Rona

Rona
eps . 61



" bos " panggil Basri yang memecahkan keheningan di kala sore itu


" emm " sahut Calista acuh


" bolehkah saya pinjam sebuah ruang bos ? "


" buat ? "


" shalat ashar bos "


" shalat ? apa bisa ? dia kan masuk dalam dunia bawah . apa masih di terima amal nya ? " dalam hati Calista sambil mengamati wajah Basri yang terlihat tampang dan tak seperti pria yang memiliki dosa


" silahkan , kamu ikut saya ! "


Calista pun berdiri dari duduknya , dan berjalan menuju sebuah kamar yang berada di belakang tangga dan tentunya Basri mengikuti langkah bosnya tanpa rasa ragu . Mala dia bersyukur dan lega bisa melakukan kewajiban sebagai umat muslim .


" kamu bisa gunakan kamar tamu ini " kata Calista sambil membuka pintu kamar tamu


" terima kasih bos , tapi ..." sahut Basri yang sedikit ragu untuk mengatakan sesuatu


" tapi apa ? " tanya Calista sambil menatap wajah Basri


" apa bos tak ingin shalat ? " tanya Basri dengan perasaan was-was


Calista yang mendengar itu hanya diam , Kemudian dia pergi menaiki tangga menuju kamarnya . meninggalkan Basri yang mematung di tempatnya berdiri .


" sepertinya aku terlalu lantang " gumam Basri


Basri pun melakukan shalat ashar setelah dirinya melakukan wudhu di dalam kamar mandi yang sudah tersedia di kamar tamu . sementara Calista duduk di pinggir ranjang sambil menatap serta mengelus bingkai foto ke dua orang tuanya .


" ma , pa . semenjak kepergian kalian , aku meninggalkan tugas ku sebagai umat muslim dan untuk pertama kalinya aku mendengar seseorang bertanya begitu pada ku . apakah aku harus kembali seperti dulu ma , pa ? tapi apa aku bisa ? ma , pa . kenapa kalian meninggalkan ku sendiri ? ada harta , namun tak ada cinta di hidup ku . aku harus apa pa , ma ? " ujar Calista dengan deraian air mata kemudian dia memeluk erat bingkai foto orang tuanya


Calista Amadea merupakan anak tunggal dari seorang pengusaha sukses yang mendirikan perusahaan grup C . Amadea . orang tuanya sengaja membuat nama perusahaan dengan nama anaknya . Calista sudah kehilangan ke dua orang tua di saat umurnya masih sangat muda . saat itu di masih menjalani pendidikan di tingkat SMP negeri 3 . suatu hari dia mendapatkan kabar dari seorang pria melalui telpon dan ternyata pria itu adalah polisi yang mengatakan ke dua orang tuanya meninggal di tempat . akibat hujan yang menyebabkan jalanan aspal licin , sehingga kecelakaan pun terjadi dan di saat itu Calista hanya bisa menangis . sampai beberapa Minggu dirinya sakit dan hanya bibi nya lah yang selalu merawat dirinya dan karena hal ini lah dia menjadi wanita yang cuek , dingin dan pemberontak serta melupakan kewajibannya sebagai umat muslim .


Calista hanya menangis sambil berbaring di ranjang dengan telentang dengan tetap memeluk erat bingkai foto orang tuanya tanpa dia sadari , dia sudah tertidur karena kelelahan menangis . sedangkan Basri duduk di sofa ruang tamu setelah melakukan shalat dan menghabis coklat panasnya . Basri menunggu Calista sambil sekali-kali dia menatap ke arah tangga . namun , yang di tunggu tak jua muncul , membuat Basri merasa cemas dan bingung harus apa .


" apa aku menyusul saja ? tapi kan dia wanita , dan aku pria . tak mungkin aku mendekati kamar apalagi memasuki kamar wanita ? " kata Basri pada dirinya sendiri yang terlihat gusar karena telah menunggu lama


Basri pun tetap menunggu sambil memainkan ponsel untuk menghilangkan rasa bosan , tak selang berapa waktu adzan Maghrib pun terdengar . sehingga membangunkan Basri dari duduknya dan kembali melakukan shalat Maghrib , sedangkan Calista dia terbangun dari tidurnya karena mendengar suara adzan Maghrib .


" ma , pa . Calista akan memulai hidup dari awal , Calista akan kembali seperti dulu . semoga mama dan papa memaafkan Calista dan semoga Allah SWT memberikan tempat disisinya , surga . ma , pa " tutur Calista lembut kemudian mengcium foto orang tuanya


Calista pun membersihkan diri , kemudian dia menyiapkan keperluan shalat . setelahnya dia melakukan shalat sebagai umat muslim , di lanjut dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang di miliki sendiri . Basri yang kala itu sedang membereskan perlengkapan shalat mendengar suara yang amat merdu , suara seseorang wanita yang membacakan ayat Al-Qur'an .


