Rona

Rona
Eps. 89



Hari yang di nantikan pun tiba. Cuaca yang kala itu sangat cerah dengan sinar mentari di langit biru dan awan putih di atas sana. Rona yang saat ini sedang mengemas bajunya dalam koper dan tanpa menyadari kehadiran seorang pria yang melangkah dengan mengendap-endap di belakangnya.


" sayang " ucapnya dengan memeluk dari belakang tubuh wanita yang tidak lagi ramping karena perutnya yang membucit


" kapan kamu datang ? Di mana Kelin dan Juhan? Papa dan mama ? " cecar Rona dengan pertanyaan , yang terkejut dengan pelukan pria yang tiba saja muncul


" aku baru saja datang , Kelin , Juhan , papa dan mama di luar menunggu kita dan aku sangat merindukanmu ratu ku " jelas pria yang tak lain adalah sang suami, yaitu Vero. Vero sangat merindukan istrinya dan Rona sama halnya , juga merindukan suami tercintanya


Rona membalikkan tubuhnya dan menatap wajah suami tercintanya. Dengan juga memeluk tubuh tegap dan kekar suaminya serta menelusukan kepalanya di dada yang bidang membuatnya nyaman.


" apa sudah siap ? Apa perlu ku bantu ? " tanya Vero dengan lembut tanpa melepaskan dekapannya


" sudah ko. Sekarang bawah koper ku dulu sayang " sahut Rona, setelah melepaskan pelukannya yang kian melepas rindu


" baiklah ratu ku ! " seru Vero dengan senang hati


Rona dan Vero melangkah meninggalkan kamar. Setelah Rona pamit pada kamar ke sayangannya , yang sudah dia tempat selama seminggu ini. Sedangkan di depan pintu sudah tiba seorang wanita cantik dengan tas rangsel yang berada di punggungnya.


" assalamualaikum " ucapnya serta tak lupa senyuman yang terukir dengan manis di wajah cantiknya


" wa'alaikumsalam " sahut sang nenek yang kala itu melangkah keluar rumah


" Rona di mana nek ? " tanyanya pada nenek sambil menyalami tangan sang wanita tua yang merupakan nenek dari sahabatnya


" Bella masuk saja. Cucu nenek di kamarnya " jawab nenek dengan senyuman di wajah keriputnya


Wanita itu adalah Bella. Bella mengaguk dengan tersenyum melangkah masuk rumah. Sedangkan nenek melanjutkan langkahnya menuju mobil yang telah menantinya. Karena di dalam mobil sudah ada Raka, Anjani dan Zahra cucunya.


" Raka " panggil nenek ketika sudah duduk di kursi penumpang bersama cucunya di belakang


" iya nek " sahut Raka menatap kebelakang tempat keberadaan wanita tua yang merupakan neneknya


" Revan... Sudah di hubungin belum ? " tanya nenek


" sudah nek. Revan datang bersama adis dan mereka dalam perjalanan. Mungkin malam baru sampai nek " jelas Raka menjawab pertanyaan neneknya


Nenek pun diam , setelah mendengar jawaban dari cucu tertuanya. Karena dia sudah memiliki rencana yang mungkin akan sangat mengejutkan untuk cucu-cucunya. Sedangkan di tempat lain , Bella sudah berhadapan dengan Rona dan Vero yang baru keluar dari lift.


" Bella... Aku kira kamu tidak akan ikut " ucap Rona ketika melihat kehadiran sahabatnya yang sejak tadi dia tunggu - tunggu


" aku pasti datang dong ! Lagian... Tak mungkin aku menyianyiakan pertemuan dalam kebersamaan kita. Di Sana kita akan senang-senang ! " sahut Bella dengan wajahnya yang terlihat sangat bahagia


Seakan tidak ada beban dalam hidupnya. Padahal di dalam relung hatinya masih merasakan luka atas kematian ibundanya. Namun , dia harus menerima kebahagian dari sahabatnya , karena kebersamaannya nanti hanya akan menjadi kenangan dan entah mereka bisa bertemu lagi.


" kenapa dia bisa ikut ? Apa lagi rencana yang akan dia buat dengan ayahnya itu ? Aku harus lebih waspada dan mungkin saja dia ingin mencoba melukai istri atau ingin mendekati ku lagi " dalam hati Vero bertanya-tanya dan kemudian dia melangkah sambil tetap menggandeng tangan istrinya dengan erat , seakan tak membiarkan terlepas.


