Rona

Rona
Eps. 85



" akhirnya kamu pulang juga sayang dan kamu harus di hukum " kata Diyan dengan bibirnya mengecup leher jenjang istrinya. Membuat Dina merasa kegelian dan menegang saat merasakan benda kenyal menyentuh kulit mulusnya serta dia dapat merasakan nafas hangat suaminya


" hukum ? Hukuman seperti apa ? Astaga kenapa mas Diyan cepat sekali si pulangnya ? Bukannya dia terbiasa pulang sehabis sore ? " dalam hati Dina bertanya-tanya dengan perasaan was-was


Dina mendengar suara sang suami yang telah menjeratnya dengan tangan kekar yang melingkar di pinggangnya , yaitu pelukan dari belakang oleh suaminya. kini dirinya merasa takut untuk bertindak atau berkata apa selain hanya pasrah saja.


" kenapa ? Apa kamu tak ingin bertanya ? Hukuman apa yang akan ku berikan ? " tutur Diyan lembut dengan pertanyaan yang di lontarkan pada istrinya yang membuat Dina semakin merinding , karena masih merasa takut dengan kemarahan suaminya


" a..ku..enggak tau " jawab Dina terbata-bata


" coba kamu yang pikirkan ? Hukuman apa yang bagus buat istri yang terlambat pulang ? "


Dina yang mendengar pertanyaan seperti yang di lontarkan suaminya hanya dapat diam dalam ketakutan , dan kebingungan. Karena suaminya mala bertanya begitu padanya dan pasti dirinya tak mau di hukum. Mana ada seorang wanita mau di hukum oleh pria yang sekali pun itu adalah suaminya. Namun , Dina hanya diam dan pasrah.


" Dina... Ko diam. Apa kamu ingin aku yang memberi hukuman ? " tanya Diyan lagi dan lagi. Dina hanya mengaguk kepalanya dengan pelan


Diyan yang sudah mendapatkan persetujuan dari Dina langsung tersebut simpul. Kemudian dia melepaskan pelukannya dan langsung membalikkan tubuh istrinya menghadap padanya. Tapi kini istrinya mala menundukkan kepala dan dengan lembut dia menyentuh dagu mulus dengan jarinya serta langsung di tegakan untuk dapat melihat wajah istrinya , sehingga Diyan dapat melihat jelas wajah istrinya yang ini telah mengunci mata indah istrinya.


" apa... Kamu siap sayang untuk menerima hukuman ? " tanya Diyan sambil meraba pinggang ramping istrinya dengan tangan satunya , kemudian di dekatkan tanpa ada cela di antara tubuhnya dengan istrinya


Dina sangat terkejut mendapati sikap Diyan yang dengan mudah mendekatkan tubuhnya sampai tak ada cela dan bisa di katakan jika kini kedekatan tubuhnya dengan suaminya sangat intim.


Cup


Diyan mengecup bibir ranum Dina sekilas , sedangkan Dina semakin terkejut dengan ulah suaminya yang di luar dugaannya dan Diyan hanya tersenyum melihat mata Dina yang melebar sempurna karena kelakuannya.


" karena kamu sedang berhalangan. Maka... Sayang ku , kamu harus bisa menjinakan Junior ku. Apa kamu bisa ? " pinta Diyan


" menjinakkan ? Junior ? Yang mana ? Apa kamu membawa sesuatu ke sini ? " cecar Dina yang ketika bernafas lega mendengar permintaan suaminya


" kamu sangat polos... Ya uda ku ganti saja " keluh Diyan dengan kepolosan istrinya


" eh. Kenapa emangnya ? Apa Junior sedang marah ? "


" uda diam. Ikut aku ke kamar dan lain kali saja ketemu Junior ku "


Dina yang mendengar nada kesal suaminya kembali diam dan hanya menuruti langkah suaminya membawa dirinya. Kini sekarang Diyan dan Dina sudah berada di kamar atas lebih tepatnya kamar Diyan dan sekarang telah resmi menjadi kamar pasangan suami istri , Karena sesuai persetujuan tadi pagi.


