
Hari masih terang benderang , dalam perjalanan pulang Dina dan Diyan tetap saja diam. Membiarkan kesunyian melanda Mereka berdua. Bahkan hari sudah terlihat siang dengan matahari yang sudah tepat di atas kepala. Dapat terasanya panas matahari , tapi Diyan tetap mengemudi mobilnya menuju rumah dan Dina masih pada posisinya, yaitu menatap di luar jendela mobil.
Sesekali Diyan melirik sekilas Dina yang hanya memdiamkannya dan sebenarnya dia sangat ingin berbicara. Tapi entah apa yang mencegat di kerongkongannya dan lidahnya terasa berat untuk bergerak, sehingga suara pun tak dapat di keluarkan dari mulutnya yang masih tertutup rapat.
Selang beberapa waktu berlalu , mobil Diyan pun berhenti tepat di depan rumah dan kemudian dia keluar tanpa sepatah kata pun. Sedangkan Dina juga keluar dari mobil dan langsung masuk pintu rumah yang telah di buka dengan kunci cadangannya sendiri. Sementara Diyan mengeluarkan barang-barang keluar dari bagasi mobil dan langsung membawanya masuk rumah. Setelah memastikan , bila barang berada di dalam rumah , Diyan langsung menutup pintu dan menguncinya.
Diyan melangkahkan kakinya menuju kamar Dina yang tidak jauh darinya dan dia dapat melihat Dina berbaring dengan posisi menyamping menghadapnya yang dirinya kini berdiri di pintu yang telah dia buka lebar. Diyan kembali melangkah dengan pelan mendekati ranjang , kemudian dia duduk di lantai dengan langsung menatap wajah wanita cantik yang sedang tertidur.
" Dina... " panggil Diyan lirik , tapi Dina tetap memejamkan matanya dan Diyan mengira jika Dina tertidur karena lelah
" Dina... Tak tau mengapa aku sangat ingin memiliki mu. Aku tak tau apa yang ku rasakan... Apakah ini hanya karena keegoisan ku untuk memiliki mu di samping ku ? Atau aku hanya marah karena dia meninggal mu ? Atau kah ini yang di namakan... " tutur Diyan lembut , walau dia tau jika Dina tak akan mendengarkan suaranya
" Dina... Aku rela bila kamu ingin memilih dia. Tapi... Jangan pernah tinggalkan aku "
Setelah Diyan mengatakan hal itu yang merupakan suara hatinya pada Dina . Diyan bangkit dari duduknya dan kemudian dia mengelus lembut pipi wanita yang berstatus istrinya.
Cup
Diyan mencium kening Dina cukup lama dan tanpa Diyan sadari air matanya jatuh saat dia memejamkan mata tanpa bisa tertahan oleh kelopak matanya. Diyan berjalan mundur sambil menatap wajah Dina dan sesampainya di luar kamar Dina , Diyan langsung menutup pintu kamar Dina dengan perlahan dan langsung melangkah menuju kamarnya.
Sementara Dina membuka matanya , saat suara pintu yang tertutup oleh Diyan. Dina kemudian mengubah posisinya menjadi terduduk dengan bersandar pada kepala ranjang dan menatap atap kamarnya dengan mata yang sudah berkaca - kaca. Dina sebenarnya tidak benar-benar tidur , sehingga Dina dapat mendengar semua yang di katakan oleh Diyan.
" Mas Diyan... Aku tidak akan mungkin bisa meninggalkankan mu dan tidak akan mudah bagi ku menerima masa lalu... A.. Ku.. Sangat ingin menuju masa depan tanpa beban. Tapi... Jika kamu tak memperjuangkan aku... Mungkin aku akan pergi tanpa kamu tau " lirik Dina dengan air mata yang berlinang
Diyan yang belum yakin dengan perasaannya dan Dina yang masih ragu dengan perkataan hatinya. Walau Diyan sudah berkata , bila hatinya akan mencoba mencintai Dina dan Dina yang hanya mengharapkan kebahagiaan tidak terlalu mengharapkan cinta dari suaminya. Karena dengan mereka bersama dalam menjalin rumah tangga bersama-sama , Dina yakin bila akan ada harinya Diyan atau pun dirinya merasakan sebuah cinta yang sesungguhnya di dalam pernikahan mereka berdua di kehidupan ini.