Rona pun mengikuti langkah suaminya membawanya keluar serta tak lupa Bella yang mengikuti di belakang mereka berdua. Sampainya di luar rumah , rupanya tinggal mobil Vero yang ada. Membuat Bumil cemberut dengan kesal karena di tinggalkan yang lainnya dan Vero menyimpan koper di bagasi belakang mobil.


" sayang... Ayo masuk. Kita uda di tinggal ni " kata Vero, saat sudah menutup bagasi mobilnya


" gendong " sahut Rona manja dan Vero pun menuruti keinginan istrinya


Sedangkan Bella diam mematung memerhatikan ke romantis suami istri di depannya. Dengan perasaan yang sedikit sakit hatinya dan iri melihat Vero yang begitu memanjakan istrinya yang merupakan sahabatnya.


" andaikan ada pria yang seperti Vero lagi... Pasti aku akan sangat bahagia dan aku berharap... Aku tidak mendapatkan pria seperti ayah " dalam hati Bella yang masih mematung diam melihat sahabatnya tengah di dudukan di dalam mobil dengan penuh perhatian


Setelah Vero mendudukkan istrinya di kursi depan , dia pun melangkah memutari mobil dan langsung masuk di tempat kemudi. Sedangkan Bella baru tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara sahabatnya yang memintanya untuk masuk dan duduk di kursi belakang.


Mobil pun berjalan membela jalan kota. Sampai selang beberapa menit , mobil berhenti di tempat yang terdapat helikopter yang beralaskan rumput hijau serta di temani semilir angin sejuk.


" kenapa naik helikopter ? " tanya Bella melongo melihat di depannya yang begitu banyak helikopter , ketika dia keluar dari mobil dan kakinya sudah memijaki rumput hijau


" aku sedang hamil... Jadinya menggunakannya helikopter. Walau sebenarnya lebih bagus menaiki mobil si , tapi... Apa boleh buat ? Ini atas ke inginan para suami " jelas Rona pada sahabatnya


" Ron. Andai aku seperti kamu... Yang hidup dengan kehadiran kakak, adik dan nenek. Tidak seperti ku... Punya ayah... Tapi menyakiti dari pada menyayangi ku " keluh Bella dengan matanya yang berkaca-kaca. Bella menegahkan kepalanya menatap ke atas untuk menahan air matanya yang ingin meluncur. Karena saat ini , tidak seharusnya dia berpikir begitu dan apa lagi mengatakannya


" kamu yang sabar Bel. Allah swt tidak akan mungkin memberikan sesuatu tanpa melebihi batas kemampuan hambanya dan kamu hanya harus menjalaninya dengan tabah dan ke ikhlasan. Lupakan hal-hal buruk dan kenang hal yang baik. Setelahnya... Banguanlah hidup mu dengan caranya. Jangan selalu terpuruk dalam luka dan kesedihan " tutur Rona dengan lembut sambil mengelus pundak sahabatnya dan Bella hanya mengaguk kepalanya dengan pelan


Bella membenarkan apa yang di katakan oleh sahabatnya. Dia harus bisa mengbangun kebahagiaannya sendiri dan tanpa harus terbelengguh dalam luka dan kesedihan di kehidupan yang dia jalani.


Rona dan Bella pun menghentikan pembicaraan mereka. Mereka berdua langsung mendekat pada helikopter dan terlihat Vero sudah duduk di depan. Di samping seorang pria dengan jeket coklat di yakini anak suruhan mereka dan itu artinya Rona dan Bella duduk di Belakang bersama.


Helikopter pun menyala dan mulai terangkat ke atas dengan terbang secara perlahan dan hati-hati. Hal itu atas perintah Vero terhadap pria di sampingnya. Rona , Vero dan Bella telah memakai sabu pengaman dan mata mereka sibuk menatap pemandangan dari bawah.


Sementara di tempat lain , sebuah pesta yang terlihat seperti acara pernikahan yang di hiasi pernah-pernih yang terlibat sederhana dan elegan . Serta kursi yang berjejer rapi menghadap pelaminan , dimana di sana sudah ada dua seorang pria tua dan di kanan kiri ada dua pria muda yang mungkin menjadi saksi.


