan tersenyum tipis di balik helmnya
Adis merasa sangat senang mendengar itu , dia pun makin mempererat pelukannya pada pinggang Revan dan menikmati Sepoi angin dengan memejamkan matanya sambil bersandar pada badan Revan . sedangkan Revan tidak mempermasalahkan itu , Mala dia juga ikut merasa senang .
Revan dan Adis mengagap mereka hanya teman , tapi banyak yang bilang mereka itu pacaran karena terus bersama .
Revan memberhentikan motornya di salah satu restoran di Singapura pura dan kemudian Revan berusaha membuka kaitan helmnya . Adis yang baru turun dan memperhatikan Revan yang kesulitan membuka helmnya pun menawarkan bantuannya .
" mau gue bantu " tanya Adis dengan seulas senyum menatap Revan
" mau " jawab Revan cepat
Adis tersenyum dan menunduk sedikit kepalanya untuk melihat kaitan helm yang terpakai oleh Revan dan akhirnya Adis dapat membuka kaitan helm itu . sedangkan Revan tersenyum menatap Adis di hadapannya .
" makasih " ujar Revan yang masih tersenyum menatap Adis saat menerima helmnya
" emm sama-sama " jawab Adis memberikan helm Revan dan tersenyum menatap Revan
Padangan mata mereka pun terpaku . mereka berdua saling tatapan , sehingga terdengar suara klekson mobil yang juga ingin terparkir mobilnya , menyadarkan Revan dan Adis .
" ya sudah , ayo kita makan siang dulu " ujar Revan menghilangkan ke canggungan
" emm ya ayo "
Revan pun menarik tangan kanan Adis memasuki restoran , sedangkan Adis hanya kikuk di tarik oleh Revan . kerena hal tadi mereka jadi sangat canggung .
mereka pun memilih salah satu meja , yaitu berada di tengah-tengah . setelahnya seorang pelayan datang sambil membawa buku menu . Revan dan Adis memesan menu yang sama dan pelayanan itu meminta untuk menunggu .
setelah pelayan itu pergi , Adis pun membuka obrolan untuk menghilangkan keheningan dan kecanggungan di antara mereka berdua .
" setelah S1 ini Lo lanjut atau gimana " tanya Adis menatap Revan di depannya
" mungkin gue langsung pulang ke Indonesia " jawab Revan dengan jujur
" gak pengen lanjut " tanya Adis lagi
" pengen si , tapi kini lagi ada masalah " saut Revan menjawab Adis
" masalah apa "
" keluarga kakak gue "
" lah emang masalah gimana ? rumah tangga " tanya Adis yang sangat bingung dengan Revan
" bukan , ini masalah orang dari masa lalu kakak gue . sempat si mereka berulang kali berpisah . karena ada orang yang tidak ingin mereka bersama . jadi gue sebenarnya ingin bantu , tapi Abang gue Raka tak ingin gue membantu kak Rona dan kak Vero . kak Rona dan kak Vero memiliki hubungan kisah cinta yang rumit , karena disisi lain ada orang yang tidak ingin mereka bersama " jelas Revan yang tampak sadar menceritakan masalah keluarga
Adis yang mendengar itu sungguh terkejut namun juga senang . senang karena Revan mau berbagi beban pikirannya bersama dirinya . sedangkan Revan langsung mengalihkan pandangannya dari Adis . karena tanpa sadar dirinya sudah menceritakan beban pikirannya .
" ada yang bisa gue bantu " tanya Adis menatap Revan didepannya dengan senyuman
" tidak perlu " jawab Revan yang kembali dingin
Adis yang menyadari sikap dingin Revan lagi pun cemberut . namun Adis juga tau bila itu sudah menjadi sikap khas Revan .
" sebentar-sebentar sikapnya lembut , sekarang sudah kembali dingin " batin Adis
" lagi-lagi , Revan apa yang terjadi pada diri mu " batin Revan
saat mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing , pelayan tadi pun datang membawakan pesanan mereka dan langsung menghidangkan dengan sopan di letakan atas meja . Revan dan Adis pun memakan pesanan mereka tanpa suara setelah kepergian pelayan .
selesai makan , mereka pun keluar menuju parkiran motor . sesampainya di sana , mereka tidak menyadari ada mata yang memperhatikan mereka berdua dari arah ke jauhan .
" setelah ini kita kemana " tanya Adis di atas motor Revan
" kamu inginnya kemana " tanya Revan balik " eh Lo mau kemana " kata Revan meralat perkataannya memakai helm
Adis yang mendengar Revan berkata mengunakan " kamu " pun merasa sangat senang , namun seketika dia kesal karena Revan meralat katanya .
