
" terima kasih ya mas " ucap Dina ketika sudah memasuki rumah dengan Diyan yang sudah berdiri di sampingnya
" buat ? " tanya Diyan dengan dahi berkerut menatap wajah wanita cantik di hadapan yang kini juga menatapnya
" untuk malam ini. Aku sungguh tak menduga... Jika kamu masih mengingatnya. Aku saja sudah melupakan itu , karena masa lalu ku sangat pahit " jawab Dina dengan senyuman dan tatapan matanya yang terlihat luka di dalamnya
Diyan tanpa berucap langsung memeluk Dina dengan erat dan Dina hanya diam saja menerima pelukan hangat dari pria yang merupakan suaminya.
" sepahit apa pun masa lalu mu dan sesakit apa pun waktu yang kamu telah lalui. Aku... Akan selalu ada untuk mu dan akan memberikan kebahagiaan dengan rasa manis seperti yang kamu inginkan dan kamu jangan pernah mengucapkan terima kasih . Cukup dengan aku ada untuk ku , aku juga akan sangat... Bahagia " tutur Diyan lembut. Dina yang mendengarnya, langsung membalas pelukan Diyan dengan eratnya
Cukup lama Dina dan Diyan berpelukan sampai akhirnya pelukan hangat yang mereka cipta telah terlepas. Bahkan kini kedua nya merasa kecanggungan, seperti Diyan yang mengusap tengkuknya dan Dina yang merasa panas di pipinya dengan warna merah.
" aku tidur duluan " ucap Dina pada akhirnya memecah kecanggungan dalam keheningan diantaranya dan Diyan
" eh tunggu Dina " sahut Diyan saat Dina telah melangkah meninggalkan dirinya dan Dina langsung menghentikan langkahnya, kemudian berbalik badan menatap wajah tampang suaminya
" apa ? " tanya Dina dengan santai, walau di dalam hati sudah dag dig dug. Seakan jantungnya sedang berlari dan sebisa mungkin Dina terlihat biasa saja
" kita tidur sekamar saja. Agar aku dan kamu jadi lebih dekat " jelas Diyan lembut dan Dina hanya mengagukan kepalanya saja tanpa mampu untuk bersuara lagi. Karena jantung semakin berdetak kencan, karena untuk pertama kalinya Diyan yang meminta hal itu. Bahkan dulu saja Diyan yang tak ingin tidur sekamar dengannya
Disini lah mereka , di dalam kamar. Tapi Dina masih duduk di sofa yang membelakangi sebuah jendela kaca dengan membaca sebuah buku novel yang sempat dia bawa bersamanya. Sedangkan Diyan sibuk dengan ponsel nya dan entah apa yang Diyan lakukan dengan benda pipi persegi di kedua tapak tangannya.
" kamu gak tidur ? " tanya Diyan pada Dina , yang telah lama terdiam dan sibuk dengan barangnya sendiri
" kamu gak tidur ? " tanya Dina balik tanpa mengalihkan perhatian dari buku novelnya
" enggak " jawab Diyan jengkel, karena Dina mala balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan terlebih dulu
Suasana kembali hening dan Diyan yang sudah merasa mengantuk memilih tidur terlebih dulu tanpa harus menunggu Dina lagi. Sedangkan Dina juga sudah mengantuk , tapi dia masih merasa canggung. Sehingga dia menunggu Diyan tidur terlebih dulu.
" huuuh... Syukurlah. Dia tertidur juga akhirnya " gumam Dina menatap seorang pria yang sudah terbaring dengan posisi telentang dengan tangan kanan yang menutup matanya yang Dina yakini bila Diyan sudah tertidur
Dina pun bangkit dari sofa dan meletakkan buku novelnya di sofa kamarnya. Kemudian dia melangkah mendekati ranjang dan dengan perlahan serta hati-hati Dina menaiki ranjang dan langsung berbaring dengan posisi menyamping membelakangi Diyan. Sampai akhirnya Dina menyusul Diyan kealam bawah sadarnya
Langit pun berganti terang dengan warna biru muda serta awan putih yang sebagian telah menyelimuti langit indah di atas sana dan bahkan terlihat matahari sudah kembali bersinar setelah bulan yang kiannya menerangi malam gelap dan kini pagi di sambut oleh suasana yang terasa sunyi. Sampai pancaran sinar mentari menyusup di balik lapisan jendela kaca, sehingga membangunkan kedua insan yang sudah memulai kebahagiaan.
