
sementara di tempat lain , Rona dan Vero sedang makan malam bersama keluarga dan sahabat mereka di rumah besar orang tua Vero dan seperti biasa , saat makan tidak ada yang bicara selain dentingan piring dan sendok .
setelah selesai acara makan malam mereka berkumpul di ruang tamu untuk mempermudah perbincangan mereka .
" apa kalian yakin untuk liburan di puncak ? " tanya bang Raka yang kala itu duduk di sofa bersama dengan yang lainnya dengan berbeda posisi dan tempat duduk
" refreshing bang Raka " ralat Serly dengan wajah kesalnya
" apa bedanya ? " timpal Evan membuat Serly mendengus kesal
" rencana kami akan menggunakan helikopter pa , ma , bang . jangan khawatir , aku juga sudah menyediakan beberapa orang untuk mengawal kami disana " jelas Vero dengan sopan , menyakinkan orang yang lebih tua
" iya ma , pa , nenek dan bang Raka . izini aku ya , Rona kan Uda lama gak refreshing " sahut Rona dengan nada manja , yang saat ini duduk di antara nenek dan mama
mereka turus berdiskusi , dan Rona serta teman lainnya berusaha meyakinkan bila mereka akan berhati-hati di saat berada di puncak nanti .
" baiklah , tapi kalian akan perginya kapan ? " tanya Raka dengan sifat khasnya
" seminggu lagi " jawab Jeki
" ya sudah tak apa , tapi mama juga ikut ya ! " seru mama dengan senyuman manisnya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan , sehingga semua mata menatapnya . membuat mama hanya tersenyum saja
" tak masalah Tante , bila rame pasti jadi lebih seru " ujar Elsa yang juga ikut tersenyum
" aku juga setuju bila kita pergi rame-rame ! " timpal Nura yang tak kalah semangatnya
" tapi Tante ... kamar di sana hanya ada 5 dan yang berguna hanya ada 4 " sahut Evan dengan sopan walau di hati dia sudah was-was , takut menyingung mama sahabatnya itu
" tak masalah nak Evan , karena kami juga punya vila di sana " jawab mama dengan tetap tersenyum
" ok , kalo gitu kita pergi sama-sama aja ! " seru Rona yang senyum sumringah di bibirnya
" tapi papa akan mengguna mobil aja " ucap papa
" Abang juga , akan menggunakan mobil " sahut Raka
setelah perbicangan yang cukup panjang tentang liburan atau refreshing itu . kini sahabat Rona maupun Vero memilih untuk pamit pulang . karena jam sudah menunjukkan 22 : 10 wib malam .
" ok , Lo hati-hati di luar kota ver . ingat Minggu depan kita liburan , kalo gak bini kita pada ngambek " ujar Roky sambil menepuk pundak Vero dengan cengirnya
" pasti dong , gue akan segera pulang . bila tugas disana sudah selesai " jawab Vero
" iya Uda kita pamit ya Tante , om , bang Raka " timpal Evan yang sudah berdiri di dekat pintu bersama dengan istrinya , Nura
" iya nak , ingat jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya . istri kalian lagi pada mengandung " sahut mama
" pasti Tante " jawab Jeki
" assalamualaikum "
setelah kepergian sahabat Rona dan Vero . kini tertinggal di ruang tamu hanya ada mama , papa , Vero , Anjani , dan bang Raka . sedangkan Rona dan neneknya berada di kamar .
" nek tolong jaga kalung ini " pinta Rona sambil memberikan kalung ke tangan neneknya
nenek pun memperhatikan kalung berbandul bulan sabit yang terlihat indah dengan dahinya yang berkerut di wajah keriputnya itu dia terlihat bingung . Rona yang melihat wajah neneknya merasa bingung menatapi kalung yang dia berikan pun membuka suara lagi .
" aku ingin nenek memberikannya pada anak yang akan lahir nanti "
" kenapa tidak kamu saja cu yang memberikan ini pada anak mu ? tanya nenek pada akhirnya
" tapi aku ingin nenek yang memberikan ini pada anak ku " jawab Rona dengan senyuman yang di buat semanis mungkin
" tapi nenek sudah tua nak , nenek bisa saja lupa dan mungkin saja nenek ..."
