Reincarnation: System Shaman

Reincarnation: System Shaman
Chapter 06 - Masalah Keluarga



Saat ini di sebuah rumah, terdapat sepasang suami istri, sang suami bernama Koyama Tengu, dan istrinya Shumi Tengu, saat ini mereka sedang berdebat.


Sebab anak perempuan mereka masih belum pulang juga, sang istri yaitu Shumi marah pada suaminya, meski dirinya marah bukan karena anak perempuannya yang belum pulang, melainkan suaminya yang dirinya lihat sedang berjalan dengan wanita cantik, berpegangan tangan dan saling menatap.


Shumi tentu menjadi cemburu, oleh karena itu hubungan mereka menjadi kurang baik, meski sang suami yaitu Koyama sudah memberikan penjelasan, tapi sang istri masih tetap tidak percaya, dan karena itu mereka saling bertengkar akhir-akhir ini karena sang istri terus marah akibat cemburu.


Karena itu pula sekarang mereka sedang berdebat, meski awalnya menyangkut mengenai anak perempuan mereka yang belum kembali, sekarang malah memperdebatkan tentang apakah Koyama benar-benar selingkuh atau tidak.


Karena terus-menerus berdebat dengan sang suami yaitu Koyama, Shumi akhirnya lelah lalu masuk ke kamar anak perempuannya, di kamar dirinya mengunci pintu, lalu melihat ke sekitar kamar anak perempuannya, kemudian dirinya pergi berjalan menuju ke arah ranjang kasur, lalu dirinya duduk di sana.


Setelah beberapa saat dan menjadi lebih tenang, dirinya melihat ke sekitar sebelum berjalan menuju ke arah meja belajar anak perempuannya, di sana dirinya melihat sebuah buku catatan harian dari anak perempuannya.


Lalu dirinya memilih, untuk membaca buku catatan harian milik anak perempuannya, pada awalnya itu hanya kesehariannya biasa mereka, di sana anak perempuannya mengatakan bahwa dirinya bahagia, dengan memiliki ayah dan ibunya, dirinya suka saat ayah dan ibunya saling bercanda dan tertawa.


Melihat catatan dari anak perempuannya, membuat Shumi menjadi bahagia dan tersenyum, dirinya terus membaca hingga ke halaman terbaru.


"Ayah dan ibu akhir-akhir ini sering berteriak, mereka terlihat sangat marah satu sama lain, aku takut saat mereka marah, aku tidak tahu apa yang membuat mereka marah, tapi aku tidak ingin ayah dan ibu bertengkar."


"Aku tidak tahu kenapa mereka bertengkar, aku mencoba untuk membuat mereka ceria kembali, dengan mengajak mereka pergi keluar untuk makan malam, tapi entah bagaimana kami bertemu dengan seorang bibi, teman dari ayah."


"Ibu sepertinya tidak suka dengan bibi tersebut, lalu akhirnya ibu terlihat kesal, sebelum akhirnya berjalan kembali ke mobil, lalu masuk ke dalam mobil meninggalkan aku dengan ayah dan bibi itu."


"Ayah berbicara beberapa kali dengan bibi tersebut, lalu ayah mengatakan bahwa ibu menjadi salah paham, dan salah mengira."


"Sebenarnya bibi tersebut merupakan sahabat dari ayah, mereka dekat seperti itu ternyata karena mereka sahabat dekat dari masa sekolah, dan bibi itu ternyata sebentar lagi akan menikah, aku ingin mengatakan hal ini kepada ibu, tapi ibu selalu tidak mau mendengarkan penjelasan dari ayah, dan ibu malah marah-marah kepada ayah."


"Aku takut, jika aku mengatakan hal ini kepada ibu, nanti ibu juga akan marah kepadaku, kuharap ibu datang ke kamarku, dan membaca buku catatan harian ku."


"Hari terus berlalu, tapi ayah dan ibu bertengkar semakin banyak, ibu bahkan mendorong ayah hingga terjatuh, dan ayah juga ingin memukul ibu, tapi tidak jadi, aku takut ayah dan ibu menjadi seperti ini."


