
sedangkan di tempat lain , di sebuah tempat yang sunyi serta hanya di huni oleh kehidupan alam . yang terlihat seperti pulau karena adanya keberadaan hutan di dekat perairan . seorang pria berbaring kaku di atas rerumputan dengan pakaian yang sangat berantakan , bersama dengan beberapa orang yang sibuk membuat sesuatu dari bambu atau pun kayu dari tempat yang tidak jauh darinya .
pria yang berbaring kaku itu , perlahan membuka matanya . membiarkan cahaya matahari menyusup ke dalam bola matanya yang jernih . sehingga dia menggunakan tangan kanannya untuk menutupi cahaya yang menyilaukan matanya sendiri .
" pak Vero sudah sadar ? bagaimana ke adaan anda sekarang ? " cecar seorang pria paru baya yang tiba saja muncul di samping Vero dengan penampilannya yang sangat berantakan
" kita dimana pak Andi ? au " kata pria yang berbaring kaku dengan meringis karena kakinya yang terluka , yang tak lain adalah Vero dengan kakinya sebelah kanan yang di balut dengan kain hitam biasa . kini Vero telah duduk dari tidurnya yang begitu lama
" entahlah pak , kami tidak tau . kita terjebak di pulau mana akibat pesawat yang kita tumpangi kemarin . karena peristiwa Sambaran petir , sehingga pesawat kita mengalami ke tidak seimbang dan akhirnya jatuh di hutan yang kita tidak tau di mana letaknya . sekarang kita dan yang lainnya lagi membuat cara untuk menyelamatkan diri dari tempat ini dengan mengharapkan rakit " jelas pak Andi dengan menunduk kepala dan wajah yang terlihat sangat sedih
" kami ? kemarin ? pesawat jatuh " hardik Vero terkejut , mengetahui dirinya sudah tertidur selama 1 hari penuh . akibat pesawat yang dia tumpangi mengalami peristiwa yang tragis
" pak Vero yang tenang , kita semua di sini sama-sama saling membantu untuk mencari jalan keluar . karena saya sangat ingin bertemu dengan keluarga tercinta saya di rumah . pasti kabar mengenai pesawat sudah mereka ketahui . saya...." kata pak Andi menjeda Kalimatnya , dan di lanjut dengan tangisan yang membasahi pipinya . memikirkan orang tercinta yang pasti mengawatirkannya , sedangkan Vero terdiam seribu bahasa . Vero seakan tau tak harus berkata apa , selain hanya bisa pasrah pada takdir pada Tuhan yang akan menentukan langkah dirinya selanjutnya
" ratu ku , maafkan ku . aku tidak mendengarkan perintah mu dan kini diri ku menyakiti hati mu lagi . tapi ...aku akan berusaha kembali , demi diri mu , anak kita dan cinta kita . tunggulah aku , aku akan kembali dengan selamat " dalam hati Vero dengan tanpa terasa setetes air bening jatuh dari kelopak matanya
" bapak bisa berdiri ? " tanya pak Andi sopan , setelah menghapus kasar air matanya
" bisa pak , terima kasih telah merawat saya " jawab Vero dengan tersenyum tipis
" bukan saya yang merawat kamu pak Vero "
" siapa pak ? "
" seorang wanita , dia yang merawat luka yang ada di tubuh kita "
" apa dia seorang dokter ? "
" benar , dia memang dokter dan masih sangat muda dan cantik "
" pak Andi , ingat keluarga di rumah . jangan mikirin wanita lain " ketus Vero pada pak Andi , yang merupakan rekan kerjanya di Jakarta dan salah satu orang yang memang ikut bersamanya untuk berbisnis ke luar negeri . tapi musibah Mala menimpah pesawat mereka
" iya pak saya tau " sahut pak Andi dengan tersenyum kikuk sambil tangan kanannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
" kita di sini ada berapa orang pak ? dan di mana wanita itu ? saya ingin berterima kasih padanya , karena telah merawat saya " tutur Vero sambil tetap menatap pak Andi
" kita ada 12 orang di sini dan wanita itu sedang pergi ke dalam hutan untuk mencari makanan dan obat-obatan sejenis tumbuhan " jawab pak Andi
" kalo begitu saya ingin susul dia ya pak "
" iya sudah , iya juga mau bantu yang lainnya . semoga kita semua selamat sampai rumah "
" Amin " ucap Vero dan pak Andi bersamaan
pak Andi pun pergi mendekati para pria yang sibuk membuat sesuatu yang tak lain adalah rakit . sedangkan Vero telah melangkahkan kakinya memasuki hutan . namun , dengan langkah hati-hati Vero mendengar suara teriakkan seorang wanita yang meminta tolong .
