Rona

Rona
eps . 62



sinar matahari sudah muncul di langit biru bersamaan dengan awan putih sebagai sahabatnya . Rona yang kala itu di pagi hari masih berada di kamar setelah dirinya melakukan rutinitas paginya . Rona terus menatap ponselnya yang berada di hadapannya dalam genggaman kedua tangannya . dirinya masih menantikan pesan atau apa pun untuk mengetahui kabar sang suami tercintanya .


" sayang , raja ku ....di mana kah diri mu ? aku sangat mengawatirkannya mu ? aku sangat merindukan diri mu ? tolong berikan aku kabar tentang mu ? agar mimpi itu tidak benar " ujar Rona dengan sendu tanpa air bening jatuh dari kelopak mata indahnya


" au sakit " ucap Rona meringis sambil memegang perutnya yang terasa keram


" maafkan mama nak " kata Rona lagi sambil mengelus lembut perutnya yang sedikit membuncit , berharap sakitnya akan hilang


semenjak Rona mengawatirkan sang suami , perutnya terkadang merasa keram . namun , dengan tangannya mengelus lembut , sang calon anak langsung mengerti . sehingga rasa sakit itu hilang dengan sendirinya . seperti saat tadi , Rona bermimpi bila Vero sang suami tercintanya sedang dalam ke adaan terluka di setiap area kulitnya , membuat Rona hanya menangis dan menyebut nama sang suami . sampai perlahan tubuh sang suami terbawah oleh cahaya putih dan Rona kembali ke alam sadarnya . sehingga di saat dia bangun dengan masih menangis dan perutnya kembali keram dan Rona hanya menggunakan ke dua tangannya untuk menghilangkan rasa sakit di perutnya yang keram akibat tertekannya pikiran .


" iya nak , mama yakin bila papa kamu pasti baik-baik saja di sana dan kamu sekarang istirahat ya ? mama tetap akan di sini menanti kabar papa mu " tutur Rona dengan senyuman getir sambil tangannya mengelus lembut perutnya yang mulai Sangat membesar


sementara di tempat lain , Calista sedang menanti kehadiran seseorang dengan dirinya duduk di ruang tamu dengan pakaian yang terlihat sedikit formal . namun , terkesan angkuh dan dermawan dari penampilannya .


" assalamualaikum "


" wa'alaikumsalam , bagus . tepat waktu " sahut Calista dengan senyuman sumringah sambil berdiri menatap seorang pria di hadapannya . namun , seketika dia kembali kesal setelah melihat penampilan pria yang ada di hadapannya


" jalan sekarang Calista ? " tanya pria itu dengan hangat serta ke hati-hatian menatap Calista di hadapannya yang menatapnya dengan kesal


" iya sudah , turuti perkataan ku Basri . kita ke butik dulu ! "


Calista pun pergi keluar rumah menuju mobil berwarna silver dan tentunya pria yang tak lain adalah Basri langsung mengikuti Calista dan dengan sigap membukakan pintu penumpang . namun , Calista hanya diam tanpa memasuki mobil yang sudah Basri buka pintunya . membuat Basri mengerutkan keningnya , pertanda dirinya bingung .


" di depan saja " titah Calista dan Basri langsung melakukan tanpa mengucapkan kata apa pun . karena dirinya tak ingin mendapatkan masalah di hari yang begitu cerah ini


setelah Calista masuk mobil dan Basri juga sudah kembali menutup pintu mobil dengan santai . kemudian Basri mengitari mobil untuk langsung masuk di bagian kemudi dan tentunya kini dirinya berada di samping Calista . membuat jantung tak berhenti berdetak dan dia hanya bisa menghembuskan nafas . berharap detak jantungnya tak di dengar oleh Calista dan degupan jantungnya berkurang .


" lebih cepat , tapi tetap hati-hati " kata Calista sambil menatap Basri saat mobilnya telah meninggal perkarangan rumahnya dan Basri hanya mengangguk , menuruti perkataan Calista


selang beberapa waktu akhirnya mobil berhenti tepat di depan butik langganan keluarga Calista . Basri pun langsung turun dan kembali mengitari mobil untuk membuka pintu mobil untuk Calista . Calista pun keluar dari mobil dengan gaya elegannya , saat pintu mobil telah di bukakan oleh Basri .