Dina terbangun oleh pancaran cahaya yang begitu menyilaukan penglihatannya sampai dia menyadari bila ada sebuah beban berat yang menimpa perutnya dan ternyata sebuah tangan kekar melingkar sempurna dengan erat di pinggang ramping. Bahkan Dina baru menyadari bila wajah Diyan yang begitu dekat dengan wajahnya.
" tampang dan sempurna " dalam hati Dina ketika menatap dengan intens wajah mulus nan putih bersih di depannya
CUP
Entah dorongan dari Mana, Dina mengecup bibir pria yang masih memejam matanya. Tapi, tiba saja mata yang terpejam itu terbuka lebar. Membuat Dina terkejut dan merasa malu dengan apa yang dia lakukan.
" sudah berani nakal " ucap Diyan dengan senyuman manisnya pada Dina
Dina langsung mencoba melepaskan diri dari jeratan tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Namun, bukannya terlepas, tapi tangan kekar milik Diyan semakin erat mendekap Dina. Sampai tak ada jarak lagi di antara mereka berdua.
" lepas mas " pinta Dina yang masih berusaha melepaskan tangan kekar melingkar pada pinggangnya
" No ! Kiss dulu " ucap Diyan sambil tetap mempererat pelukannya terhadap Dina
" kan uda "
" lagi "
" gak . Lepas mas , aku mau mandi dan mau bikin sarapan pagi " ujar Dina memelas, bahkan tangannya sudah berhenti berusaha untuk melepaskan tangan Diyan dari pinggangnya dan kini dia hanya bisa menatap wajah suaminya dengan memelas
" ok... Kalo kamu gak mau . Maka biar aku saja " sahut Diyan dengan tersenyum senang
Cup
Diyan langsung mencium bibir ranum wanita cantik yang merupakan istrinya dan Dina sungguh terkejut menerima benda kenyal yang mendambakan bibirnya. Perlahan dan pasti Dina terlena dan mau membalas rasa manis yang masih mendambakan bibirnya.
" mau manis saja atau mau yang lebih dan nikmat , Tapi sedikit sakit " ujar Diyan setelah melepaskan penguatan bibirnya dari Dina , dengan nada menggodanya serta tatapan mata yang hangat
" maksudnya ? " tanya Dina dengan wajah bingungnya menatap wajah tampang di depannya , setelah mengambil nafas sebanyak mungkin
" kamu terlalu polos Ternyata "
" emang maksudnya apaan ? "
" cari aja di google " ketus Diyan yang langsung bangkit dari baringannya dan melangkah meninggalkan kamar
" emang apa yang di maksud lebih dan nikmat , tapi sedikit sakit ? " gumam Dina yang sudah terduduk di pinggir ranjangnya
Dina pun membuka Google menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya dan dari pertanyaan yang dia buat sungguh semakin membuatnya bingung. Karena penjelasan dari Google sangat tidak bisa di mengerti olehnya dan di tambah lagi memberikan penjelasan untuk seorang muslim.
" apa maksudnya ? Aku harus taat agama gitu. Seperti Penjelasan dari Google ini... Istidraj , Azab yang membungkus nikmat " ujar Dina setelah membaca salah satu kalimat pada judul berwarna biru di googlenya
Dina pun bangkit dari duduk dan melangkah keluar kamar mencari keberadaan suaminya yang entah pergi melangkah kemana.
" pergi kemana dia ? Dan apa aku harus mempertanyakan lagi soal tadi yang jawabannya seperti di ponsel ku ini " gumam Dina yang semakin merasa bingung dengan memecahkan teka-teki dari perkata Diyan
" coba aku tandanya pada sahabat ku. Pasti mereka tau jawabannya " ujar Dina dengan senyum kemenangan, seakan menemukan sebuah ide yang cemerlang
Dina pun menelepon sahabatnya, cukup lama dia menghubungi sampai akhirnya terdengar suara yang serak khas orang Bangun tidur.
" halo Din. Ada apa si ? Pagi - pagi "
" aku mau nanya ni.. Bolehkah Gita "
" apaan emangnya ? "
" mau lebih dan nikmat , tapi sedikit sakit "
" mana gue tau kalo itu mah , cari Google aja dah "
" uda gue cari Gita ku yang cantik "
" mas Diyan "
" apa ! Suami es Lo ngomong gitu ? Gak salah dengar Lo ? Lo bilang dia dingin dan tak tersentuh "
" jangan sok terkejut gitu juga kali , suara Lo itu jelek tau . Sakit ni telinga gue dengar Lo berteriak "
" ya habis perkataan Lo memang mengejutkan Dina ku tersayang "
" ya uda... Lo tau gak maksudnya itu apa ? "
" Lo kan uda bersuami... Jadi Lo harus cari tau sendiri jawabannya. Karena gue belum nikah "
" emang Lo belum nikah Gita , emang ada yang bilang kamu uda nikah ! "
" makanya Dina ku tersayang... Kamu jangan terlalu polos . Uda ah , aku mau tidur. Bay. ! "
Tut !
