
" pak " sapa Raka pada seorang pria paru baya yang duduk di tanah dengan melamun
" i..ya , ada apa ? apa kau juga terjebak di sini nak ? atau kau ingin menolong saya ? " cecar pria paru baya pada Raka , setelah dirinya tersadar dari lamunannya
" saya Raka , saya memang ingin menolong bapak dan sebentar lagi para Tim SAR akan datang untuk menjemput " jawab Raka dengan sopan dengan menampilkan senyum simpul
" benarkah ? apa kau tak bercanda ? " tanya pria paru baya dengan antusias , yang terpancar di wajah yang terlihat tua dengan mata yang berbinar bahagia
" iya pak , bapak yang tenang ya . sebenar lagi akan ada yang datang " sahut Rio tiba saja , yang sejak tadi hanya diam berdiri
" terima kasih nak , terima kasih . kalian adalah malaikat penolong kami " ucap pria paru baya dengan kebahagiaan di wajah keriputnya , Rio dan Raka pun hanya tersenyum senang bisa menolong orang-orang yang mereka temukan
namun , seketika Raka kembali murung . karena dirinya tak juga menemukan adik iparnya , Vero . Rio yang menyadari perubahan ekspresi wajah sang sahabat pun mengerti dan dia hanya bisa menepuk pundak sahabatnya untuk memberikan dukungan dan kekuatan .
" kita pasti akan menemukannya ! " seru Rio dengan senyuman simpul pada sahabatnya
" ku harap itu menjadi nyata " ucap Raka dengan wajah yang sangat lesu
Raka pun melangkahkan kakinya , matanya memerhatikan tiap orang yang ada di sekitarnya yang terlihat hanya ada 9 orang . namun , mata tidak juga menemukan salah satu di antara orang-orang ini .
" Vero , di manakah dirimu ? apa kau selamat ? atau kau ....ya Allah , tolong berikan saya pentunjuk mu " dalam hati Raka menatap dengan gusar ke atas langit biru yang terlihat cerah
Raka dan Rio kini bergabung dengan orang-orang di sekitar mereka sambil menunggu kedatangan Tim SAR dan anak buahnya . sedangkan di tempat lain , Calista dan Basri menikmati kebersamaan mereka di kantor dengan kebahagiaan yang mereka ciptakan sendiri .
" sejak kapan kamu mencintai ku ? " tanya Basri dengan tetap menggenggam erat tangan Calista dan tentunya pertanyaan ini membuat Calista bersemu kemerahan
" apa aku perlu menjawabnya ? " tanya Calista balik tanpa menatap Basri , dan tetap menatap pemandangan indahnya kota Jakarta
" itu terserah kamu , aku tidak memaksa " jawab Basri yang terdengar acuh , tapi dengan senyuman simpul dan tak sehangat tadi
Basri pun kembali manatap pemandangan kota Jakarta serta pemandangan alam yang di atasnya , langit biru dan awan putih yang terlihat indah . seakan memanjakan mata memandang , sedangkan Calista kembali menatap wajah Basri yang terlihat semakin tampang dengan pancaran matahari yang menerpa wajah Basri .
" tidak tau kapan , mungkin saat itu . saat aku tertawa , karena diri mu selalu menjawab dan tak membantah membuat ku merasa terhibur . sehingga aku memiliki ide untuk memanjakan diri , karena aku sudah lama tak menikmati kesenangan " ujar Calista dengan tetap manatap wajah tampan Basri , Basri yang mendengar itu langsung kembali menatap Calista dengan senyuman hangat
" cuma karena itu ? apa tak ada yang lain ? tapi baiklah ... aku akan selalu setia di dekat mu , dimana pun kamu berada . aku akan menemukan diri mu " tanya Basri
Calista bukannya menjawab dan tidak mengatakan apa pun . tapi dengan jari telunjuk tangan kanannya Calista menyentuh dengan lembut wajah tampannya Basri dan hal ini membuat Basri semakin merekahkan senyumannya . kemudian Calista mendekat wajahnya dan hal itu membuat wajah Basri memerah dengan seponstang Basri menutup matanya .