Dina saat ini di kejutkan dengan Diyan yang membuka kancing baju kemeja yang kian di tubuh suaminya dan kini baju itu sudah terlempar di lantai kamar. Membuat pikirannya menjadi negatif akibat menonton film barat sore tadi.


" naik " ketus Diyan yang masih kesal


" kemana ? " tanya Dina dengan masih menatap tubuh six pak di hadapannya dan bahkan dia menelan kasar salivanya sendiri


" ranjang sayang " jawab Diyan dengan suara menggoda , setelah memperhatikan istrinya yang menatap tubuhnya


Entah dorongan dari mana , Dina melangkah mendekati suaminya yang bertelanjang dada. Kemudian perlahan tangannya mengelus dada dan perut six pak yang ada di depan matanya.


" sayang... Ka..mu ingin merasakannya ? " tanya Diyan dengan menikmati sentuhan tangan lembut istrinya yang sudah membuat darahnya berdesir


" lain kali saja " jawab Dina ketika menyadari apa yang telah dia perbuat dan dia langsung menjauh dari tubuh suaminya


" sayang... Kamu semakin membangunkan Junior ku " keluh Diyan dengan wajah merah karena menahan gairah yang telah menjalar di tubuhnya


" maaf " satu kata yang terucap dari bibir Dina , walau sebenarnya dia juga masih belum mengerti dengan yang di maksud suaminya


Diyan langsung lari ke arah kamar mandi dengan cepat menutup pintu. Sehingga suara pintu terdengar nyaring , karena Diyan menutup dengan tidak sabaran. Sedangkan Dina mematung di tempatnya berdiri sampai selang beberapa detik dia pun memilih untuk duduk di pinggir ranjang menunggu Diyan keluar dari kamar mandi.


" kamu mandi ? " tanya Dina heran ketika melihat Diyan keluar dari kamar mandi dengan rambut basah


" iya " jawab Diyan acuh sambil tetap menggosok rambutnya dengan handuk kecil


" o... Kalo gitu aku juga mau mandi " kata Dina sambil berdiri dari duduknya


" ya sudah. Tapi cepat ! " seru Diyan menatap wajah istrinya yang kini sudah tepat berdiri di depannya


" cepat ? Emang kenapa ? Apa kita mau pergi ? " cecar Dina yang kini juga menatap wajah suaminya


" iya "


" singkat amat si ngomongnya "


" terserah "


" ok. Kalo gitu aku pergi aja dari rumah " ketus Dina dan langsung melangkahkan ke arah pintu kamar


" jangan coba-coba Dina ! " seru Diyan lantang


" kenapa ? Kamu bilang terserah. Jadi suka-suka aku " ketus Dina dengan melanjutkan langkahnya keluar kamar dan membuat Diyan kesal dengan mulutnya


" sudah tau lagi dapat dan pastinya sangat sensitif. Sekarang... Aku harus apa ? Untuk meluluhkan hatinya ? " gumam Diyan dengan menatap pintu yang sudah tak ada lagi bayangan istrinya di sana


Sedangkan di tempat lain lebih tepatnya di kamar yang telah Dina tempati selama 6 bulan ini. Dina menatap kesal ke arah jendela kamarnya yang di sana dia dapat melihat bunga serta pohon lainnya yang menari-nari mengikuti arah angin. Sampai sebuah tangan yang tiba saja melingkar sempurna di pinggang rampingnya dan dia dapat menebak siapa orangnya.


