
"Aku tahu, selama mereka bertiga mendapatkan balasannya, aku akan mengikuti perjanjian." Ucap perempuan berambut hitam yang menatap ke arah Yami.
"Bagus, nah pertama-tama siapa namamu?" Ucap Yami yang menyeringai lebar.
"Kuso Noroi." Ucap perempuan berambut hitam, yang menyebutkan namanya sebagai Kuso.
"Kuso Noroi? Kutukan kesialan? Haha namamu sangat mengerikan jangan tersinggung, mengerikan di Dunia Iblis dianggap sebagai hal yang sangat bagus bagi manusia." Ucap Yami menyeringai dan tertawa keras.
"Lalu siapa namamu?" Ucap Kuso yang menatap ke arah Yami.
"Hem... Kali ini akan kubiarkan, tapi lain kali tidak lagi, oleh karena itu mulai sekarang panggil aku dengan sebutan Tuan, apakah kau mengerti?" Ucap Yami yang menatap tajam ke arah Kuso.
"Saya mengerti Tuan, maaf atas kelancangan saya." Ucap Kuso yang membukukan badannya.
"Namaku Miyata, hanya Miyata tanpa menjadi bagian dari kebangsawanan siapapun." Ucap Yami dengan wajah sombong.
"Saya mengerti Miyata-sama." Ucap Kuso yang membukukan badannya sekali lagi.
"Bagus, tugas pertamamu adalah... Lepas pakaianmu." Ucap Yami yang memberikan tugas pertama.
"Baik Miyata-sama." Tanpa ragu Kuso segera melepaskan pakaiannya, yang hanya menyisakan pakaian dalamnya, dan dirinya siap untuk melepaskannya juga.
"Tunggu! Kenakan ini!" Ucap Yami yang segera melemparkan sebuah pakaian seragam maid kepada Kuso, yang di tangkap oleh Kuso dan menghentikan melepas pakaian dalamnya.
"Tidak melepaskan pakaian dalam juga, Miyata-sama?" Ucap Kuso yang bertanya sambil menatap ke arah Yami.
"Tidak, aku ingin kau mulai sekarang mengenakan pakaian seragam maid itu." Ucap Yami dengan wajah tenang.
"Baik Miyata-sama." Ucap Kuso dan segera mengenakan pakaian seragam maid.
"Bagus, tugas keduamu adalah..." Yami kemudian membawa Kuso menuju ke suatu tempat, dengan cara melayang, dan mereka akhirnya sampai di sebuah bangunan tua yang terlihat seperti sudah lama ditinggalkan, tempat itu berada di luar kota Sakura, meski begitu letaknya tidak terlalu jauh, jadi Yami dapat pergi ke sana setiap hari.
"Tugas keduamu adalah membersihkan semua kotoran dan debu, yang berada di tempat ini, dari halaman hingga bagian yang berada di dalam rumah, ini peralatan bersih-bersihnya." Ucap Yami yang memberikan peralatan bersih-bersih kepada Kuso.
"Saya sendiri?" Ucap Kuso yang melihat ke sekitar.
"Ya, kau sendiri, dan besok aku ingin tempat ini sudah bersih, jika tidak... Aku..." Ucapan Yami berhenti di bagian akhir dan hanya tersenyum.
"Saya mengerti Miyata-sama." Ucap Kuso yang membukukan badannya.
"Bagus, aku akan pergi dan akan kembali lagi besok pagi." Ucap Yami yang segera melayang menjauh dari sana, Yami kemudian berubah kembali menjadi dirinya sendiri dalam bentuk manusianya, lalu berjalan menuju ke arah rumahnya, karena dirinya sebelumnya mengurus masalah Kuso, Yami terpaksa menggunakan Salinan dirinya, untuk menggantikan dirinya pergi ke sekolah.
Dalam perjalanan Yami melihat Roh Jahat mulai semakin berkurang di kota Sakura, hal ini memang merupakan hal yang baik, tapi ini pula yang akan menarik banyak perhatian dari berbagai kalangan Faksi lain.
Mereka pasti akan menyuruh satu atau dua pesuruh, untuk datang ke kota Sakura dan mencoba mencari tahu lebih jauh tentang keadaan kota Sakura, setelah mereka tahu bahwa kota Sakura akan menjadi aman, pasti tidak butuh waktu lama, bahwa kota Sakura akan menjadi perebutan wilayah bagi berbagai kalangan Faksi lainnya.
