Reincarnation: System Shaman

Reincarnation: System Shaman
Chapter 75 - Guru Baru



Saat ini Takeshi sedang berjalan menuju ke arah sekolahnya, dirinya pergi menuju ke sana dengan hati yang bahagia, tapi saat dirinya sampai di sekolah suasana hatinya berubah drastis.


Sebab banyak siswa yang mengelilingi kelasnya, untuk melihat tiga selebriti teratas sekolah, yaitu Angela, Miruno dan Kieru.


Takeshi segera masuk ke dalam kelas, dan mulai berbicara dengan temannya yang duduk di depannya yaitu Maji.


Tidak lama kemudian bel masuk terdengar, semua murid yang sebelumnya mengelilingi kelas Takeshi segera pergi, melihat hal itu Takeshi menghela nafas panjang, kemudian kepala sekolah tiba-tiba masuk ke dalam kelas Takeshi, yang membuat semua murid menjadi bingung.


"Anak-anak saya ingin menyampaikan bahwa kalian akan memiliki guru matematika baru, guru matematika lama kalian mengundurkan diri, karena suaminya menyuruhnya untuk lebih menjaga anak, oleh karena itu dia tidak akan mengajari kalian lagi, dan guru matematika baru kalian sudah berada di depan kelas, pak Yami Tanaka silahkan masuk!" Ucap kepala sekolah yang menyuruh masuk guru matematika baru.


Kemudian pintu terbuka, lalu berjalan masuk seorang pria yang terlihat cukup muda, pria tersebut memasang senyum palsu yang terlihat begitu asli.


"Baiklah dialah yang akan mulai mengajarkan kalian mata pelajaran matematika, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap kepala sekolah yang segera pergi dari kelas.


"Terimakasih banyak karena telah mengantarkan saya kepala sekolah..." Ucap pria tersebut yang mengantarkan kepala sekolah sampai di luar kelas, lalu menutup pintu kelas dan berjalan menuju ke meja mengajar.


"Halo semuanya, perkenalkan nama saya Yami Tanaka, saya adalah guru matematika baru kalian, semoga kita dapat akur ya..." Ucap Yami sambil tersenyum palsu.


Kelas itu hening sejenak, tidak ada yang bersuara sama sekali, sebab para siswa-siswi saat ini sedang memikirkan sesuatu, meski yang dipikirkan oleh masing-masing siswa-siswi berbeda-beda.


"Sensei! Kau terlihat muda apakah kau sudah menikah? Dan berapa umurmu?" Ucap seorang murid perempuan yang terkenal akan kecantikannya, sebelum kedatangan Angela dan Miruno.


"Haha terimakasih, meski terlihat muda aku sebenarnya sudah berumur dua puluh dua tahun, dan aku belum menikah, meski... Yah aku sudah punya anak..." Ucap Yami yang menggaruk kepalanya.


"Apa! Kau sudah punya anak?" Ucap murid perempuan yang sebelumnya bertanya kepada Yami.


"Benar... Nah mari kita mulai melakukan perkenalan, saya akan mengabsen setiap murid dengan begitu kita dapat lebih saling mengenal." Ucap Yami yang tersenyum lebar lalu mulai mengabsen, setelah mendengar hampir nama semua siswa-siswi, kali ini Angela yang di sebut.


"Angela Hemel?" Ucap Yami yang bertanya dan Angela mengangkat tangannya.


"Sensei? Apa kriteria perempuan yang kau sukai?" Ucap Angela yang bertanya secara terang-terangan, yang membuat para siswi perempuan menatapnya dengan wajah penuh hormat, sementara para siswa pria yang mendengarnya, merasa bahwa dunia tidak adil bagi mereka yang tidak populer.


"Hem... Tidak ada, bagiku semua perempuan itu sama saja..." Ucap Yami yang membalas dengan santai.


"Lalu... Kieru Heiji?" Ucap Yami yang menatap daftar nama dengan mata sedikit terkejut.


"Hei pak tua lama tidak bertemu...?" Ucap Kieru sambil menatap Yami dengan senyum palsu, tapi matanya menunjukkan kekesalan.


"Haha... Lama tidak bertemu nak... Kurasa..." Ucap Yami yang tersenyum canggung.


"Hem... Nak?"


"Apa? Apakah Kieru anak Yami- Sensei?"


"Benarkah?"


"Apakah itu benar?"


"Benarkah itu Sensei!"


"Yah... Dia anakku..." Ucap Yami yang tersenyum canggung, dan menatap Kieru dengan wajah rumit, dengan mata yang terkejut dan alisnya terangkat.