" karena pesona mu , sayang " bisik Calista di daun telinga Basri , seketika Basri langsung membuka matanya
setelah Calista membisikan hal itu , Calista langsung bangun dari duduknya di sopa . Calista langsung melangkahkan , menjauh dari Basri . Basri yang baru menyadari jika Calista sudah tak ada di hadapannya pun mengejar Calista dan hal hasil mereka berdua pun kejar-kejaran di ruangan yang luas ini . untuknya ruangan tersebut kedap suara dan pintu masih tetap terkunci oleh remote control tadi .
" mau kemana lagi , emmm ? aku sudah mendapatkan mu dan tak akan melepaskan mu " kata Basri di daun telinga Calista , sehingga Calista bisa merasakan nafas hangat Basri . karena saat ini Basri memeluk Calista dari belakangnya .
" Basri " panggil Calista sambil memutar tubuhnya menghadap Basri , dan kini Calista maupun Basri saling bertatapan dengan dalam
" apa ? "
" janji ? kamu tak akan melepaskan ku ? "
" janji , aku tidak akan pernah melepaskan mu "
Calista dan Basri pun kembali berpelukan dengan kehangatan sambil menutup mata menikmati kebersamaan dalam pelukan hangat yang mereka rasakan saat ini .
" cukup hanya sekali aku melepaskan orang yang ku cintai , dan kali ini aku tak akan melepaskan mu . diri mu... akan ku jaga dengan jiwa dan raga ku . aku akan menjadikan mu ratu di hidup ku , biarlah aku menjadi budak mu . budak cinta mu , agar kau tak pergi dari ku . karena aku sangat sangat mencintai dirimu Calista Amadea " tutur Basri lembut , dengan masih memeluk erat Calista
Calista yang mendengar itu merasa senang , sedih dan bahagia menjadi satu . sedih , karena Basri dan dirinya sama-sama mencintai orang yang salah . sehingga mereka berdua terjerat dalam dunia gelap , dunia yang penuh dosa dan kini takdir mempertemukan mereka dengan sebuah hubungan yang sangat tak terduga .
" aku tak akan meninggalkan mu , sampai akhir hidup ku . karena ku juga mencintai mu " ucap lembut Calista
Calista dan Basri saling berpelukan erat , dalam kehangatan yang mereka ciptakan . dalam kebahagiaan yang tak terkira , dan sebuah hubungan yang tak terduga . serta janji yang terucap karena cinta , sungguh Calista dan Basri sangat merasa bahagia . karena mereka menemukan seseorang yang tidak akan pernah meninggalkan atau pun untuk di tinggalkan .
sementara di tempat lain , Rona , mama dan papa sedang makan siang bersama di ruang meja makan . namun , kali ini semua terlihat berbeda . tidak ada rasa selera untuk menelannya apa pun , bahkan makanan yang telah di hidangkan di atas meja tak tersentuh . hanya mata yang memandang , dan wajah kesedihan yang terpancar dari wajah-wajah mereka .
" nak , kamu kenapa belum makan ? kamu harus makan , anak mu perlu nutrisi " ujar mama lembut , dengan menampilkan senyum hangat dengan paksa
" aku gak napsu makan ma " jawab Rona dengan wajah yang tak terlihat ceria seperti Biasanya
" kamu harus makan , atau mau mama masakan sesuatu ? " bujuk mama lembut
" enggak perlu mama " jawab Rona lembut
" tapi nak ...kamu harus makan sesuatu , anak kamu perlu nutrisi . ingat nak , kamu sedang ngandung . nanti jika Vero pulang , papa bisa di marahin . karena tak bisa menjaga istri yang di cintainya " tutur papa lembut sambil menampilkan senyum getir
" tapi ... baiklah Rona akan makan , jika mama dan papa makan " sahut Rona dengan memaksa senyuman manisnya
mama dan papa tersenyum getir , kemudian mereka dengan cepat menyantap makanan dengan perlahan . bahkan , untuk memegang sendok pun tangan mereka , seakan tak bertenaga . namun , mama dan papa tetap berusaha untuk makan walau tangan bergetar . Rona yang melihat itu , tersenyum kecut .