" aku yakin nenek tidak akan lupa untuk memberikan ini pada anak ku "
" baiklah , jika itu yang cucu nenek mau . tapi cu , kamu tak menyimpan apa pun kan ? "
" aku tidak menyimpan apa pun , aku hanya ingin nenek memberikan kalung ini pada anak ku di saat nenek sudah merasa yakin untuk memberikannya dan anggaplah ini permintaan Rona yang terakhir nek " jelas Rona dengan nada tetap lembut sambil tetap menggenggam tangan sang nenek
" kenapa cucu ku berkata begitu ? Rona bisa meminta apa pun dari nenek , selagi nenek masih bisa melakukan itu Rona " kata nenek dengan perasaan sedih yang terlihat di wajah keriputnya , Rona dapat melihat kesedihan di wajah neneknya dan dia hanya bisa tersenyum paksa menatap sang nenek
" ku harap dengan kalung ini , anak ku akan selalu baik-baik saja dan selalu terlindungi dari bahaya di masa depan . Yanti ...ku harap kau tak lupa dengan janji yang kau ucapkan " dalam hati Rona , dengan tanpa sengaja air matanya meluncurkan dan dengan cepat dia menghapusnya sebelum di lihat oleh sang nenek
Rona tidak menjawab atau berkata apa pun . Rona Mala berganti posisi , kemudian berbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang nenek . nenek yang melihat sikap Rona hanya tersenyum , karena Rona masih sama seperti dulu .
" nenek jangan lupa , harus janji . demi anak Rona yang akan lahir nanti " ujar Rona dengan nada manja
" dengan senang hati cucu nenek , tapi kamu harus selalu jaga diri dan cucu buyut nenek ya ? " kata nenek dengan mata yang berkaca-kaca sambil tangannya mengelus dengan lembut kepala Rona
" iya nenek "
nenek pun hanya bisa pasrah menuruti keinginan sang cucu , walau di dalam hati dia merasa aneh dengan perkataan Rona dan juga sedih mengingat masa pertumbuhan sang cucu yang kehilangan orang tuanya di jaman SD yang kini tidak terasa sudah menjadi seorang ibu dengan 3 orang anak yang tak lama lagi akan hadir di hidup Rona .
nenek terus mengelus dengan lembut kepala Rona sampai tanpa tau Rona telah tertidur di pangkuannya .
" nenek " panggil Anjani yang tiba saja masuk kamar dan sudah berdiri di dekat nenek .
" ada apa cu ? " tanya nenek dengan nada pelan agar tidak membangun Rona
" kita harus pulang nenek , Raka sedang menunggu kita " jawab Anjani dengan nada lembut di susul dengan senyuman hangat
nenek pun berusaha mengganti pangkuannya dengan sebuah bantal yang ada di dekatnya . nenek melakukan dengan perlahan dan hati-hati , agar Rona tak terbangun dari tidurnya .
Cup
nenek mengcium pipi Rona sebelum pergi meninggalkan kamar Rona dan tak lupa membawa kalung pemberian Rona dengan menyimpannya di dalam tas .
" nenek akan menjaga kalung ini dan memberikannya langsung untuk anak mu nanti . nenek pamit ya cucu nenek " dalam hati nenek sampai pintu tertutup rapat dengan sempurna
nenek dan Anjani pun pergi meninggalkan kamar Rona dan pergi menuju pintu utama yang disana terlihat Vero , papa , mama dan Raka yang sedang menggendong anak perempuan yang tak lain adalah anaknya Zara yang sedang menanti disana .
" nak Vero , jaga cucu nenek dan cucu buyut nenek " pinta nenek dengan lembut kepada Vero
" iya nenek , Vero akan selalu menjaga Rona . biar sekali pun nyawa Vero jadi taruhannya , nenek jangan khawatir . nenek juga jaga kesehatan " ujar Vero dengan halus di susul senyuman Hangatannya
nenek yang mendengar serta melihat di mata Vero yang begitu tulus dan penuh cinta untuk cucunya Rona pun . merasa lega dan senang , sehingga dia bisa menepis firasat aneh di hatinya .