Diyan kini sedang menatap kosong pemandangan bunga mekar di siang hari. Ada rasa takut kehilangan dan terluka di mata dan raut wajahnya. Namun , dia masih ragu dengan hatinya yang selalu ingin berada di dekat Dina dan ingin memeluknya erat.
" aku harus apa ? Jika Dina memilih dia dari pada aku. Haruskah ku memaksanya untuk menjadi milik ku seutuhnya ? Atau aku harus rela... bila Dina pergi dengan pria dari masa lalunya ? " ujar Diyan sendu , bahkan air bening kembali jatuh dengan mudah tanpa mampu tertahan
Diyan pun memilih untuk keluar rumah , setelah dirinya membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian santai yang sudah melekat di tubuhnya yang kekar. Sehingga terlihat ketampanan dalam pesonanya yang pasti membuat para kaum hawa jatuh cinta.
" Dina " panggil Diyan dengan sambil mengetuk pintu berulang-ulang agar wanita yang ada di dalam ruangan membuka pintunya
Pintu yang Diyan ketuk pun terbuka setelah beberapa menit dan terlihatlah seorang wanita dengan rambut basah serta pakaian baju tidur lengan pendek dan celana panjang yang senada berwarna hitam.
" ganti baju mu , kita makan di luar dan tak penolakan " ujar Diyan menatap mata Dina
Dina tidak menjawab , tapi dia langsung masuk kembali dan melangkah menuju lemari baju. Kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya. Sedangkan Diyan masuk ke kamar Dina dan duduk langsung di pinggir ranjang sambil menunggu Dina.
" aku akan membuat mu mencintai ku Dina dan aku sudah memutuskan untuk berusaha mendapatkan mu dengan cara apa pun " gumam Diyan dengan tersenyum yang terukir manis di bibir nya
Dina keluar dari kamar mandi beberapa menit kemudian dengan pakaian yang melekat di tubuh rampingnya yang terlihat imut dan manis di mata Diyan. Sehingga tanpa Diyan sadari bibirnya telah melengkung sempurna . Sedangkan Dina terkejut mendapati Diyan menunggunya di kamar , biasanya Diyan akan menunggu dirinya di ruang tamu. Namun , Dina langsung mengubah ekspresi wajah dengan cepat menjadi datar dan biasa saja.
" sudah siap ? " tanya Diyan , saat Dina sedang merias wajahnya di depan cermin
" sudah " satu kata yang dapat terucap setelah lama Dina terdiam dan itu pun tanpa menatap Diyan
Diyan berdiri dengan menghela nafas berat mendapati sikap acuh dari Dina. Tapi , Diyan tetap meyakinkan dirinya untuk terus bertahan dan bersabar dengan sikap Dina. Karena Diyan masih ingat dengan syarat yang di berikan oleh Dina padanya dan hari ini adalah hari ke dua.
Dina pun mengikuti langkah Diyan dari belakang , seakan masih enggan untuk jalan beriringan di samping Diyan dan Diyan tak mempermasalah dengan hal ini yang penting Dina tak menolak keinginan untuk makan bersama.
Dalam perjalanan di dalam mobil , lagi dan lagi hanya keheningan yang menyelimuti Diyan dan Dina . Tapi , ada musik yang sengaja Diyan putar di radio mobilnya dan musik terus berputar begitu saja. Sampai berbunyi sebuah lagu yang berjudul Cinta Karena Cinta yang di nyanyi oleh artis pria yang bernama judika.