" merdunya yang Robbi , siapa wanita yang membacakan ayat Al-Qur'an se merdu ini ? andai hamba bisa berjodoh dengannya ? pasti hamba akan sangat bersyukur " kata Basri sambil tersenyum menikmati suara merdu yang dia dengar


Basri pun keluar kamar tamu , kemudian dia mengikuti arah suara merdu itu dan saat dia sampai di depan pintu yang berwarna pink setelah dirinya menaiki tangga . suara itu hilang entah kemana , membuat mematung di tempat sambil menatap pintu pink di hadapannya .


" apa aku harus mengetuknya ? tapi , bagaimana jika bos marah ? tapi aku juga ingin tau siapa wanita yang membacakan ayat Al-Qur'an semerdu itu "


Tok Tok !


Basri pun mengetuk pintu tersebut , tak sampai 2 menit pintu pink itu telah terbuka sempurna dan memperlihatkan seorang wanita dengan mata memerah dan hidung yang memerah juga . terlihat seperti habis menangis , tapi Basri sangat terkejut . melihat bosnya adalah wanita yang memiliki suara merdu .


" astagfirullah , Basri ...diri mu sungguh bodoh hanya karena mendengar suara merdu ayat Al-Qur'an . ini kan rumah bos , Calista Amadea . yaaa pasti dirinya , tapi mau gimana lagi . aku sudah terlanjur berdoa seperti tadi , biarlah aku harus kecewa untuk ke dua kali " dalam hati Basri yang terkejut , kesal , dan kecewa menjadi satu menatap Calista dengan diam


Calista yang hanya di tatap oleh Basri dengan tatapan kosong dan terlihat guratan kecewa di wajah Basri , membuat Calista heran dengan sikap Basri .


" ada apa ? " tanya Calista dengan datarnya


" maaf , saya permisi " sahut Basri setelah sadar dari lamunannya , kemudian dirinya berbalik untuk meninggalkan bosnya itu


" Basri " pekik Calista yang melihat Basri pergi begitu saja , setelah mengucapkan 3 kata


Basri pun menghentikan langkahnya yang sudah berdiri di tangga nomor dua . kemudian di berbalik menatap bosnya , tanpa berpindah posisinya berdiri . membuat Calista berjalan mendekati Basri dan kini Calista sudah berada di hadapan Basri .


" apa kau ada masalah ? " tanya Calista


" tidak bos " jawab Basri dengan sopan


" terus itu kenapa ? wajah kamu terlihat kecewa ? bahkan kau mengetuk pintu kamar ku ? berarti kau ingin mengatakan sesuatu ? " cecer Calista sambil tetap menatap wajah Basri serta mata yang terlihat menyimpan sebuah rasa sedih dan kecewa . membuat Calista bertanya-tanya


" kecewa ? saya memang kecewa , karena saya terlalu berharap lebih dan hal itu pasti tak akan terjadi " dalam hati Basri


Basri melanjutkan langkahnya menuruni tangga , karena dirinya tak ingin merasa yang nama cinta . jika hanya untuk menyakiti hatinya saja , dan Calista semakin penasaran yang Basri hadapi . namun , Calista juga mengerti , jika dirinya tak harus mengetahui masalah pribadi Basri . jadinya Calista hanya mengikuti Basri dari belakang dan duduk di sofa ruang tamu dengan saling berhadapan .


" Basri " panggil Calista yang telah sama diam , sehingga kesunyian ruang tamu terpecahkan


" iya bos " sahut Basri sopan dengan sedikit menunduk wajahnya


" aku ingin markas kita kau hancurkan , jangan tinggalkan jejak atau titik apa pun . ngerti ! " ujar Calista tanpa berbasa-basi , karena dirinya sudah memikirkan ini matang-matang dan dia ingin kembali seperti dulu . walau tanpa kehadiran orang tua yang mencintainya dan menyayanginya , dirinya hanya bisa berharap pada takdir pada yang penulis Takdir kehidupan , yaitu Tuhan , sang pencipta langit dan bumi , Allah SWT


" baiklah bos , tapi bos ? bagaimana dengan anak buah yang lainnya ? serta saya ? " cecar Basri yang awalnya merasa terkejut sehingga dirinya menegakkan kepalanya menatap bosnya , namun dia juga mengerti apa maksud bosnya untuk menghancurkan markas


" yang lainnya suruh mundurkan diri dan saya hanya akan menggunakan kamu " jawab Calista sambil tetap menatap Basri


" sesuai perintah bos "


" besok saya akan mengirim uangnya di rekening kamu dan kamu yang akan membagi rata uang itu "


" terima kasih atas gajinya bos "


" aku belum memberi kamu gaji "


Basri yang mendengar kalimat dari bosnya , merasa heran dan memilih untuk bertanya langsung dari pada bertanya pada dirinya sendiri . sedangkan Calista hanya tersenyum simpul menatap Basri .