Sambungan telpon pun terputus sepihak dari Gita sahabat Dina. Membuat Dina merasa bener-bener bingung dan kesal sampai akhirnya dia memilih untuk membersihkan diri di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dan langsung membuatkan sarapan di dapur
" jangan masak , kita sarapan di luar aja " ujar Diyan yang tiba muncul , membuat Dina menghentikan tangannya yang sudah bersiap ingin masak dan langsung menatap suaminya yang kembali datar
" sarapan ? Apa? Dan di mana ? " cecar Dina yang masih kesal dengan Perkataan Diyan yang masih tersimpan di memori ingatannya
" ikut aja "
Dina yang sudah kembali mendengar nada dingin dan singkat dari Diyan hanya bisa diam dan menuruti tanpa mau bersuara. Kini Diyan dan Dina sudah berada dalam mobil sampai akhirnya mobil berhenti tepat di sebuah perdagangan di pinggir jalan.
Diyan pun keluar dari mobil dengan kaca mata hitam yang sudah menutupi matanya dari pancaran sinar cahaya. Sedangkan Dina juga keluar dari mobil dengan caranya sendiri membukakan pintu mobil tanpa ada campur tangan dari Diyan yang sepertinya tak mau melakukannya.
Terlihat Diyan sudah duduk di sebuah kursi plastik dengan meja kayu yang di selimuti oleh kain warna biru dan terlihat gerobak yang tertulis pada tag di kaca , yaitu bubur ayam.
" tempat ini seperti tak asing " dalam hati Dina menatap sekitarnya sampai akhirnya dia melangkah mendekati Diyan. Tapi Dina lebih memilih duduk di hadapan Diyan dengan berbatasan meja makan.
Diyan pun langsung memesan dua mangkok bubur ayam pada pak paru baya yang sudah terlihat rambut putihnya dan dengan senang hati pak paru baya yang merupakan tukang bubur ayam merasa senang mendapat pelanggannya.
" ini nak , silahkan di nikmati " ucap tukang bubur dengan senyuman sambil memberikan dua mangkok putih yang berisi bubur ayam serta sendok di dalamnya
" terima kasih pak " sahut Dina , sedangkan Diyan hanya tersenyum sekenannya saja
Dina dan Diyan pun memakan bubur dengan santai tidak terlalu terburu-buru dan tiba saja seorang pria mendekat kemeja makan Dina dan Diyan.
" Dina " panggil pria yang mendekati meja mereka berdua dan yang merasa terpanggil namanya pun menoleh dan seketika selera makannya hilang diganti dengan rasa terkejut melihat wajah tanpa pria yang masih berdiri di dekatnya
" ke..vin " ucap Dina terbata dan Diyan yang mendengar nama Kevin tersebut oleh istrinya langsung menatap tajam dan dingin kepada Kevin , tapi Kevin terlihat biasa saja. Bahkan senyum manisnya semakin merekah di bibir Kevin
" hai , apa kabar Dina ? Kamu makin cantik saja " ujar pria yang mendekati meja makan Dina dan Diyan. Yang bernama kevin yang merupakan mantan kekasih Dina
" Dina. Ayo kita pulang ! " sahut Diyan tegas dan dingin sambil meletakkan dua lembar kertas berwarna merah di atas meja , yaitu uang seharga 200 ribu . Kemudian berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Dina
Dina yang sudah tau dengan sikap Diyan , hanya menurut saja setelah mendengar suara dingin dari pria yang merupakan suaminya . Namun , saat Diyan menarik tangan kanan Dina , Kevin juga mencekal tangan kiri Dina dan membuat Diyan semakin emosi saja. Bahkan tatapan matanya yang tajam yang seakan ingin memangsa seperti tatapan harimau yang siap untuk menerkam mangsa di hadapannya.
" Kevin... Tolong lepas tangan ku " pinta Dina dengan nada lirik , setelah menyadari sikap Diyan dengan menatap Kevin
" kenapa ? Kenapa aku harus melepaskan mu ? Dia kan adik mu dan aku masih pacar mu. Aku akui , aku telah pergi dari mu dan semua itu ku lakukan karena pria yang kamu bilang papa mu itu " jelas Kevin lembut menatap mata indah di hadapannya dan Dina menyadari bila masih ada cinta untuknya di mata pria yang dulu membuatnya bahagia
" Dina " panggil Diyan dingin dan Dina hanya diam
Diyan pun pergi memasuki mobil sebelum dia kehilangan akal sehatnya karena emosinya. Sedang Kevin tersenyum senang , saat Diyan yang dia tau adik Dina. Memberikannya waktu berbicara terhadap Dina menurut Kevin begitu , tapi sebenarnya Diyan sedang berusaha untuk tidak emosi. Sedangkan Dina masih diam menatap wajah tampan yang tersenyum padanya.
