
Saat ini Yami sedang berada di kelasnya, sambil menatap ke arah luar jendela kelas dengan tatapan bosan, dirinya masih mengingat tentang yang dirinya lakukan di kantor kepala sekolah.
Yami sangat kesal setiap kali mengingat kejadian tersebut, karena dirinya merasa bahwa dia kembali menjadi sangat lemah, sama seperti awal-awal dirinya masih seorang Shaman pemula di kehidupan sebelumnya.
'Cih, aku perlu menjadi lebih kuat lagi, lebih kuat dari makhluk apapun di kehidupan kali ini, yah kurasa itu akan menjadi hal yang sangat sulit, lagi pula dia ternyata ikut denganku, sigh... Kenapa aku bisa terikat dengannya, Apakah dia semacam kekuatan yang berada di dalam diriku, seperti ninja berambut kuning tertentu yang sangat suka makan ramen, dan memiliki monster banyak ekor di dalam tubuhnya, kurasa itu... Mungkin?' Pikir Yami dengan mengkerut alisnya.
'Tunggu apakah itu berarti aku juga dapat berubah menjadi monster, dan memiliki kekuatan yang sangat hebat, wouh apakah itu berarti aku seseorang yang dipilih, seperti para protagonis novel dan manga? Haah... Aku sudah terlalu tua untuk berpikiran kekanak-kanakan...'
'Setelah dipikir-pikir aku masih belum bertemu kembali dengannya, saat kita bertemu kembali aku pasti akan menghajarnya karena mencoba mengambil alih tubuhku...!'
'...! Apa-apaan perasaan ini, rasanya seperti ada suatu energi negatif yang mencoba mendekat, apakah hanya perasaanku saja, tidak, meski terasa samar tapi energi negatif tersebut sangat mudah kurasakan... Yah lagi pula di kehidupan sebelumnya, aku ahli dalam hal seperti...' Pikir Yami sambil merenung dan melihat kearah luar sekolah.
"Brek!" Pintu kelas terbuka, yang memperlihatkan Nana.
"Maaf Sensei, saya disuruh kepala sekolah untuk memanggil Yami sekali lagi, ke kantornya saat ini juga." Ucap Nana yang meminta izin kepada guru yang sedang mengajar.
Yami yang mendengar perkataan dari Nana, mengenai dirinya dipanggil sekali lagi, membuatnya bingung, tapi melihat tatapan Nana yang menyuruhnya untuk mengikuti Nana ke kantor kepala sekolah.
Nana kemudian berjalan keluar kelas, menuju ke arah kantor kepala sekolah, yang di mana Yami mengikuti dari arah belakang.
Saat dalam perjalanan Yami bertanya kepada Nana, mengenai dirinya yang dipanggil kembali ke kantor kepala sekolah.
"Itu karena perang." Ucap Nana dengan singkat, tapi hal itu malah membuat sejuta pikiran di dalam kepala Yami, dirinya segera berhenti dan menatap ke arah Nana dengan serius.
"Perang? Antar fraksi mana?" Ucap Yami dengan wajah tegas.
"Enam klan Onmyoji Tokyo." Ucap Nana yang juga ikut berhenti.
"Apa? Klan Onmyoji... Sungguh? Tapi karena masalah apa?" Ucap Yami dengan wajah bingung sambil menatap ke arah Nana meminta sebuah penjelas.
...
...
...
"Jadi Putri dari kepala klan Sukainaito di racuni, dan tidak ada seorangpun yang dapat menyembuhkannya, sudah banyak orang yang dipanggil oleh kepala klan Sukainaito, tapi semua itu tidak membuahkan hasil, dan anggota klan Sukainaito mengira putri kepala klan di racuni oleh salah satu dari kelima klan Onmyoji Tokyo yang lain."
"Dan jika putri kepala klan Sukainaito benar-benar meninggal dunia, maka kemungkinan perang antar klan akan terjadi, karena itulah mengapa sekarang daerah sekitar Tokyo menjadi tegang, sebab mereka menunggu apakah perang akan benar-benar pecah... Begitukah?" Ucap Yami yang sekarang sudah mengerti garis besar dari permasalahan perang tersebut.
"Lalu kenapa kau membawaku?" Ucap Yami sambil menatap ke arah Nana.
