Rona

Rona
eps . 23 POV Revan



...*ku hanya ingin meraih mimpi...


...bukan mengejar cinta sejati...


...walau ku belum mengerti...


...maksud sang penulis takdir...


...tapi cinta sungguh menguji diri...


...~Revan Pra Sanjaya*~...


Revan telah kuliah Singapura , setelah tamat sekolah . Revan terkenal cowok dingin dan cuek seperti balok es batu , kecuali bila dia bersama keluarganya . dia akan bersikap jail dan homoris.


kini Revan melangkahkan kakinya menuju kampus di pagi yang begitu cerah . di temani hembusan angin dan sinarnya mentari pagi .


sesampainya di kampus , Revan sudah berjalan di koridor kampus sambil membaca pesan singkat dari Raka abangnya .


" kejadian apa lagi si ini ! kasian kak rona dan kak Vero yang terus-menerus di uji . tapi bang Raka tak ingin aku membantu , ahahhhh ya sudah semoga Allah SWT memberikan kebahagiaan setelah masalah ini " batin Revan


Revan terus berjalan menuju ruang kelasnya , namun Revan merasakan sesuatu yang aneh , Revan merasa ada seseorang yang sedang mengintainya . namun Revan pura-pura biasa saja dengan sikap khas dingin dan wajah datarnya menatap lurus kedepan sambil membawa rangsel si pundaknya .


" Revan " teriak seorang lelaki dari belakang Revan dengan lantang


Revan yang mendengar namanya di panggil oleh seseorang pun . menghentikan langkahnya , seketika ada tangan yang menepuk pundaknya .


" kamu sudah menyelesaikan tugas dari dosen killer itu belum " tanya laki-laki itu sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal


" hemnm"


" pinjam dong ? please " pinta lelaki itu


Revan tidak merespon , dia Mala melanjutkan langkahnya menuju kelas dan di ikuti oleh lelaki tadi di belakang Revan sambil mendengus .


" balok es balok es , kenapa gue bisa punya teman kayak dia si " gumam lelaki itu pelan menatap ke arah punggung Revan


sesampainya di kelas , Revan langsung menduduki bangkunya dan membuka rangselnya serta mengambil sebuah buku dan meletakkannya di meja . kemudian buku tersebut langsung di sambar oleh lelaki tadi .


selang waktu berlalu , kelas yang di tempati Revan sudah penuh dan dosen pun masuk dengan aura yang menakutkan menurut para mahasiswa di ruangan kelas . terkecuali Revan dia nampak biasa saja .


" akhirnya selesai juga , ni Van thanks you " ucap lelaki tadi memberikan kembali buku Revan dengan meletakkannya didepan Revan yang lelaki itu duduk di samping Revan


" hemnm "


dosen yang di takuti oleh para mahasiswa/mahasiswi itu . bernama Gervinho Mahendra dan para mahasiswa memanggilnya dosen killer atau dosen Ervin yang tampan . namun di takuti karena sikap dingin dan tegasnya . tapi dosen Ervin ini masih mudah , di karenakan umur 27 tahun dan belum menikah . banyak kaum hawa terpesona karena ketampanannya , namun juga takut karena sikapnya .


" apa semua sudah menyelesaikan tugas yang saya berikan " tanya dosen menatap kepada mahasiswa yang ada di ruangan


" sudah pak " jawab dengan serentak para mahasiswa sambil mengaguk singkat


" kalo begitu kumpulkan tugas kalian di atas meja saya " pinta dosen itu lagi


mereka semua pun nurut , namun ada yang kesulitan melangkah dengan gontai dan ada juga yang nebeng kepada temannya untuk di berikan pada dosen killer . sedangkan Revan orang pertama memberikan tugasnya di meja dosen , di karenakan bangkunya berada tepat di meja dosen .


setelah semua sudah memberikan , mereka pun duduk dengan diam tanpa ada yang sedikit pun bersuara . hingga ruangan itu nampa menyeramkan dan mencekam .