" cepat kita tak banyak waktu " hardik Calista sambil berjalan memasuki pintu yang terbuka otomatis yang terbuat dari kaca dan Basri langsung mengikuti Calista memasuki butik yang terlihat mewah tersebut


Calista dan Basri pun di sambut ramah oleh pelayan di butik itu dan Basri hanya tersenyum sopan menanggapinya , sedangkan Calista hanya mendengus kesal melihat Basri tersenyum pada pelayan yang ada di hadapannya .


" saya perlu setelan jas " ketus Calista sambil menatap tajam pelayan tersebut dan tentunya pelayan itu langsung takut dan hanya mengangguk kemudian pergi meninggalkan pelanggan yang baru datang


Calista pun duduk di salah satu kursi yang memang di sediakan untuk para pengunjung dan pelanggan yang berdatang di butik tersebut . sedangkan Basri hanya berdiri sambil matanya menatap dengan takjub di sekelilingnya . melihat banyak sekali pakaian yang mewah dan pastinya mahal pikir Basri .


" Nona , ini setelan jas yang Nona minta . Nona bisa memilihnya sesuai keinginan Nona " tutur pelayan wanita tadi dengan sopan sambil menunjuk beberapa setelan jas yang di selimuti oleh plastik putih transparan , sehingga terlihat warna pada setelan jas tersebut


" Basri " panggil Calista sambil menatap Basri


" iya Calista " sahut Basri dengan senyuman tentunya , karena Calista sudah mengatakan bila dirinya bukan anak buahnya


" kamu pilih mana yang menurut mu cocok " pinta Calista


" tentu saja Calista "


Basri pun mengambil salah satu setelan jas tersebut , kemudian membawanya ke ruang ganti untuk mencobanya . selang berapa menit kemudian , Basri keluar dari ruang ganti dan semua orang di butik itu menatap Basri tanpa berkedip sama sekali .


" Calista " panggil Basri saat sudah berdiri dari jarak 3 langkah di depan Calista . Calista pun mengalihkan perhatian dari ponsel dan kini matanya telah menatap Basri di hadapannya yang juga tanpa berkedip . seakan dirinya sangat terpesona dengan ketampanan Basri


" bagaimana menurut mu ? apakah jelek ? atau kurang bagus ? atau ..."


" luar biasa tampang " puji Calista memotong perkataan Basri , mendengar itu Basri merasa sangat senang di dalam hati . mendapatkan pujian dari wanita yang di sukai


" kalo begitu ayo kita berangkat , kata mu kita tak punya banyak waktu " kata Basri sambil dirinya menggandeng tangan Calista yang tanpa dia sadari . karena dirinya sangat senang akan hari pagi yang cerah ini


kini Calista dan Basri kembali berada dalam mobil yang sama serta posisi yang sama pula dan Basri kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan Calista . hari ini Calista ingin menyatakan bila Basri yang akan melanjutkan perusahaannya , karena dirinya beralasan pada Basri . bila dia tak sanggup dan Calista terus minta Basri agar mau menjalankan perusahaan milik papanya . namun , Basri belum tau yang sebenarnya alasan Calista dan Basri hanya percaya saja dengan apa yang Calista katakan padanya .


kini mereka telah sampai di kantor , dengan Calista dan Basri berjalan dengan berdampingan . membuat para karyawan kantor bertanya-tanya dengan berbisik-bisik . tapi Calista menghiraukan dan Basri hanya diam dan terus mengikuti langkah Calista menuju lift .


" apa ini tidak terlalu cepat ? " tanya Basri sambil menatap Calista di sampingnya , saat pintu lift telah tertutup dengan rapat


" tidak , emang kamu punya masalah ? atau ada yang kamu sembunyikan ? atau sesuatu yang lain ? " cecar Calista yang sudah jengah dengan pertanyaan Basri , karena Basri dari kemarin terus bertanya begitu membuatnya merasa sangat jengah dan kesal


" tidak sama sekali "


" kalo gitu kamu tenang saja , jangan pikirkan yang lain . aku hanya ingin.. kau jangan melupakan syarat ku yang kedua , hanya karena masalah perusahaan . itu bukan alasan yang tepat , apa kau ngerti ? " ujar Calista panjang lebar sambil menatap wajah Basri di hadapannya


