Rona

Rona
eps . 68



Calista yang saat ini masih tertidur , karena langit juga masih gelap . kini terpaksa harus terbangun , karena suara ketukan pintu kamarnya .


Tok tok


" Non " panggil seseorang berulang kali dari balik pintu sambil mengetuk pintu dengan sedikit keras


Calista pun langsung terduduk di atas ranjang yang berusaha mengumpulkan semua nyawanya yang hilang dan dengan malas Calista membuka pintu kamarnya.


" apa ? " tanya Calista dengan suara serak , khas bangun tidur dengan mata yang sayu karena mengantuk


" i..tu Non ... ada Nona Lisa di bawa " jawab wanita itu yang tak lain adalah salah satu pelayan di rumah Calista


" Lisa " ucap Calista yang sedikit terkejut , dengan mata yang langsung kembali jernih tanpa rasa kantuk


" iya Non "


" iya Uda bi , bibi kembali lah tidur "


" baiklah Non "


pelayan itu pun menuruti tangga , sedangkan Calista kembali masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya . agar terlihat lebih segar dan fresh . kemudian Calista turun kebawah menuruni tangga untuk menemui Lisa yang berada di ruangan TV .


" ada apa ? " tanya Calista setelah duduk di samping Lisa yang sedang menatap TV yang menyala


" tumben cepat tidurnya ? apa gerangan ? " tanya Lisa balik sambil mengganti cancel TV


" bukan urusan mu " ketus Calista cuek


" baiklah Calista ku yang cantik . kedatangan ku kesini ingin menanyakan , kenapa markas kosong ? dan dimana semua anak buah mu ? tadi sore aku ke sana ... dan tak ada siapa pun . bersih tanpa jejak atau tanda apa pun " cecar Lisa pada akhirnya yang kini telah menatap wajah sahabatnya


" aku putuskan untuk memulai hidup baru , aku ingin seperti dulu " jawab Calista dengan jelas , membuat Lisa terkejut mendengar hal itu


" kamu yakin ? "


" yakin "


" apa yang membuat mu berubah ? kamu Calista kan ? sahabat ku yang dingin dan angkuh ? "


" iya , aku Calista yang sama . aku bosan saja hidup dengan rasa seperti itu , jadi aku memutuskan ingin kembali seperti dulu . merasakan ke bahagian yang nyata , tanpa harus menyimpan luka " jelas Calista dengan senyuman yang terukir di bibir manisnya , Lisa yang mendengar itu cengo . Lisa sungguh terkejut , bila Calista ingin berubah seperti dulu


" ok , aku akan selalu mendukung mu . tapi ... kamu akan melakukan apa selanjutnya ? "


" aku akan menikah "


" menikah ? dengan siapa ? apa dia pria yang baik ? apa dia tampang ? atau jangan-jangan kamu menikah dengan seorang pria , karena keuntungan perusahaan orang tua mu ? " cecar Lisa dengan berbagai pertanyaan , membuat Calista sangat kesal


" apa aku sekeji itu , sampai aku harus menikah karena keuntungan perusahaan ? " tanya Calista dengan wajah kesalnya menatap sang sahabat


" bisa jadikan , kamu kan baru saja ...." jawab Lisa dengan menjeda Kalimatnya , dan Calista mengerti hal itu


" kamu tenang saja , aku menikah dengan pria yang sifatnya ... sebelas duabelas dengan alm.papa ku "


" emang siapa pria itu ? pasti dia sangat beruntung mendapatkan sahabat ku yang cantik ini "


" kamu akan segera tau "


" aku sahabat mu , aku sangat ingin tau ! "


" dia ... salah satu anak buah ku "


" namanya ? "


" entahlah "


" Calista Amadea "


bila Lisa sudah memanggil nama lengkapnya , Calista terpaksa harus memberi tahu sahabatnya . walau hal ini pasti akan menyakiti hati mereka berdua . karena lagi-lagi mereka menyukai pria yang sama .


" kamu yakin ingin tau ? " tanya Calista yang mulai tak nyaman seakan aura di sekitar terasa sangat dingin


" iya " jawab Lisa dengan sumringahnya


" tapi kamu janji , jangan marah dan jangan menjauh dari ku ! " pinta Calista sambil menunjuk jari kelingkingnya di depan wajah Lisa


" kenapa Lisa mengatakan itu , apa pria sangat tampan ? sehingga dia takut jika aku juga menyukai pria yang di pilihnya ? tapi .. kali ini aku tidak akan menyukai pria yang sama . karena aku sudah tertarik dengan Basri " dalam hati Lisa dengan senyuman manisnya yang terukir sempurna di wajah cantiknya


" emmm baiklah . aku janji " sahut Lisa sambil mengaitkan jari kelingkingnya dengan Calista


Calista memhembuskan nafas pasrah , seakan beban berat telah menimpah pundaknya . karena semenjak kehilangan orang tuanya , Lisa lah yang selalu ada untuknya . Lisa selalu ada di saat dia membutuhkan seseorang disisinya dan Calista sudah menganggap Lisa sebagai saudara sendiri . kini Calista harus menerima apa yang akan terjadi selanjutnya ? jika dia mengucapkan nama pria yang akan menikah dengannya .