" baiklah , saya akan memberikan kalian tugas lagi . tugas kali ini di kerjakan secara berkelompok , 1 kelompok terdiri 2 orang . tugas kalian adalah mendeskripsikan pekerjaan orang lain " kata dosen memecahkan keheningan


" dan saya sudah memilih kelompok kalian masing-masing . Riski tolong kamu bacakan kertas ini " lanjutnya menatap seorang pria yang duduk di samping Revan


lelaki yang meminjam buku Revan tadi pun maju mendekati meja dosen dan mengambil secarik kertas HVS . kemudian membawakan dengan menghadap ke depan .


Riski pun membaca dengan lantang nama-nama kelompok temannya yang sekelas dengannya . setelah dia selesai membaca kelompok-kelompok tersebut . dia pun kemudian duduk kembali di samping Revan . sedangkan Revan berkelompok dengan seorang wanita cantik dan manis bernama adistiya Mahendra yang terkenal sedikit misterius .


" tugas kalian harus di kumpulkan 2 Minggu lagi , karena saya akan izin untuk beberapa hari " ujar dosen killer itu lagi


pelajaran pembahasan tentang tugas yang mereka berikan tadi pun dilakukan . hingga masa waktunya habis dan di lanjut dengan pelajaran berikutnya sampai masa kampus selesai di siang hari .


sedangkan Revan dia sudah melangkah kakinya keluar ruangan menuju gerbang kampus untuk kembali ke kosan . tanpa tau bila ada seorang wanita yang berusaha mengejarnya .


" Revan " pekik wanita itu


Revan pun berhenti dan menoleh menatap seorang wanita yang mendekat padanya .


" kita kerjakan tugasnya gimana " tanya wanita itu sambil gos-gosan mengatur napas


" kerjakan sendiri " jawab Revan dengan sikap dingin dan wajah datar tanpa ekspresi


" ah ! tapi dosen bilang harus ...."


belum selesai Adis melanjutkan kata-katanya , Revan sudah pergi begitu saja meninggalkannya Adis yang melihat itu hanya cemberut , karena dia juga tau bagaimana sikap dingin Revan yang sangat sulit untuk di dekati . namun mau gimana lagi , dia punya tugas yang harus di kerjakan secara berkelompok .


Adis pun kembali mengejar Revan , hingga sampai di depan rumah kosan Revan yang memang berdekatan dengan kampus .


" Revan gak boleh gitu dong , ini dosen yang minta kita kelompok . gue gak mau kena hukum , ayo dong " bujuk Adis yang tiba-tiba berdiri di depan Revan


Revan yang melihat Adis berdiri di depannya nampak terkejut . karena tidak ada orang yang mau mendekat padanya kecuali Riski teman SMA nya . semenjak Revan sudah memutuskan untuk kuliah di Singapura , dia memutuskan untuk bersikap dingin dan cuek terhadap orang lain . agar dia bisa fokus pada pendidikannya .


" biarin , emang apa untung buat gue " ujar Revan tanpa menatap Adis di depannya


" tentu saja ada untungnya Revan " jawab Adis yang mulai kesal menatap wajah Revan


" rumah Lo dimana " tanya Revan menatap Adis dengan wajah datarnya


" buat apa " tanya Adis balik sambil mengernyitkan dahinya


" tugas kelompok " jawab Revan


" OOO berikan handphone Lo " pinta Adis sambil mengulurkan tangannya di depannya revan seperti meminta


" untuk " tanya Revan


" gue mau kasih nomor hp gue , biar bisa menghubungi Lo bila ada perlu soal tugas " jelas Adis menjawab pertanyaan Revan


Revan pun memberikan hp nya yang ada di saku celananya pada Adis , walau pun Revan sempat tak ingin . namun , karena menyakut tugas kelompok , dia dengan terpaksa memberikan nomor dan menerima nomor orang lain .


~triiing~ bunyi hp Adis


" ok , nomor gue Uda ada di hp Lo dan gue juga sudah dapat nomor Lo . gue sudah menghubungi nomor gue dari hp Lo , agar Lo bisa hubungi gue " jelas Adis sambil memegang ke dua hp di ke dua tangannya


tiba-tiba Revan mengambil salah satu hp dan masuk ke dalam kosannya begitu saja tanpa melihat hp yang mana yang dia ambil . Adis yang melihat itu nampak terkejut , karena Revan salah mengambil hpnya .