" maaf... Jangan ngambek dong sayang ku . Aku minta kamu cepat ! biar kita dinner . Karena itu aku pulang cepat , karena kitakan enggak pernah dinner di sini " jelas Diyan lembut dengan masih memeluk erat tubuh ramping istrinya dari belakang serta meletakkan dagunya di pundak mulus sang istri


Dina dan Diyan memang tidak pernah dinner di saat sudah menetapkan di jakarta. Selain hanya Bandung tepat mereka pernah berbagi dan sudah berduaan jika bepergian kemana pun dan kini Diyan berencana untuk dinner bersama wanita yang dulu adalah teman dan kakak baginya dan kini telah sah menjadi istrinya.


" benarkah ? Kamu engga sedang bercandakan mas ? " tanya Dina ketika sudah membalikkan tubuhnya dan menatap wajah pria yang merupakan suaminya dengan tatapan berbinar-binar bahagia


" tentu saja sayang " jawab Diyan dengan senyuman


Cup


Dina mengecup bibir suaminya dan sedikit menyesapnya. Sehingga membuat Diyan terkejut dengan ulah Dina , tapi perlahan dia pun menikmatinya. Namun , saat istrinya ingin berhenti mencium bibirnya dan segera langsung dia menahan tengkuk leher istrinya untuk memperdalam ciumannya.


" emm... Mas....uda ya. Aku gak sabar mau dinner " kata Dina sambil mendorong tubuh suaminya dengan terpaksa dan Diyan hanya diam dengan mengagukan kepalanya


" iya uda aku mandi dulu dan bersiap - siap " setelah Dina menyahuti perkataan suaminya. Dia langsung melangkahkan menuju kamar mandi


Setelah Dina dan Diyan bersiap-siap , mereka pun langsung pergi di saat langit berwarna gelap dengan di hiasi gemerlap bintang dan sinar rembulan. Dalam perjalanan dalam mobil hanyalah keheningan antara Diyan dan Dina. Karena mereka tak tau harus mengatakan apa selain hanya diam dengan Diyan yang fokus menyetir sambil sesekali menatap istrinya di sampingnya. Sedangkan Dina hanya menatap jendela mobil dengan dapat melihat kendaraan yang berlalu lalang melewati mobil yang dia tumpangi.


" kenapa berhenti di sini ? " tanya Dina ketika suaminya tiba saja menghentikan mobil di pinggir jalan


" kencan. Di depan ada pasar malam " jawab Diyan dengan tersenyum hangat. Kemudian Diyan turun dari mobil


Dina dan Diyan pun menikmati kencan mereka di pasar malam. Terkadang mereka berdua ikut bermain permainan yang ada di sekitar mereka tanpa menyadari bila seorang pria terus mengikuti pergerakan mereka berdua.


" mas... Aku uda lapar " keluh Dina dengan manja


" ok. Kalo gitu kamu mau makan apa ? " tanya Diyan dengan masih menggenggang erat tangan Dina


" mie ayam. Aku uda lama engga makan mie ayam " jawab Dina dengan berbinar-binar di mata indahnya


" ayo ! " seru Diyan


Dina dan Diyan pun makan malam di pinggir jalan yang tempatnya dekat dengan pasar malam dengan masih di pantau seorang pria. Sampai tibalah dua wanita yang tak di undang telah datang dan bahkan langsung duduk di depan mereka dengan berbatasan meja kayu tepat mereka sedang menikmati mie ayam.


" hai Diyan " sapa seorang wanita dengan senyuman yang terukir sempurna di wajah cantiknya


" Firna " satu nama yang terucap dari mulut Diyan dengan tatapannya yang terkejut serta Dina sama halnya juga terkejut melihat kehadiran Firna serta seorang wanita asing di sampingnya


" iya. Ini emang aku Diyan " kata Firna manja " dan perkenalkan ini sepupu aku... Namanya Analisa Syahputri di panggil Lisa dan Lisa... Ini Diyan dan Dina " tambahnya lagi dengan memperkenalkan seorang wanita di sampingnya yang tak lain adalah Lisa


" Dina ! Bukannya dia Rona " dalam hati Lisa yang sejak tadi terus memperhatikan wanita di depannya yang duduk bersebelahan dengan seorang pria yang di sukai oleh Firna , sepupunya


Lisa nampak terkejut mendengar nama wanita yang di perkenalkan oleh sepupuhnya. Namun , Lisa memilih untuk diam dan tetap menatap kedua orang yang berbeda jenis di depannya. Sedangkan Dina menatap tak suka kehadiran wanita di depannya.