" kenapa diam ? katakan ? siapa pria itu ? " cecar Lisa yang sangat penasaran dengan pria pilihan Lisa


" apa aku harus mengatakannya ? tapi ... aku juga tak bisa terus merahasiakan ini darinya . cepat atau pun lambat , pasti Lisa akan tau " dalam hati Calista yang memulai merasa sedih


" Basri " satu kata yang terucap dari bibir Calista membuat Lisa terkejut seketika , dia tidak menyangka . jika Mereka berdua menyukai pria yang sama , tapi dengan cepat Lisa menetralkan detak jantungnya yang berdetak lebih kencang


" apa dia mencintai mu ? " tanya Lisa dengan menatap wajah Calista sambil memegang ke dua sisi pundak Calista


" iya " jawab Calista dengan suara bergetar


" kenapa harus dia ? kenapa kita berdua selalu terjebak dengan cinta yang membuat kita selalu berselisih ? "


Calista hanya diam nampak menatap mata Lisa , bahkan mata indah Calista sudah berkaca-kaca sama halnya dengan Lisa . Lisa sungguh sangat tak percaya , namun dia bisa berkata apa ? jika Takdir selalu menguji hatinya tentang cinta dengan sesuatu yang nyata dan bukanlah mimpi belaka . terkadang Lisa merasa marah dan kecewa pada Calista serta pada takdir .


kini Lisa memhembuskan nafas pasrah , mungkin kali ini dia yang harus mengalah dan membiarkan Calista yang merupakan Sahabatnya untuk bahagia . karena dia tau , bila Calista sangat membutuhkan kebahagiaan . Lisa juga tau , jika dulu saat orang tua Calista pergi meninggalkan bumi . Calista langsung sangat berubah , Calista menjadi pribadi yang dingin dan angkuh . bukan menjadi Calista yang ceria dan penuh kelembutan dengan kasih sayang . bahkan dulu dia berteman dengan Calista , karena Calista sangat baik dan kini untuk mendapatkan calistanya yang telah lama hilang . dia terpaksa harus mengalah dan tak akan meninggalkan Calista . karena dirinya juga menganggap Calista seperti saudaranya .


" baiklah , aku merelakan mu pergi untuk memulai kehidupan baru . aku harap ... Calista ku yang dulu kembali dengan kebahagiaan yang nyata dan bukan derita atau pun luka " ujar Lisa dengan senyuman setelah menghapus air matanya yang meluncur dengan kasar menggunakan tangannya


" kamu gak akan meninggalkan ku kan ? " tanya Calista yang kembali menatap mata Lisa sang Sahabatnya dengan air mata yang sudah berderai membasahi pipinya


" aku tidak akan pernah meninggalkan mu , karena diri mu sudah ku anggap sebagai saudara ku " jawab Lisa dengan senyuman hangat , sambil menghapus air mata Calista


" terima kasih " ucap Calista sambil memeluk Lisa dengan erat dan Lisa membalas pelukan hangat dengan senyuman yang masih setia terukir di wajah cantik mereka berdua


Calista dan Lisa saling berpelukan memberikan kehangatan dan kebahagiaan yang nyata dan bukan lagi kebahagiaan yang penuh kepalsuan . Lisa bahagia , karena Calista kembali seperti dulu yang mau menangis dalam pelukannya dan terakhir kali Calista menangis . hanya saat kepergian orang tuanya dan setelah hari itu Calista tak pernah menangis atau tertawa maupun tersenyum. jika pun tertawa dan tersenyum . Calista hanya menampilkan sesuatu yang membuat orang merinding dan takut dengan tawa dan senyumannya itu .


" Calista ku telah kembali " dalam hati Lisa


" ma pa , Calista sangat bahagia . apa mama dan papa bahagia di sana ? " dalam hati Calista menatap bingkai foto orang tuanya yang memang tergantung di dinding rumahnya


selang 10 menit , Calista dan Lisa melepaskan pelukan hangat mereka berdua . Calista sibuk menghapus sisa air matanya dengan di bantu oleh Lisa sahabatnya .