"Baiklah cukup, mari kita lanjutkan..." Ucap Yami yang menghentikan keributan kelas menjadi lebih keras, mendengar perkataan dari Yami membuat kelas kembali menjadi tenang.


"Kemudian Miruno Eiyama?" Ucap Yami yang bertanya kepada seluruh kelas.


"Lalu Takeshi Hito?" Ucap Yami yang melihat ke seluruh kelas, sambil bertanya.


"Saya Sensei..." Ucap Takeshi dengan nada datar, yang baru kembali ke kenyataan, setelah dirinya menjadi linglung melihat Yami menjadi guru matematika barunya.


Dirinya tidak menyangka bahwa masa sekolahnya, akan menjadi tidak normal, dengan seorang teman sekelas, yang memiliki kemampuan super yang disebut sebagai Bearer, dan sekarang di tambah dengan munculnya seseorang yang belum jelas apakah musuh atau bukan, dan memiliki kemampuan yang tidak diketahui sama sekali, yang mengungkapkan dirinya sebagai Shaman, akan menjadi guru matematika barunya.


"Bagus, sekarang mari kita mulai kelas..." Ucap Yami sambil tersenyum sebelum akhirnya berbalik dan mulai menulis di papan tulis.


...


...


...


Setelah sekolah berakhir, Yami segera keluar dari sekolah dirinya siap untuk berjalan menuju ke arah stasiun, sampai akhirnya tiba-tiba saja dirinya di kepung oleh beberapa orang.


"Hem... Takeshi? Dan Miruno? Mengapa kalian berada di sini? Lalu siapa empat perempuan yang berada di sekitar kalian?" Ucap Yami yang tersenyum lembut palsu, meski seharusnya sudah jelas bahwa dirinya sedang dikepung, tapi Yami tidak menunjukkan banyak reaksi dan bertingkah seolah-olah itu hal biasa.


"Yami-sensei bisakah kau ikut dengan kami?" Ucap Takeshi yang bertanya dengan sopan, meski sehari sebelumnya dirinya menyebut Yami seorang pencopet, yang mencompet dompetnya.


"Dan jika aku tidak mau?" Ucap Yami yang bertanya dan menatap mereka dengan tatapan tajam, melihat tatapan dari Yami membuat mereka menjadi waspada.


"Kami hanya ingin berbicara, tidak ada niatan untuk bertarung, oleh karena itu bisakah anda ikut dengan kami?" Ucap Silvia yang berjalan maju di depan Takeshi dan Miruno.


"Hem... Clik!" Saat Yami sedang berpikir tiba-tiba saja Yami menjentikkan jarinya, lalu penghalang skala besar di buat.


"Apa?" Takeshi melihat ke sekitar dengan wajah terkejut.


"Aku akan ikut dengan kalian, jika kalian bisa mengejar dan menangkapku, lalu membawaku bersama dengan kalian..." Ucap Yami sambil tersenyum sebelum akhirnya melompat ke belakang dan melarikan diri, melihat Yami yang tidak mau ikut secara baik-baik, membuat Silvia sedikit tidak senang, tapi dirinya segera mengejar Yami, yang segera di ikuti oleh yang lainnya.


Melihat dirinya di kejar, Yami hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya melemparkan banyak kertas ke arah mereka, melihat kertas yang dilemparkan oleh Yami membuat Silvia menjadi waspada, dirinya segera menyuruh yang lainnya untuk menghindari kertas-kertas tersebut.


"Heh..." Yami yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis, lalu mengaktifkan Mantranya.


"Shāman jumon: Sutēji ichi: Hyaku maiba."


Kemudian berbagai bilah muncul, dan segera melesat menuju ke arah Silvia dan kelompoknya, melihat bahwa ada serangan yang datang, Diana segera maju ke depan dan memunculkan sebuah tombak berwarna biru muda, dengan di sekeliling tombak terdapat pahatan berbentuk seekor naga timur.


Diana kemudian segera memutar tombaknya yang membentuk sebuah lingkaran, untuk menjadi perisai melindungi dirinya dan yang lainnya.


Melihat bahwa serangan pertamanya gagal, Yami tidak kecewa dirinya hanya sedikit mengangkat alis, sebelum akhirnya tertawa kecil.


"Boleh juga, kalau begitu bagaimana dengan ini!" Yami kemudian melemparkan kertas lagi, ke arah kelompok Takeshi dan yang lain.


"Shāman jumon: Sutēji ichi: Bakuhatsu."


Melihat kertas sekali lagi muncul, Diana kembali menjadi pelindung untuk yang lainnya, dirinya melakukan gerakan yang sama, tapi kali ini sebuah ledakan terjadi.


...___________________________________...


...Jangan Lupa LIKE, COMMENT, SHARE, FAVORITE!...