
" kita ke mall aja yok ! Main tenzone gitu atau nonton film bioskop " usul Mila tatapan berbinar-binar bahagia dengan ide nya sendiri
" Ayok ! " serentak Dina dan Gita
Saat ini Dina dan kedua sahabatnya sedang berada di dalam mobil milik Dina. Mereka sudah bosan berada di restoran , sehingga kini mereka berencana ke mall mengikuti usulan Mila yang ada bagusnya. Karena terkadang mereka jarang bisa bertemu. Jadi bila bertemu , mereka bertiga akan menghabiskan waktu selama setengah hari. Seperti saat ini , dari pagi menjemput siang dan kini siang akan menjemput sore.
Dina telah menghentikan mobilnya di perkiraan mall. Kemudian Dina dan kedua sahabatnya sudah turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam mall.
" jadi kita ngapain dulu ni ? " tanya Gita ketika sudah memasuki mall bersama kedua sahabatnya
" main tenzone ! " seru Mila
" aku terserah kalian aja de " sahut Dina
" Mil ? Serius ni main tenzone dulu ? " tanya Gita lagi memastikan pada sahabatnya yang terkadang bertingkah seperti anak kecil
" emang Lo mau apa ? Nonton film ? " tanya Mila balik dengan wajah polosnya
" ko balik nanya si Mil. Harusnya Lo jawab dong " ketus Gita gemas pada sahabatnya
" okay. Fix ! Kita nonton film dulu dan setelah itu main tenzone " sahut Dina melerai perdebatan sahabatnya
" setuju ! " seru Gita dan Mila hampir bersamaan
Dina hanya tersenyum melihat sahabatnya tersenyum padanya dengan menyetujui sarannya. Kini mereka pun langsung membeli tiket nonton film barat romantis dan film itu atas ke inginan sahabat Dina. Sedangkan Dina sempat menolak dan kini terpaksa harus pasrah mengikuti pilihan film sahabatnya.
" kenapa harus yang film barat si ? Harusnya Indonesia keh atau India gitu " Gerutu Dina kesal
" biarin ngapa. Mana tau kamu bisa belajar Din " sahut Gita sambil mengedipkan matanya pada Dina kesal
" belajar ? Di sekolah belajar Git. Di sini tu cari hiburan dan happy. Bukan belajar " timbal Mila dengan wajah polosnya
" Mila ! Gue tau disini tu cari happy dan memang bukan belajar. Maksud gue tu si Dina biar bisa belajar yang ada di bagian... " jelas Gita terpotong oleh suara Dina
" uda. Ayok masuk " sahut Dina memotong penjelasan Gita yang kini telah menatapnya dengan senyuman penuh arti dan Dina tak ambil pusing dengan apa yang di pikirkan oleh sahabatnya
Dina dan ke dua sahabatnya memasuki sebuah ruangan yang terlihat gelap serta ada banyaknya kursi yang berjejeran dengan di hadapankan pada layar putih yang sangat lebar. Dina dan ke dua sahabatnya duduk di barisan E. Kemudian mereka menunggu film yang tinggal 5 menit lagi akan berlangsung.
" gelap banget. Kalo ada yang pacaran... Pasti berbuat aneh ni " kata Gita tiba saja
" emang uda pernah lihat ? " tanya Dina dengan nada meledek sambil menatap sahabatnya di sampingnya
" enggak pernah si aku hanya nebak aja " jawab Gita di susul dengan tawa garing
" aku pernah lihat " sahut Mila sambil memajukan kepalanya untuk bisa menatap ke dua sahabatnya
" kapan ? " tanya Dina dan Gita bersamaan dengan nada sedikit terkejut
" barusan. Tu di belakang " jawab Mila dengan polosnya menunjukkan dengan ekor matanya
Dina dan Gita yang penasaran pun menoleh kepala mereka dengan perlahan. Sampai akhirnya mereka dapat melihat jelas ada dua orang yang berbeda jenis sedang bercumbu dengan adu mulut dan spontan Dina langsung membalikkan kepalanya dengan di ikuti Gita di sampingnya.
