Rona

Rona
eps . 76



sementara di tempat lain , seorang pria dengan jas putihnya keluar dari ruangan operasi dengan wajah lelahnya serta masker yang masih menutupi sebagian wajahnya . kemudian dia langsung melangkahkan memasuki ruangan khusus yang tertera nama tag di atas mejanya


" Dr. Diyan Fauziyah " .


" saatnya pulang , sungguh hari ini sangat melelahkan " ujar pria itu yang adalah Diyan , dokter spesialis jantung yang dulu pernah merawat Yanti


Diyan langsung merapikan perlengkapannya dengan memasukkan kedalam tas kerjanya , karena dirinya ingin pulang ke rumah . setelah selesai merapikan perlengkapannya , dia kemudian melangkahkan kakinya menuju lantai dasar dengan menggunakan lift rumah sakit .


kini Diyan telah berada di dalam mobil dan langsung menyalakan mobil untuk membelah jalan kota yang begitu gelap yang dirinya , yang hanya di temani oleh beberapa kendaraan lainnya serta gemerlap bintang dengan sinar rembulan malam .


triiinglyyy !


suara ponselnya berbunyi , menandakan telpon masuk . membuat Diyan terpaksa menghentikan mobilnya di pinggir jalan untuk dirinya dapat menerima telpon .


" halo " sapa Diyan setelah mengakat panggilan masuk dan meletakkan di daun telinganya


" assalamualaikum mas "


" wa'alaikumsalam Dina , ada apa ? "


" kapan mas pulang ? ini sudah sangat malam ?


" lagi di jalan , bentar lagi aku sampai "


" *syukurlah , aku tunggu ke pulangan mu mas "


Tut* !


sambungan telepon pun terputus sepihak oleh Diyan , kemudian dia kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah . selang beberapa menit , akhirnya Diyan menghentikan mobil di sebuah rumah minimalis dan Diyan langsung turun dari mobilnya .


belum sempat Diyan memegang gagang pintu , pintu telah terbuka dan memperlihatkan seorang wanita cantik dengan memakai baju tidur berwarna ungu dengan rambut yang di ikat seperti ekor kuda .


" assalamualaikum " ucap Diyan lesu


" wa'alaikumsalam mas , mas mandi saja dulu . aku sudah sediakan air hangat " ujar wanita itu dengan sambil mengambil tas kerja Diyan


Diyan hanya mengangguk , kemudian dia melangkah memasuki kamar dan langsung menuju kamar mandi . wanita itu hanya menghembuskan nafas melihat sikap Diyan yang cuek kepadanya .


" ini sudah 6 bulan , tapi dia masih saja bersikap begitu . aku harus berbuat apa lagi , aku sudah melakukan kewajiban sebagai seorang istri . tapi ... ah sudahlah " ujar wanita itu sambil menutup pintu rumah dan kemudian melangkah memasuki kamar


bersamaan dengan wanita itu masuk kamar , Diyan hampir selesai memakai bajunya . membuat wanita itu mematung di pintu melihat perut six pack Diyan yang walau pun hanya sekilas .


" hampir saja " dalam hati wanita itu


Diyan yang baru menyadari kehadiran wanita di dalam kamar yang sama Dengannya , tidak merasakan apa pun . dia hanya tetap bersikap cuek dengan keberadaan wanita .


" ngapain kau di situ ? " tanya Diyan santai dengan wajah datarnya


" a.ku ...eh maksudnya , makan malam untuk mas sudah siap " ujar wanita itu dengan gugup


Diyan kembali melangkahkan kakinya keluar kamar menuju meja makan yang berdekatan dengan dapur dengan di ikuti oleh wanita itu di belakangnya .


" mas ingin yang mana ? " tanya wanita pada Diyan yang sudah duduk di kursi


" terserah kamu saja " jawab Diyan datar


wanita itu pun menghidangkan makanan pada Diyan , setelah itu dia duduk di hadapan Diyan . membuat Diyan heran , karena hanya dirinya saja yang makan . sedangkan wanita di hadapannya ini hanya diam menatap dirinya .