" baiklah Calista " ucap Basri pasrah saja , namun dia juga merasa bingung apa yang membuat Calista yang sangat membutuhkan dirinya . bahkan dirinya harus meminta orang tuanya untuk datang ke Jakarta atas syarat yang di berikan Calista


" jika buka karena rasa suka atau cintalah namanya dan juga karena uang . aku sebenarnya malas untuk melakukan hal ini , karena aku hanya anak kalangan miskin dan aku hanya lulusan S1 di jurusan teknik informasi . aku yakin , aku pasti akan punya banyak masalah di perusahaan ini . di tampah lagi perusahaan ini cukup terkenal dan rasanya aku ingin lari saja . namun , apa daya aku sudah terjebak bersama wanita yang menyebalkan ini " dalam hati Basri


pintu lift pun terbuka , Calista langsung menarik tangan kanan Basri . karena pria di sampingnya ini tadi sedang melamun , dan dia hanya tersenyum menatap sikap Basri yang terlihat polos itu . namun , Basri adalah pria jujur , bertanggung jawab dan perkerja keras . hal itu lah yang membuat Calista memilih Basri , karena baginya sangat sulit mencari seseorang yang bisa dia percaya .


" dasar pria tak peka sama sekali , emang dia gak mikir apa ? bila seorang wanita ingin bertemu orang tuanya ...ya pasti untuk sebuah hubunganlah . tapi tak apa kau tidak peka , nanti aku akan mengejutkan mu dan ku harap aku tak salah memilih diri mu untuk masa depan ku dan ku harap juga kau memilih perasaan yang sama seperti ku " dalam hati Calista sambil menampilkan senyuman simpul di wajah cantiknya


Ceklek


pintu ruangan CEO pun terbuka oleh tangan lembut Calista sambil tetap menggandeng tangan Basri dan membawanya masuk . sedangkan Basri menatap takjub dengan dekorasi ruang kantor CEO yang dia pijaki . ruangan itu bernuansa hitam dan putih serta ada dinding kaca . sehingga Jakarta terlihat sempurna dari tempat dia berdiri .


" apa kamu suka dekorasinya ? " tanya Calista saat melihat Basri tersenyum sambil memperhatikan tiap sudut ruangan


" Sangat suka , tapi ini tidak ..."


" baiklah , sesuai keinginan mu Calista " ujar Basri pasrah dengan keinginan wanita di hadapannya


" bagus , sekarang kamu duduk dan coba kamu pelajari semua dokumen yang ada di atas meja secara perlahan saja dan hati-hati . agar kamu tak kesulitan untuk mengerti apa yang ada di dalamnya dan sebenar lagi aku akan mengumumkan dirinya menjadi CEO di perusahaan ini untuk menggantikan ku . ku harap kau tak mengecewakan ku dan ku percaya terhadap mu " jelas Calista panjang lebar dengan lembut pada Basri , agar Basri dapat mencerna setiap kalimat yang dia katakan


Basri hanya diam mendengar suara lembut milik Calista , dan mencerna tiap kalimat yang Calista katakan . membuat hati Basri sangat senang dan menimbulkan rasa percaya dirinya yang sejak tadi larut entah kemana . kemudian Basri pun langsung memeluk Calista , karena terlalu merasa senang . Calista terkejut mendapati Basri memeluknya , tapi dia langsung membalas pelukan hangat Basri dan menyadarkan kepalanya di dada bidang Basri .


" dengan senang hati Calista " ucap Basri lembut dengan di susul senyuman hangat , kemudian dia menyadari bila dia dengan sengaja memeluk Calista . membuatnya ingin melepaskan pelukannya , namun Calista langsung berkata ...


" terus seperti ini " titah Calista , saat Basri ingin melepaskan pelukannya dan Basri hanya diam menuruti perkataan Calista


Tok tok tok


mereka hanya saling berpelukan , sampai suara ketukan pintu berbunyi . membuat Calista dan Basri melepaskan pelukan hangat yang mereka ciptakan sendiri .


" masuk " ucap Calista setelah berbalik membelakangi Basri dan langsung menatap pintu ruangan


seorang wanita berpakaian modis pun memasuki ruangan dengan sopan . Calista yang melihat pakaian wanita yang merupakan asistennya yang akan nantinya menjadi asisten Basri , membuatnya merasa kesal . sehingga dia menatap tajam wanita di hadapannya , wanita yang di tatap itu . seketika nyalinya langsung ciut mendapat tatapan tajam dari bosnya .