" Lo benar Git " ucap Dina pada akhirnya dengan tatapan tak percaya dengan apa yang di liatnya barusan
" padahal gue cuma nebak doang dan ternyata memang benar adanya " kata Gita yang juga tak menduga dengan yang dia katakan ternyata benar
" uda. Sekarang nonton uda main tu ! " seru Mila yang sudah menatap layar lebar di depan sambil memakan potkor di tangannya
Dina dan ke dua sahabatnya pun menonton film yang sedang berlangsung. Di saat di bagian romantis yang berhubungan dengan ranjang atau juga yang sangat intim , Dina sekali-kali menutup wajahnya dan terkadang mengintip di sela jemarinya. Sedangkan ke dua sahabatnya nampak sangat menikmati film barat dengan mata yang terbuka sempurna.
" gue keluar aja. Gak tahan sama film " kata Dina tiba saja dan langsung berdiri dari duduknya. Namun , terhenti karena tangannya yang di tarik oleh ke dua sahabatnya yang dari sisi kanan dan kiri
" pelajari Dina ku tersayang " goda Gita dengan mengelus kulit putih tangan Dina dan Dina semakin memegang akibat ulah sahabatnya yang sengaja menggodanya
" betul tu kata Gita , nikmati saja filmnya " sahut Mila yang juga ikut menggoda Dina
Ketiga wanita yang bersahabat , berbicara dengan nada pelan agar tidak mengganggu orang lain yang juga menonton film barat di layar lebar depan mereka. Dina pun pasrah mengikuti perkataan sahabatnya untuk tetap menonton kelanjutan film yang masih berlangsung di layar lebar hadapannya . Dina kini sudah menegang dan bahkan dia sudah berkhayal untuk melakukannya dengan suaminya.
" kenapa pikiran ku jadi kotor gini si. Dina.... Sadar ! Jangan berpikir negatif gitu dong ! " Gerutu Dina dalam hati dengan masih mengintip di sela jemarinya
Selang berapa jam , akhirnya film barat itu pun berakhir dan dengan senang hati Dina langsung berjalan terburu-buru keluar dari ruangan gelap serta di ikuti oleh kedua sahabatnya yang berjalan di belakangnya.
" ini yang terakhir ! Gue... Gue gak mau lagi nonton film itu. Nyisak bangat " ketus Dina ke pada sahabatnya yang sudah berdiri di kanan kirinya
" ko Nyisak si Din ? Bukanya bagus ya buat Lo ? " sahut Gita dengan bertanya tapi masih menampilkan senyum menggoda pada sahabatnya
" gue lagi dapet dan bagus dari mananya ? Ah ? "
" o... Berarti kalo belum dapet , pasti Lo... "
" pastinya itu Gita " timbal Mila memotong perkataan Gita dan Dina semakin tak tahan dengan perasaan yang ada padanya
" by " ucap Dina langsung melangkah maju kakinya
" mau kemana ? " tanya Mila dengan mengerutkan keningnya menatap punggung sahabatnya
" toilet " ketus Dina yang sangat kesal dan kedua sahabatnya hanya terkekeh geli mendengar jawaban sahabatnya yang di landa kesal di campur perasaan aneh lainnya
Dina pergi ke toilet yang tidak jauh dari tempat bioskop dan tentunya kedua sahabatnya mengikuti dirinya dengan tetap meledek dan terkekeh melihat sahabatnya yang masih kesal pada mereka.
" uda belum Din ? Lama banget ! Ngapain si ? " ujar Gita yang sudah bertanya berulang kali. Namun tak ada jawaban dari dalam toilet yang di tempat oleh Dina
" di luar makanya Mila ! Ini kamar mandi dan suka gue mau ribut apa enggak. Kan mulut gue " ketus Gita
Mila pun keluar dari toilet untuk melanjutkan telponnya dengan orang seberang telpon. Sedangkan Dina keluar ketika beberapa menit lamanya yang sudah membuat Gita sangat kesal dengan ulah ke dua sahabatnya yang sibuk sendiri dengan urusan masing-masing.
" uda , ayok keluar Git " kata Dina sambil menarik tangan kanan sahabatnya yang sudah cemberut kesal
Dina dapat melihat sahabatnya yang bernama Mila sedang telponan yang sedang bersandar pada pilar yang terbuat dari keramik. Kemudian dia pun mendekati sahabatnya itu dengan tetap menarik tangan Gita yang hanya diam di tarik olehnya.