" Dina... kau tak makan ? " tanya Diyan


" Uda makan ko mas , maaf . tadi aku tak menunggu mas makan , karena aku sudah sangat lapar " jawab wanita itu beralasan yang bernama Dina , Diyan kembali diam dengan melanjutkan makannya


" mas , aku mau minta izin untuk pergi dengan teman ku besok . apakah boleh ? "


" terserah "


" mas gak nanya kemana ? "


" terserah kamu mau kemana , tapi ingat . jangan membuat sesuatu yang mempermalukan keluarga " ketus Diyan , kemudian dia berdiri dan pergi meninggalkan makannya yang tinggal sedikit di meja makan


Dina yang mendengar hal itu , hanya bisa menghembuskan nafas lagi . kemudian dia berdiri dan membereskan meja makan , setelah selesai dia langsung menuju sebuah ruang yang berada di lantai bawah yang terlihat sebuah kamar . Dina jarang keluar rumah , karena terkadang dia merasa sukang untuk meminta izin pada suaminya .


Dina langsung membaringkan tubuhnya di ranjang king size yang berada di kamarnya . Diyan dan Dina menikah atas permintaan orang tua Diyan . karena Dina hanya seorang anak yang kehilangan orang tuanya sejak kecil dan Dina juga tak tahu siapa orang tuanya. kemudian dia bertemu dengan orang tua Diyan , dan setelah dewasa . Dina dan Diyan di nikahkan atas permintaan sang ayah , jelas saja saat itu Diyan tak setuju . tapi karena sang ayah yang meminta dengan tegas serta berupa ancaman , membuat dia mau menerima Dina sebagai istri . sedangkan Dina tak dapat menolah , karena dia punya hutang Budi terhadap orang tua Diyan yang telah merawatnya dan akhirnya dia setuju menikah dengan Diyan yang kini telah menjadi suaminya .


" sampai kapan aku dan dia harus begini ... rasanya aku sangat lelah , andai aku masih punya seseorang atau keluarga ku yang lainnya . pasti aku tak akan terjebak dalam hubungan ini , rasanya sungguh menyisak hati ku " gumam Dina sedih


" ko aku jadi lebay gini si ... enggak Dina . kamu harus kuat , jalani hidup ini dengan smelly " ujar Dina pada dirinya sendiri , sambil tangannya menghapus lelehan air yang mengalir di sudut matanya


perlahan Dina pun tertidur di dalam kamar yang berbeda dengan Diyan . Dina sebenarnya sangat ingin menjalin sebuah hubungan suami-istri seperti pada umumnya , tapi Diyan yang sudah merupakan suaminya . menolah akan hal itu , dan seperti sekarang , Dina dan Diyan tidur berbeda-beda ranjang dan kamar .


Dina hanya bisa berandai-andai untuk mengharapkan kebahagiaan yang lengkap bersama keluarganya . bersama orang-orang yang mencintai dirinya , tapi takdir selalu mempermainkannya dalam hidup yang dia jalani ini . dulu saat kecil , dia tak tau kemana arah dirinya melangkahkan sampai suatu ketika ada sebuah tangan yang menerima dirinya , yaitu ayah Diyan . ayah Diyan menjaganya dan membesarkan seperti anaknya sendiri . di saat itu Dina menemukan kebahagiaan yang dia inginkan . namun , ketika dewasa dia harus menerima kenyataan , yaitu menikah anak dari ayah yang menjaganya . sebenarnya saat itu dia ingin menolak menikah dengan Diyan , tapi karena mengingat balas Budi , membuat Dina mau menerima sebuah hubungan dalam ikatan suci di dalam pernikahan yang tidak pernah dia pikirkan .


Dina hanya memikirkan hidup bahagia dengan orang-orang yang mencintai dan menyayanginya . namun , takdir lagi-lagi memberikannya rasa kesepian di dalam hubungan yang tak di inginkan olehnya dan Diyan yang merupakan suaminya . Dina hanya bisa berlapang dada untuk menjalani pernikahan atau hubungan ini dengan yang yang mestinya , yaitu sebagai seorang istri .


kini matahari pun tiba di peraduannya , memancarkan sinarnya dengan sempurna . menebus jendela kaca , sehingga membangunkan Dina yang masih tertidur karena pancaran matahari yang menerpa wajah cantiknya , karena lelah dalam statusnya sekarang .