" kalo gitu mari kita rayakan ! " seru Lisa sambil berdiri dan berjalan menuju dapur . sedangkan Calista hanya tersenyum simpul , dia tau apa yang akan Lisa lakukan di dapur


" satu , dua , tiga ..." hitung Calista yang sudah kembalikan tubuhnya sambil memompa kepalanya dengan kedua tangannya dengan beralaskan kepala sofa , karena Calista masih duduk di sofa dan membiarkan Lisa pergi ke dapur


" Calista ! dimana minumannya ! " teriak Lisa dari dapur , seketika membuat Calista tertawa


Lisa kemudian kembali ke ruangan TV dan melihat Calista tertawa di sana , seketika dia tersenyum melihat tawa Calista yang tidaklah menyeramkan .


" apa yang lucu ? " tanya Lisa dengan menunjukkan wajah kesalnya menatap Calista yang duduk bersandar di sofa , mendengar suara Lisa . Calista menghentikan senyumannya dan hanya menampilkan senyum simpul


" terserah , sekarang katakan . dimana minumannya ? aku tak sabar ingin minumnya lagi " ujar Lisa


" Uda ku buang "


" what ! serius ? kenapa di buang ? "


" kamu lupa , atau pura-pura lupa . aku bilang aku ingin berubah dan kembali seperti dulu "


" jadi kamu tak ingin minum lagi ? "


" enggak dan kamu juga harus berubah . aku tau kamu minum itu karena mengikuti ku " kata Calista yang merasa bersalah pada sahabatnya , karena memang dulu . saat di masa SMA Calista mencoba minuman haram itu dan Lisa tau saat masa ujian di SMA . sehingga Lisa ingin mencobanya , karena melihat Calista yang sangat menikmati minuman itu .


awal Lisa meminum minuman haram , terasa tak nyama . namun , saat dia tau jika Calista juga menyukai pria yang sama. Lisa semakin mencobanya dan terus menerus . namun , mereka hanya minum satu gelas di masa sekolah dan saat tamat SMA mereka terkadang sering menghabiskan dalam beberapa gelas .


Lisa yang melihat wajah sedih sahabatnya merasa tak tega , karena dulu dia melakukan itu juga atas keinginannya sendiri . tanpa perintah atau pun suruhan siapa pun .


" jangan berkata begitu , aku melakukan itu atas keinginan ku sendiri dan tanpa perintah mu atau apa pun . memang si , awalnya aku melakukan itu karena ingin merasakan saja . karena melihat mu sangat menikmati hal itu , dan aku penasaran bagaimana rasanya ? dan karena itu aku mencobanya " jelas Lisa menyakinkan Sahabatnya dengan senyuman manisnya


" emmm iya sudah , kamu juga berubahlah . aku tak ingin sahabat ku rusak , aku takut kamu akan kenapa-napa . cukup sampai di saat itu kau merasakannya dan Jangan mencobanya lagi " tutur Calista menatap Lisa yang kini sudah duduk disampingnya


" di saat itu ? saat yang mana ? " cecar Lisa bingung


" 2 hari yang lalu , saat kita ingin berencana melukai Rona " jawab Calista mengingatkan


" baiklah sahabat ku yang cantik ! " seru Lisa dengan senyuman bahagia


" janji ! " ucap Calista sambil menunjuk jari kelingkingnya


" janji ! " sahut Lisa sambil mengaitkan jari kelingkingnya dengan Calista


" bagus , sekarang kamu ingin menginap atau pulang . ini sudah jam 10 kurang , dan langit sudah gelap di malam ini "


" aku pulang saja "


" yakin ? "


" sangat yakin "


" kamu pake apa ? "


" motor kesayangan ku "


" motor ! Uda kamu nginap aja "


" pulang Calista Amadea " ucap Lisa yang jengah dengan Calista yang sekarang sangat bawel , tapi di juga senang di dalam hati . karena Calista tidak sedingin es lagi yang terkadang membuat kesal atau pun marah


" terserah kamu saja " sahut Calista acuh dengan wajah kesalnya


" cu cu cu , jangan acuh gitu dong . wajah kamu jadi gak cantik lagi " canda Lisa


" aku gak jelek "


" siapa yang bilang kamu jelek "


" Uda ah ! terserah kamu de , aku bete sama kamu "


" baiklah , o iya ! kamu nikahnya kapan ? " tanya Lisa setelah mengingat jika Sahabatnya akan segera menikah


" belum tau . besok saja ... aku dan Basri mau ketemu orang tuanya di kampung " ucap Calista keceplosan dan dia langsung menutup mulutnya rapat dengan kedua tangannya dan Lisa hanya tersenyum simpul mendengar itu