" ma , pa . Rona suapin aja ya ? " ujar Rona sambil mencoba berdiri dari kursinya , kemudian dia mendekati ke seberang meja dengan mengitari meja . sehingga kini dia telah berada di antara mama dan papa
" tapi nak ... kamu juga harus makan " sahut mama sambil menatap Rona yang berdiri di antara dirinya dan suaminya
" ok , kita saling suap-suap aja . gimana ? "
mama dan papa pun mengangguk , sedangkan Rona mencoba untuk ceria . walau dia sebenarnya bingung dan bertanya-tanya . apa yang membuat mama dan papanya bersedih ?
Rona , mama dan papa pun saling menyuapi makanan yang terhidang di atas meja . Rona yang kini duduk di antara mama dan papa sedikit merasa senang dengan kesedihan yang perlahan luntur . sama hal nya dengan mama dan papa yang merasa terhibur dengan tingkah Rona . sehingga mereka bisa menghilangkan kesedihan , walau nanti akan datang kembali .
" ma , pa . kita ke taman yup . sama Anggita dan Rangga ! " seru Rona dengan senyuman setelah dirinya sehabis makan bersama mama dan papa
" baiklah " sahut papa dengan senyuman
" kalo gitu mama dan papa ke atas dulu , mau ngambil Anggita dan Rangga " kata mama yang ikut merasa senang
mama dan papa pun pergi ke atas menuju kamar mereka , sedangkan Rona pergi ke taman belakang rumah . Rona menikmati suasana siang yang tidak lah terlalu panas . kemudian tanpa sengaja Rona melihat sebuah kertas yang merupakan koran yang berada di bawa meja .
" pasti koran kemarin " ucap Rona sambil mengambil koran yang berada di bawah meja , kemudian Rona membuka tiap lembar kertas koran di tangannya . seketika wajahnya berubah
" ini tidak mungkin ... ini bukan ..." kata Rona dengan suara bergetar menatap isi koran yang ada di kedua tangannya dalam pangkuannya
perlahan Rona mulai menetes butir air Bening yang kembali mengalir deras membasahi pipinya . kelopak matanya di penuhi gumpalan air serta mata yang memerah . kemudian tiba saja perutnya mulai terasa keram .
" Rona sayang , maaf ya lama ! " seru mama yang baru tiba sambil menggendong Anggita , tapi mata mama melihat pundak Rona bergetar
" Rona , sayang kamu kenapa nak ? " tanya mama pada Rona , sambil melangkah mendekat pada Rona dan kini mama sudah berada di hadapannya Rona
" mama " satu kata itu yang kini bisa terucap oleh Rona dengan deraian air mata membasahi wajah cantiknya sambil matanya menatap mama yang kini ada di hadapannya
" papa " teriak mama saat melihat Rona yang menahan sakit , dan menyadari sebuah koran di dekat kaki Rona yang menampilkan gambaran berita pesawat kemarin yang di tumpangi Vero
" pa ! sediakan mobil ! cepat ! " teriak mama dengan panik dan khawatir di wajahnya
" iya ma , Rona ayo ikut papa " jawab papa saat muncul , dan langsung memapah Rona dengan wajahnya yang juga khawatir
papa memapah Rona dengan tertaktik dan mama tinggal di rumah bersama dua pelayan untuk menjaga Anggita dan Rangga . kini Rona telah di kursi penumpang , sedangkan papa duduk di samping sang sopir .
mobil pun melaju membelah jalan kota Jakarta yang terkenal macet di hari sebentar lagi akan menjelang sore . bahkan papa berulang kali membentak sang sopir untuk lebih cepat sampe ke rumah sakit dan kini mereka sampai rumah sakit . setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit , kemudian papa kembali memapah Rona keluar dari mobil memasuki rumah sakit .