Aku hanyalah manusia biasa
Bisa merasakan sakit dan bahagia
Izinkan ku bicara
Agar kau juga dapat mengerti
Kamu yang buat hati ku bergetar
Rasa yang telah ku lupa ku rasakan
Tanpa tahu mengapa
Yang ku tau inilah cinta
Cinta Karena Cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta Karena Cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Kamu yang buat hati ku bergetar
Senyuman mu mengartikan semua
Tanpa aku sadari
Merasuk di dalam dada
Diyan langsung mematikan musik dengan lagu yang seakan mengatakan dengan yang dia rasakan. Sedangkan Dina hanya tersenyum tipis melihat tingkah Diyan dan bertepatan dengan itu mobil ternyata sudah berhenti di sebuah tempat yang tak asing menurut Dina
" kenapa kita ke sini ? " tanya Dina sambil menatap di sekitarnya yang saat ini dirinya sudah berdiri di depan mobil , setelah dirinya langsung keluar dari mobil tanpa menunggu Diyan membukukannya
" entahlah , aku hanya mau kesini dan mungkin kita akan menginap " jawab Diyan yang sudah berdiri di samping Dina
" menginap ? " ucap Dina dengan perasaan terkejut , bahkan matanya terbelalak sempurna menatap Diyan
" iya , besok aku sudah harus kerja. Jadi aku ingin kamu temani aku. NO bantahan ! "
Diyan pun melangkah sambil menggandeng tangan Dina untuk berjalan bersamanya memijak pasir putih dengan pacaran matahari yang perlahan ingin redup. Hari kini telah sore dan Diyan sengaja memilih tempat yang itu pantai bersama dengan Dina dan di pinggir pantai terdapat pondok kecil yang tertutup rapat tanpa cela dan bisa di katakan bila pondok itu berguna untuk sepasang kekasih atau yang sudah menikah yang ingin berbuka madu.
Dina tak menduga , bila Diyan aku memilih tempat seperti ini yang menurut tempat romantis seperti pantai ini dan tadi dia mengira bila hanya ingin makan bersama saja. Tapi , kini Dina hanya bisa menerima apa yang akan terjadi dengan dirinya nanti. Sedangkan Diyan hanya tersenyum senang dengan rencana yang telah dia buat sendiri.
" Diyan ! " teriak seseorang dari sebelah barat yang terlihat seorang pria dengan celana pendek sebatas lutut berwarna biru dan tanpa memakai baju. Sehingga terlihat tubuh kekar , dada bidang dan six pak membuat imam kaum hawa pasti tergoda
" luar biasa " ucap Dina pelan menatap pria yang semakin berjalan mendekat dan Diyan masih dapat mendengar yang di ucapkan Dina terhadap pria lain membuat hati panas
" berhenti menatapnya " ketus Diyan yang langsung membalikkan badan Dina
" kenapa ? Rezeki Lo.. ada yang terlihat indah dan harus di manfaatkan dong " sahut Dina dengan pura-pura kesal , padahal dalam hati dia tertawa senang
" baiklah. Nanti ku tunjukkan ! " seru Diyan semakin kesal dengan sikap Dina dan Dina langsung diam
" Diyan ! Jadi gak ? " tanya pria tadi yang sudah berdiri di depan Diyan , sehingga Diyan langsung fokus menatap pria di depannya dan melirik dengan ekor matanya menatap Dina jika berbalik badan dan terlihat tak berbalik sama sekali
" Yan ! Ko diam ! Jawab dong. Itu jadi engga pondoknya , kalo engga jadi biar kasih orang " ujar pria lagi dengan rasa kesal karena di diami oleh Diyan
" jadi Niko " jawab Diyan singkat dan padat dengan tatapan tak suka pada pria di depannya yang bernama Niko. Niko yang sejak tadi memperhatikan raut wajah Diyan semakin kesal
" Lo kenapa si ? Gue teman Lo ! Bukan musuh Lo "
" terus . muka Lo kenapa tu ? "
" gak ada , sekarang katakan yang mana pondoknya ! "
" Frenki ! " teriak Niko keras , sehingga Diyan dan Dina spontan menutup telinga
" iya bang " sahut seorang pria yang memakai celana pendek dan tanpa baju
" Diyan. Lo ikut Frenki " kata Niko , kemudian matanya baru menyadari seorang wanita yang membelakanginya " dia istri Lo kan Yan ? " tanya Niko dengan tetap menatap punggung wanita didepan
" iya " jawab Diyan singkat
" kenalin dong , dulu kan waktu nikah Lo gue hanya lihat foto prewedding di kartu undangan. Karena waktu itu kan gue masih di London " ujar Niko panjang lebar dan berharap bisa melihat jelas istri temannya
" enggak , uda sana " ketus Diyan
" dasar pelit " sunggut Niko dan langsung berbalik pergi menjauh dari Diyan dan Dina
" ayo bang , ikut saya . Pondoknya ada di sebelah sana " kata Frenki sambil menunjuk arah lain
Frenki pun jalan terlebih dulu dan di ikuti Diyan dan Dina. Diyan sekali-kali melirik ke arah Dina yang berjalan di sampingnya dengan tangan yang masih menggandeng tangannya.