" Mil ? Jadi gak ni mau tenzone ? " bisik Dina di telinga satunya dan Mila hanya mengagukkan kepalanya
Dina dan ke dua sahabatnya pergi menuju tempat bermain yang berada di tingkat ke tiga. Karena mall tempat keberadaan mereka memiliki empat tingkatan dan mengharuskan mereka menggunakan lift menuju kelantai tiga. Sesampainya di sana Dina dengan ke dua sahabatnya pun bermain macam permainan. Namun , ada sepasang mata yang terus mengawasi ketiga wanita yang masih sibuk bermain dan orang itu adalah seorang pria misterius dengan menggunakan topi biru dengan kemeja biru serta celana panjang hitam.
" Nyonya... Saya telah menemukannya " ujar pria yang masih memantau langkah Dina dan kedua sahabatnya
" tunggu saya datang ke sana dan jangan biarkan dia pergi sebelum ke datangan saya " ujar orang di seberang telpon
" baiklah Nyonya "
Tut
Telpon pun berakhir sepihak dari orang seberang yang di telpon oleh pria misterius. Kemudian pria itu melangkahkan kakinya mengikuti Dina dengan dia yang juga ikut pura bermain. Agar tidak di curigai orang lain dan teruma Dina serta kedua sahabatnya.
Sampai akhirnya menjelang sore Dina dan ke dua sahabatnya berpisah di depan mall. Karena Dina harus segera pulang ke rumah sebelum suaminya tiba di rumah. Namun , saat Dina menuruni tangga terakhir dia tanpa sengaja telah menabrak seorang tubuh seorang wanita tua kaya dan hal itu terlihat dari pakaian yang di pakainya.
" eh. Maaf nek saya tidak sengaja. Apa nenek baik-baik saja ? " tanya Dina sopan sambil membantu wanita tua di dekatnya untuk berdiri
" makasih ya cu dan nenek juga minta maaf. Maaf " ucap wanita tua yang kini telah berdiri di hadapan Dina
" tidak nek. Saya yang tadi tak hati-hati hingga menabrak nenek dan nenek tak perlu minta maaf. Harusnya saya yang minta maaf dan sekali lagi maafkan Dina ya nek " ujar Dina dengan lembut dan sopan. Membuat wanita tua pun tersenyum mendengar suara Dina yang begitu lembut dan sopan
" cu.. Apa kamu bisa ikut nenek ke rumah ? " tanya wanita tua dengan senyuman yang terukir di wajahnya sudah terlihat keriput
Dina terdiam menatap mata wanita tua di depannya yang seakan menyimpan kerinduan dan luka serta rasa bersalah. Namun , Dina menyimpan sebuah keraguan untuk menyetujui keinginan wanita tua di depannya.
" maaf nek. Dina harus segera pulang , karena suami Dina sudah menunggu di rumah " tutur Dina lembut menolak halus permintaan wanita tua di depannya
" baiklah. Tapi... Bolehkah nenek memeluk mu cu ? Nenek sangat merindukan cucu nenek... Bolehkah ? " kata wanita tua dengan tatapan penuh harap , membuat hati nurani Dina merasa tidak tega jika menolak
" kemarilah nenek. Dina mau ko di peluk nenek " jawab Dina dengan senyuman dan membuat wanita tua di depannya langsung memeluk dirinya
Wanita tua pun memeluk Dina dengan sangat erat seakan tak ingin melepaskan tubuh wanita muda yang ada dalam dekapannya. Sedangkan Dina dapat merasakan jika wanita tua yang memeluk dirinya saat ini. Kini telah menangis , karena dia dapat merasakan punggungnya terasa basah serta punggung wanita tua bergetar karena tangisnya.
