
Sementara di tempat lain. Dalam sebuah ruangan yang terdapat ranjang dan di yakini bila ini adalah kamar dengan terlihat cat pada tembok yang berwarna biru muda dengan di dominasi cat putih. Di dalam kamar itu tepat pada jendela , duduk seorang wanita menatap pemandangan malam yang gelap gulita dengan tak adanya bintang maupun rembulan , hanyalah langit gelap.
Tatapan matanya yang hitam yang seakan mampu menenggelamkan yang nampak berkaca-kaca menatap di bawahnya pada teras depan rumahnya. Di Sana terlihat air kental berwarna merah berserah di lantai bawah sana dan sebuah pisau yang tak jauh dari letak air kental merah , yaitu darah.
Kini wanita itu telah meneteskan air matanya yang sejak tadi menganak sungai di kelopak matanya. Yang menyimpan dendam dan luka di dalamnya. Wanita itu hanya menangis tanpa suara , air matanya terus mengalir dan tak berhenti. Sampai terdengar suara berat pria yang penuh dengan aura yang menakutkan.
" Nak ... Kenapa kau masih di sana? Apa kau tak ingin menemui ibu mu itu? Apa kau perlu bantuan dari ayah mu ini "
Suara pria itu semakin mendekati wanita yang masih menangis dengan tanpa suara dengan tetap menatap kebawa di teras depan rumahnya. Pria yang merupakan ayah wanita yang dilanda kesedihan dengan apa yang di lihat secara nyata. Membuatnya menyimpan dendam dan luka pada pria paru baya yang merupakan ayahnya itu atau bukan ayah baginya , tapi seorang pembunuh ibundanya.
" Kenapa ? Kenapa kau membunuh ibu ku? Apa salahnya jika dia membawa ku berlibur ke kampung? " cecar wanita itu dengan rambutnya yang berantakan serta matanya yang kini menatap dengan penuh dendam dan rasa takut saat melihat darah kental menetes dari tangan kanan pria yang ada di depannya, pria yang telah membunuh ibundanya hanya karena masalah kecil
" Kenapa kau bilang ? Ha ! Dasar anak bodoh ! Apa kau tak melihat ? Di sana ibu mu bertemu dengan kekasihnya dan berlibur itu... Bullsit ! " hardiknya tajam dengan kemudian membuang salivanya dengan kasar ke samping " di sana dia ingin bersenang-senang ! Dan jika kau ingin tiada seperti ibu mu itu ! Ayo ! Aku akan wujudkan ! " hardiknya pria yang terlibat seperti psikopat dengan pakaiannya yang hampir semuanya ada darah
" aku.. Aku ingin hidup " sahut wanita itu pelan dengan perlahan dia menunduk kepalanya
" dan dengan hidup aku bisa membunuh mu dengan yang sama seperti kau membunuh ibu ku " umpatnya dalam hati dengan tatapan penuh dendam menatap lantai
" o kau ingin hidup ! Baiklah. Tapi aku punya syarat untuk hidup mu ! "
" apa ? "
" kau harus bisa merebut hati Vero Arga Pratama "
Mendengar hal itu. Wanita langsung menegakkan kepalanya , menatap wajah yang tersenyum licik padanya. Dia hanya diam , dia tak tau harus berkata apa. Selain hanya membisu dengan bibir yang tertutup rapat dan air matanya yang mulai mengering.
" apa kau sanggup anak ku Bella Angelina Wirajaya ! " seru sang psikopat dengan tajam dan dingin melihat wanita yang merupakan anak perempuannya hanya diam menatapnya
" a.. Pa ti..dak ada pilihan lain ? " tanya wanita itu yang bernama Bella
" tidak ada. Itu pilihan mudah yang ku berikan dan kau harus bisa mendapatkan hatinya. Jika kau tak bisa ? Maka nyawa adik mu selanjutnya ! "
Setelah mengatakan itu dengan penuh penekanan dan tajam. Pria yang merupakan ayah Bella dan sang psikopat , pergi begitu saja meninggal kamar anak perempuannya yang masih terus menatap kepergiannya.
" bagaimana mungkin aku bisa merebut hati Vero ? Dia.. Dia suami Rona , sahabat ku sendiri. Walau... Dulu aku memang ingin mendapatkannya , tapi aku sadar ! Itu sungguh tidak mungkin ! " ujar Bella pada dirinya sendiri
Bella sejak dulu memang menginginkan Vero yang sudah merupakan kekasih dan sudah menjadi suami dari sahabatnya sendiri. Namun , dia juga tak mungkin membiarkan nyawa adiknya dalam bahaya. Karena ibunya yang sudah tiada yang terbunuh oleh ayahnya sudah menjadi bukti. Jika ayahnya tidak main-main dengan perkataannya. Apa lagi ayahnya sangat menjunjung tinggi dengan yang namanya kekuasaan dalam dunia bisnis. Ayahnya yang seorang pengusaha yang sangat menginginkan seseorang untuk membantunya dalam mengembangkan perusahaannya.