" kamu akan ku hukum , karena berani menatap pria lain Dina " dalam hati Diyan
Frenki pun berhenti tepat di depan salah satu pondok yang terlibat besar dan lebar. Diyan dan Dina juga berhenti melangkah dan melihat sekitar mereka yang terlihat luar biasa.
" silahkan masuk bang " ucap Frenki sambil membuka pintu pondok yang terbuat dari kayu
" kamu pergilah dan kembali lagi dengan makanan yang sudah ku pesan pada Niko " ujar Diyan dingin dan Frenki hanya mengaguk takut. Sehingga Frenki menundukkan kepada sambil berjalan meninggalkan Diyan dan Dina
Diyan kembali menarik tangan Dina memasuki pondok dan Dina hanya menurut saja mengikuti langkah Diyan yang kini harus menaiki tangga. Setelah uda masuk pondok , Diyan menutup pintu pondok setelah melepaskan tangan Dina dari pautan tangannya.
" nikmatilah pemandangannya , agar kamu tak bosan menunggu makanan datang " ujar Diyan lembut pada Dina dan kemudian Diyan berbaring pada kasur yang telah tersedia di dalam pondok dengan melepas bajunya
Dina pun mematung menatap tubuh Diyan yang begitu sempurna dan secepat kilat Dina langsung sadar dari apa yang dia lakukan. Kemudian dia langsung melangkah pada pintu kecil dan membukanya yang merupakan jendela pondok.
" sangat indah " gumam Dina dengan membentang tangannya sambil menatap mata
Dina tiba saja terkejut dan spontan membuka matanya, saat sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya.
" apa kamu suka ? " tanya Diyan yang memeluk Dina dari belakang pemilik tangan kekar yang melingkar di pinggang Dina
" emm a..ku suka ko " jawab Dina gugup dan Diyan perlahan membalikkan tubuh Dina menghadap dirinya
Tatapan mata Dina dan Diyan terkunci sampai beberapa menit bibir keduanya sudah tersentuh dan terjadilah sebuah kecapan manis dengan berbagi saliva dalam kelembutan. Dina dan Diyan terbawa suasana dengan bibir yang terpaut dengan di saksikan angin , langit , awan dan matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
" manis " ucap Diyan sambil menghapus sisa saliva yang berada di bibir Dina akibat ulahnya dan Dina langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Diyan
" jangan pernah tinggalkan aku Dina " kata Diyan sendu dengan langsung memeluk erat istrinya
" aku engga akan pernah meninggalkan kamu " sahut Dina yang juga membalas pelukan Diyan dengan erat
" tapi... Dia pasti akan membawa mu dari ku " tutur Diyan dengan lirik membuat hati Dina seakan tercubit dan terasa sakit
" aku tak akan membiarkan dia membawa ku pergi dari mu dan berhentilah berkata seperti ini. Aku hanya ingin berbahagia bersama mu " ujar Dina lembut dengan meyakinkan hati pria yang kini telah memeluknya dengan sangat erat , seakan takut untuk melepaskan dan di tinggalkan oleh dirinya
" tapi... Aku takut kamu akan pergi , jika aku tak berhasil membahagiakan mu "
" aku akan tetap bersama mu "
" karena apa ? " tanya Diyan dengan masih memeluk erat Dina dan senyuman sudah kembali terukir di bibir Dina
" kamu juga karena apa ? Kenapa ingin aku selalu di dekat mu ? " cecar Dina yang sudah menyadari bila Diyan tak bersedih dan kini mala memancingnya mengatakan sesuatu yang lain
" kamu ingin aku jawab apa ? "
" terserah "
Dina sudah kesal dan ingin melepaskan pelukannya dari Diyan. Tapi , Diyan tak melepaskan Dina dari dekapannya dan bahkan dia semakin memeluk erat tubuh ramping wanita yang merupakan istrinya.