" ada " jawab Calista singkat


" apa bos ? "


" pertama jangan panggil saya bos dan keluarlah dari dunia bawah , ke dua saya ingin tau asal usul mu , saya ingin kau menceritakan kehidupan mu yang sesungguhnya dan ke tiga itu nanti "


" apa bos sedang memberi saya syarat ?


" jika itu menurut , maka begitulah "


" baiklah bos saya akan lakukan apa yang bos perintah " ucap Basri pasrah


" saya sudah bilang jangan panggil bos , apa kau tuli " ketus Calista kesal


" maaf Calista "


Basri pun mulai menceritakan asal usulnya . dia memiliki orang tua yang tinggal di kampung , yang sedang berternak dan berkebun sayuran serta buah-buahan . dia memiliki dua adik perempuan yang bernama Jira dan Jura . di hanya anak dari kalang miskin , yang hidup berkecukupan di kampung . namun , dirinya memutuskan untuk tinggal di Jakarta , untuk membantu orang tua mencari nafkah . sehingga dia memasuki dunia bawah , karena gajinya yang menggiurkan .


" begitu kehidupan saya bos bila di kampung " ucap Basri mengakhiri cerita kehidupannya


" Minggu depan aja lah orang tua mu kesini " pinta Calista dengan menampilkan senyuman


" buat apa Calista ? " tanya Basri yang merasa bingung


" turuti saja jangan banyak bertanya , dan saya ingin kau membantu saya untuk menjalankan perusahaan papa saya "


" kenapa saya ? "


" gak ada bantahan , saya harap kau bisa di percaya dan tidak mengecewakan saya dan jangan lupa . Minggu depan aja keluarga kesini , setelah itu baru saya akan menyampaikan Syarat ketiga dan kamu jangan neting . syarat ke tiga akan menguntungkan mu dan diri ku " jelas Calista panjang lebar , sedang Basri hanya diam mencerna penjelasan Calista


" syarat ketiga , aku ingin kau menjadi imam ku . semoga kau tak menolak diri ku , karena aku juga sudah mulai menyukai mu . bahkan kau mengingat ku untuk shalat dan kamu adalah pria kedua yang mengingat ku setelah papa ku , papa yang sudah pergi dengan mama . semoga dengan diri ku bertobat , mama dan papa tenang di sana " dalam hati Calista sambil bersandar pada sopa dengan matanya menatap ke langit-langit rumahnya


Calista dan Basri hanya diam , menghabiskan waktu dengan kesunyian yang kembali datang . karena Basri masih heran dengan syarat Calista , sehingga dirinya sibuk dengan pemikirannya dan Calista hanya memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa bosan .


sementara di tempat lain , Raka baru saja melakukan shalat di mesjid . kemudian dirinya kembali melanjutkan rencana untuk menemukan Vero , adik iparnya dengan menggunakan helikopter miliknya yang bisa di gunakan . jika sangat di perlukan untuk sesuatu , misalnya seperti ini .


" kamu yakin ? nyari malam gini ? apa tak bisa besok saja ? " cecar Rio pada Raka yang keras kepala , karena bila Raka sudah ingin melakukan apa pun . Raka akan langsung menyelesaikannya tanpa memikirkan dirinya sendiri . apa lagi , hal ini berhubungan dengan kebahagiaan adik , Rona . Raka bisa melakukan apa saja , asal orang terdekatnya bahagia


" kalo mau ikut ayo ! " hardik Raka dingin , kemudian menaiki helikopter dan Rio hanya menuruti saja . karena Rio tak ingin sahabatnya ini kenapa-napa nantinya .


Drrrttt


saat Raka ingin mematikan ponselnya , tiba saja ada pesan masuk . kemudian Raka memeriksa , setelah melihat ID pengiriman pesan yang ternyata sang istri . saat dia meriksa ponselnya , dia mendapatkan 20 panggil tak terjawab serta pesan singkat dari sang istri .


" Raka , istri kamu pingsan . sekarang nenek di rumah sakit bunda harapan "


setelah Raka membaca pesan singkat tersebut , dia kembali turun dari helikopter dan berlari kencang dengan terburu-buru . sedangkan Rio yang melihat Raka terburu-buru hanya bisa bernafas lega , setidaknya sahabatnya itu tidak kenapa-napa .


