
"Kepada Hikari Oishu, Lily Crisien, Kazane Amasuka, Kenma Asihito, Nana Fukoshi, dan Yami Tanaka di harapkan untuk segera datang ke kantor kepala sekolah."
"Di ulangi kepada Hikari Oishu, Lily Crisien, Kazane Amasuka, Kenma Asihito, Nana Fukoshi, dan Yami Tanaka di harapkan untuk segera datang ke kantor kepala sekolah."
"Di ulangi sekali lagi kepada Hikari Oishu, Lily Crisien, Kazane Amasuka, Kenma Asihito, Nana Fukoshi, dan Yami Tanaka di harapkan untuk segera datang ke kantor kepala sekolah."
Yami yang mendengar pemberitahuan tersebut sedikit terkejut, dirinya menatap ke arah speaker, tapi setelah mendengar pemberitahuan sebanyak tiga kali Yami akhirnya yakin, bahwa dirinya di panggil untuk datang ke kantor kepala sekolah.
Ke empat teman sekelas Yami juga kebingungan dengan mengapa nama mereka di panggil, Nana juga kebingungan dengan namanya ikut tersebut, setelah Yami saling memandang dengan Nana, mereka berdua akhirnya berdiri dan berjalan menuju ke arah kantor kepala sekolah, dengan mengikuti keempat teman sekelas mereka yang lain, yang namanya juga ikut terpanggil.
"Hei Yami-kun menurutmu kenapa kita bisa dipanggil ke kantor kepala sekolah?" Ucap Nana yang berjalan di sebelah Yami.
"Hem... Mungkin karena aku sangat tampan makanya aku dipanggil..." Ucap Yami dengan sedikit nada sombong, mendengar kata-kata dari Yami, Nana, Hikari, Lily, Kazane, dan Kenma menatapnya dengan tatapan menghina.
"Baik-baik aku hanya ingin meredakan suasana, lagi pula bukankah itu sudah jelas..." Ucap Yami dengan mengangkat kedua tangannya.
Hal ini malah membuat mereka berlima menjadi kebingungan, dengan maksud perkataan dari Yami.
"Maksudmu apa?" Ucap Kenma dengan bingung.
"Memiliki elemen cahaya yang sangat kuat, memiliki mana yang sangat banyak, setengah iblis dan manusia, memiliki aura Naga, seorang Spesialis dengan kemampuan penyembuhan, dan terakhir seorang Shaman..." Ucap Yami dengan suara pelan yang hanya dapat di dengar oleh mereka berenam, yang seketika membuat mereka berlima terdiam dan saling menatap satu sama lain, mereka menjadi kaku dan menatap dengan wajah bingung dan tidak percaya.
"Bagaimana kau tahu tentang hal yang kami miliki?" Ucap Lily yang segera mengalihkan pandangannya ke arah Yami, hal itu membuat kilatan cahaya terlihat di mata Lily.
"Hem... Aku sangat ahli?" Ucap Yami dengan nada datar.
"Lagi pula bukankah lebih baik kita segera datang ke kantor kepala sekolah, aku tidak ingin berdiri diam di sini saja..." Ucap Yami dengan nada malas kepada mereka semua, yang diterima oleh mereka, karena mereka juga ingin mengkonfirmasi yang sebelumnya Yami katakan.
...
...
...
"Kalian akhirnya sampai." Ucap kepala sekolah yang saat ini didampingi oleh wakil kepala sekolah, empat guru, dan lima belas siswa-siswinya yang berhubungan dengan Supranatural.
"Hem... Vampire, Oni, Rubah Ekor Sembilan, Ghoul, dan Ratu Naga?" Ucap Yami dengan wajah terkejut, hal ini membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut tersentak terkejut, mereka segera menatap ke arah Yami dengan tatapan tajam.
"Apa? Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat?" Ucap Yami dengan membalas tatapan mereka semua.
"Sepertinya para Shaman masih sangat tajam... Bukan...?" Ucap kepala sekolah sambil tersenyum lebar kepada Yami.
"Hem...? Kau mengatakan itu, seolah-olah Shaman sudah hampir punah saja..." Ucap Yami dengan nada datar, tapi dirinya segera merasakan tekanan dari beberapa orang, yang ada di dalam ruangan tersebut, semua tekanan itu berasal dari sisi kepala sekolah, entah dari murid atau guru semua tekanan itu tertuju kepada Yami.