" Revan " teriak Adis di depan pintu


Revan yang sudah berada di kamar mandi setelah meletakkan barangnya di ranjang , dia tidak dapat mendengar suara Adis yang berteriak di depan pintu kosannya .


" Revan hp gue tu , woi hp kita ke tukar " teriak Adis sambil menggedor pintu


" he cantik , sama Abang aja " kata seorang lelaki yang tidak terlalu jauh dari posisi Adis


Adis yang mendengar itu , mendengus kesal . kemudian Adis menatap sinis ke arah lelaki yang mencoba menggoda dirinya .


" ogah " sarkas Adis


" jangan gitu dong sama Abang " kata lelaki itu lagi dan kemudian memegang pergelangan tangan Adis


Adis yang melihat si lelaki yang sudah mendekat dan menggenggam tangannya pun langsung memelintirnya dan membuat lelaki itu meringis kesakitan .


" ampun ampun dek "


" dek dek , gue bukan adek Lo . awas aja kalo Lo sempat berani menggoda wanita yang lain . Lo kira semua wanita di sini lemah . gak semua " ujar Adis panjang lebar dengan sangat kesal


Adis pun melepaskan lelaki itu dan pergi menjauh dari tempat kos-kosan Revan . sedangkan Revan dia baru selesai mandi dan langsung memakai baju . kemudian Revan mengambil hpnya yang ada di ranjang .


" lah ini bukan hp gue , hp gue dimana " tanya Revan pada diri sendiri yang merasa bingung


" o ya , pasti sama situ cewek " jawab Revan setelah mengingat kejadian sebelumnya


Revan pun mencari nomornya melalui hp Adis yang ada di tangannya , karena tertukar . namun , Revan tidak menemukan nama kontaknya . kemudian dia pun mencari nomornya yang sudah dia hafal. Revan pun langsung kesal , saat tau Adis membuat nama kontaknya Mr.Cold yang artinya Mr. dingin .


" enaknya , ngatai gue dingin . emang gue es apa , awas aja nanti " kata Revan menatap ke arah jendela dengan perasaan kesal


Revan pun menghubungi nomornya yang ada di tangan Adis dan dengan bersikap entengnya .


" hallo " jawab Adis di seberang sana


" kembalikan hp gue " kata Revan langsung pada intinya


" o Revan , besok gue kembalikan " jawab Adis


" sekarang " pinta Revan


" ya sudah ke rumah gue "


mendengar itu Revan berpikir menimbang apa yang di katakan Adis .


" kirim alamatnya "


~tutt~


Revan pun langsung mengakhiri telponnya bersama Adis dan menunggu pesan . setelah Revan mendapatkan pesan tentang alamat Adis . dia pun bergegas bersiap-siap untuk mengambil hpnya kembali .


setelah Revan membaca pesan singkat alamat Adis , dia pun melaksanakan shalat ashar . setelah itu makan kemudian dia berangkat menggunakan motor ninja hijau yang sengaja di beli di hari ke tiga dia di Singapura .


dalam perjalanan Revan tetap fokus mengemudi motornya , dia pun tak menyaka bila alamat Adis cukup jauh dari kos-kosannya . hingga Maghrib tiba dan di karenakan macet dia pun memilih berhenti sebentar untuk shalat di mesjid . kemudian melanjutkan perjalanannya lagi menuju rumah Adis , setelah selesai shalat .


selang 10 menit di baru sampai di depan rumah Adis dengan mengikuti alamat melalui google maph . rumah Adis terlihat sedikit mewah , dengan cat warna putih dan ada juga bagian kuning emasnya dan memiliki pagar besi putih berkilau .


" keluar sekarang " ujar Revan mengmanggil Adis melalui telepon


" buat " tanya Adis di seberang telpon


" gue di depan " jawab Revan dengan kesal


~tutt~


telpon pun mati sepihak dari Adis , sedangkan Revan hanya terus merasa kesal . tak selang berapa lama , nampaklah seorang wanita dewasa keluar dari pintu rumah menuju pagar .


" gimana , enak gak perjalanannya " tanya Adis setelah membuka pagar rumahnya dan menatap Revan


" membosankan " jawab Revan


" ayo masuk " pinta Adis mempersilahkan Revan masuk


" tidak perlu "


Revan yang mendengar itu mengerutkan keningnya menatap Adis yang tertawa kecil .