" Basri... Apa kamu sudah hafal ijab kabulnya ? " tanya seorang pria paru baya yang merupakan papa Basri


" alhamdulillah pa. Sudah hafal ko " jawab Basri dengan senyuman senang. Karena hari ini dia akan menikah dengan wanita pujaannya


" baguslah. Kalo gitu papa akan melihat mu dari depan sana " ujar papa Basri dengan segera pamit meninggalkan anak sulungnya yang tak lama lagi akan memiliki tanggung jawab yang besar dalam hidupnya


Sedangkan di sebuah kamar seorang wanita yang sudah memakai kebaya pengantin warna putih serta make up yang menghiasi wajahnya. Kini sangat gugup dan gelisah , Karena sebentar lagi dia akan melepaskan masa kesendiriannya dan tiba hari ini dia akan segera menjadi istri seseorang pria yang sangat mencintai dirinya.


" Calista ! Selamat ! Hari ini kamu akan menikah ! " pelik seorang wanita dengan kebaya berwarna Pink yang melekat di tubuh rampingnha yang tiba saja memasuki pintu kamar pengantin wanita yang sedang gugup dan gelisah


" Lisa... Jangan teriak dong. Aku gugup ni... Bantuin " keluh wanita yang memakai baju kebaya pengantin yang tak lain adalah Calista


" gugup itu hal biasa dalam pernikahan. Kamu cukup tenang dan terima saja. Mungkin jika kamu melihat wajah pria yang bakal menjadi suami mu. Pasti ! Rasa gugup kamu akan hilang " tutur wanita yang tiba muncul tadi adalah Lisa yang kini memakai kebaya yang sama dengan Calista. Namun , warnanya berbeda


Hari ini adalah hari pernikahan Calista dan Basri. Lisa sengaja hadir , karena dia tak ingin melewatkan hari penting sahabatnya. Walau , dia sebenarnya masih menyimpan sedikit rasa untuk Basri. Pria yang akan menikah dengan sahabatnya , tapi dia bisa apa ? Jika takdir atau pun jodohnya selalu memberikannya rasa sakit. Karena sudah berulang kali dirinya menyukai atau mencintai pria yang sama dengan sahabatnya. Namun , Lisa lebih suka mengalah demi kebahagiaan sahabatnya.


" Lisa... Apa yang kamu pikirkan ? " tanya Calista pada sahabatnya yang tiba saja terdiam dan melamun. Ketika dirinya sejak tadi berbicara pada sahabatnya


" eh ! Aku hanya berpikir... Bagaimana kita bisa bersama seperti kemarin-kemarin ? Kamu akan menjadi istri pria lain dan mungkin... Kita akan sulit untuk bersama lagi " jelas Lisa, ketika sadar dari lamunannya


Calista langsung memeluk Lisa dan Lisa membalas pelukan sahabatnya dengan erat. Tanpa sadar air mata Calista luruh dan untungnya make up yang dia pakai tahan air. Karna MUA yang di sewa sangatlah mahal.


" kita pasti bisa bersama lagi kayak dulu. Aku akan berusaha meluangkan waktu ku untuk persahabatan kita " tutur lembut Calista dan melepaskan pelukannya


" benaran ya... Eh ! Kita ko melow gini si. Gak bagus untuk make up nya " kekeh Lisa sambil menghapus air matanya dengan tisu kering yang ada di meja rias


Calista juga menghapus air matanya dengan tisu kering secara perlahan dan benar saja make up yang dia pakai tidak luntur. Tiba saja mama Basri datang dan mendekati Calista yang akan menjadi menantunya.


" nak... Ayo ikut mama. Suami kamu sudah menunggu mu dipelaminan dan kamu masih ingatkan pesan mama tadi " ujar mama Basri dengan lembut dan Calista hanya mengaguk dengan senyuman


Kemudian mama Basri membawa Calista keluar dari kamar menuju ke pelaminan dan tentunya Lisa ikut dengan berdiri di sisi kiri sahabatnya. Sedangkan mama Basri di sisi kanan Calista.


Calista pun di dudukan di samping Basri. Kemudian sang penghulu menjabat tangan Basri , setelah kedua pengantin merasa siap untuk memulai ijab kabulnya. Basri pun mengungkapkan ijab kabulnya dalam satu kali mengucapkannya. Sampai akhirnya kata SAH terucap dengan serentak oleh tamu dan orang terdekatnya.