"Mereka memang sudah hampir punah..." Ucap kepala sekolah dengan nada dingin.
"Brush..." Yami segera mencoba menahan muntahan darah dari mulutnya, Nana yang melihat hal itu segera berlari mendekati Yami dan memegang tubuh Yami kuat-kuat.
"Apa yang kalian inginkan!" Ucap Nana yang menatap tajam ke arah mereka, lebih tepatnya sisi kepala sekolah.
"Cukup!" Ucap kepala sekolah yang di mana semua tekanan tersebut segera menghilang, dan Yami akhirnya berlutut lalu mengeluarkan banyak sekali darah dari dalam mulutnya.
"Uh... Sepertinya Shaman tidak terlalu di terima ya?" Ucap Yami dengan nada pelan sambil menatap ke arah kepala sekolah.
"Shaman sudah ada sejak zaman para dewa-dewi, mereka adalah manusia dengan pekerjaan supranatural pertama, tapi karena hal itu pulalah yang menyebabkan mereka menjadi sombong."
"Mereka mulai menggunakan banyak cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, dari menggunakan anak-anak hingga perempuan untuk dijadikan sebagai bahan eksperimen atau bahkan tumbal, karena itu para Shaman di cari oleh banyak orang untuk dimusnahkan." Ucap Kepala sekolah yang memberikan pengetahuan singkat, mengenai para Shaman yang hampir punah.
"Heh, itu cukup lucu, sebab aku belum di kejar-kejar oleh siapapun, meski aku sudah menjadi Shaman cukup lama..." Ucap Yami dengan nada dingin.
"Itu karena kau tidak menggunakan manusia biasa untuk dijadikan ekperimen atau tumbal, oleh sebab itu tidak ada yang mengejar-ngejar dirimu sampai saat ini." Ucap kepala sekolah dengan nada santai, yang menjelaskan kehidupan tenang yang dimiliki oleh Yami.
"Haha begitukah, maka sepertinya-" Sebelum Yami sempat menyelesaikan kata-katanya, dirinya merasakan kembali hal yang sudah lama tidak dirinya rasakan.
'Kau mau mengambil alih...! Jangan bercanda!' Pikir Yami yang melotot ke arah kepala sekolah.
"Ada apa, mengapa kau melotot!" Ucap salah seorang guru, yang melihat tatapan Yami.
"Huh? Tidak, jadi apa alasan aku dipanggil ke mari, apakah hanya untuk melukaiku, lalu memberikan beberapa pengetahuan sejarah kepadaku." Ucap Yami dengan menatap ke arah para siswa-siswi, serta guru, wakil dan kepala sekolah.
"Aku memanggil kalian bukan karena itu, melainkan aku ingin memberikan penawaran kepada kalian untuk bergabung ke dalam OSIS, dengan begitu kalian-" Sebelum kepala sekolah sempat menyelesaikan kata-katanya, dirinya segera di sela oleh Yami.
"Aku tidak bergabung dalam fraksi manapun, aku seorang individu." Ucap Yami dengan nada dingin sebelum berdiri dan berjalan keluar dari ruangan tersebut, Nana yang melihat kepergian Yami, juga mengikuti dari arah belakang.
"Yami-kun!" Ucap Nana yang mengejar Yami, dirinya melihat ke arah Yami yang terlihat kesal, dan wajahnya penuh dengan amarah.
Nana hanya dapat diam sambil mengikuti dari belakang Yami, dirinya ingin berbicara dengan Yami untuk menghilangkan kekesalan yang Yami rasakan, tapi dirinya tidak tahu caranya.
"Nana bisakah kau biarkan aku sendiri?" Ucap Yami yang tiba-tiba saja berhenti, dan menatap ke arah Nana, mendengar perkataan dari Yami, Nana hanya dapat terdiam, dan menerima hal itu dengan mudah.
Lalu Yami melanjutkan berjalan, meninggalkan Nana terdiam di lorong sekolah.
Sementara itu di kantor kepala sekolah, Hikari, Lily, Kazane, dan Kenma, menatap ke arah kepala sekolah.
...___________________________________...
...Jangan Lupa LIKE, COMMENT, SHARE, FAVORITE!...