" salah makan obat " tanya Revan


" gak "


" terus apa yang lucu "


Adis yang mendengar itu makin tertawa , karena dia merasa aneh dengan sikap dingin Revan terhadapnya .


" Uda Lo masuk aja , hp Lo ada di dalam " kata Adis setelah berhenti tertawa dan meninggalkan Revan yang mematung di depan pagar rumahnya


Revan pun masuk setelah sadar apa yang baru dia lakukan di depan Adis dan kemudian mengikuti Adis dari belakangnya memasuki rumah Adis dengan tidak lupa mengucapkan salam .


" duduk aja dulu " pinta Adis kepada Revan


Revan pun duduk di sofa ruang tamu yang berdekatan dengan pintu masuk . sedangkan Adis menaiki tangga menuju lantai atas dan memasuki salah satu ruangan yang dapat di yakini bila itu kamar Adis .


Revan sibuk memperhatikan setiap bingkai foto yang tergeletak di atas lemari kecil yang panjang itu dan bergantungan di dinding rumah . namun , ada satu bingkai foto yang membuat Revan berdiri dari duduknya .


" ini bukannya pak dosen killer , pak Gervinho Mahendra dan Adis dia juga ... jangan-jangan mereka bersaudara " kata Revan setelah mendekat dan berdiri di dekat foto seorang lelaki yang mengunakan setelan jas


" iya kami saudara dan kamu orang pertama yang tau . selamat "


mendengar suara itu , Revan melihat ke belakangnya dan rupanya Adis sudah berdiri di belakangnya dengan tersenyum menatapnya .


" sejak kapan Lo disitu " tanya Revan dengan wajah datarnya , walau di hatinya mulai merasa tidak nyaman


" sejak Lo berkata barusan " jawab Adis yang masih menatap wajah datar Revan


" terus , dimana pak Ervin " tanya Revan menatap Adis


" kamu lupa atau pura-pura lupa "


mendengar itu Revan kembali ke tempat duduknya tanpa sepatah kata lagi . sedangkan Adis hanya tersenyum melihat tingkah Revan yang sedikit berbeda dilihatnya .


" mana hp gue " tanya Adis kepada Revan yang duduk berhadapan dengan Revan berbatas meja


Revan pun memberikan hp Adis dengan meletakkannya di meja kayu coklat persegi yang berukuran sedang dengan di tengahnya terletak vas bunga kecil , sebagai hiasan di atas meja . sedangkan Adis juga melakukan hal yang sama dan setelahnya mereka diam selama 5 menit dalam keheningan .


" kalo gitu gue pulang " ujar Revan memecahkan keheningan


" gak makan dulu " tanya Adis


" emang di rumah ada siapa saja " tanya Revan balik menatap Adis


Adis pun kembali tersenyum menatap Revan , Revan yang ditatap merasa kesal sendiri menggerutuki diri sendiri .


" gue pulang saja " kata Revan kembali dingin


" temani gue makan , gue tau Lo belum makan malam dan tenang saja . gue di rumah cuma ada pembantu " ujar Adis dengan tersenyum kepada Revan


" baiklah "


mereka dua pun melangkahkan kakinya menuju meja ruangan untuk makan . Revan terus mengikuti langkah Adis dari belakang . sesampainya di sana , Revan sangat senang di dalam hati . karena makanan ke sukaannya ada di atas meja yang membuat perutnya merontak ingin minta segera diisi .


" silahkan duduk " ujar seorang pelayan


Revan pun duduk yang berhadapan dengan Adis dan itu membuat Adis sedikit merasa senang karena dia memiliki teman untuk makan malam


" nona kami akan ke dapur , bila nano membutuhkan sesuatu . nona bisa memanggil kami " ujar salah satu pelayan


" baiklah , kak " kata Adis dengan sopan


Revan yang melihat tingkah Adis tersenyum tanpa sadar . sedangkan para pelayan sudah pergi menuju dapur dan Adis menatap hidangan yang ada di meja . kemudian melihat Revan yang sedang menatapnya dengan tersenyum dan itu membuat Adis tersenyum juga .