" nak... Mama sudah menemukannya dan kamu tenang saja di sana. Mama akan mempersatukan keluarga kita lagi seperti yang kami inginkan " dalam hati wanita tua yang masih mendekap erat tubuh Dina
" kasian sekali nenek ini yang begitu sangat merindukan cucunya. Emang cucunya kemana ? Apa aku tanyakan saja ? Atau aku turuti saja keinginan tadi? Tapi... Mas Diyan pasti akan marah jika aku belum berada di rumah " dalam hati Dina yang merasa sakit mendengar tangis wanita tua yang masih mendekapnya
Beberapa menit kemudian pun wanita tua melepaskan pelukannya terhadap Dina dengan sambil menghapus sisa air mata yang masih berlinang dari balik kaca matanya. Sehingga membuat penglihatannya seperti pudar karena tangisnya. Sedangkan Dina tak tau harus apa sekarang , karena dia tak punya pengalaman untuk menenangkan seseorang ketika menangis selain hanya memeluknya untuk menenangkannya.
Tring !
Suara ponsel berbunyi dan menandakan telpon yang ternyata itu ponsel Dina yang berbunyi. Dina pun langsung mencari ponselnya dalam tas dan ketika menemukannya serta sudah melihat layar ponselnya yang tertera " Mas Diyan. " membuat Dina langsung mengakat telponnya , karena kalo tak di angkat bisa sama hal pada malam itu akan terulang lagi.
" halo mas " sapa Dina lembut ketika sudah meletakkan benda pipinya di telinganya
" kamu diman Dina ? Aku sudah di rumah dan mana yang kamu bilang ! " sahut orang seberang telpon yang merupakan Diyan suaminya. Dina pun teringat dengan perkataan tadi pagi , bila dia akan pulang sebelum suaminya tiba di rumah
" maaf mas. Ini aku lagi di jalan dan bentar lagi sampai ko mas "
Tut !
Ponsel pun mati sepihak oleh Diyan , membuat Dina merasa was-was jika kejadian malam itu terulang lagi. Sedangkan wanita tua yang masih berdiri di depannya di lupakan karena suaminya sendiri.
" cu... Kamu pulanglah dan terima kasih sudah memberikan nenek pelukan " ujar wanita tua tiba saja. Sehingga Dina kembali menatap wanita tua yang masih berdiri di depannya
" o iya nenek. Kalo gitu Dina pamit dulu ya nek " sahut Dina sopan dan ingin melangkah pergi. Namun , terhenti ketika suara parau yang kembali terdengar di telinganya
" assalamualaikum " ucap wanita tua dengan tersenyum sambil menoleh menatap wajah Dina yang kini pendiri di sampingnya
" eh iya. Wa'alaikumsalam nek " jawab Dina tersenyum kikuk dan kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil di perkiraan
Dina terus melangkah dengan terburu-buru meninggalkan wanita tua yang masih berdiri di tempatnya. Sedangkan wanita tua terus menatap punggung Dina sampai hilang dari pandangan matanya dengan senyuman yang kembali terukir di wajah keriputnya. Sampai ketika seorang pria yang memantau Dina tadi datang menghampiri wanita tua.
" Nyonya " sapa pria dengan menunduk kepala dan seakan siap menerima printah berikutnya
" ikuti terus dan jangan kehilangan dia lagi " printah wanita tua dengan masih tersenyum menatap bayangan Dina
" baiklah Nyonya. Kalo begitu saya undur diri " ujarnya dengan patuh dan langsung melangkahkan pergi untuk melaksanakan tugasnya
Sedangkan wanita tua telah memasuki sebuah mobil yang tepat berhenti di depannya dan kemudian mobil hitam yang di tumpangi wanita tua pun melaju meninggalkan mall.
Sementara Dina sudah di landa ketakutan , takut oleh kemarahan suaminya. Kini Dina sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah. Sampai akhirnya mobilnya berhenti tepat di depan rumahnya , setelah beberapa menit melaju.
" apakah akan terjadi seperti malam itu lagi ? " tanya Dina dalam hati ketika memasuki pintu yang sudah terbuka yang seakan memang menunggu kehadirannya untuk datang
Dina terus melangkahkan kakinya dengan perlahan seperti seorang pencuri memasuki rumah. Sampai tiba-tiba dia sangat terkejut dengan sebuah tangan yang melingkar sempurna di pinggangnya.
" akhirnya kamu pulang juga sayang dan kamu harus di hukum " kata seorang pria yang terdengar menakutkan di telinga Dina dan pria itu tak lain adalah Diyan suaminya
...Bersambung...