
Flash back on
8 tahun yang lalu ...
seorang wanita remaja memasuki gerbang rumah mewah dengan menampilkan senyum senang di wajah cantiknya . di kala itu hari terlihat terang di siang hari yang cerah . wanita remaja kini sudah melangkah masuk ke dalam rumah mewah .
" assalamualaikum ! Rona " pekik wanita remaja sambil tetap melangkahkan kakinya memasuki pintu utama rumah mewah
" wa'alaikumsalam , lama bangat kamu " sahut Rona dan sahabat lainnya dengan wajah kesal yang duduk di sofa ruang tamu
" ehehhe maaf , habisnya tadi ada macet " kilahnya membela diri sambil duduk di samping Nura sahabatnya
" macet apa nya ? rumah dekat gitu pun " sunggut Nura sambil melipat tangannya menatap wanita remaja yang sudah duduk di seberangnya yang di batasi oleh meja persegi yang terbuat dengan kaca
" iya maaf de , aku kan kesini naik sepeda . bukan naik motor " jawabnya asal menatap sahabatnya yang sedang kesal " jangan gitu dong , nanti jadi jelek Lo " lanjutnya
" biarin " ketus sahabatnya serentak
" baru datang er ? " tanya seorang pria tampang yang baru muncul dari arah belakang rumah
" iya bang Rio , sorry ya " jawab wanita remaja yang tak lain adalah Erlina dengan senyuman manatap pria yang berdiri di samping sofa tempatnya duduk
" tak apa . kalo semuanya sudah ngumpul , sekarang kita ke taman . Abang dan bang Raka sudah siapin semuanya . hari ini kita akan bermain "
para kaum hawa pun berseru senang , kemudian mereka melangkah bersama-sama menuju taman yang ada di sebelah rumah . sampainya di sana , mereka para kaum hawa nampak terkejut melihat sebuah karpet lebar dan di tengahnya terdapat jenis makanan dan minuman dalam botol .
" kayak pinik aja ni bang " kata Elsa yang terkejut dan senang yang terpancar di wajah cantiknya
" iya , macam pinik . bukannya rencananya kita mau bermain ya bang ? " sahut Serly bertanya sambil menatap Rio yang berdiri diantaranya dan Erlina
" rencananya si gitu , tapi kurang bagus kalo hanya bermain aja . jadi Abang pikir sekalian pinik aja , kan Abang jarang ada waktu bila tidak weekend " jelas Rio dengan tetap menampilkan senyuman di wajah tampannya
" kalo gitu makasih ya bang " sahut Rona dengan mata yang berbinar-binar bahagia
" sama Abang gak ni ? " tanya Raka yang tiba saja muncul dari belakang Rona dan Rona langsung membalikkan tubuhnya
" makasih juga bang tampang ku " jawab Rona sambil memeluk Raka dan Raka juga memeluk adik perempuan yang manja dalam dekapannya
" Uda de Rona , jangan manja gitu Uda besar . nanti pacar kamu cemburu tau " ujar Nura menjaili dan sontak Raka langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang adik tersayangnya . sedangkan Rona hanya tersenyum kikuk pada Abangnya dan di dalam hati dia sangat kesal pada Nura sahabatnya yang tomboi
" jangan percaya bang , aku belum punya pacar ko sebelum Abang punya pacar " kata Rona menyakinkan Abangnya dengan tatapan serius
" pintar , sekarang ayo ! "
Raka , Rio , Rona dan sahabatnya pun duduk di karpet dengan melingkarkan . menikmati hidangan makanan dan minuman serta udara dan Tumbuhan yang ada di sekitar mereka .
" selesai makan , kita sekarang bermain true or Dare dengan mengunakan botol minum ini . setuju ! " ujar Raka dengan senyuman yang ikut merasa senang di antara mereka
" setuju ! " sahut semuanya dengan serentak
mereka pun bermain true or Dare dengan bergiliran dan bergantian memutar botol plastik yang sudah berada di tengah-tengah . sehingga bila ada yang kena dengan tertunjuk oleh kepala botol , membuat mereka akan memilih antara true or Dare . namun , Erlina tak menyadari bila ada seseorang yang diam-diam mengambil gambarnya , saat dia tertawa dalam permainan yang mereka buat bersama-sama dan orang itu adalah Rio dan tanpa di sadari oleh yang lainnya , kecuali Raka yang duduk disampingnya yang mengetahui tingkah sahabatnya Rio .