" gue harap Lo tak akan tertarik dengan gue " ujar Adis yang masih menatap Revan


Revan pun tersadar dan langsung mengambil makanannya tanpa mempedulikan Adis yang sudah tersenyum dengan pipi yang merona . Adis pun juga mengambil makanannya dan mereka makan tanpa bersuara setelah mengucapkan doa dalam hati .


pelayan di rumah Adis ada 3 orang dan meja makannya berbentuk persegi yang lumayan lebar , sekitar 3 meter .


selesai makan Revan melangkahkan kakinya menuju ke sofa di ruang tamu , dia ingin menunggu Adis selesai makan . selang waktu beberapa menit Adis pun kembali duduk di tempatnya yang berhadapan dengan Revan .


" dimana orang tua Lo " tanya Revan menatap Adis setelah melihat Adis duduk di depannya


" mereka berada di luar negeri " jawab Adis seadanya kepada Revan


" emm gue pulang kalo gitu " ujar Revan " dan makasih soal makan malamnya " lanjutnya menatap Adis


" ya sama-sama , soal tugas kita . kapan kita kerjakan " tanya Adis menatap Revan


Revan menatap jam di pergelangan tangannya yang terlihat sudah jam 19 : 45 wib . sedangkan Adis terus memperhatikan Revan sambil mengernyitkan keningnya .


" kenapa " tanya Adis


" besok saja di kerjakan , pulang dari kampus . bagaimana " tanya Revan yang kembali menatap Adis


" ya sudah , gue si ok aja " jawab Adis setelah mendengus kesal


" boleh aku numpang shalat " tanya Revan menatap Adis


Adis yang mendengar itu nampak terkejut , sedangkan Revan menggerutuki dirinya lagi . karena Revan tau ini sudah sangat malam dan jadwal sholat isya sudah mendekati . dia hanya takut terlambat , di tambah lagi daerah ini cukup baru untuknya dan Revan juga tau mesjid sangat jauh dari sini .


" ya sudah , gue shalat di mesjid aja " ujar Revan meralat perkataannya sebelumnya


Adis yang melihat Revan telah berdiri langsung membuka mulutnya dan berkata .


" ikut dengan gue dan ... ajari gue shalat "


" Lo tak tau shalat " tanya Revan dengan perasaan terkejut dibalik wajah datarnya


" tau , cuma Uda lupa . bolehkan " jawab Adis dengan tersenyum kikuk


" ya sudah ayo " kata Revan setelah mendengus


Adis pun berjalan di depan Revan menuju salah satu ruangan di bawah tangga dengan pintu yang berwarna putih yang memiliki gantungan ketupat pada pintu sebagai tanda .


" ini ruang kamar tamu dan kamu bisa shalat di sini " ujar Adis setelah membuka pintu


Revan hanya manggut-manggut dan langsung memasuki ruangan itu . kemudian dia melihat Adis menutup pintunya dan itu membuat Revan terkejut dengan apa yang Adis lakukan .


" pintunya kenapa di tutup " tanya Revan


" biar gak ada yang ganggu " jawab Adis dengan polosnya yang tidak mengerti maksud Revan .


" buka saja " pinta Revan


" kenapa " tanya Adis yang masih memegang gagang pintu sambil mengernyitkan keningnya menatap Revan


" kamu gak pernah belajar agama ya " tanya Revan balik yang mulai merasa kesal dengan sikap polos Adis


" pernah , tapi gak banyak " jawab Adis polos


" dalam agama Islam , seorang wanita dan seorang pria tidak boleh berada dalam satu ruangan bila mereka belum menikah " jelas Revan " sekarang buka pintunya " lanjutnya menatap Adis


Adis yang mendengar itu cengo dan mencoba memcerna perkataan Revan . Revan yang melihat Adis hanya diam pun melangkahkan kakinya mendekati Adis dan kemudian memegang gagang pintu . Adis yang merasa tangannya di pegang oleh Revan dan dapat mencium maskulin Revan pun . langsung menjauh ke arah ranjang , Revan yang mengetahui itu . menggerutuki dirinya lagi karena tanpa sadar dia mendekati Adis karena kesal tadi .


