Reincarnation: System Shaman

Reincarnation: System Shaman
Chapter 82 - Masa Lalu Part 7



Kemudian malampun berlalu, setelah makan dan membersihkan peralatan, Yami melihat bahwa Karina segera pergi ke arah kamarnya dan menutup pintu dengan keras, tanpa mengucapkan selamat malam kepadanya.


Yami yang melihat hal itu hanya dapat terdiam sejenak, sebelum akhirnya menghela nafas panjang, lalu Yami juga pergi ke kamarnya, kemudian menutup pintu, Yami lalu segera beranjak ke atas tempat tidur, kemudian mulai tertidur.


...


...


...


Tepat satu jam setelah Yami tertidur, seseorang tiba-tiba saja membuka pintu kamar Yami, lalu orang tersebut segera menutup pintu, kemudian secara perlahan pergi ke samping tempat tidur, lalu orang tersebut naik ke atas tempat tidur dan tiduran di sebelah Yami.


Yami yang merasakan pergerakan datang dari sebelah kirinya, langsung membuka kedua matanya, lalu dirinya segera berbalik, dan bertemu dengan mata Karina yang lembab, sebab terlalu banyak menangis.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Ucap Yami dengan nada bertanya.


"Aku... Ingin tidur denganmu." Ucap Karina dengan nada ragu di bagian awal, lalu menjadi tegas di bagian akhir.


"Kenapa? Bukan-?" Sebelum Yami sempat menyelesaikan perkataannya dirinya segera dihentikan oleh Karina, dengan cara Yami di cium tepat di bibir, oleh bibir merah muda yang indah dan lembut milik Karina.


"Karena aku mencintaimu!" Ucap Karina dengan nada tegas dan begitu terus terang.


"... Apa yang kau sukai dariku?" Ucap Yami dengan menatap tepat ke arah mata Karina.


"Aku menyukaimu saat kau berbuat baik, aku suka melihat kau membantuku, aku suka kau yang pengertian, aku suka dirimu yang mudah di ajak bercanda, aku suka dirimu yang pekerjaan keras, aku menyukai segala hal tentang dirimu, aku juga mengetahui bahwa ada rahasia besar yang kau sembunyikan."


"Dan aku juga tahu bahwa kau tidak mengatakan hal tersebut, karena kau memiliki suatu alasan, aku juga menyukai sisi misteriusmu, karena itulah, mengapa aku menyukaimu Yami Tanaka!" Ucap Karina dengan nada tegas dan menatap tepat ke mata Yami.


"Kau di lamar lagi!" Ucap Hanobusho yang menyela pembicaraan Karina dan Yami.


Hal ini membuat Yami kesal, oleh karena itu dirinya segera memutuskan koneksi dengan Hanobusho, Yami kemudian menatap ke arah Karina.


"Aku tidak bisa." Ucap Yami yang menolak hal tersebut.


"... Kenapa...?" Ucap Karina yang bertanya dengan menundukkan kepalanya.


"Karena aku bukan berasal dari dunia ini." Ucap Yami yang akhirnya memutuskan untuk memberitahu Karina.


"...!" Karina yang mendengar hal tersebut menjadi sangat terkejut, dan segera menatap ke arah Yami.


"Haha... Kau pasti bercanda bukan?" Ucap Karina yang menolak hal tersebut, dirinya menyangkal kebenaran tersebut, sebab jika hal itu benar, dirinya tahu alasan Yami untuk meninggalkannya, dan dirinya tidak mau sampai hal tersebut terjadi.


"Tidak, aku benar-benar berasal dari dunia lain..." Ucap Yami sebelum akhirnya memunculkan ledakan kecil, api, dan petir.


Melihat hal tersebut Karina menjadi sangat terkejut, bahkan kedua matanya membelalak terkejut.


"... Jadi kau ingin kembali ke duniamu, oleh karena itu kau tidak bisa tinggal denganku?" Ucap Karina yang mendekati Yami, dan memegang bajunya erat-erat.


"Ya." Ucap Yami yang menganggukkan kepalanya.


"Lalu apakah aku tidak bisa ikut denganmu?" Ucap Karina yang bertanya dengan penuh harap.


"Tidak." Ucap Yami yang menolak dengan tegas.