" yeeeeee Sekarang giliran bang Rio ! " seru Elsa bersemangat menatap Rio yang tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal , karena botol menuju kepada dirinya
" Abang mau pilih mana ? jujur atau tantangan ? " sahut Erlina dengan senyum penuh arti menatap Rio yang ada di depannya
" jujur aja de , Abang gak yakin bila milih tantangan " jawab Rio dengan menyakinkan dirinya serta senyuman dan dengan perasaan was-was yang bergelut di hatinya
" aku yang kasih soal ! " seru Rona cepat dengan bersemangat sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi
" silahkan Rona ku tersayang " sahut para sahabat Rona hampir bersamaan . membuat Rona tertawa ringan
" Abang Uda punya pacar belum ? " tanya Rona pada akhirnya sambil tersenyum dan menatap Rio dengan penasaran
" belum punya " jawab Rio seadanya
" masa di ? " serentak semuanya tak percaya , membuat Rio hanya tersenyum
Trinnnggg !
tiba saja suara ponsel pun berbunyi , menandakan pesan masuk dan membuat semuanya menatap ponsel mereka berganti dan ternyata itu dari ponsel Erlina yang sejak tadi berada dalam saku sweater Hoodienya . Erlina pun membaca pesan singkat dari mamanya yang membuat dia merasa kesal .
" ada apa er ? " tanya Rona yang sejak tadi memerhatikan wajah Erlina yang terlihat kesal
" mama minta aku cepat pulang , kan aku malas . lagi seru juga " jawab Erlina dengan kesal sambil menyimpan kembali ponsel kedalam saku sweater Hoodienya
" iya Uda , kamu hati - hati di jalan " sahut Nura
" lihat jalannya , awas lobang . kamu kan naik sepeda " timpal Serly
" dan jangan lupa kabarin kami bila sudah sampai rumah kamu ya " kata Elsa
" sebelum berpisah kita berpelukan ! " seru Rona
para kaum hawa pun berdiri kemudian mereka berpelukan dengan begitu erat , seakan tidak ingin berpisah atau pun kehilangan sahabat satu sama lainnya . Raka dan Rio yang melihat itu hanya tersenyum melihat tingkah wanita remaja yang berpelukan seperti Teletubbies di hadapan mereka berdua .
" ayo er , Abang Rio antar " kata Rio setelah wanita remaja di hadapannya melepaskan pelukan hangat mereka
" gak usah bang , Erlina gak mau merepotkan Abang " sahut Erlina tak enak hati
" gak merepotkan ko , biar kamu lebih cepat sampai rumah . jadi pakai motor ninja Abang "
" baiklah , tapi gimana dengan sepeda ku ? "
" biarin disini aja " jawab Raka yang sejak tadi hanya diam mendengarkan
Erlina pun mau di antar oleh Rio , dan setelah Rio dan Erlina berpamitan kepada nenek Rona dan yang lainnya . mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah mewah Rona . dalam perjalanan tidak ada yang berbicara , hanya detakan jantung satu sama lainnya yang begitu dekat . namun , suara detak jantung itu tak terdengar akibat suara kendaraan lain dan angin yang berhembus di dekat mereka .
" Erlina sudah sampai ... apa begitu nyamannya ya ? memeluk Abang ini " ujar Rio saat motor sudah berhenti didepan pagar rumah yang bercat biru dan putih yang terlihat sederhana tapi juga elegan
" eh ! makasih bang " sahut Erlina yang sadar dari lamunannya dan langsung turun dari motor ninja Rio serta langsung kembali memberikan helm pada Rio . karena sejak tadi dia berusaha untuk menetralkan detak jantungnya
" ada ko bang , besok aku hanya di rumah aja . emang kenapa bang ? " tanya balik Erlina dengan menatap bingung pria di hadapannya yang sedang duduk di atas motornya
" Abang ingin ngajak kamu untuk beli hadiah "
" hadiah ? emm baiklah , tapi kapan bang ? "
" bagus ! besok sore , kalo gitu Abang pamit . assalamualaikum "
" wa'alaikumsalam "
Rio pun pergi dengan perasaan yang amat sangat bahagia dengan mengemudi motornya membela jalan kota menuju rumahnya . karena hari juga sebentar lagi akan segera gelap dan kini Rio telah berada di rumah . sedangkan Erlina sudah berlinangan air mata yang terduduk menyendiri di dalam kamarnya , mendengar perkataan mamanya yang masih terngiang-ngiang di dalam telinganya .
