
Crey dan Natalia segera menggunakan kertas jimat pemberian dari Yami, dan seketika penampilan keduanya berubah.
"Woah aku tidak menyangka hal ini begitu luar biasa, bahkan ini tidak terasa berbeda sama sekali..." Ucap Natalia dengan suara terkejut, tapi seketika dirinya menjadi membeku, tidak hanya Natalia tapi Crey juga.
"Natalia? Suaramu berubah!" Ucap Crey dengan wajah tidak percaya.
"Crey! Suaramu juga berubah, sekarang terdengar lebih jantan?" Ucap Natalia dengan tersipu malu, Crey yang mendengarnya juga tersipu malu, melihat keduanya saling menggoda di depan dirinya, membuat Yami sedikit kesal, dirinya segera membuat batuk palsu.
"Uhuk! Uhuk!" Yang membuat keduanya berhenti dari tersipu malu, Yami yang melihatnya menganggukkan kepalanya
"Nah, sekarang bisakah kita pergi ke kota Logh?" Ucap Yami dengan wajah santai.
"Ya!" Ucap keduanya dengan seketika, Yami yang melihatnya hanya dapat tersenyum, lalu mereka bertiga sampai di kota Logh, setelah menyelesaikan urusan di gerbang kota, Yami membawa keduanya ke penginapan yang dirinya tempati.
Keduanya memesan satu kamar, dengan ranjang yang cukup untuk dua orang, Yami yang mengetahui apa yang akan mereka lakukan, hanya dapat menggelengkan kepalanya.
"Ck ck ck, anak muda zaman sekarang, mereka terlalu bersemangat saat berada di usia muda, saat aku seusia mereka yang aku pikirkan hanyalah berlatih, berlatih, dan terus berlatih hingga aku akhirnya terbebas dari keluargaku." Pikir Yami dalam benaknya.
Kamar keduanya berada tidak jauh dari kamar yang Yami tempati, selesai mengurus semua masalah mengenai penginapan, mereka bertiga memutuskan untuk tidur, sebab besok adalah saat bagi mereka untuk berpisah.
...
...
...
"Apakah kau akan pergi ke Neraka hari ini?" Ucap Crey yang bertanya kepada Yami, yang di mana pada saat itu ketiganya sedang makan bersama di kamar penginapan Yami.
"Ya, aku akan pergi hari ini juga." Ucap Yami menganggukkan kepalanya.
"Kalau seperti maka kau harus berhati-hati, dan semoga kau dapat segera menemukannya." Ucap Natalia yang memberikan semangat kepada Yami.
"Benar, ini... Ambil ini." Ucap Crey yang menyerahkan sebuah telepon genggam, di mana telepon itu dapat di lipat, telepon itu terlihat cukup baru, meski dari model lama.
"Telepon Dimensi?" Ucap Yami dengan wajah bingung.
"Kau tahu?" Ucap Crey wajah terkejut.
"Ya, ini alat untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain, saat orang tersebut di dimensi yang berbeda sekalipun." Ucap Yami yang menjelaskan mengenai Telepon Dimensi yang dirinya ketahui.
"Nah, kalau kau sudah tahu, maka aku tidak perlu menjelaskannya, dengan alat ini kita dapat saling berkomunikasi jadi, jika kau membutuhkan bantuanku, aku akan dapat datang ke sana." Ucap Crey yang menjelaskan tujuannya memberi Yami Telepon Dimensi.
"Masalahnya aku sudah punya..." Ucap Yami yang menunjukkan Telepon Dimensi, yang terlihat lebih canggih layaknya Smartphone.
"..." Crey yang melihat Yami memiliki Telepon Dimensi yang lebih canggih di bandingkan dirinya, membuat wajahnya tersipu malu, alasan dirinya tidak memberikan Yami telepon yang lebih canggih, sebab uangnya yang dirinya bawa, sudah hampir habis, oleh karena itu Crey hanya dapat memberikan Yami Telepon Dimensi yang murah, sementara Natalia yang melihatnya hanya tersenyum geli.
"Kalau begitu, mari kita bertukar nomor Telepon." Ucap Crey yang segera kembali normal.
"Tentu, nomor teleponku adalah..." Yami kemudian mulai menyebutkan nomor yang berada di teleponnya satu persatu.
Setelah mendapat nomor telepon Yami, Crey kemudian menyebutkan nomor teleponnya, dan Yami kemudian menyimpan nomor telepon Crey.
"Baiklah sepertinya sudah saatnya kita berpisah, ah dan ini ambil kantong ini, di dalamnya berisi kertas jimat yang sebelumnya pernah aku berikan kepada kalian, dengan begini akan lebih nyaman bagi kalian untuk bergerak di antara kerumunan." Ucap Yami yang menyerahkan sekantong kertas jimat.