" ngapain ke sini ? " ketus Dina dingin


" mau makan lah ! " seru Firna tajam


" dasar gatal " gumam Dina pelan dan hanya bisa di dengar oleh Diyan sedangkan Lisa yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Dina. tau , apa yang Dina gumamkan saat ini


" kamu barusan bilang apa Dina ? " tanya Firna dengan lantang menatap tajam wanita di depannya, karena samar-samar dia mendengar suara Dina


" emang aku bilang apa ? " tanya Dina balik menatap dingin dan tajam wanita yang tak di undang


" uda ya sayang. Kita pulang saja jika kamu sudah selesai makan " sahut Diyan dengan nada lembut menatap hangat wanita di sampingnya yang merupakan istrinya. Melerai perdebatan antara dua wanita cantik yang merupakan istri dan juga temannya


" ayok sayang ku. Aku sudah enggak berselera untuk menikmati mie ayam ini " keluh Dina dengan bergelayut manja di lengan suaminya


Lisa yang mendengar keluhan Dina dan cara Dina bersikap sangat terkejut. Sedangkan Firna semakin terbakar api cemburu melihat tingkah Dina yang seakan sengaja memamerkan kemesraan di depannya.


" tunggu ! " seru Lisa tiba saja langsung bersuara, saat Dina dan Diyan ingin beranjak pergi


" apa kamu tidak mengenal ku? Dan benarkah nama kamu Dina ? Dan... Siapa pria di samping mu ? " cecar Lisa menatap wajah Dina yang sejak tadi di mengira wanita di depannya adalah Rona


" emang kamu siapa ? Apa kita pernah bertemu ? Pria ini adalah suami mu ku " sahut Dina dengan dingin menatap tajam wanita di samping Firna


" benarkah ? Apa kamu sedang bercanda ? Bukankah nama kamu Rona ? Rona Pra Sanjaya ? "


" sorry. Saya tidak mengenal anda dan anda salah orang. Nama saya adalah Dina dan bukan Rona ! "


Setelah mengatakan hal itu Dina langsung menarik tangan suaminya untuk meninggalkan tempat ini. Sedangkan Lisa menatap terkejut dan heran terhadap wanita yang mirip sekali dengan Rona.


" mungkinkah begitu ? Tapi... Bagaimana bisa ? Vero... Belum seminggu meninggalkan dan Dina sudah menikah lagi kah ? Dan bahkan sikapnya sangat berubah dari sebelumnya " dalam hati Lisa


Lisa memang belum mengetahui kabar yang sesungguhnya tentang peristiwa pesawat yang di alami Vero seminggu yang lalu , sehingga dia mengira jika Vero telah tiada akibat kecelakaan pesawat yang di tumpangi Vero. Karena saat itu dia hanya mendengar perkataan Basri , yang mengatakan bila kemungkinannya kecil untuk selamat dari peristiwa pesawat tersebut dan dia serta Calista langsung menduga jika Vero telah tiada.


Sementara di dalam mobil Diyan dan Dina kini telah berdebat dengan kehadiran dua wanita yang datang tanpa di undang yang merusak kencan mereka berdua.