" tolong ! tolong saya ! lepaskan saya , saya mohon ! "
" tak akan ada yang akan menolong mu wanita cantik " ujar seorang pria
" hei , hentikan itu ! " teriak Vero setelah mendapati arah suara wanita tersebut , dan Vero dapat melihat bila wanita itu ingin di lecehkan oleh pria yang ada di atas tubuh wanita itu yang sudah menangis darah dengan tubuh yang meringkuk di tanah menahan rasa takut di dirinya , pria itu pun berdiri menjauhi tubuh wanita dan mendekati Vero
" sok mau jadi pahlawan ke siang aja Lo , gak lihat tempat dimana ? atau kita bisa bagi rata ? " hardik pria muda yang terlihat tidak asing di mata Vero
" gak , Lo jangan ganggu wanita itu ! " bentak Vero pada pria yang berdiri di hadapannya
" ok , Lo ingin jadi pahlawankan . kalo gitu ayo ! "
Vero dan pria itu pun berkelahi dengan sangat lincah dan mahir . namun , Vero sedikit ke sulitan , karena kakinya yang terasa sakit . tapi Vero terus memasak kakinya untuk berkelahi , sehingga dia dapat memenangkan perkelahian itu dengan pembalut kakinya yang sudah terlepas dan darah segar yang mengalir mengenai tanah yang dia pijaki . sedangkan pria tadi sudah berbaring dengan memegangi perutnya yang terasa sangat sakit akibat tendangan maut Vero .
" pergi Lo , jangan dekati dia lagi " sarkas Vero dengan menatap tajam pria yang berbaring ke sakitan di tanah
" kali ini Lo menang , tapi tidak untuk nanti " sahut pria itu dingin sambil berusaha untuk berdiri dan pergi meninggalkan tempat kekalahannya
setelah kepergian pria muda itu , Vero langsung berjalan gontai mendekati wanita yang sudah bersandar pada pohon pisang dengan tangisannya yang terus menerus . membuat Vero merasa iba , dan dia teringat dengan sang istri .
" pasti sayang ku sudah menangisi diri ku . yaaa tuhan ...berilah aku kekuatan dan berikan aku pentunjuk untuk pulang bersama orang-orang tercinta ku . aku sangat mengawatirkannya istri ku yang sedang mengandung dan orang tua serta orang yang dekat dengan ku " dalam hati Vero sambil menatap langit biru yang cerah di atas sana , agar dirinya bisa menahan air mata di kelopaknya
Vero berusaha untuk duduk di tanah dan sedikit memberikan jarah dari wanita yang kini ada di hadapannya agar Vero bisa mengikat kembali kain hitam untuk membalut luka di kakinya yang mengeluarkan darah segar . wanita itu hanya menangis , tapi dia juga menyadari ke hadiran seorang pria yang menolongnya .