" gue ingin pulang " jawab Adis dengan cemberut
" pegangan " kata Revan menatap Adis dari kaca spion motornya
tanpa pikir panjang Adis nurut begitu saja dengan kembali tersenyum . sedangkan Revan juga tersenyum di balik helmnya . kemudian Revan menyalakan mesin motornya dan langsung mengemudikannya menuju rumah Adis . dalam perjalanan tidak ada yang berbicara , Revan fokus mengemudi menatap kedepan dan Adis menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya sambil memeluk Revan dengan erat dan menutup mata serta kepala bersandar pada badan Revan .
selang waktu berlalu Revan berhenti tepat di depan rumah Revan . sedangkan Adis tak menyadari bila dia suduah sampai di rumahnya .
" kamu gak ingin " ujar Revan setelah melepas helmnya
" aku mau ko " kata Adis setelah sadar dari sandaran Revan yang nyaman dan menghangatkan menurutnya
Adis turun dari motor Revan dan Revan ingin pamit . namun , Adis melarang dan meminta Revan untuk masuk . Revan pun masuk , di tarik Adis memasuki rumah besar itu .
" assalamualaikum " ucap Revan dan Adis
" wa'alaikumsalam " jawab seorang pria
" eh kakak " kata Adis mendekati kakak laki-lakinya yang berdiri di dekat sofa
" pak dosen " sapa Revan sopan
" sepertinya kalian makin dekat " tanya Ervin menatap adiknya dan Revan bergantian
mendengar itu mereka hanya diam , terutama Adis yang merasa malu . sedangkan Revan hanya berusaha bersikap sopan .
" Revan duduklah " pinta Ervin
Revan pun menuruti , Revan duduk si sofa yang hanya cukup 1 orang dan Adis juga duduk di sofa panjang yang bersampingan dengan kakaknya , Ervin si dosen killer .
" setelah kamu selesai S1 ini kamu akan lanjut tidak " tanya Ervin menatap Revan
" tidak pak " jawab Revan dengan sopan
" kenapa "
" karena ada masalah yang harus saya urus pak " jawab Revan seadanya
Ervin hanya manggut-manggut mendengar alasan Revan . sedangkan Revan mulai bertanya-tanya di atas kepalanya dan Adis mulai merasa tidak enak hati dengan Revan .
" apa kamu menyukai adik ku " tanya Ervin lagi yang membuat Revan dan Adis terkejut
" iya " walau ragu , Revan tetap menjawab dan membuat Adis lebih terkejut lagi .
" ku harap kamu mengatakan itu dari hati mu " ujar Ervin yang sedikit tersenyum menatap Revan
Revan hanya diam , karena dia juga tidak tau harus berkata apa lagi . sedangkan Adis sangat terkejut walau dia juga merasa hangat dihatinya atau juga senang melihat Revan tersenyum padanya .
" baiklah kalo begitu saya pamit pak " kata Revan menatap kembali Ervin dengan sopan
" panggil saya kakak , tapi bila di kampus kamu bisa panggil saya pak dan kamu bisa pergi " ujar Ervin kepada Revan
" baiklah kakak , assalamualaikum " ucap Revan dengan sopan dan berdiri
" wa'alaikumsalam " saut Ervin
" kak aku antar Revan ke depan ya " kata Adis menatap kakaknya meminta izin
" silahkan "
Adis pun menemani Revan pergi keluar rumahnya . kemudian Revan menaiki motornya , setelahnya dia merogoh saku celananya dan memberikan kepada Adis sebuah kota kecil berukuran kecil .
" ini apa " tanya Adis dengan polosnya menerima hadiah dari Revan
" hadiah " jawab Revan singkat
" iya tau , isinya apa " tanya Adis lagi yang makin penasaran dan ingin membuka . namun , di larang Revan
" buka di kamar aja , setelah itu hubungi aku " ujar Revan menatap tersenyum Adis
sesampainya di kamar dan sudah menutup pintu kamarnya . Adis langsung membuka kotak tersebut dan melihat sebuah kalung berbandul " 🤍 hati " serta secarik kertas putih di dalamnya . kemudian Adis langsung membaca isi tulisan pada kertas .
...Adis jika pertemuan kita adalah takdir...
...ku harap kau adalah wanita yang ku cari...
...aku tidak tau kapan aku menyukai mu...
...mungkin aku menyukai mu...
...saat diri mu berani mendekat pada ku...
...dan aku tidak tau harus mengatakan apa...
...dan aku juga tidak tau bersikap romantis...
...tapi sebagai kalung itu sebagai tanda...
...aku ingin kamu menjadi istri ku...
...apa kamu mau , karena aku tidak ingin pacaran...