" kalo gitu kami pamit ya cu , nak " ucap nenek sambil menatap Vero , papa dan mama bergantian
" iya nenek "
" assalamualaikum "
setelah kepergian mobil Raka yang tak terlihat lagi di depan mata mereka . mama , papa dan Vero pun kembali masuk ke dalam rumah .
" ma , pa . Vero ke kamar ya ? " kata Vero dengan senyuman tentunya pada orang tuanya
" iya sudah pergilah , temani Rona . lagian kamu besok akan keluar kota untuk urusan bisnis " sahut papa dengan tersenyum pada anak sulungnya
" iya pa , Vero masuk kamar duluan "
Vero pun pergi ke kamar menemui sang istri yang berada di kamar saat dirinya sudah mendapat anggukan dari ke dua orang tuanya yang sudah membesarkannya . saat Vero membuka pintu , Vero dapat melihat bila sang istri sudah tertidur di atas ranjang dengan posisi telentang . Vero masuk kamar dengan tak lupa kembali menutup pintu .
kemudian Vero hanya tersenyum melihat sang istri , dan dia langsung ikut berbaring di samping sang istri dengan memeluk tubuh Rona dalam dekapannya yang tidaklah lagi ramping . sementara di tempat lain , lebih tepatnya di dalam mobil . nenek masih memikirkan perkataan Rona yang membuatnya merasa tak tenang . walau nenek sudah berulang kali menepis firasat aneh , dan meyakinkan hatinya bila semuanya akan baik-baik saja .
" nenek kenapa ? apa yang sedang nenek pikirkan ? " tanya Anjani yang duduk di samping nenek di bagian penumpang
" tak apa-apa cu , nenek hanya merasa lelah " kilah nenek setelah sadar dari lamunannya
" nenek tidur aja , nanti bila sudah sampai Raka bangunin nek " pinta Raka dengan lembut , yang duduk di samping sang sopir di bagian pengemudinya
nenek hanya mengangguk sembari tersenyum , sedangkan Anjani menyadari suasana hati nenek yang dapat terlihat di wajah keriputnya .
" apa sang sedang nenek pikirkan ? apa ada hubungannya dengan Rona ? tapi , apa yang Rona dan nenek bicarakan ? " dalam hati Anjani bertanya-tanya , dengan kini Zara berada dalam Pakuannya yang sudah terlelap tidur karena kelelahan
sementara Raka yang terus menatap ke depan , dia tanpa sengaja melihat seorang wanita yang tak asing menurutnya .
" berhenti " ucap Raka tiba saja , untungnya kecepatan mobil tadi tidaklah kencang . tapi di atas rata-rata , sehingga tidak ada yang ke jedut . namun , merasa terkejut , karena Raka meminta berhenti dengan tiba-tiba
" ada apa mas ? " tanya Anjani pada sang suami
" bentar " jawab Raka singkat
Raka turun dari mobil , kemudian dia melihat ke belakang mobil . namun , sudah tak ada orang lagi . sehingga Raka kembali memasuki mobil dengan wajah datarnya .
" tadi itu Lisa kan ? teman Rona sewaktu SMA ? atau aku salah lihat ? " dalam hati Raka
" jalankan mobilnya " pinta Raka dingin pada sang supir dengan tanpa menatap , membuat sang supir menelan salivanya dengan kasar . kemudian kembali melajukan mobil menuju arah rumah majikannya
dalam perjalanan hanya keheningan , Anjani dan Raka sedang sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing . sedangkan nenek sudah tertidur yang memang dirinya sudah mengantuk karena usia , sehingga memudahkan dirinya mudah tertidur .
sementara di tempat lain seorang wanita keluar dari tempat persembunyiannya dengan senyuman licik yang tercetak sempurna di wajahnya.
" hampir saja " gumamnya
" aku harus segera pulang ke rumah , ini sudah sangat malam dan aku harus memberitahu info yang ku dapat "
wanita itu pergi dengan mengguna motor ninja hijaunya menuju sebuah rumah mewah dengan kecepatan tinggi yang kebetulan jalanan sudah sangat sepi , sehingga mempermudah dirinya sampai pada tujuan dengan cepat dan kini dirinya telah berada di dalam rumah mewah minimalis dan menatap seseorang yang membelakangi . karena orang itu duduk di sebuah sofa panjang menghadap ke arah tv yang menyala di sana .