" kita harus pindah , dan besok kita akan pergi meninggalkan kota Jakarta . karena papa kamu ada urusan di sana dan kita akan tinggal di Jerman "
perkataan itu bagaikan pisau yang menyakiti relung hatinya dan bagaikan tersambar petir di siang bolong . jujur dia tak ingin meninggalkan kota Jakarta , kota kelahirannya dan juga sahabat-sahabatnya . bahkan Erlina masih tak percaya bila dia dan orang tuanya akan pindah .
" ini pasti mimpi . aku ... aku tak ingin meninggalkan sahabat ku dan juga bang Rio " ujar Erlina sambil berlinang air mata yang tak mampu untuk dia bendung
namun , hari ini bukan mimpi dan ternyata yang di katakan mamanya benar . bila dia dan orang tuanya pindah dan meninggalkan kota di keesokan harinya . Erlina hanya bisa menuruti dalam kesendihan dan tak ada semangat untuk melangkah . bahkan Erlina tak mempunyai kekuatan untuk memberitahu sahabatnya dan dia hanya bisa berharap pada takdir dan pada Tuhannya .
" maafkan aku sahabat ku , maafkan aku bang Rio . ku harap kalian masih mengingat ku dan tak membenci ku . suatu hari aku akan segera kembali , aku mohon jangan membenci ku dan jangan melupakan ku " dalam hati Erlina menatap sendu luar jendela mobil orang tuanya yang kini dirinya duduk di kursi penumpang
mama Erlina hanya bisa pasrah , karena dia juga mengerti perasaan anak gadisnya dan dia juga tak bisa menolak ke inginan suaminya yang kini dirinya duduk di samping anak gadisnya sambil menatap wajah anaknya yang murung yang tak memiliki keceriaan lagi di wajah cantik anaknya . sedangkan papa Erlina sudah menunggu kedatangan anak dan istrinya di Jerman .
sedangkan Rio yang memang sudah ada janji dengan Erlina sore ini sudah tepat berdiri di depan gerbang rumah Erlina . namun , Rio menatap heran rumah Erlina yang terlihat sunyi , seakan tak ada penghuni di rumah yang dia tatapi .
" den ! ngapain ? " tanya seorang ibu paru baya dengan pakaian dasternya menatap anak muda di hadapannya yang berdiri di depan pagar rumah tetangganya
" mau ketemu Erlina Bu " jawab Rio sopan sambil menatap ibu paru baya yang ada di hadapannya saat ini
" oooo tadi siang sudah pindah den "
Rio yang mendengar itu terkejut , bahkan terasa sakit di hatinya mendengar hal itu . kemudian dia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi nomor Erlina . namun , tak di jawab sama sekali dan bahkan di luar jangkauan .
" pindah ke mana ya Bu ? " tanya Rio yang kembali menatap wajah ibu paru baya yang masih berdiri di hadapannya
" ibu gak tau den , tadi siang ibu hanya dengar dari ibu yang suka gosip . emang ada apa ya den ? "
" Erlina itu teman saya Bu " jawab Rio seadanya dengan menampilkan senyum paksanya
" ooo kalo gitu ibu pamit dulu ya den , ibu masih ada urusan di rumah . assalamualaikum " kata ibu paru baya itu dengan ramah pada Rio
" makasih bu , wa'alaikumsalam "
setelah kepergian ibu paru baya itu , Rio manatap sedih pintu rumah kosong yang di tinggalkan oleh Erlina dan orang tuanya .