...jujur kamu wanita pertama...
...jika kamu ingin...
...Maka pakailah kalung itu...
...sebagai tanda bila kau menerima ku...
...tapi jika kau ragu , aku akan memberikan mu...
...waktu untuk lebih mengenal ku...
...I Love you adistiya Mahendra...
setelah Adis membaca isi kertas itu , jantungnya makin berdebar kencang dan pipinya memerah seperti tomat masak . Adis pun langsung menghubungi Revan dan setelah tersambung Adis pun menyatakan .
" Revan beri aku waktu untuk mengenal mu "
" baiklah jika itu yang kamu mau , tapi jangan meminta ku untuk menjauh " kata Revan di seberang sana
" aku tidak akan menjauh "
~tutt~
Adis pun langsung mengakhiri telponnya dengan detak jantungnya berdegup keras membuatnya sulit untuk bernapas . namun , perlahan Adis dapat mengontrol detak jantungnya dan dia pun tersenyum manis .
sedangkan di sisi lain Revan hanya tersenyum bahagia , karena dia berhasil mengatakan isi hatinya . walau dia masih sedikit ragu dengan keputusannya , namun Revan bisa bernapas lega karena Adis memilih untuk lebih saling mengenal lebih dalam .
" aku tidak akan melepas mu Adis , ku harap keputusan ku untuk memilih mu bukanlah kesalahan buat ku " gumam Revan di atas motornya
Revan saat ini masih berasa di jalan , kemudian Revan melanjutkan perjalanannya menuju kos-kosannya dengan perasaan bahagianya . sedangkan Adis di hanya berbaring terlentang sambil memeluk kalung pemberian Revan .
hari , Minggu dan bulan telah berlalu , kedekatan Revan dan Adis terpaksa terhenti karena harus melakukan ujian semester ke 2 tahun . tapi Revan selalu mengantar jemput Adis setiap hari , agar mereka bisa mempunyai waktu luang untuk bersama .
Revan dan Adis selalu pergi berlibur di akhir pekan ke taman bermain , pasar malam dan taman bunga serta taman lainnya . Adis maupun Revan Sangat menikmati liburan di akhir pekan mereka dengan tawa dan senyuman . namun mereka tidak memperhatikan , bila ada yang mengintai mereka setiap harinya . sehingga hari yang tak di inginkan pun tiba .
" aku akan jawab , setelah kita wisuda dan jawaban ku akan menjadi hadiah untuk mu " ujar Adis memeluk Revan dari belakang
" akan ku tunggu sayang " kata Revan yang tetap fokus mengemudi menuju rumah Adis
Adis pun langsung malu , karena untuk pertama kalinya Revan memanggil dengan sebutan "sayang" . sedangkan Revan hanya cengir kuda melihat seburat merah di pipi Adis .
dalam perjalanan tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna kuning yang sengaja menyenggol motor revan , sehingga membuat Revan kehilangan ke seimbang motornya . hingga menakra pada pembatas jalan .
Brakk !!!
kecelakaan pun terjadi , Revan masih dapat melihat Adis yang cukup jauh darinya . Revan berusaha menggapai tangan Adis , namun karena tubuhnya yang sakit dan perlahan padangan menjadi buram kemudian gelap .
" maaf Revan gue terpaksa , karena gue gak ingin Lo dan dia bahagia " batin seorang pria yang mengendarai mobil tadi
Revan dan Adis langsung di larikan ke rumah sakit terdekat di Singapura . Revan yang merupakan anak kuliah yang cuma ngekos , terpaksa harus menghubungi salah satu keluarga Revan . sedangkan Adis dia memiliki kakaknya dan ke dua orang tua nya yang berada di Indonesia sedang dalam perjalan .
selang selama 5 jam Revan pun tersadar dan saat membuka matanya dia hanya melihat Raka serta Anjani yang sedang menggendong seorang balita yang menemaninya di ruangan yang bernuansa serba putih .
" Adis !!! " teriak Revan setelah mengingat apa yang terjadi
" Revan , kamu harus kuat . Adis dia tidak apa-apa " kata Raka menenangkan Revan
" aku ingin lihat Adis bang " mohon Revan dengan suara serak dan tatapan sendu
Raka yang melihat adiknya pun mengembuskan napas , kemudian Raka meminta persetujuan Anjani yang sedang menggendong anaknya .
" izinkan saja " ujar Anjani kepada suaminya
Raka pun pergi mengambil kursi roda yang sudah tersedia di dalam ruangan itu . Revan berusaha bangun dari tidurnya dengan di bantu Raka untuk menduduki kursi roda . saat Revan sudah duduk di kursi roda , Raka langsung mendorong kursi rona Revan menuju ruangan Adis yang lumayan dekat .