" apa aku membaut kesalahan ? tapi ...aku rasa tidak . tapi mengapa bos menatap seperti itu ? seakan ingin memakan ku saja seperti elang " dalam hati wanita yang merupakan asisten di perusahaan Calista


" apa tak bisa ? pakaiannya itu di ubah , masa harus begitu ? bagaimana nanti jika Basri tergoda ? gak akan ku biarkan " dalam hati Calista yang masih menatap tajam asistennya itu


Basri yang tak dapat melihat siapa yang masuk , karena tertutup oleh tubuh Calista yang tunggu . membuatnya penasaran siapa yang datang ke dalam ruangan ini . namun , Calista yang menyadari pergerakan Basri dari ekor matanya langsung berbalik .


" kamu hadap ke belakang , lihat aja dulu pemandangan Jakarta dan jangan berbalik sebelum aku memintanya " ucap Calista lembut , membuat Basri mengurumkan niatnya untuk menatap siapa yang memasuki ruangannya , sedangkan wanita tadi terkejut mendengar suara lembut bosnya itu


" apa aku salah mendengar ? wanita dingin dan angkuh bisa bersikap lembut ? siapa pria itu ? pasti dia orang sepesial bos , aku harus jaga mata ku . sebelum pekerjaan ku hilang dan mungkin saja aku juga hilang dan hanya tinggal nama saja " dalam hati wanita tadi


Calista pun kembali menatap wanita yang kini berada di hadapannya . sedangkan wanita itu hanya diam dengan menunduk kepalanya tanpa berani menatap wajah bosnya .


" Sindi , mulai besok pakaian kamu buatlah sedikit tertutup . jika kamu masih ingin berkerja di sini , saya tak ingin sakit mata melihat pakaian kamu " ketus Calista dingin dengan nada sedikit di pelankan . agar Basri tak mendengarkan dan hanya di dengar olehnya dan wanita di hadapannya yang bernama Sindi


" baiklah bos , besok saya akan merubah penampilan saya " ucap Sindi dengan tertunduk kepala


" besok kau harus mulai jadi asisten calon suami ku , dan aku tau kan ? apa yang harus kau lakukan ? "


" iya bos , saya tau "


" bagus . terus apa maksud kedatangan mu ? "


" itu bos , para direktur yang berkerjasama dengan perusahaan kita telah berkumpul . untuk mendengarkan pengumuman yang akan bos sampaikan "


" iya sudah kamu keluar dan bilang juga pada karyawan wanita lainnya . tidak boleh memakai pakaian seperti yang kau gunakan saat ini . jika mereka masih ingin berkerja di sini , ngerti ! "


" ngerti bos , kalo begitu saya permisi "


setelah kepergian Sindi yang merupakan asisten Basri untuk mulai besok . Calista pun kembali mendekati Basri dan berdiri di samping Basri . Basri yang kala itu sangat menikmati pemandangan indahnya kota Jakarta , serta langit biru dan awan bersama matahari yang masih cerah di atas sana .


" ayo ikut aku " ucap Calista sambil menarik pergelangan tangan Basri dengan lembut


" tadi kamu sedang bicara apa ? " tanya Basri , sebelum Calista membuka pintu ruangan


" o dia tadi Sindi Adeline , di panggil Sindi . dia akan menjadi asisten mu mulai besok , untuk hari ini biar aku jadi asisten mu . tadi dia ke sini ingin menyampaikan bila para direktur perusahaan yang berkerjasama dengan perusahaan ini telah berkumpul di ruang meeting . sekarang ayo kita ke sana " jelas Calista lembut , membuat Basri hanya tersenyum sambil mengangguk


" untuk pertama kalinya kau berbicara sepanjang ini dengan ku , bahkan suara mu yang lembut membuat jantung ku seakan tersiram bunga-bunga . aku sangat-sangat senang hati ini , terima kasih Calista dan terima kasih ya Allah " dalam hati Basri , sambil dirinya mengikuti langkah Calista yang terus mengandeng tangannya menuju ruangan meeting .


sesampainya di ruangan meeting yang sangat luas serta di dalamnya ada meja bundar dan 10 orang direktur perusahaan lain , itu membuat Basri ciut . namun , dia berusaha untuk menunjukkan sikap ke jantanannya . agar Calista tidak merasa malu dan dirinya bisa membuat Calista merasa senang .