" hoah ... rasanya ingin tidur lagi , tapi aku harus memulai tugas ku lagi dan lagi . ayo semangat Dina , awali hari mu dengan senyuman " tutur Dina pada dirinya sendiri


Dina pun pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya , setelah selesai dia menuju dapur untuk membuat sarapan pagi dengan lihainya dia berkutat pada alat dan bahan dapur dan tak menunggu lama akhirnya sarapan pagi buatannya selesai . sedangkan Diyan sejak tadi sudah bangun dengan pakaian kerjanya , dia diam-diam memperhatikannya Dina yang sibuk di dapur dengan pakaian santai serta celemek yang melekat di tubuh Dina .


" kalo di perhatikan dia cantik juga " dalam hati Diyan , kemudian Diyan menggelengkan kepalanya karena mengatakan hal itu di dalam hatinya


Diyan tidak menjawab , tapi kakinya langsung melangkahkan menuju meja makan . sedangkan Dina sudah biasa dengan sikap datar dan dingin suaminya . bahkan kini dia langsung menghidangkan makanan untuk suaminya tanpa harus bertanya lagi . karena sarapan yang dia masak hanya nasi goreng kesukaan suaminya . setelah menghidangkan makanan untuk suaminya , baru Dina ikut makan di hadapannya suaminya dengan berbatas meja makan .


Diyan dan Dina makan dalam keheningan , sampai akhirnya Diyan selesai makan dia langsung bangkit dari duduknya . kemudian melangkahkan dengan membawa tas kerjanya , sedangkan Dina membiarkan Diyan pergi begitu saja tanpa ada ritual suami istri .


" bodo amat , selama ini juga gitu . dia bersikap begitu , aku pun juga bisa " dalam hati Dina yang kini masih sibuk dengan sarapan paginya


sementara Diyan bersikap cuek saja dan tak ambil pusing dengan paginya . dalam perjalanan menuju rumah sakit , Diyan hanya fokus menyetir mobil . sedangkan Dina baru selesai mencuci peralatan dapur yang kotor . setelahnya dia langsung bersiap-siap untuk melakukan rencananya pada hari ini .


" hari ini , aku akan happy . suami ... lupakan sementara dulu . mana tau ketemu yang lebih bisa mengerti ku ahahahhah " celoteh Dina dengan tawanya


Dina kemudian pergi meninggalkan rumah , karena di rumah ini hanya dia dan Diyan yang tinggal . tak ada pembantu , cuma terkadang ada tukang kebun yang datang tiap 3 kali dalam seminggu dan kalo satpam itu memang sudah ada untuk menjaga rumahnya .


Dina pergi dengan menggunakan mobilnya membela jalan kota yang terkenal padat . sampai akhirnya Dina menghentikan mobilnya di sebuah mall yang terkenal di kota .


" waktunya cari hiburan " seru Dina dalam hati , setelah keluar dari mobilnya


Dina memasuki mall tersebut dan melangkahkan kakinya memasuki sebuah tempat makan di dalam mall . Dina dapat melihat sudah ada temannya di sana yang menunggu , bahkan salah satu wanita yang duduk di kursi meja makan melambaikan tangannya pada Dina . membuat Dina mempercepat langkahnya untuk segera sampai pada temannya .


" sorry guys , gue terlambat " kata Dina sambil duduk dengan tak lupa senyuman manis di wajahnya sehingga memperlihatkan gigi putihnya


" No problem Dina ku " sahut temannya yang berambut pirang yang di gerai


" santay aja " timpal yang satunya lagi berambut hitam panjang tebal


" okay , rencana kita hari ini apa ? " tanya Dina


" happy-happy dong " jawab wanita yang berambut hitam panjang


" iya tau Mila Agnesia " serentak Dina dan wanita si rambut pirang . membuat wanita yang berambut hitam panjang yang bernama Mila cengengesan


" gue suntuk dirumah ni , jadi kita cari happy aja . jadi gimana kalo kita sopping " ujar wanita berambut pirang


" bosan Gita Wirjawan " serentak Dina dan Mila


" terus ? " tanya wanita pirang yang bernama Gita dengan menatap temannya secara bergantian


" pergi cluk aja " jawab Mila


" No , aku gak suka minuman di tambah lagi musiknya . bikin budak di kuping " sahut Dina kesal dengan saran temannya