Revan dapat melihat ke dua orang tua Adis menangis di sisi ranjang , sedangkan Ervin kakak Adis duduk di luar ruangan bertumpu pada dua tangan mengusap kasar kepalanya . merasa sangat frustasi dan Revan dia melihat wanita yang dia cintai terbaring lemah tak berdaya . Dengan memaki alat bantuan oksigen dan infus yang menancap padi nadi tangan kirinya . membuat Revan merasakan sakit di sembilu di dalam hatinya .karena dia tidak bisa melakukan apa pun untuk membuat orang yang dia cintai untuk sadar.
" Adis , aku disini . bangunlah " kata Revan sendu sambil mengusap puncak kepala Adis
" Revan bersabarlah , dia tidak akan kenapa-napa " ujar Anjani meyakinkan Revan
Revan tak memperdulikan perkataan Raka yang memintanya untuk kembali ke ruangan rawatnya untuk beristirahat . Revan terus menatap wajah lesu Adis sambil menggenggam tangan kanan Adis dengan erat . seakan Revan tak ingin melepaskan atau pun kehilangan . Raka yang melihat itu merasa sangat kasihan ada adiknya yang memiliki takdir yang selalu menguji mereka .
malam telah tiba Revan tetap berada diam terduduk di samping Adis . karena dokter berkata , bahwa Revan tidak terlalu serius hanya saja Revan di minta untuk memperbanyak istirahat .
" Revan kamu harus beristirahat , besok kita akan ke sini lagi " ujar Raka kepada Revan
" Revan pergilah , bila nanti Adis sadar . aku akan memberitahu mu " kata Ervin yang tiba-tiba menyahuti
" baiklah "
Raka pun mendorong kursi roda Revan menuju ruangannya sehingga pautan tangan Revan terlepas dari tangan Adis . tanpa Revan sadari jari Adis bergerak dan air katanya pun menetas .
Ervin juga tidak menyadari itu karena dia mengantar Revan keluar dan menutup pintunya
sudah sebulan berlalu Revan selalu setia menjaga Adis di sampingnya , tapi pagi tiba Revan Sangat bahagia . sedangkan Raka dan Anjani hanya tersenyum melihat Revan bahagia yang terpampang di wajah tampangnya karena mendengar kabar dari Ervin , kakak Adis .
" Revan , Adis sudah sadar " ujar Ervin dengan senyuman
Revan mengucapkan syukur kepada Allah , dengan langkah gontai Revan melangkah menuju ruangan Adis. Revan dapat melihat wanita yang dia cintai berbaring dengan tersenyum kepadanya .
" Adis "
Revan pun langsung memeluk Adis dan meneteskan air mata , Adis yang mendapatkan itu hanya tersenyum dan juga meneteskan air mata membalas pelukan Revan .
" Adis mau kah menikah dengan ku " ujar Revan menatap sendu ke dua mata indah Adis
semua yang mendengar itu sangat terkejut , di tambah lagi orang tua Adis yang baru bertemu Revan . sedangkan Ervin , Raka dan Anjani hanya tersenyum menanggapinya .
Adis pun menatap orang tuanya yang berdiri di samping ranjangnya . orang tua Adis hanya tersenyum .
" bila kamu bahagia dengannya dan bisa menjaga mu dengan jiwaraga . kami orang tua mu akan merestui , tapi dengan satu syarat " ujar papa Adis sambil menunjuk jari telunjuknya
" apa pun itu akan saya turuti , saya akan usahakan " kata Revan menatap papa Adis setelah menghapus air mata dengan kasar
" kamu harus bisa memiliki rumah dengan hasil uang kerja keras mu "
mendengar itu Revan ke sulitan menelan salivanya . sedangkan Adis terkejut mendengar penuturan papanya dan Ervin , Raka serta Anjani hanya tersenyum tipis .
" wisuda aja belum , baru saja selesai ujian untuk pun hanya ulangan dan masih lama lagi aku akan wisuda " batin Revan
" papa ini apaan si , kami aja baru selesai ujian . belum lagi wisuda , dari mana bisa dapat kerja " batin Adis menatap wajah Revan yang pucat
Adis ingin menolak syarat papanya . namun , Revan pun menjawab perkataan papa Adis yang membuat Adis mengurumkan niatnya .
" baiklah , saya akan usahakan pak . tapi beri saya waktu " ujar Revan kepada papa Adis
" saya akan beri kamu waktu 6 bulan " kata papa Adis
mendengar itu semua terkejut , sedangkan Revan hanya mengangguk menyetujui kemauan papa Adis .
...Bersambung...