Revan pun membuka pintu dengan lebar . sedangkan Adis terus memperhatikan aktivitas Revan yang melangkah menuju sebuah pintu di ruangan itu . Revan yang sudah membuka pintu tersebut dan mengetahui bila itu kamar mandi pun langsung masuk dan menutupnya.


setelah Revan selesai wudhu dan langsung keluar dari kamar mandi di kamar itu .


" gue harap Lo juga tidak lupa untuk berwudhu " ujar Revan yang berdiri di depan kamar mandi menatap Adis yang diam mematung


" tau ko , siapa bilang gak tau " kilah Adis setelah sadar dari lamunannya


Adis pun masuk kamar mandi dan menutup pintunya . setelahnya Adis mengambil hp nya yang ada di saku celana jeansnya dan kemudian membuka google .


" o ...begitu cara wudhu " gumam Adis membawa tulisan kecil di hp nya


Adis pun meletakkan hpnya bersandar pada cermin di wastafel dan mengikuti tulisan yang ada di hp nya. sedangkan Revan duduk di sisi ranjang yang mulai bosan menunggu Adis . selang 3 menit Adis pun keluar dan kemudian menuju lemari yang ada di samping pintu kamar mandi . Adis mengambil sebuah kain putih untuk dia pake shalat dan sebuah sarung .


" ini pakelah " ujar Adis memberikan sarung kepada Revan


Revan yang sudah merasa kesal dan beristighfar pun langsung mengambil sarung yang di berikan Adis . kemudian mereka pun melangkahkan shalat isya , setelah Adis meletakkan 2 sajadah di lantai .


Revan pun melakukan shalat dan membawa tiap-tiap ayat yang dapat di dengar Adis dan Adis mengikuti apa yang Revan ucapkan serta dilakukan . setelah mereka melaksanakan shalat isya , Revan pun langsung membantu Adis melipat sajadah serta sarung yang dia pake . setelahnya Adis menyimpan kembali ke lemari dan kemudian mereka berdua menuju pintu masuk .


" lebih baik gue pulang , ini sudah sangat malam " ujar Revan menatap Adis


" ya , terima kasih untuk malam ini " kata Adis dengan menunduk kepalanya yang tidak berani menatap Revan


" buat apa " tanya Revan dengan senyuman menatap Adis yang sedang malu


" Uda ngajari gue shalat dan Nemani gue makan tadi , sekali makasih " jawab Adis menegakan kepala menatap wajah Revan


" emm sama-sama , besok gue kesini lagi " ujar Revan dengan senyuman


Adis yang melihat senyum Revan pun merasa hangat di hatinya dan dia pun juga membalas senyuman Revan dengan pipi yang sudah memanas karena malu .


" assalamualaikum " ucap Revan sambil mengusap lembut kepala Adis


" wa'alaikumsalam " kata Adis yang merasa terkejut dengan perlakuan Revan


Revan pun melangkahkan kakinya menuju motornya sambil memarahi diri sendiri dalam hati , karena tingkah bodohnya tadi yang tanpa dia sadari tangannya mengusap kepala Adis .


" kenapa aku bisa melakukan itu padanya " batin Revan


" apa yang terjadi pada hati dan jantung ku . kenapa jantung ku berdegup begitu cepat tadi " batin Adis yang masih menatap Revan


Revan pun menyalahkan motornya dan langsung menyalakannya menuju kos-kosannya . sedangkan Adis baru menutup pintunya saat Revan sudah pergi . Adis terus tersenyum sampai menuju kamarnya , sedangkan Revan juga merasa senang .


" ku harap hari esok adalah hari yang lebih menyenangkan " gumam Adis yang berbaring telentang di ranjang


Adis sudah ada di kamarnya dengan pintu yang sudah dia tutup , hingga selang berapa waktu dia pun terlelap tidur . sedangkan Revan baru sampai di tempat kos-kosannya di karenakan jalanan sepi di karenakan sudah begitu malam . Revan pun memarkirkan motornya di dinding depan kosannya .


Revan langsung membuka pintu kosannya dan tak lupa menutup serta menguncinya . kemudian di berbaring di ranjangnya dengan telentang menatap langit kamar .


" semoga hari esok , adalah hari yang indah " ujar Revan dengan senyuman


Revan pun tertidur memasuki alam mimpi dan Adis juga memasuki alam bermimpi .


...Bersambung ...