" apa yang kau temukan ? " tanya orang itu tanpa bangkit dari duduknya , setelah menyadari ke hadiran seseorang
" besok Vero akan pergi ke luar kota selama 5 hari dan kita punya kesempatan untuk menjatuhkan Rona . terus aku juga dengar bila mereka sekeluarga akan berencana untuk liburan ke puncak " jawab wanita tadi
" bagus sahabat ku Lisa , kamu sangat pintar dalam bersandiwara dan menguntip " ujar orang itu lagi
" kau kalo ngomong , tengok orang nya dong " ketus wanita tadi yang bernama Lisa dengan nada kesalnya
" sorry Lisa ku sayang " ujarnya sambil berdiri dari duduknya dan datang mendekati Lisa
" jadi kapan kita akan menjatuhkan Rona Calista ? " tanya Lisa di susul dengan senyum liciknya
" kamu punya nomor Rona kan ? " tanya balik orang itu yang ternyata adalah Calista
" iya dong "
" hubungi dia , dan aja ketemuan "
" ketemuan ? dimana ? "
" mall , di sana kita akan menjalankan rencana selanjutnya "
" baiklah , kamu memang pintar ! " seru Lisa
" kalo begitu kita harus merayakannya , dan besok kita harus bisa menjalankan rencana untuk Rona " ujar Calista di susul dengan senyum menyeramkan miliknya
" dengan senang hati sahabat ku yang cantik "
Lisa dan Calista melangkah menunjuk kebelakang rumah yang disana sudah ada 4 kursi besi berwarna hitam serta meja yang di atasnya sudah ada 2 botol minuman alkohol dan es batu yang berada dalam wadah kaca putih jernih .
" silahkan di minum sahabat ku " ujar Calista sambil memberikan segelas minuman alkohol pada Lisa yang duduk di hadapannya
" pasti dong sahabat ku "
Calista dan Lisa menikmati minuman alkohol sampai habis , sehingga ke sandaran mereka berdua mulai tak jernih dan mereka berdua terus meracau karena mabuk yang sudah melanda diri mereka .
" Rona tunggu saja pembalasan ku , aku pengagum rahasia mu akan segera hadir di hadapan mu " teriak Calista
" bagus , aku setuju ahahhahah " pekik Lisa di susul dengan tawa
mereka berdua hanya tertawa dan terkadang mengatakan sesuatu yang tidak jelas . sampai akhirnya Calista berjalan dengan langkah gontai menuju kamar yang berada di lantai bawah dengan di ikuti oleh Lisa tentunya . bahkan tanpa sengaja mereka menabraki tembok dan benda lainnya yang ada di hadapan mereka .
malam kini terlihat sunyi , tak terlihat sedikit pun bintang bercahaya di atas sana serta rembulan yang juga tak menunjukkan sinarnya di atas sana . seakan hujan akan turun , seakan alam pun tau bila esok akan terjadi sesuatu . karena terlihat angin bertiup sangat kencang di kota Jakarta dan para tumbuhan menari-nari mengikuti arah angin . sehingga ke dinginan melanda bagi para manusia yang sudah terlelap tidur di ruangan mereka masing-masing .
" sepertinya akan terjadi hal yang luar biasa " ucap seorang pria yang kini dirinya bersandar pada pintu mobil
" Basri " panggil seorang pria yang mendekati mobil sambil menenteng sebuah box yang berukuran sedang
" apaan ? " sahut pria yang tak lain adalah Basri
" sekarang antar gue pulang Sob , gue sudah mendapatkan apa yang di inginkan bini gue dan terima kasih Lu Uda nolongi gue " ujar pria itu dengan senyuman sumringahnya
" ya Uda masuk Digo , ini mau hujan bego " ketus Basri pada pria yang bernama Digo
" iya in aja de "
Digo hanya cengir kuda melihat wajah kesal temannya itu , dia merasa senang karena dia berhasil mendapatkan apa yang di inginkan bininya . sedangkan Basri terlihat sangat kesal dengan sikap temannya itu yang senang sendiri . Basri pun melaju mobilnya meninggalkan tempat yang dia pijaki tadi yang tempatnya di depan jualan para pinggir jalan . dengan di temani ke sunyian malam yang telah melanda kota Jakarta .
...Bersambung...