" aku harus bisa menyelamatkan adik ku dan hanya dia yang ku sayangi. Tapi... Tapi aku harus minta bantuan siapa ? Apa aku harus memberitahukan ini pada sahabat ku yang lain ? Ya.. Tuhan kenapa hari ini menjadi seperti neraka ! " tutur Bella dengan ke bimbangan di hatinya menghadapi ke ingin dari ayahnya yang terlihat seperti psikopat
Bella pun terpaksa memilih kabur dengan sebuah rencana dari tahanan ayahnya. Serta dia harus bisa membawa adiknya bersama dirinya. Namun , dia juga ragu dengan rencana yang akan dia buat sendiri.
" aku harus mencobanya. Jika tak bisa... Mungkin aku harus rela tiada. Asal adik ku selamat terlebih dulu " putus ya dengan yakin dalam rencana yang dia buat serta rela jika gagal
Bella langsung mengunci pintunya dan kemudian mencari ponselnya yang entah berada di mana. Dia ingin memberitahukan adiknya untuk menginap di rumah temannya saja dan jangan pulang sebelum dirinya menemui adiknya. Dengan bersamaan Bella menelepon adiknya , air dari langit pun turun dengan rintih-rintih dan perlahan semakin deras .
" tapi ada apa kak ? Apa semuanya baik-baik saja ? Tak ada masalahkan di rumah ? " cecar sang adik di seberang telepon
" turuti saja kata kak. Jika kita dapat bertemu , kakak akan langsung memberitahukan mu. Tapi ingat ! Jangan pulang ke rumah sebelum kakak datang ! "
" kak..."
" yakinlah ! Kakak baik-baik saja dan kamu tetap di tempat teman mu. Serta ponsel mu matikan saja dan jangan menghidupkannya "
" kenapa kak ? Kenapa aku harus mematikan pon... "
" turuti saja Alvin. Kakak mohon ! "
" baiklah kak. Tapi kakak jangan lama ya dan datang langsung menjemput ku "
" iya Alvin. Pasti ! Kakak akan segera menjemput mu dan kalo gitu kamu tidurlah dan juga untuk sementara waktu kamu jangan pergi kampus dulu "
" baiklah. Aku akan turuti kemauan kakak "
" bagus ! dan bilang pada teman-teman untuk jangan kasih tau keberadaan mu pada ayah atau siapa pun yang mencari mu. Kamu harus tetap di rumah teman mu "
" hah ! Kenapa emangnya kak ? Dan sebenarnya kakak menyembunyikan apa dari ku ? Kakak baik-baik aja kan... Dan ibu juga baik kan kak ? "
Bella yang mendengar suara terkejutan dan khawatir adiknya hanya bisa menghela nafas kasar. Dia harus bisa bersikap tenang untuk keselamatan adik tersayangnya. Jangan sampai adiknya tau dengan apa yang baru terjadi pada hari ini di rumahnya sendiri.
" kak... Kakak masih di sana kan ? Jawab aku kak ! "
" kak baik-baik saja dan ibu... Juga baik. Uda kamu tidurlah dan ingat pesan kakak tadi "
" emm kak akan segera datang menjemput mu dan sampai jumpa juga. Bermimpi indahlah adik ku tersayang... wa'alaikumsalam "
Tut!
Bella langsung mematikan ponsel setelah mengakhiri pembicaraan dengan adiknya yang bernama Alvin. Yang sedang menjalani pendidikan di universitas yang tidak terlalu jauh dari tempat rumahnya berada. Bella hanya bisa berpasrah diri pada takdir yang telah Tuhannya tulis dalam catatan hidupnya dan dia terus menyakinkan dirinya untuk tetap menjalankan rencana yang sudah dia pikir dengan matang.
Kemudian Bella kembali menatap pada teras rumahnya melalui jendela kamarnya. Di sana darah ibundanya sudah tersapu bersih oleh guyuran hujan yang melanda dengan derasnya pada malam gelap , malam yang tak terduga dengan yang terjadi pada hari ini dan mungkin dia tak akan bisa melupakan apa yang terjadi pada hari ini. Hari yang awalnya dengan ke gembira karena dapat berlibur ke kampung tempat ibundanya di besarkan dan berakhir pada hari yang akan menjelang malam. Melihat ibundanya tiada di tangan ayahnya sendiri , hanya karena ibundanya dekat dengan pria di kampung yang merupakan kekasih masa lalu ibundanya dan bisa di katakan jika pria di kampung itu hanya mantan.