"Yah, kau adalah pria yang berpengetahuan luas, hanya kau saja pria yang ku ketahui memiliki banyak ilmu dan informasi, jadi kupikir kau dapat menyembuhkan racun yang di alami putri dari kepala klan Sukainaito?" Ucap Nana dengan tersenyum tipis.
"Haah, bukan berarti aku berpengetahuan luas, berarti aku dapat menyembuhkan sebuah racun dengan mudah." Ucap Yami dengan wajah tidak berdaya.
"Tapi setidaknya kita harus mencoba, jika tidak, perang akan pecah, dan kemungkinan perang itu akan melibatkan kota Sakura, meski kota Tokyo dan kota Sakura bisa dikatakan cukup jauh, tapi tidak menutup kemungkinan kita akan terpengaruh oleh perang." Ucap Nana yang mencoba untuk menyakinkan Yami agar mau ikut membantu.
"Sigh... Baiklah aku membantu..." Ucap Yami yang akhirnya memutuskan untuk ikut membantu.
...
...
...
"Apa menurutmu dia akan setuju?" Ucap Kenma dengan wajah datar kepada kepala sekolah.
"Dia pasti akan, lagi pula jika perang ini melibatkan kota Sakura, dia pasti akan setuju untuk menghentikan perang, karena bagaimanapun juga kota Sakura, adalah tempat kelahirannya dan juga tempat berbagai kenangan indah yang dirinya miliki." Ucap kepala sekolah dengan tersenyum tipis, dengan mata yang sedikit melankolis, yang mengingat suatu kenangan masa lalu.
"Tapi dirinya pasti tetap tidak ingin melihatmu atau mereka, karena bagaimanapun juga kalianlah yang menyerangnya." Ucap Lily yang mengingatkan mereka semua, mengenai masalah yang sebelumnya.
"Mengenai itu, aku akan mencoba untuk meminta maaf kepadanya mengenai hal tersebut." Ucap kepala sekolah yang menatap ke arah Lily.
"Begitu..." Ucap Lily yang menganggukkan kepalanya.
"Tapi kepala sekolah kau tidak salah." Ucap Haruki dengan wajah bingung.
"Tidak Haruki, aku salah karena tidak menghentikan perseteruan lebih cepat." Ucap kepala sekolah yang membuat Haruki terdiam.
...
...
...
Saat ini Yami berada di depan kantor kepala sekolah, bersama dengan Nana di sebelah kanannya, mereka akhirnya membuka pintu dan masuk ke dalam.
Di dalam Yami dan Nana sudah di tunggu oleh yang lain, kemudian Yami melangkah maju ke depan.
"Kau mau membantu?" Ucap kepala sekolah sambil tersenyum.
"Haah... Jika perang benar-benar pecah, aku masih dapat bertahan, tapi ada hal lain yang aku tidak ingin perang sampai melibatkan kota Sakura, jadi yah... Kurasa aku akan membantu setidaknya, tapi hanya di bagian menyembuhkan racun, yang di alami oleh putri kepala klan Sukainaito, tidak lebih tidak kurang." Ucap Yami dengan wajah pasrah mengatakan hal tersebut.
"Begitu, aku ucapkan terimakasih karena telah memutuskan untuk membantu, aku juga mau mengucapkan permintaan maaf, dari para murid serta para staf guru yang melukaimu sebelumnya." Ucap kepala sekolah kepada Yami.
"Aku tidak butuh permintaan maafmu, kapan kita akan berangkat." Ucap Yami dengan nada datar, hal itu membuat dirinya mendapat tatapan tajam, dari sebagian besar anggota fraksi kepala sekolah.
"Hari Sabtu, kita akan berangkat pada hari tersebut, kita akan berkumpul di sekolah." Ucap kepala sekolah yang tidak terlalu mempedulikan sikap dari Yami.
"Nah lalu namamu siapa, aku tidak ingin terus memanggilmu dengan sebuatan Kōchō terus-menerus." Ucap Yami sambil menatap kepala sekolah.
"Fufu benar, aku belum memperkenalkan diri, namaku Airis Ryu-Sukaipurotekutā." Ucap kepala sekolah yang memperkenalkan dirinya.
...___________________________________...
...Jangan Lupa LIKE, COMMENT, SHARE, FAVORITE!...