" apa sudah ? " tanya Vero acuh pada wanita di hadapannya yang tidak lagi mendengar suara tangisnya
" terima kasih " ucap wanita itu sambil menghapus kasar air mata dengan lengan baju sweater Hoodie yang dia pakai . Vero hanya diam , dia kasih berusaha membalut luka di kakinya
" kamu bukannya masih berbaring ? kenapa datang ke sini ? " cecar wanita itu dengan mata merah menatap Vero di depannya
" aku lagi cari orang " jawab Vero dingin
" siapa ? "
" wanita "
" o iya sudah , sekali terima kasih . saya harus kembali membawa makanan dan juga Obatan ini " ujar wanita itu sambil mencoba untuk berdiri , mencoba untuk kuat
" aku juga berterima kasih " ucap Vero , setelah menyadari wanita yang dia cari ternyata ada di hadapannya . karena Vero teringat dengan perkataan pak Andi
" buat apa ? " tanya wanita sambil mengernyitkan keningnya
" merawat saya " jawab Vero acuh , sambil mencoba berdiri dari duduknya
" iya , panggil aja Vero "'sahut Vero dengan tatapan ke depannya
" baiklah , perkenalkan nama ku Erlina Purnamasari . kamu bisa memanggil ku Sari " tutur wanita itu yang bernama Sari
" Erlina , apa mungkin sahabatnya istri ku ? pasti tidak mungkin ? dia aja di panggil sari , lagian nama Erlina bukan cuma satu " dalam hati Vero sambil dirinya tetap melangkahkan kakinya berjalan
Vero hanya diam dan terus berjalan . sedangkan Sari juga tak mempermasalahkan sikap Vero yang dingin , karena pak Andi sudah menceritakan siapa Vero sebenarnya dan Sari hanya fokus pada tugasnya saat ini , yaitu membagikan makanan yang dia dapatkan dan juga Obatan dari tumbuhan yang dia temukan dan akan dia buat jadi obat sesungguhnya .
sesampainya Vero dan Sari di tempat berkumpulnya para korban pesawat yang sama seperti mereka . Vero pergi mendekati pak Andi , orang yang dia kenal . sedangkan Sari pergi pada seorang wanita paru baya yang masih duduk bersandar pada pohon besar dengan kakinya yang berselonjor , yang terlihat tubuh wanita paru baya itu sangat lemas tak berdaya . melihat pun orang merasa iba dan sedih .
" rakit yang di buat ada berapa pak ? " tanya Vero serius setelah dirinya berdiri di samping pak Andi sambil tatapan matanya menatap para pria sibuk membuat rakit
" kita akan membuat 5 atau 6 rakit . tapi yang di selesaikan baru 4 rakit " jawab pak Andi menatap sekilas Vero yang berdiri di sampingnya
" apa tidak bahaya pak ? "
" bahaya atau tidaknya itu urusan belakangan , tapi kita harus melihat cuaca terlebih dulu untuk selamat memang sangatlah tak mungkin , tapi dengan ke yakinkan dan atas ridho Allah kita pasti selamat dan sampai tujuan " jelas pak Andi dengan senyuman senang , karena pak Andi sudah tidak sabar ingin pulang . ingin bertemu orang tercinta , dan memberikan kabar bila dia selamat dan dia baik-baik saja
sedangkan Vero hanya tersenyum kecut , dirinya merasa tak yakin . namun , hati kecilnya berkata , bila akan ada yang datang menolongnya . tapi dia juga masih ragu dengan firasat baik yang dia miliki di hatinya .