" kalian cari dulu Vero Arga Pratama , adik ipar bos kalian . harus dapat , jika belum dan sudah tetap hubungi saya atau bos kalian . mengerti ! " kata Rio dingin menatap 4 orang pria bergantian yang menggunakan jeket hitam di hadapannya


" ngerti pak " saut 4 pria itu hampir bersamaan


Rio pun menyusul sahabatnya dengan menggunakan mobil miliknya . sedangkan Raka marah pada dirinya yang melupakan tanggung jawab pada istri dan anaknya . karena terus memikirkan adiknya , namun apa daya dirinya . dia terikat janji dengan almarhum ke dua orang tuanya untuk selalu memberikan kebahagiaan pada adik-adiknya .


sesampainya di rumah sakit , Raka segera ke luar mobilnya dan kembali berlari secepat yang dia bisa menuju ruang rawat sang istri melalui pesan singkat sang nenek .


" mas Raka " panggil Anjani dengan senyuman melihat sang suami tercintanya sudah ada di hadapannya . namun , seketika dia kembali sedih mengingat nasib adik iparnya yang telah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri


" kamu kenapa ? apa yang sakit ? apa kata dokter ? mana Zara dan nenek ? " cecar Raka setelah menstabilkan pernafasannya yang sesak akibat berlari tadi


" aku baik mas , nenek dan Zara berada di ruang dokter Dewi " jawab Anjani dengan lembut


" dokter Dewi ? "


" iya mas "


" bukankah dokter Dewi adalah dokter kandungan . apa mungkin Anjani sedang hamil ? jika iya , aku harus merahasiakan soal Vero padanya . aku tak ingin dia dan calon anak ku kenapa-napa ? " dalam hati Raka dengan tetap menggenggam erat tangan kanan sang istri tercintanya dengan kedua tangannya


" mas , apa mas sudah mendapatkan kabar mengenai adik ipar ? " tanya Anjani pada akhirnya , membuat Raka bungkam seribu bahasa dan hanya menatap wajah sang istri . membuat Anjani mengerti , dia pun juga ikut diam , karena dia sangat mengenal sang suami tercintanya


selang berapa menit , nenek yang bergandengan tangan dengan Zara cucu perempuan bersamaan dengan dokter Dewi ikut memasuki ruang rawat Anjani .


" assalamualaikum " ucap nenek dan dokter Dewi


" wa'alaikumsalam " jawab Raka dan Anjani serentak


" pak Raka juga disini ? baguslah , saya bisa menyampaikan langsung kabar bahagia untuk pak Raka . selamat ya pak , istri bapak sedang mengandung yang usianya masih 4 Minggu " ujar dokter dengan dengan senyuman sumringahnya , sehingga kecantikan wajahnya terlihat sempurna


" makasih dok " jawab Raka tanpa menatap dokter Dewi , membuat Anjani hanya bisa tersenyum kecut . merasa tak enak hati dengan dokter Dewi , kerena sikap sang suami . namun , dia juga senang , sang suami tak melirik wanita lain selain dirinya


" makasih mas , mas memang setia . aku tak salah memilih mu menjadi pendamping ku seumur hidupku " dalam hati Anjani


" ya Allah , terima kasih kau telah mengabulkan keinginan hamba . hamba akan menjaga anak hamba dengan jiwa raga hamba " dalam hati Raka , tanpa terasa air menetes . kemudian dia memeluk sang istri dengan erat


Anjani yang tiba saja mendapatkan pelukan dari sang suami hanya tersenyum dan membalas pelukannya . tanpa memikirkan orang yang berada di dekat mereka yang sedang menatap mereka dengan senyuman senang yang ikut merasa senang dengan kabar yang di miliki oleh Anjani yang sedang mengandung .


di tempat lain , mama tetap menangis di tambah mendengar kabar dara papa . sedangkan Rona belum tau apa pun , hanya bisa berdoa dalam sujudnya kepada Tuhannya , sang pencipta langit dan bumi . minta pertolongan dan perlindungan dengan berlinang air mata untuk sang suami yang masih jauh darinya dan juga belum memberikan kabar .


setelah melakukan shalat isya , membaca ayat Al-Qur'an kemudian Rona kembali berbaring di atas ranjang untuk beristirahat . berharap hari esok dia akan mendapatkan kabar dari sang suami dan rasa cemas serta khawatir bisa hilang dari beban hatinya yang sejak tadi tak merasa tenang sama sekali membuatnya hanya memperbanyak berdoa untuk suami tercintanya .


...Bersambung...