" dokter ! suster ! " teriak papa saat di koridor rumah sakit
dokter wanita serta suster pun mendekat sambil mendorong berangkas pada papa dan Rona . dengan perlahan dan pasti , papa langsung meletakkan Rona di berangkas . segera dokter dan suster pun kembali mendorong berangkas menuju pada salah satu ruang rawat pasien .
" pak , tolong di luar saja dan tolong isi pendaftarannya di administrasinya " tutur sopan suster yang berdiri di depan pintu rawat Rona yang sudah tertutup rapat
" tolong sus ... tolong selamatkan anak dan cucu saya " ucap papa sedih dengan air mata yang sudah menetes , sedangkan suster hanya mengangguk sopan
suster pun langsung masuk ruang rawat Rona , sedangkan papa melangkahkan dengan berat menuju administrasi rumah sakit . sementara di tempat lain , Raka dan Rio baru saja selesai memulangkan para korban pesawat yang baru mereka temukan dengan bantuan Tim SAR .
" Raka , ini sudah sore . kita harus pulang , besok kita lanjutkan pencariannya lagi " tutur Rio pada sahabatnya yang terlihat tidak lesu di wajah tampannya
" tidak ! aku harus cari Vero . Rona , adik ku sedang menunggunya " ketus Raka dingin pada sahabatnya Rio
" terserah "
Rio hanya pasrah mengikuti langkah Raka yang masih ingin mencari Vero dengan di ikut dua pengawalnya di belakang mereka berdua . Raka terus melangkah sambil melihat di dekatnya , dan Rio serta dua pengawalnya melakukan hal yang sama , yaitu mereka masih melakukan pencarian .
Driiyyng !
suara ponsel pun berbunyi , dan ponsel tersebut punya Raka yang berada di celana jeans panjang yang di pakainya . sedangkan Rio terkejut , dan bertanya-tanya . kenapa bisa bunyi ? bukannya di sini gak ada jaringan ?
" assalamualaikum ..." belum sempat Raka ngucapkan salam , tapi di seberang telpon . Raka Langsung mendengar suara khawatir yang bergetar karena tangis
" Raka ! Rona di rumah sakit , cepatlah kemari " jawab seorang pria di seberang sana , yang tak lain ada papa Vero
" baiklah pak , saya akan segera datang "
Tut !
Raka Langsung mematikan ponselnya , kemudian dia berlari menuju helikopter yang sengaja dia tinggalkan tadi . sedangkan Rio dan kedua anak buahnya langsung dengan sigap mengikuti Raka yang berlari dengan panik , serta wajah yang terlihat sangat khawatir .
" ada apa Raka ? " tanya Rio , setelah mereka berada di helikopter
" cepat ! kembali ! " bentak Raka pada kedua anak buahnya yang berada di tempat kemudi helikopter , sedangkan Rio langsung diam mendengar suara Raka yang dingin dan membentak
helikopter pun kembali terbang , sehingga angin menerpa setiap tumbuhan di dekatnya . helikopter berjalan menuju ke Jakarta , sedangkan Raka terlihat semakin cemas dan khawatir yang terlihat di wajahnya . Rio yang menyadari itu , hanya bisa diam .
" Vero ... dimanakah diri mu ? adik ku membutuhkan mu ... tolong cepatlah kembali , aku tak Sanggup melihat adik ku tersisa lagi " dalam hati Raka dengan tatapan sendu
" sebenarnya ada apa ? siapa yang menelepon Raka ? apa ada hubungannya dengan adiknya ? atau terjadi sesuatu dengan Anjani ? " dalam hati Rio bertanya-tanya , menatap iba kepada sahabatnya yang kini duduk disampingnya
selang setengah jam , helikopter pun sampai pada tujuan . kemudian Raka dengan cepat turun dari helikopter dan kembali berlari menuju parkiran mobil .