" ibu... Aku mohon doa mu dan aku harap ibu dapat menolong ku untuk menjalankan rencana ku " tuturnya lembut menatap langit yang seakan ibundanya sudah pergi jauh di atas sana dengan matanya yang terus berlinangan air mata yang kembali jatuh bersamaan dengan deraian hujan yang membasahi tiada sudut kota
Bella tetap duduk dengan bersandar pada dinding sisi jendela kacanya dan mungkin malam ini di tidak akan bisa tidur . Karena dia memikirkan di mana ayahnya membawa tubuh ibundanya yang tak bernyawa serta dia juga tak bisa tidur juga karena bayangan kematian ibundanya yang begitu sadis dan mengerikan . Sedangkan di tempat lain. Seorang pria dewasa menatap kosong pada hujan yang turun dengan deras. Sampai sebuah tangan menepuk punggungnya , sehingga menyadarkannya dari lamunannya sendiri.
" Alvin ! Apa yang Lo pikirkan ? Apa terjadi sesuatu di rumah mu ? Sehingga Lo terlihat seperti orang bodoh menatap hujan " ujar seorang pria yang kini telah berdiri tepat di samping pria yang seumuran dengannya yang tak lain adalah Alvin , adik Bella
" entahlah Rendi. Aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Kak Bella menelepon ku , hanya untuk melarang ku untuk tidak dulu kuliah , ponsel ku harus mati , tinggal di sini sampai kakak ku datang menjemput ku dan yang piling anehnya lagi...kakak ku meminta untuk jangan sampai orang tau keberadaan ku terutama ayah ku tau di mana keberadaan ku. Aku sungguh bingung dengan permintaan kak Bella yang secara tiba-tiba begini " jelas Alvin pada pria di sampingnya yang bernama Rendi yang merupakan sahabatnya sejak SD.
" sudah turuti saja apa kata kakak mu itu dan aku akan beritahu pada teman kita yang lain untuk merahasiakan keberadaan mu dari siapa pun terutama ayah mu. Kamu kan tau... Ayah mu itu sangat... Ah entahlah dan kamu lebih tau ayah mu seperti apakan. Aku saja takut jika bertemu dengan ayah mu itu " tutur Rendi menyetujui permintaan Bella. Karena dia juga punya pemikiran yang sama dengan sahabatnya. Namun , dia memilih diam untuk kebaikan sahabatnya
Alvin yang mendengar penuturan sahabatnya hanya diam dengan tetap menatap pada jendela kaca di depannya yang memperlihatkan air yang berjatuhan terus menerus. Kini langit sedang menangisi duka yang ada di hati Bella dan mungkin jika Alvin tau , pasti Alvin yang akan lebih terluka. Karena dia sangat menyayangi ibundanya yang sangat memanjakan dirinya serta kakaknya yang selalu berusaha menuruti kemauannya dalam hal apa pun.
Rendi yang merupakan sahabatnya aja sangat jarang bertemu dengan ayahnya dan Rendi sudah bisa menyimpulkan sifat ayah sahabatnya yang seperti apa. Melalui aura yang keluar dari tubuh ayah Alvin dan Alvin hanya diam saja jika sesuatu sudah bersangkutan dengan ayahnya. Karena dia tidak menyukai sifat ayahnya yang seakan menyimpan jiwa psikopat di dalam tubuh ayahnya dan terkadang dia takut jika berhadapan dengan ayahnya yang sering sekali menatapnya dengan tajam dan dingin.
" pasti sesuatu telah terjadi. Tapi apa ? Apa mungkin sesuatu yang sangat besar atau... Ah sudahlah untuk apa aku memikirkan itu dan lebih baik aku membantu permintaan kak Bella " dalam hati Rendi
" sebenarnya apa yang terjadi di rumah ? Kenapa sejak tadi hati ku terasa sakit dan seakan ada yang hilang ? Tapi apa ? Ya Tuhan... Ya Allah semoga engkau menjauh ibunda dan kakak ku dari kemarahan ayah hamba...Semoga yang kak Bella katakan benar dan tidak sedang menyimpan sesuatu dari ku " dalam hati Alvin
Rendi kemudian meninggal sahabatnya yang masih berdiri menatap deraian hujan yang terus turun dengan sangat deras. Bahkan gemuruh langit terus terdengar serta kilatan petir di langit gelap atas sana. Selang berapa waktu Alvin pun melangkahkan kakinya mendekati ranjang sahabatnya yang di mana terlihat sahabat sudah tidur dengan posisi miring memeluk bantal guling. Alvin pun ikut berbaring di samping sahabatnya dengan perlahan memejamkan matanya dan berharap bermimpi indah.