" Calista... Kamu sudah jadi istri ku dan aku sangat bahagia akan hal itu. Semoga kita selalu bersama sampai nafas lu berhenti , sampai azal ku menjemput ku pergi. Aku akan selalu mencintai mu sampai mati " dalam hati Basri tersenyum bahagia , sesudah mengecup kening wanita yang telah resmi menjadi istrinya


" Basri... Terima kasih telah hadir dalam hidup ku. Walau kamu sedikit terlambat datang pada ku... Tapi kini aku sangat bahagia. Andaikan... Kamu pria ke dua setelah papa ku dan bukan Vero. Namun... Jujur aku juga sangat bahagia. Mungkin kamu memang jodoh ku dan aku akan lebih belajar untuk mencintai mu. Walau masih ada sedikit ke raguan di hati ku " dalam hati Calista menatap mata pria yang telah resmi menjadi suaminya untuk selamanya


" Calista... Semoga dengan aku mengalah. Kamu benar-benar merasa bahagia dan ku harap dengan hadirnya Basri. Kamu tidak lagi bersedih dan kesepian lagi. Basri... Aku ingin kamu dan sahabat ku selalu bahagia dan aku juga berharap bila kalian berdua terus bersama selama-selamanya. Sampai maut menjemput dan sampai akhir hidup. Aku bahagia untuk kalian dan aku benar-benar sudah merelakan mu Basri dengan Calista sahabatku " dalam hati Lisa. Yang kini hatinya mencoba untuk menerima pernikahan sahabatnya dengan pria yang hatinya masih sedikit menyimpan perasaan. Namun , dia akan terus mencoba untuk menghilangkan rasa yang masih tersisa untuk pria yang sudah resmi menjadi suami dari sahabatnya


Calista dan Basri telah sah menjadi suami dan istri. Lisa yang kala itu duduk di kursi depan menatap dengan haru pernikahan sahabatnya dengan tanpa menyadari sepasang mata hitam yang sejak tadi menatap dirinya.


" hai cantik kita bertemu lagi " sapa pemilik sepasang mata itu adalah seorang pria yang sempat bertemu dengan Lisa di taman pada malam itu


Lisa mendelik dan langsung menoleh ke sampingnya. Setelah menghapus air matanya dengan tisu kering. Dia merasa sangat terkejut melihat kehadiran seseorang pria yang terasa tak asing. Tapi dia lupa bertemu dimana , sampai-sampai pria di sampingnya menyapa dirinya.


" kamu siapa ? Jangan coba kurang ajar pada ku ! " ketus Lisa dan langsung bangkit dari duduknya


" kamu tidak ingat aku. Kita pernah bertemu di taman malam itu " jawab pria itu dengan senyuman yang sangat jengkel di mata Lisa. Lisa sangat tidak menyukai pria yang ada di dekatnya dan bahkan dia tak mengingat siapa pria ini


Lisa pergi begitu saja , meninggalkan pria yang mengaku pernah bertemu dengannya. Sedangkan dia memang tidak mengingat pria itu , mungkin karena merasa tidak penting. Membuat Lisa lupa , dimana dia bertemu dengan pria yang dulu mencekal tangannya dengan erat serta dirinya dengan susah payah berhasil terlepas dari pria itu.


" aku sudah menemukan mu dan ku rasa tidak sulit lagi untuk ku bisa di dekat mu " dalam hati pria itu dengan senyuman kemenangan karena telah menemukan wanita pada malam di taman waktu itu. Walau dia masih belum tau siapa wanita itu , tapi dia sudah merasa tertarik pada wanita yang adalah Lisa.


Semua tamu undangan pun mengungkapkan selamat pada sepasang pengantin yang kini berdiri di pelaminan. Sedangkan Lisa berdiri di samping sahabatnya dan orang tua Basri berdiri di samping Basri. Menyalami para tamu undangan yang hanya di datangi oleh rekan perusahaan Calista dan para teman atau sahabat Basri serta Calista.


Siapa pria yang ingin mendekati Lisa ? Bagaimana Calista akan belajar untuk lebih mencintai pria yang telah resmi menjadi suaminya? Apakah Basri akan mewujudkan janji yang dia ucapkan?


Dan bagaimana cara Vero menghindari dan menjauhi Bella dari Rona ? Apakah Bella akan tetap pada pendiriannya ? Atau tetap akan berdiri atas printah ayahnya ? Serta rencana apa yang telah nenek buat untuk mengejutkan cucunya di puncak nanti ?


...Bersambung ...