"Aku terus mencoba untuk tersenyum, meski sebenarnya aku takut ayah dan ibu berpisah, aku sempat mendengar bahwa suami istri akan berpisah, tapi aku tidak ingin itu terjadi."


"Aku takut, aku tidak mau ayah dan ibu berpisah, aku takut."


"Aku takut."


Hatinya sangat sakit, dirinya merasa telah gagal menjadi seorang istri dan ibu yang baik, tapi tiba-tiba saja dirinya teringat bahwa anak perempuannya masih belum pulang dari sekolahnya.


Dirinya segera bergegas keluar, dan melihat suaminya yang menunggunya di luar, Shumi segera meminta maaf, yang membuat Koyama menjadi bingung, tapi itu tidak lama sebelum akhirnya Shumi memberikan buku catatan harian, dari anak perempuannya.


Setelah membacanya Koyama menjadi sedih juga, karena merasa bersalah kepada anak perempuannya, dirinya kemudian segera bangkit dan berjalan keluar, mereka mencoba untuk mencari di sekitar, tapi masih belum menemukannya, dan hari sudah sangat sore.


Mereka akhirnya kembali ke rumah untuk pergi menggunakan mobil menuju ke kantor polisi, tapi sebelum itu mereka melihat tetangga mereka, yaitu seorang ibu rumah tangga, yang rumahnya tepat sebelah rumah mereka, yang juga sedang mencari anaknya, karena belum juga pulang dari bermain pergi ke taman.


...


...


...


Sementara ibu Yami sedang mencari Yami, bersama dengan tetangga mereka yang juga sedang mencari anak perempuan mereka yang juga belum pulang, sedangkan ayah Yami yaitu Shino sedang berjalan pulang dari tempat kerjanya, dirinya secara tidak sengaja pulang melewati jalan Akai bara, yang katanya ada rumah hantu.


Karena penasaran akan desas-desus yang beredar, Shino akhirnya mencoba untuk melihat ke dalam halaman rumah yang di tinggalkan.


Tapi hal itu membuat dirinya menjadi sangat terkejut, sebab di sana dirinya melihat putranya sedang tertidur dengan lelap, bersama dengan seorang anak perempuan, hal ini membuat Shino menjadi terdiam, dan hanya bisa menatap dengan tidak percaya.


Setelah menatap selama beberapa saat, Shino akhirnya berjalan masuk ke dalam rumah yang di tinggalkan, lalu menggendong Yami di punggungnya, sementara dirinya melihat ke arah anak perempuan, yang tertidur lelap di sebelah putranya, dan ternyata anak perempuan tersebut adalah putri dari tetangganya.


Hal itu membuat Shino menjadi lebih bingung, dirinya menatap ke arah putranya yang sedang tertidur lelap sambil bergumam, mengatakan bahwa dirinya pesulap yang dapat menghilangkan sebuah negara, meski itu terdengar menakutkan, tapi jika di katakan oleh seorang anak yang sedang bermimpi itu malah lucu.


"Apakah Yami bermain dengan anak perempuan dari tetangga sebelah?" Ucap Shino dengan bingung, sebab anaknya tidak pernah mengatakan dirinya memiliki teman, kecuali di sekolah, dan itu hanya satu, apa lagi seorang anak perempuan.


"Hem... Apakah nantinya putraku akan memiliki Harem...?" Ucap Shino dengan bercanda, sebelum akhirnya menggendong anak perempuan tersebut ala Putri.


Lalu berjalan pulang menuju ke rumahnya, tapi saat dirinya akan sampai di rumah, di depan rumahnya terlihat istri dan tetangganya sedang berbicara, tapi melihat saat istrinya melihat dirinya, istrinya menjadi senang, meski sebenarnya yang dirinya lihat adalah putranya dan anak perempuan yang dirinya gendong.


Tetangganya berterimakasih kepada dirinya dan istrinya, mereka sangat lega melihat putri mereka, lalu Shino dan Himi juga ikut masuk ke rumah mereka sendiri bersama putra mereka.