" lepas kevin " tegas Dina dingin , membuat Kevin langsung melepaskan cekatan tangannya dari Dina
" Dina plis... Maafkan aku , aku terpaksa meninggalkan mu. Sungguh... Aku masih mencintai mu dan aku terus mencari mu. Tapi... Aku tak menemukan mu dan sekarang aku sudah menemukan dan aku juga tak akan mau lagi melepaskan mu " tutur Kevin lembut sambil kembali menggenggang tangan wanita yang dia cintai
" aku sudah tak mencintai mu dan aku sudah menikah " kata Dina sambil menunjukkan punggung tangannya yang terletak di sebuah jari manisnya terdapat cincin
" aku tau kamu pasti di jodohkan dan kamu pasti masih mencintai ku " lirik Kevin yang tak percaya dengan yang di katakan Dina padanya
Dina tak berkata apa lagi dan dia langsung menepis kasar tangan Kevin. Kemudian dia melangkah memasuki mobil dan mobil langsung melaju dengan cepat meninggal tempat Kevin berdiri.
" Dina... Aku akan berusaha mendapatkan mu dan aku tak akan mau lagi melepaskan mu. Karena aku sudah punya kuasa dan aku tidak seperti pria yang dulu... Yang serba kekurangan " dalam hati Kevin dengan matanya yang masih menatap mobil Dina dan Diyan
Sementara di dalam mobil , yang di kemudikan oleh Diyan. hanya keheningan yang ada di antara Dina dan Diyan di dalam mobil. Sampai selang beberapa menit mobil pun berhenti tepat di teras rumah.
" kemas semua barang-barang , dan kita langsung pulang " ucap Diyan dingin dan langsung keluar dari mobil meninggalkan Dina yang terduduk diam
Dina pun juga keluar dari mobil setelah beberapa detik melamun dan dia langsung melangkah memasuki rumah menuju kamarnya. Dina dengan cepat langsung mengemas semua baju dan perlengkapan lainnya dan ketika selesai Diyan muncul kembali dan langsung mengakat semua koper serta tas kedalam bagasi mobil.
Setelah semua barang sudah berada dalam mobil. Diyan dan Dina pergi meninggalkan rumah yang tersimpan banyak kenangan tentang mereka di saat kecil . Dina menoleh kebelakang , melihat pintu yang baru kemarin terbuka lebar dan kini kembali lagi tertutup rapat.
" selamat tinggal masa lalu " dalam hati Dina. Kemudian dia kembali bersandar dan menatap jendela mobil dengan tatapan kosong
" maafkan aku Dina... Aku hanya tak ingin kehilangan dan aku ingin sekali ini saja merasa egois. Yaitu memiliki diri mu " dalam hati Diyan yang menatap sekilas wanita yang duduk termenung di sampingnya
Diyan pun kembali fokus menatap ke depan dan tujuannya langsung pulang ke jakarta serta Diyan berharap bila Kevin tak bertemu lagi dengan Dina. Sedangkan Dina tetap melamun mengingat kenangan indahnya dan suramnya di masa lalu. Seberapa keras pun Dina mencoba melupakan kenangan pahitnya dulu, sungguh Dina sangat sulit melakukannya.
Kebahagiaan yang baru terlukis dan terciptakan oleh Diyan untuk Dina dan Dina yang mencoba untuk menerima semua hal yang di perbuat Diyan. Kini kebahagiaan diantara Dina dan Diyan kembali di uji oleh seorang pria dari masa lalu Dina yang merupakan kekasihnya dulu.
" Dina... Ku harap kamu menepati janji mu " dalam hati Diyan yang masih tetap fokus mengemudikan mobil ya dengan kecepatan sedang
Sedangkan Dina masih pada posisinya , yaitu menatap jendela mobil. Kemudian dia menatap Diyan sebentar dan langsung bersandar.
" ku harap... Masa lalu tak datang lagi pada ku. Sungguh aku sangat merasa lelah dengan yang terjadi " dalam hati Dina yang ini matanya terpejam dengan paksa , karena dia ingin mengistirahatkan hati dan pikirannya
...Bersambung ...