Sementara di tempat lain. Rona sudah tertidur dengan tanpa menyadari kehadiran seseorang dengan pakaian serba hitam. Seperti sweeter yang membalut tubuhnya dan topi hitam yang bertengger di kepalanya serta masker yang menutupi mulut dan hidungnya.
" sayang... Aku merindukan mu " katanya dengan lembut kemudian dia berbaring di samping Rona dan memeluk tubuh Rona dari belakang dengan erat
Rona tidak terbangun dari tidur , tapi dia malah membalikkan tubuhnya dan langsung masuk dalam dekapan yang hangat serta nyaman. Sehingga dia tidur dengan memeluk tubuh yang kini juga memeluknya.
" luar biasa ! Kamu tidak terbangun sayang ? Baguslah. Setidaknya aku selamat dari kak Raka. Karena kamu tidak menjerit saat merasakan keberadaan seseorang di dekat mu " ujarnya dengan senyuman kemenangan
" Vero , suamiku tidurlah " sahut Rona tiba saja dengan mata terpejam sambil menelusukan kepalanya di dada bidang seseorang yang di yakini adalah Vero , suaminya
" dari mana kamu tau jika aku suami mu ? Apa kamu sejak tadi pura-pura tidur ? " tanyanya yang memang Vero dengan seketika dia melepaskan masker serta topi dan melemparkannya kebelakang
" aku terganggu saat kamu naik keranjang ku dan tak mungkin orang lain. Karena kamu pernah mencobanya " jawab Rona dan kemudian mendongakan kepalanya menatap wajah tampan suaminya
" ok. Sekarang tidurlah... Besok subuh aku baru pulang sebelum kak Raka tau aku di sini. Bisa-bisa hukuman ku bertambah " keluh Vero dengan wajah kesal sambil tangannya tetap mengelus rambut istri tercinta
" tapi... Aku... Ingin...ingin " ucap Rona terbata-bata untuk mengatakan keinginannya dan Vero langsung memotongnya
" kamu ingin apa ? Aku akan belikan dan sepertinya... Setiap kamu meminta sesuatu aku juga mau "
Rona yang mendengar itu membenarkan. Semenjak kehamilan yang ke dua ini , suaminya ikut ngindam dan sering jika dia mau sesuatu. Suaminya juga langsung menginginkan hal yang sama.
" ko diam ? Katakan kamu mau apa ? " tanya Vero dengan lembut sambil menatap netral mata istrinya
" diri mu " jawab Rona cepat dan Vero yang mendengar jawaban istrinya hanya tersenyum
" yakin ? Apa tidak ada yang lain sayang ? " tanya Vero dengan nada menggoda istrinya
Rona tidak menjawab. Mala dia langsung bertindak dan Vero dengan senang hati menurut kemauan istrinya. Dalam permainan ranjang ini tersimpan rindu dan saling sangat menginginkan. Karena semenjak kejadian pesawat itu , Rona sangat merindukan sentuh suaminya dan sama halnya dengan Vero yang sangat menginginkan istrinya untuk merasakan kehangatan dalam kenikmatan yang tiada tara.
Mereka pun terus bermain di atas ranjang dengan di temani dinginnya cuaca pada malam panas yang mereka lakukan serta gemuruh langit dan sembaran petir yang berbunyi. Membuat orang lain atau pun orang rumah , tak dapat mendengar lengguhan serta racauan kedua manusia yang sedang menikmati rasa dalam rindu. Rinda akan sentuhan dan rindu yang berkeinginan untuk menikmati surga dunia lagi dan lagi. Sampai akhirnya menjelang jam 1 dini hari dengan bersama hujan dan badai yang telah berhenti melanda kota , mereka berdua pun juga berhenti bermain olahraga ranjang yang sangat melelahkan dan kini tidur dengan berpelukan dalam tubuh polos dengan hanya di balut oleh selimut.
" tidurlah " ucap Vero dengan memeluk sang istri tercinta dan ibu dari anak-anaknya
" tapi kamu jangan pergi. Tetaplah di sini " pinta Rona dengan sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar suaminya
" aku tidak akan pergi "
Rona pun tertidur karena kelelahan dan Vero ikut memejamkan mata setelah membuat alaram di ponselnya. Agar mereka bisa bangun saat subuh nanti. Rona dan Vero pun sudah memasuki alam mimpi dengan berpelukan dalam saling memberikan kehangatan.
...Bersambung...