" kamu sengaja milik makan di situ kan ? Biar bisa ketemuan dengan wanita mu itu " ketus Dina tajam menatap pria yang duduk di sampingnya


" bukan sayang " bantah Diyan cepat " aku engga tau jika dia bisa ada di situ juga. mungkin dia hanya lewat dan kebetulan ketemu kita sayang. plis jangan marah dong " jelas Diyan dengan lembut dengan ekstra kesabaran di hatinya menghadapi emosi istrinya yang sensitif dan posesif terhadapnya. Walaupun di dalam hati dia senang melihat ke posesifan istri tersayangnya


" alasan ! Bilang aja kamu senangkan ? ketemu dia tadi di sana ! Ayo ngaku kamu "


" plis dong sayang ku... Aku sungguh tak tau jika dia akan ada di sana juga. Aku kan ikut kemauan kamu yang ingin makan mie ayam "


" iya. Aku memang minta mie ayam dan seharusnya tadi jangan di situ ! "


" yaaaa... Terus dimana ? "


" terserah ! Aku uda gak mood bicara sama kamu " kata Dina kesal dan langsung memalingkan wajahnya menatap jendela mobil dengan melipat kedua tangannya di perut


" sayang... Dina... Jangan gitu dong...ok ! Aku akan. Turut semua kemauan kamu asal kamu jangan marah pada ku " tutur Diyan dengan pasrah dia harus mengalah walau dia tak merasa salah


" beneran ? Kamu yakin ! Mau nuruti kemauan aku " sahut Dina memastikan dengan kembali menatap suaminya dengan mata berbinar senang


" iya " jawab Diyan pasrah saja dengan tetap fokus mengemudikan mobilnya


" ok. Aku akan memintanya seminggu lagi dan kamu gak boleh menolaknya "


" seminggu ? Baiklah sesuai keinginan mu dan sekarang kita masuk rumah "


Saat Diyan mengatakan itu , mobil rupanya telah berhenti tepat di depan rumah dan Dina pun baru menyadarinya. Diyan turun dari mobil dan kemudian membukakan pintu mobil untuk wanita tersayangnya. Dina pun tersenyum saja mendapat perlakuan manis dari suaminya.


Dina dan Diyan pun memasuki pintu rumah dengan tak lupa Dina kembali menguncinya pintunya lagi. Kemudian Dina mengikuti langkah suaminya yang sudah menaiki tangga menuju kamar.


" tadi sore belum jadi menghukum mu sayang " kata Diyan tiba saja dengan menyeringai licik. Mengingatkan pada istrinya tentang hukuman yang belum dia lakukan pada istrinya


Dina mendelik kesal mendengar perkataan suaminya yang tiba saja mengingatkannya hukumnya yang belum dia dapatkan karena tak menepati perkataan pagi tadi untuk tidak terlambat pulang sebelum suaminya.


" baiklah... Apa hukumnya ? " tanya Dina kesal


" pijat tubuh ku " jawab Diyan sambil melepaskan bajunya yang melekat di tubuh kekarnya


" berbaringlah di ranjang ! "


Diyan pun menuruti perkataan istrinya dengan berbaring tengkurap di atas ranjangnya. Sedangkan Dina naik ke atas ranjang dengan duduk di samping suaminya untuk memulai memijat dengan hanya menggunakan tangannya dan minyak dalam botol yang dia ambil dari dalam lacik nakas samping ranjang.


Namun saat dalam memijat Diyan. Pikiran Dina tiba saja teringat dengan perkataan sepupu Firna yang bernama Lisa.


" Rona... Rona Pra sanjaya. Aku tidak mengenal nama itu . Tapi kenapa Lisa mengira aku adalah Rona dan apakah wajah ku sangat mirip dengan wanita yang bernama Rona? Sehingga dia bertanya begitu pada ku ? Ah... Sudahlah. Mungkin dia salah orang , karena baru dia yang bertanya begitu pada ku " dalam hati Dina


Selang beberapa waktu , Diyan pun menyudai hal memijat dan kemudian menarik tubuh Dina untuk berbaring bersama dalam dekapannya. Sedangkan Dina tidak menolak dan bahkan dia menyembunyikan kepalanya di dada bidang suaminya serta membalas dekapan suaminya dengan erat. Kemudian ke duanya menyambut mimpi indah dalam tidur lelap mereka berdua.


...Bersambung...