" tidak apa , aku senang jika kamu senang dan bila kamu bahagia aku pun ikut bahagia " ujar Lisa sambil menarik tangan Calista yang menutupi mulutnya


" maaf " satu kata terucap dengan rasa haru mendengar perkataan Lisa dan rasa bersalah di hati Calista terhadap Lisa sang Sahabat


" gak apa-apa Calista ku yang cantik , kalo gitu aku pulang ya "


" emm hati-hati , eh salamnya mana ? "


" o iya , assalamualaikum "


" wa'alaikumsalam "


setelah kepergian Lisa yang telah meninggal rumahnya dengan motor kesayangan . Calista langsung menutup pintu dan tak lupa menguncinya , kemudian dia mematikan TV dan kembali ke kamarnya untuk istirahat . sedangkan Lisa masih di perjalanan yang sungguh begitu sunyi , kemudian dia berhenti di sebuah taman yang hanya di terangi oleh lampu dan sinar rembulan malam serta langit yang masih di hiasi gemerlap indahnya bintang .


" haaaa sangat melelahkan , andai saja Calista mengatakan dari kemarin . mungkin aku akan membuat langsung rasa ini dan sekarang aku harus membuang rasa ini . sebelum semakin membesar dan menyakitkan " ujar Lisa menatap langit malam yang terlihat indah , kemudian Lisa menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan


" aaaaaaaaaa aku benci pria " teriak Lisa yang begitu keras , tanpa menyadari kehadiran seseorang yang berbaring di bangku taman dan kini orang itu telah terbangun . bahkan dia langsung terduduk mendengar suara toa seorang wanita yang tidak jauh berdiri darinya


" hei , kau tak tau malam " sarkas orang tersebut yang ternyata seorang pria


Lisa yang mendengar suara sarkas seorang pria , dia langsung membalikkan tubuhnya dan Lisa dapat melihat seorang pria duduk di bangku taman yang sedang menatapnya dengan mata yang sedikit memerah karena mengantuk .


" maaf , saya mengangguk anda tuan " ucap Lisa yang tak tau lagi berkata apa


" tuan ? aku bukan tuan mu dan aku bukan masih muda . jangan memanggil ku tuan " tegas pria itu yang kini telah berdiri dan melangkahkan mendekati Lisa . sedangkan Lisa tak bergeming , dia tak tau harus apa


" aku sungguh ceroboh dan sekarang aku terjebak dengan pria ini . apa yang harus aku lakukan ? " dalam hati Lisa yang sudah sangat was-was kerena dirinya seorang wanita biasa dan di hadapannya ada seorang pria yang memang terlihat tampang


" lumayan cantik dan manis " dalam hati pria itu sambil tersenyum tipis , bahkan semakin tipisnya tak terlihat oleh Lisa


Lisa tetap diam , sedangkan pria asing di hadapannya juga terus menatapnya . membuat Lisa merasa tak nyaman dan dia memutuskan untuk meninggalkan taman . namun , saat Lisa ingin melangkahkan kakinya untuk meninggalkan taman , dia merasa ada yang menahannya dengan mencekal pergelangan tangannya .


" kau mau kemana ? kau harus tanggung jawab karena telah membangun singa yang tertidur " ujar pria asing , membuat bulu kuduk Lisa merinding dan merasa sedikit takut . tapi dengan cepat Lisa langsung bersikap biasa saja


" apa mau mu ? " tanya Lisa balik dengan nada dinginnya


" kamu "


" maksud mu ? "


" kau bodoh atau pura-pura polos "


" lepas ! " bentak Lisa sambil mencoba sekeras mungkin melepaskan tangannya dari cekalan tangan pria asing di dekatnya


" tak semudah itu " hardik pria asing dengan nada yang begitu tajam dan dingin


Lisa sudah tak bisa lagi berbuat apa-apa , kemudian dia mempunyai ide yang pasti akan menyelamatkannya dari pria asing ini .


" pak ! tolong saya ! " teriak Lisa dengan menatap ke arah belakang pria asing dan tentunya pria asing yang mencekal pergelangan tangannya pun terlepas . kemudian pria asing itu berbalik untuk melihat siapa orang yang di panggil oleh wanita yang di dekatnya


Lisa langsung lari secepat mungkin menuju motornya sebelum pria asing itu mendapat dirinya , setelahnya dia langsung melajukan motornya membela jalan kota yang begitu sangat sunyi di bawah indahnya langit malam .


" sial " ucap pria asing itu yang merasa di kerjain oleh wanita yang di hadapannya tadi dan kini sudah pergi tanpa tau siapa nama dan alamat wanita cantik menurutnya itu


" kali ini kau selamat , tapi tidak untuk yang kedua kalinya "


...Bersambung...