Dan bisa saja konflik Supranatural akan terjadi di kota Sakura, yang akan membuat Yami harus berusaha menyembunyikan tentang dirinya lebih jauh.
"Aku harus membuat kota ini menjadi wilayahku, tapi jika aku hanya mengandalkan kekuatan dan pengetahuanku saja itu tidak akan cukup, karena meski para Faksi Supranatural mendapatkan uang melalui pekerjaan mereka, mereka juga memiliki bisnis di sisi manusia, seperti menjalankan toko, restoran dan berbagai macam hal lainnya, oleh karena itu aku juga perlu memiliki uang, koneksi, dan prestasi yang cukup, untuk membuat Faksi milikku sendiri." Gumam Yami sambil terus berjalan.
"Sigh... Uang masih merupakan hal yang sangat penting bahkan di dunia lain..." Gumam Yami dengan sedih.
"Hem... Apa ini...?" Ucap Yami yang melihat sebuah brosur, di sebuah gang yang sempit dan gelap.
"Kau butuh uang! Apakah siap mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan banyak uang? Kalau begitu kau hanya perlu ke tempat ini, kau hanya perlu melakukan pertunjukan nanti kau akan menerima banyak uang!"
"Ah! Sial... Bagaimana aku bisa lupa, dunia ini tidak hanya ada sisi baik saja, tapi juga sisi jahat! Jadi pasti akan ada tempat-tempat yang seperti ini, aku hanya perlu meram-Ahem meminjam beberapa uang saja!" Ucap Yami sambil tersenyum lebar.
"Hehehehe aku begitu bodoh, sampai melupakan para sampah seperti ini." Ucap Yami yang mengambil brosur tersebut, lalu dirinya menyimpannya di saku celana, kemudian Yami melanjutkan perjalanannya.
...
...
...
"Hei Yami-kun! Kau tadi mengapa tidak masuk sekolah!" Ucap Nana yang baru saja keluar dari Cafe, bersama dengan Miyu.
"Ah aku harus mengurus sesuatu, hem... kau menjadi dekat dengannya ya?" Ucap Yami yang menatap Miyu dengan tatapan tidak senang.
"Ya ampun kau ini masih saja marah, lagi pula dia kan sudah minta maaf jadi kau harus memaafkannya." Ucap Nana yang melihat bahwa Yami masih marah dengan kejadian tempo hari yang lalu.
"Cih... Aku tahu tahu! Aku akan pulang." Ucap Yami yang berjalan pulang.
"Hei tunggu! Katakan kau habis dari mana! Aku bisa mencium bau perempuan dewasa dari bajumu!" Ucap Nana dengan berlari menghentikan Yami, dengan menghalangi jalannya.
"Hah?"
"Katakan! Kau habis dari mana, aku bisa mencium bau wanita dewasa dari bajumu!" Ucap Nana yang menatap tajam ke arah Yami, hal ini membuat Yami terdiam dan menatap ke arah Nana dengan bingung.
'Apakah kau ini seekor Anjing Pelacak atau apa sialan!' Pikir Yami dengan wajah tidak berdaya.
"Tuh! Aku tahu kau habis bertemu dengan wanita dewasa bukan, siapa dia, katakan siapa!" Ucap Nana dengan wajah tersenyum tapi penuh dengan aura amarah di seluruh tubuhnya.
"Aku tidak bertemu siapa-siapa!" Ucap Yami yang terus berjalan, tapi dihentikan sekali lagi oleh Nana.
"Jangan bohong!" Ucap Nana yang menghentikan perjalanan Yami, Miyu yang melihat dari samping, hanya terdiam dan menatap mereka dengan tatapan canggung.
'Nana-chan sangat posesif jika membahas tentang Yami, ini membuatku takut.' Pikir Miyu dengn wajah canggung sambil menonton pertengkaran mereka berdua.
Setelah pertengkaran dengan Nanan di jalan, Yami akhirnya sampai di rumahnya, lalu Yami pergi mandi dan turun ke lantai bawah untuk makan malam.
...___________________________________...
...Jangan Lupa LIKE, COMMENT, SHARE, FAVORITE!...