" lepas " ketus Dina kesal
" tak akan pernah " sahut Diyan cepat
" kenapa? "
" aku menyayangi mu "
" cuma itu ? "
" aku tak mau kehilangan mu "
" terus ? "
" aku.... Dina kamu memancing ku ternyata ! " seru Diyan dan langsung menelusupkan kepalanya di leher jenjang Dina
Dina yang tadinya tertawa , kini di buat terkejut dan Dina dapat merasakan bibir Diyan yang menyentuh lehernya. Perlahan dan pasti Diyan membuat Dina terlena dengan ulahnya. Sehingga Dina memdongakkan kepalanya dan membiarkan Diyan menjelajahi leher jenjangnya yang mulus dan putih bersih.
Tok tok
Tiba saja terdengar suara ketukan pintu , membuat Diyan menghentikan aksinya. Sedangkan Dina langsung membalikkan tubuhnya , dia sangat merasa malu dengan jantungnya yang berdebar sangat kencang. Dina dapat melihat matahari akan tenggelam dan Dina menatap terus matahari yang akan segera tenggelam. Sampai sebuah tangan kekar kembali memeluknya dari belakang.
" mataharinya akan tenggelam dan akan pergi. Apa kah dia tidak letih terus begitu ? " ujar Diyan tiba saja dengan tatapan mata yang tersimpan sebuah perasaan , membuat Dina tergelak dengan pertanyaan konyol dari suaminya sendiri
" dia tidak akan lelah mas " sahut Dina dengan terkekeh geli sambil tetap menatap di depannya
" sama seperti ku. Aku juga tidak akan lelah untuk mendapatkan hati mu sama seperti matahari yang datang dan pergi karena dia sangat di butuhkan di bumi. Sedangkan aku... Hanya ingin kamu yang selalu membutuhkan ku. Aku tidak tau... Apakah ini cinta? " kata Diyan panjang lebar , sedangkan Dina terdiam mencerna perkataan Diyan dan dia langsung tau apa maksud perkataan Diyan
" matahari memang datang dan pergi. Tapi , aku tak akan membiarkan kamu pergi. Karena aku sudah membuka hati ku untuk mu dan mungkin yang kamu katakan itu memang cinta dan mungkin juga aku sudah mulai mencintai mu " tutur Dina dengan senyuman dan Diyan senang mendengar perkataan Dina
" aku akan berusaha lagi untuk memperdalam cinta ku untuk mu Dina , tapi... Dina jika kamu menemukan seseorang yang lebih mencintai mu dan dia mampu membahagiakan mu. Tolong... Katakan pada ku, karena ku tak ingin tersakiti untuk kedua kali " ujar Diyan lembut , walau sebenarnya hatinya berat mengatakan hal yang telah terucap dari mulutnya sendiri dan dia mengatakan itu untuk menguatkan hatinya dalam keyakinan serta keraguan yang terus bertentangan
" aku tidak akan pernah meninggalkan mu dan ku harap kamu juga tak akan menyakiti hati ku. Karena yang ku inginkan hanya kebahagiaan dalam rumah tangga kita " putus Dina dengan tajam , kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Diyan
" berhenti berkata begitu dan mari kita hidup bersama menjalin pernikahan ini sampai akhir hayat kita " lanjut Dina berucap lagi dengan menatap mata Diyan
" terima kasih , aku janji. Aku akan berusaha membahagiakan mu dan menua bersama mu sampai kita menghembuskan nafas. Aku sangat ! Sangat ! Menyayangi mu Dina istri ku "
Dina dan Diyan saling berpelukan erat sampai matahari benar-benar sudah tenggelam serta udara yang semakin terasa dingin. Beberapa menit berpelukan Dina dan Diyan melepaskan pelukan mereka.
" kita makan dulu , pasti kamu sangat lapar " ucap Diyan lembut dengan senyuman hangat yang kini dirinya duduk berdampingan di lantai yang terbuat dari batu
" oh tadi yang datang Frenki ? " tanya Dina sambil menatap hidangan makanan di dalam napan kayu dengan ukiran unik di pinggiran napan yang berada di lantai yang terbuat dari batu
" iya sayang . Tadi Frenki yang datang dan dia hanya membawa ini. sekarang ayo kita makan ! "
Dina sangat senang dengan perkata lembut dan hangat dari Diyan. Bahkan dia sangat senang , saat Diyan memanggil dengan sebutan sayang dan dia hanya menampilkan senyum bahagia. Sedangkan Diyan sudah berjanji , jika dia akan berusaha membahagiakan Dina.
...Bersambung ...