" padahal aku ingin mengatakan isi hati ku hari ini , tapi kamu tak bisa menunggu sedikit lagi . atau setidaknya kamu mengabari diri ku , agar aku langsung datang dan mengatakan semua perasaan ku pada mu Erlina " gumam Rio dan tanpa sengaja air bening jatuh dari kelopak matanya
kemudian Rio pun langsung segera menetralkan emosinya yang sedang merasa terluka , dan menghapus kasar sisa air mata di pipinya . Rio menampilkan senyuman getir dan kembali memakai helmnya dan langsung kembali melajukan motor membela jalan kota .
" jika suatu hari kamu kembali Erlina , jangan salahkan aku yang membenci mu dan melupakan mu . aku ... tak akan mau lagi merasakan cinta , karena cinta ini sungguh menyisak ku " dalam hati Rio mengemudi motor ninjanya dengan tatapan tajam di balik kaca hitam helmnya menatap fokus ke depan
Flash back off
" semenjak itu aku mulai melupakan mu dan kini aku membenci mu . tapi ...kenapa kau harus kembali ? di saat aku sudah lupa diri mu dan ya ! aku hanya mengingat wajah mu yang masih remaja itu dan kini ... aku sungguh ingin melupakan mu lagi " ujar Rio menatap sendu bingkai foto di hadapannya yang kini dia terduduk sedih dalam ke terpuruk akan masa lalu yang menimpah diri dan hatinya
kemudian Rio mengambil bingkai foto yang ada di hadapannya dan kini sudah berada di kedua tapak tangannya .
" haruskah aku menghancurkan semua tentang mu ? haruskah ku pergi jauh dari mu ? " pertanyaan pun terucap dari bibir Rio dan dengan perasaan yakin Rio ingin menghancurkan foto Erlina ke tembok
namun , tiba saja ponselnya berbunyi . menandakan panggilan masuk dan Rio kembali meletakkan bingkai foto besar ke lantai . Rio berdiri dari duduk dan langsung mengambil ponselnya yang berada di atas kasur .
" hallo " jawab Rio setelah dia menggeser tombol hijau pada layar ponsel dan langsung mendekatkan ponselnya ke daun telinganya
" assalamualaikum "
" wa'alaikumsalam Raka , ada apa ? aku lagi gak mood "
" besok pagi datang ke rumah "
" buat ?! "
" untuk membicarakan tentang mu dan Erlina "
" maksud mu ? "
" jangan pura bodoh , aku tau . aku sahabat mu dan aku akan membantu mu "
" emmm baiklah , aku akan datang besok "
" assalamualaikum "
" wa'alaikumsalam "
Tut !
panggilan pun terputus , dan Rio kembali menatap bingkai foto besar yang berada di lantai . kemudian bibirnya tertarik sampai melengkung , dan senyuman pun tercipta kembali di wajah tampannya .
" sepertinya aku harus berbuat sesuatu terlebih dulu " gumamnya dan kembali mengambil bingkai foto serta kembali menggantungnya di tembok kamarnya
" terima kasih untuk semuanya " ucap Rio pada bingkai foto
sedangkan Erlina sudah berganti pakaian , dan dia juga sudah memesan makanan untuk makan malam . karena Rio bukan cuma memberikan beberapa pakaian dan ponsel . tapi Rio juga memberikan sebuah kartu platinum di dalam paper bag dan saat menekan itu hatinya semakin sakit saat itu. Rio begitu baik padanya , tapi dia tanpa sengaja Erlina menyakiti hati Rio . Erlina kini menatap kosong atap kamarnya , memikirkan masa lalunya bersama Rio dulu .
" terima kasih buat semuanya bang Rio , aku tak akan pernah melupakan mu dan semua tentang mu . aku janji , aku akan membuat mu memaafkan ku . karena aku tak ingin kehilangan kamu lagi , tapi jika kau memaafkan ku dan ternyata kamu sudah punya wanita disisi mu . mungkin aku hanya bisa selalu menjadi seorang wanita remaja yang akan tetap memanggil mu Abang Rio " ujar Erlina dengan tersenyum getir yang terukir di wajahnya yang cantik menatap kosong atap kamarnya
...Bersambung...