" kapan akan di gunakan pak ? " tanya Vero sopan yang kini sudah menatap lurus wajah pak Andi
" kemungkinannya besok , apa bila cuaca tidak buruk . kita bisa menggunakannya " jawab pak Andi dengan senyuman yang tercetak sempurna di wajahnya yang sudah kelihatan sedikit keriput
" apa kita tak bisa pak menunggu para Tim SAR ? saya yakin , bila keluarga kita sedang mencari kita " kata Vero menyakinkan , karena dia juga sudah memikirkan ini matang-matang
" jika Takdir , maka kita pasti selamat . tapi kita tak bisa terus menunggu , kita di sini sudah sehari dan belum tahu hari esok akan seperti apa ? mungkin saja hutan ini ada binatang buasnya ? dan penyediaan makanan bisa saja menipis ? serta semua barang kita telah hilang , jadi pak Vero kita tak bisa selalu mengharap kehadiran orang lain untuk menjemput kita , kita harus bisa selamat . walau hal itu sangatlah kecil " jelas pak Andi yang merasa keberatan dengan yang Vero katakan padanya
" baiklah pak , saya harap kita selamat bersama " tutur Vero pasrah , karena Vero sangat mengenal pak Andi yang keras kepala
Vero pun kembali ketempat dirinya tadi berbaring sambil memperhatikan sekitarnya dan membiarkan pak Andi dan yang lainnya berkerja , karena dirinya sangat sulit untuk berdiri lama-lama akibat perkelahian tadi . sehingga tatapan matanya berhenti di salah satu pria muda , pria yang berkelahi dengannya tadi di hutan . terlihat pria itu menatapnya dengan senyuman licik , dan Vero hanya mengacuhkannya saja .
" coba lihat kaki mu " ketus Sari yang tiba saja muncul di depan Vero , yang kini sari sedang duduk di dekat kaki Vero . sedangkan Vero dengan sigap menarik kakinya
" kenapa ? saya hanya ingin mengobati kaki mu ? " cecar Sari sambil mengernyitkan keningnya menatap Vero yang menunjukkan wajah datar tanpa ekspresi
" aku bisa sendiri , berikan saja Obatnya " sahut Vero dingin sambil mengeluarkan tangannya untuk meminta obat yang di buat Sari
" ni ! terserah " hardik Sari sambil memberikan wadah yang terbuat dari daun yang di dalamnya sebuah tumbuhan yang sudah hancur dan basah . Sari langsung pergi meninggalkan Vero di tempatnya duduk
setelah kepergian Sari , Vero kembali berselonjorkan kakinya . kemudian Vero melepaskan kain hitam yang membalut lukanya , setelahnya Vero letakkan obat tumbuhan basah itu pada lukanya yang terasa sangat sakit dan nyeri . namun , Vero mencoba untuk menahannya dan tetap mengobati lukanya dengan perlahan . setelah selesai dia kembali membalut kain tadi pada kakinya dan membiarkan sisa obat tadi di rumputa.
di tempat Vero berada , orang-orang sibuk dengan aktivitas masing-masing . ada yang berbaring kaku , ada yang melamun dan juga yang masih menangis musibah yang dia dapatkan dan ada juga yang sibuk membuat rakit dengan bersama-sama .
sementara di tempat lain , Raka dan Rio kembali lagi di mana helikopter berada . Raka sudah memberitahu nenek tentang kabar Vero dan tentu saja hal itu membuat nenek menangis . Sedangkan Anjani belum tau kabar mengenai Vero , Anjani hanya diam dan membiarkan suaminya melakukan apa pun . karena Anjani tau , bila Raka terikat janji dengan alm.orang tuanya serta Raka juga sangat menyayangi adik-adiknya . jadi Anjani hanya akan selalu mendukung apa yang di lakukan sang suami tercintanya , tapi dengan satu syarat . Raka harus kembali dengan selamat tanpa luka segores pun . membuat Raka hanya tersenyum mengaguk akan hal itu dan kini Raka telah terbang dengan helikopter . di temani Rio dan dua dokter yang ikut bersamanya , menggunakan helikopter satunya .
" apa kamu gak salah tempat ? " tanya Raka pada Rio , saat matanya melihat kebawa yang ada perairan dan di sana tidak ada sama sekali jejak atau tanda hancur pesawat
" tidak , memang ini tempatnya " jawab Rio yakin , karena Rio sudah berapa kali menyelidiki dan titik terakhir aktifnya pesawat berada di atas perairan ini
" lebih cepat " hardik Raka pada anak buahnya yang mengendalikan helikopter miliknya
" baiklah bos "
pria yang mengendalikan helikopter pun sedikit menambahkan kecepatannya , sehingga Raka dapat melihatnya banyak korban yang tewas dan sisa-sisa bagian pesawat yang hancur bagaikan sampah dan berserakan di perairan dan mendekati daerah hutan yang terlihat sangat sunyi dan sepi .