" salam kenal para direktur yang telah berjasa dalam berkerjasama dengan saya dengan perusahaan alm . papa saya . saya di sini ingin menyampaikan sebuah pengumuman , bila calon suami saya yang bernama Basri Hassanudin akan menggantikan saya dalam menjalankan perusahaan grup C . Amadea . saya yakin , jika calon suami saya bisa menjalankannya dan saya tidak akan membuat para pak direktur kecewa . jika ada yang keberatan bisa di katakan sekarang ! " kata Calista sopan dengan gaya angkuhnya sambil tangannya tetap menggenggam erat tangan Basri serta mata Calista menatap berganti para direktur yang berada di hadapannya , sedangkan Basri terkejut mendengar perkataan Calista dan Basri hanya diam dan berpikir nanti saja untuk menanyakan hal itu


" saya keberatan ! " seru seorang pria paru baya yang terlihat berusia 40-an keatas dengan tampang seriusnya


Calista dan Basri yang mendengar keberatan dari beberapa direktur , membuat Calista menatap Basri memberikan senyuman dan menggenggam erat tangan Basri yang tak lepas sejak tadi . Basri yang melihat senyuman Calista serta genggaman tangannya yang memberikannya kekuatan dan dukungan dari Calista , membuatnya merasa sedikit lebih tenang dan mencari ide untuk membuat para direktur merasa yakin terhadapnya .


" baiklah , jika dalam sebulan saya tidak bisa memberikan keuntungan pada perusahaan ini . saya akan mundur dari posisi saya , bagaimana para pak direktur ? " ujar Basri dengan gaya dermawan dan wibawanya menatap satu persatu pria yang ada di ruangan ini


" ok , setuju " sahut para direktur hampir bersamaan , setelah mereka sempat memikirkan apa yang di tawarkan Basri


" terima kasih atas persetujuan , kalo begitu kita akhiri sampai di sini " ucap Calista dengan sikap dingin dan angkuhnya


semua pun keluar dari ruangan meeting yang luas itu , setelah mereka saling bersalamannya dan ada juga yang mengucapkan selamat pada hubungan Calista dan Basri . namun , Calista tak menyadari tatapan mata yang penuh air sedang menatapnya dari jarak yang tidaklah terlalu jauh . sedangkan Basri tau itu , karena dia dari tadi sudah memerhatikan seorang pria muda yang seusianya menatap Calista .


" awas saja jika dia berani macam-macam dengan Calista , tak akan aku biarkan ! " dalam hati Basri menatap tajam pria muda tersebut . namun , pria itu sepertinya tak menyadari tatapan tajam dan dingin milik Basri . karena pria muda itu fokus menatap Calista yang berdiri dengan senyuman sambil bersalaman dengan para direktur lainnya .


setelah acara saling bersalaman dan hanya tinggal Calista , Basri dan pria muda ruangan meeting . pria muda itu pun melangkahkan dan kini dirinya berdiri tepat di hadapan Calista serta Basri .


" hai Calista , apa kamu masih mengingat ku ? " tanya pria muda dengan senyuman yang di buat semanis mungkin


" ingat , kamu kan Candra Malik Ibrahim " jawab Calista acuh dengan melipat kedua tangannya


" kamu tak pernah berubah , kalo begitu aku ucapkan selamat dan sampai jumpa " ucap pria muda itu yang bernama Candra dengan senyuman sok manis , membuat Basri ingin memukul wajah Candra yang sok manis itu


setelah kepergian Candra , Calista dan Basri keluar dari ruangan meeting room . kemudian kembalikan ke ruangan CEO , agar Calista bisa membantu Basri mempelajari dokumen yang ada di atas meja . karena tadi Calista sangat keberatan dengan tawaran yang di berikan Basri . namun , dia hanya bisa diam dan dia akan menanyakan hal ini nanti . sedangkan Basri juga ingin mengatakan sesuatu kepada Calista , sehingga dia tak masalah jika Calista terus menarik tangannya dengan terburu-buru.


...Bersambung...