" lah ... terus kita makan disini aja gitu ? gak kemana-mana ? " cecer Gita


" pusing ! terserah aja de . asalkan jangan yang ke cluk dan yang bikin pusing " ujar Dina


" okay ! " seru Mila dan Gita serentak


Mila dan Gita merupakan teman dan sahabat yang terbaik untuk Dina , karena mereka berteman sejak kuliah . sedangkan saat sekolah Dina berada di Bandung dan hanya kuliah Dina di Jakarta . kedua temannya ini sudah tau kehidupan Dina yang seperti apa , karena Dina butuh seseorang untuk mengeluarkan beban hatinya dan Dina hanya punya seorang teman atau sahabat . jadi mereka mengerti dan wajar bila mendengar perkataan Dina . apa lagi mereka juga kesal dan marah dengan sikap dingin dan cuek suami Dina . namun , mereka maklum saja , karena Dina dan Diyan nikah tidak karena cinta . tapi sebuah paksaan dari orang tua yang merawat Dina yang merupakan orang tua Diyan .


Dina dan kedua temannya sudah meninggal mall . namun , Dina tak menyadari bila ada sepasang mata yang mengitainya .


" bukankah itu Rona , tapi ... diakan lagi hamil . seharusnya perutnya sudah terlihat membesar , atau mungkin itu bukan Rona " ujar pemilik sepasang mata itu yang merupakan seorang wanita dengan rambut ekor kudanya


" kak Lisa ! " pekik seorang anak laki-laki


" apaan di Ryan ? jangan ribut ini mall ya , jangan bikin malu kamu " ketus wanita sambil menoleh kebelakang , yang mengitai Dina tadi yang tak lain adalah Lisa sahabatnya Calista


" ya ... habis kak Lisa main tinggal aja si , Ryan kan masih kecil . nanti Ryan hilang gimana ? di curi orang jahat gimana ? nanti pasti kak Lisa di marahin mama Lo " celoteh Ryan dengan tingkah anak-anak , membuat Lisa melupakan Dina yang mengira Rona


" diam ! " seru Lisa kesal sambil menutup mulut Ryan yang cerewet menurutnya


" gini amat si punya anak , untuk gue belum punya . kalo sempat punya , aduhhh amit- amit dah tak dapat tenang aku . tapi .... enggak-enggak " dalam hati Lisa sambil menggelengkan kepalanya , membuat Ryan heran melihat Lisa yang menggelengkan kepalanya


" kak Lisa kenapa ? geleng-geleng kepala ? lagi joget ya ? tapi kan gak ada musiknya " cecar Ryan setelah mulutnya berhasil dengan lepas dari dekapan tangan Lisa


" Uda diam Ryan , plis " sahut Lisa dengan nada lembut dan wajah yang di buat memelas . karena mereka berdua jadi tontonan orang-orang yang berlalu lalang di dalam mall


" okay , sekarang kita pulang kak . mama pasti Uda nungguin lama ni mobil "


Lisa pun menuruti perkataan Ryan , anak dari kakaknya . namun , dia seperti melupakan sesuatu . tapi dia tak tau apa yang terlupa olehnya dan dia kini hanya fokus pada langkahnya menuju mobil yang telah menunggunya dan Ryan .


" eh apa si ? seperti ada yang lupa ? tapi apaan ya ? " cecar Lisa dalam hati , yang kini dirinya sudah duduk di kursi penumpang dalam mobil


seorang wanita yang berada di samping Lisa heran melihat wajah bingungnya Lisa .


" dek " panggil wanita di sampingnya Lisa sambil menggoyangkan pundak Lisa


" eh iya kak , apa ? " tanya Lisa setelah sadar dari pikirannya


" kamu mikirin apa dek ? " tanya wanita di samping Lisa yang merupakan kakaknya


" pacar mungkin ma " sahut Ryan yang duduk di samping sopir pribadi mereka


" uuss , aku gak punya pacar yaaaa " ketus Lisa kesal mendengar hal itu , tapi si kakak hanya tertawa ringan melihat wajah kesal adiknya


" kalo ada pacar bawa ke rumah , jangan di simpang di pikiran Mulu . nanti bosan Lo " ledek kakak Lisa , membuat Lisa semakin kesal


" terserah " ketus Lisa sambil melipat tangannya


...Bersambung...