" kalian urus semuanya " pekik Rio sambil berlari menyusul Raka , setelah dirinya melompat turun dari helikopter
Rio menyusul Raka dengan mengemudi mobil mengikuti mobil Raka melaju . selang berapa waktu Raka pun sampai di rumah sakit tempat rawat Rona , adik tercintanya . sedangkan Rio terkejut mengetahui bila Raka pergi ke rumah sakit dan dia kembali berlari mengikuti langkah Raka .
" pak ... bagaimana ke adaan Rona ? apa adik ku baik-baik saja ? " tanya Raka sambil kedua tangannya bersimpuh pada lutut , karena nafasnya yang tersengal-sengal yang kini dirinya telah berdiri di hadapan papa
papa hanya menggeleng , dan Raka langsung terduduk lemas di samping papa . sedangkan Rio baru sampai dengan nafasnya yang juga tak teratur , kemudian dia duduk di samping Raka .
" ada apa ? " tanya Rio akhirnya pada Raka , sahabatnya
" Rona " satu kata itu yang terucap dari bibir Raka dan Rio langsung mengerti terlihat di wajah Rio yang ikut merasa sedih
beberapa menit kemudian pun telah berlalu , Raka , Rio dan papa setia menunggu di depan ruang rawat Rona . kemudian terlihat pintu terbuka dan keluar seorang dokter wanita cantik dengan jas putih yang melekat di tubuhnya .
" bagaimana keadaan adik saya dokter ? " tanya Raka yang langsung bangkit dari duduknya , saat melihat dokter keluar dari ruangannya Rona
" pak Raka tenanglah , adik anda baik-baik saja . untung tadi adik anda di bawa tepat waktu , jadi ibu dan anaknya baik-baik saja . tapi ... saya sarankan , jangan memberikan tekanan atau kecemasan atau apa pun yang akan membahayakan kandungan . kali ini dia tertekan dan syok sehingga menyebabkan keram pada perutnya " tutur dokter wanita itu yang tak lain adalah Dewi , dokter kandungan
" terima kasih dokter " ucap papa dan Raka yang hampir bersamaan , membuat dokter Dewi tersenyum
" ini resepnya vitamin untuk kandungan adik dan anak bapak " ujar dokter Dewi sambil memberikan secarik dan diambil oleh Raka
" kalo gitu saya permisi pak "
dokter Dewi pun langsung meninggalkan Raka , Rio dan papa . kemudian mereka bertiga memasuki ruang rawat Rona , di berangkas Rona terbaring lemah dengan infus yang menancap di tangan kiri Rona . membuat Raka dan papa kembali menegaskan air mata .
" Vero cepatlah kembali , istri mu ...sangat membutuhkan ke hadiran mu " dalam hati papa
" Vero ... tepati janji mu , kau harus kembali ! demi adik dan keponakan ku . jika besok aku tak menemukan mu ! dan kamu tak kembali pada adik ku ! maka terimalah ganjarannya " dalam hati Raka menatap sang adik tercintanya dengan kesedihan
" kisah cinta yang luar biasa , Allah sang maha cinta . Vero ... jika cinta mu lebih besar dari samudera . maka ... kembalilah di sisinya , aku tak tega melihat Rona yang sudah ku anggap sebagai adik ku harus terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit ini " dalam hati Rio yang menatap sendu Rona
Rona dan Vero kembali di uji akan cinta yang mendalam , dalam jiwa dan raga yang menusuk sembilu relung hati yang mulai rapuh . sedangkan Calista dan Basri baru membangun hubungan baru , sebuah ikatan yang tak lama lagi akan terjalin resmi dengan tanda cinta yang mereka miliki di dalam hati dan dengan janji antara dua jiwa dan dua raga . berjanji selalu bersama sampai maut yang akan menjadi pemisah diantara mereka berdua .
...Bersambung...
jangan lupa vote and komen ! 👇