" Rio kamu sudah hubungi Tim SAR ? " tanya Raka dingin dengan tatapan matanya fokus melihat kebawa
" sudah , sebentar lagi mereka akan sampai " jawab Rio dengan senang , karena dirinya merasa bangga bisa menemukan titik terakhir aktifnya pesawat dan dugaanya benar . namun , seketika senyum pudar , saat melihat banyak sekali manusia yang mengapung di perairan dan dampar di dekat hutan
" apa Vero akan selamat Rio ? " tanya Raka sendu , saat melihat banyak sekali yang tewas
" berdoa lah "
Raka hanya pasrah pada takdir , tapi dia juga merasa bila Vero selamat . karena dirinya tau , bila Vero tak akan membiarkan adik tercintanya Rona menangis atau pun menderita .
" Vero ...ku harap kau menepati janji mu " dalam hati Raka dengan tatapan sendu yang pilu
" iya tuhan , sekejam ini kah takdir . terkadang merasa senang dan bahagia , terkadang merasakan luka dan derita yang tak terkira " dalam hati Rio yang tatapan matanya melihat seorang anak laki-laki kecil dalam pelukan ibunya yang mengapung di perairan
helikopter terus aktif , Raka dan Rio saling melihat ke bawa dengan arah yang berbeda . mencari seseorang yang selamat , atau seseorang yang mereka cari saat ini . namun , belum terlihat wujudnya sama sekali , membaut Raka meneteskan air mata . memikirkan takdir adiknya yang saat ini sedang mengandung , siapa lagi jika bukan Rona .
sementara Rona masih tetap berada di kamarnya , membaca ayat-ayat Al-Qur'an untuk ke selamatan sang suami dan untuk ketenangan hatinya yang sampai saat ini masih merasakan firasat yang tidak enak .
" aku menunggu mu , dan ku sangat merindukan mu . cepatlah kembali suami ku , aku takut bila firasat ini dan mimpi itu nyata . ku mohon berikan aku kabar dan cepatlah pulang " ujar Rona dengan sendu setelah dirinya selesai membaca ayat Al-Qur'an di atas ranjang
sedangkan di kamar mama dan papa . mereka juga sampai sekarang menangis , bahkan untuk makan saja mereka berdua tak berselera . hanya ke dua cucu mereka yang mereka berikan makan dengan di selingi air mata akan tangisan karena seorang anak yang sedang dalam musibah .
" cucu nenek harus makan banyak , cucu nenek berdoa ya untuk ke selamatan papa kalian " tutur mama sedih dengan air mata tak henti mengalir membasahi pipi , bahkan mama sudah seringkali mengatakan hal itu sudah yang ke berapa kali , karena dirinya sangat mengawatirkannya putra tercintanya
" Anggita dan Rangga tetap berdoa untuk papa , berdoa pada Allah SWT untuk membuat papa kalian kembali pada kita dan bisa bermain dengan kalian lagi " kata papa yang ikut menangis bersama mama sambil menatap cucunya yang masih balita
Anggita dan Rangga hanya berceloteh dan terkadang dia ikut menangis melihat nenek dan kakeknya menangis . namun , dengan sigap papa dan mama langsung mendiamkan cucu mereka . sebelum Rona merasa khawatir , karena ke hamilan yang harus terjaga .
kini , hari ini hanya ada duka dan luka . walau hari terlihat cerah di atas sana , tapi sinarnya seakan membakar jiwa dalam raga . sehingga air bening terus berderai membasahi pipi , menumpahkan rasa sakit yang terasa sesak di dalam jiwa di dalam dada . serta kata yang tak mampu untuk terucap lagi , selain hanya doa yang di panjatkan kepada Allah SWT sang penulis takdir , dan sang pencipta langit dan bumi .
...Bersambung...