"I-ini? Kau yakin?" Ucap Crey dengan wajah terkejut.
"Ya, lagi pula kita teman bukan?" Ucap Yami sambil tersenyum, melihat senyum Yami membuat keduanya terdiam, sebelum akhirnya juga tersenyum.
"Ya, meski kita baru bertemu selama dua hari, tapi kita sudah menjadi teman." Ucap Crey yang menganggukkan kepalanya.
"Bagus, kalau begitu sampai jumpa!" Ucap Yami yang berpamitan kepada keduanya, saat itu Yami sudah berada di luar penginapan, dirinya keluar dari penginapan melalui jendela, sebelum pada akhirnya Yami menghilang dari sana.
...
...
...
Setelah berlari menuju ke hutan Sound Hell selama beberapa menit, Yami akhirnya sampai di sana, sesampainya di hutan Sound Hell, Yami segera bergegas menuju ke danau Whisper of Death.
Di perjalanan Yami bertemu dengan beberapa monster, tapi dirinya berhasil mengalahkan mereka, sebab mereka monster tingkat bawah, sama seperti Hell Bulldog.
Melihat danau yang terlihat mengerikan, dengan tengkorak dan tulang di mana-mana, serta air danau yang terlihat berwarna merah darah.
Yami kemudian pergi mendekat ke arah danau, lalu Yami mengeluarkan sebuah kertas jimat, melihat kertas jimat tersebut membuat Yami tersenyum.
"Shāman jumon: Sutēji Ni: Suiei-ji no mizu no hogo."
(Note: Artinya, Suiei-ji no mizu no hogo \= Pelindung Air Saat Berenang)
Setelah menggunakan mantra, Yami segera mencelupkan diri masuk ke dalam danau, saat berada di dalam danau Yami seketika mendengar suara-suara aneh yang berbisik di dekat telinganya.
"Mati."
"Kau harus mati."
"Kematian lebih menyenangkan."
"Ayolah, dunia ini tidak lagi berarti, lebih baik mati."
Mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk mati, Yami tersenyum lebar, dirinya tidak menyangka bahwa suara-suara tersebut hanyalah ilusi tingkat rendah, jika itu ilusi tingkat tinggi dirinya tidak tau apa yang kemungkinan akan terjadi kepadanya.
Yami segera mencari lubang, yang disebutkan oleh Luci sebelumnya, setelah mencari selama beberapa saat, Yami akhirnya menemukan lubang yang di maksud, dirinya segera menyelam ke dalam sana.
Merasakan perasaan sedang berenang di dalam sebuah lendir, yang terasa dingin, membuat Yami merasa tidak nyaman, meski begitu akhirnya Yami keluar dari dalam lubang, ketika Yami keluar dirinya sudah berada di Neraka, lebih tepatnya di danau yang berada di Dimensi Neraka tiga Ras.
Yami segera keluar dari dalam danau, melihat pemandangan mengerikan di mana pepohonan, tumbuhan, serta tanah yang terlihat mati, membuat Yami langsung mengetahui bahwa dirinya akhirnya sampai di Neraka.
"Sekarang aku hanya perlu pergi ke portal, yang menuju ke Neraka milik fraksi besar Jepang." Gumam Yami sambil melihat ke sekitar dengan tatapan serius.
"Hei kau yakin ini akan berhasil?" Teriak Luci dari dalam Cincin.
"Ya, aku yakin, jadi beritahu aku di mana letak keberadaan Portal Teleportasi Antar Dimensi Neraka, yang kau ketahui." Ucap Yami yang memerintahkan Luci untuk memberitahukan letak keberadaan Portal Teleportasi Antar Dimensi Neraka.
"Timur! Aku yakin letaknya di timur, Seribu tahun yang lalu." Ucap Luci dengan suara bangga, Yami yang mendengarnya membeku, dirinya menatap heran ke arah cincin.
"Kau yakin tempatnya tidak di ubah?" Ucap Yami dengan wajah ragu.
"Itu? Coba saja dulu! Kalau tidak ada, kau hanya perlu mencarinya bukan." Ucap Luci dengan nada santai.
"... Baiklah aku akan melakukannya." Ucap Yami segera berlarian di udara, setelah berlarian selama tiga jam, Yami akhirnya menemukan sesuatu selain hutan, dan dataran yang mati, yaitu dua kelompok yang saling berhadapan.
Dengan memiliki senjata di masing-masing kelompok, kedua kelompok tersebut terlihat memakai pakaian usang dan sudah rusak.
"Hei apa yang terjadi di sana?" Tanya Yami kepada Luci.
"Mana ku tahu? Lagi pula sudah seribu tahun semenjak aku meninggalkan Underworld dan juga Neraka." Ucap Luci dengan acuh tak acuh.
...___________________________________...
...Jangan Lupa LIKE, COMMENT, SHARE, FAVORITE!...