"Ke-kenapa? Apa-apakah karena aku perempuan cacat dan hanya akan menjadi beban bagimu, makanya kau tidak mau membawaku!" Ucap Karina yang bertanya dengan nada tinggi.


"... Lalu kenapa?" Ucap Karina yang bertanya dengan nada pelan.


"Kau ingat saat pertama kali kau menemukanku?" Ucap Yami yang berbicara sambil memandang wajah Karina.


"...! Kau terluka parah? Seluruh tubuhmu di penuhi oleh darah?" Ucap Karina yang ingat mengenai saat pertama kali dirinya bertemu dengan Yami.


"Ya, untuk bepergian antar dunia, diperlukan melalui lorong ruang dan waktu, untuk melewati tempat itu, kau perlu menahan serangan yang sangat mematikan, yang datang dari tempat itu sendiri, aku berhasil selamat dengan terluka sangat parah, dan jika aku tidak diselamatkan olehmu, aku kemungkinan besar sudah tiada."


"Oleh karena itu, aku tidak dapat membawamu, sebab jika aku membawamu aku takut aku akan melukai dirimu, sebab aku tidak dapat menahan serangan dari tempat itu untuk mengenai dirimu." Ucap Yami dengan mengusap pelan kepala Karina, yang mendengarkan dengan menahan tangis.


"Begitukah... Lalu bisakah kita melakukannya?" Ucap Karina dengan wajah merah merona, dan bertanya dengan wajah ragu-ragu.


"...! Kenapa? Kau tahu bahkan jika kau memiliki anakku, aku akan tetap akan pergi." Ucap Yami yang menjawab dengan wajah rumit, dan bertanya dengan nada ragu-ragu.


"Aku tidak ingin sendirian lagi, jadi jika aku memiliki anakmu, setidaknya aku tidak akan sendirian lagi." Ucap Karina dengan menundukkan kepalanya.


Yami yang mendengar hal tersebut terkejut, dan menatap Karina dengan wajah rumit, sebelum akhirnya mendekati Karina dan kemudian berbisik pelan tepat di telinga kanannya.


"Aku juga mencintaimu... Jadi ayo kita lakukan." Ucap Yami yang segera memeluk Karina, dan berada di atas Karina.


"Ini akan terasa sakit... Apakah kau siap?" Ucap Yami yang berbisik pelan ditelinga Karina, sebelum akhirnya menggigit telinga Karina.


"Mmmh." Karina yang merasakan telinganya di gigit pelan, menggeliat dan nafasnya mulai menjadi berat.


"Ayo lakukan..." Ucap Karina dengan nada pelan.


...


...


...


"... Uh... Aku melakukannya?" Ucap Yami yang duduk dan memegang kepalanya, dengan tangan kanannya.


"Hehe kau melakukannya dengan baik bung." Ucap Hanobusho yang akhirnya terhubung kembali dengan Yami, setelah dirinya secara paksa mencoba untuk terhubung kembali dengan Yami.


"... Yah dia tidak mungkin hamil hanya karena satu malam bukan?" Ucap Yami yang bertanya dengan ragu-ragu.


"Ya, tapi kau melakukannya berronde-ronde." Ucap Hanobusho dengan nada geli.


"Uh... Tapi dia tidak mungkin sangat subur bukan?" Ucap Yami dengan nada ragu-ragu sambil memandang Karina.


"Mungkin... Bagaimanapun juga kau telah menanamkan banyak benih sebelumnya." Ucap Hanobusho dengan nada main-main.


"Sigh..." Ucap Yami yang menghela nafas dengan lelah, sebelum turun dari tempat tidur, dirinya kemudian pergi membersihkan diri, lalu memakai pakaian, setelah itu Yami menyiapkan makanan, kemudian Yami segera membersihkan peralatan memasak, lalu Yami kembali ke kamarnya.


Dirinya melihat ke arah Karina yang tertidur lelap dengan wajah berat dan melankolis, lalu Yami berjalan mendekati Karina, kemudian Yami mencium kening Karina lalu berbisik pelan ke telinga Karina.


"Selamat tinggal, kuharap... Kau baik-baik saja..." Ucap Yami dengan nada pelan sebelum akhirnya menghilang dari sana.


...___________________________________...


...Jangan Lupa LIKE, COMMENT, SHARE, FAVORITE!...