
"Ahk!" Di suatu tempat, yang terlihat seperti sebuah lorong gelap yang berputar-putar, seorang pria sedang tersiksa akibat energi yang tidak stabil, yang dimiliki oleh tempat tersebut.
Aura hitam keluar dari tubuhnya, secara perlahan namun pasti teriakan pria itu mulai mengecil, hingga akhirnya pria tersebut tidak lagi berteriak.
Akhirnya terlihat ujung dari lorong Hitam yang berputar tersebut, terlihat cahaya terang yang sangat menyilaukan.
Lalu pria tersebut tiba-tiba saja muncul di dalam hutan, dengan keadaan sedang tidak sadarkan diri.
...
...
...
"Jadi itu semua yang terjadi?" Ucap Karina yang menatap ke arah Miruno dan Takeshi, dengan tatapan serius sekaligus campuran emosi sedih, bahagia dan panik.
"Ya ketua, seorang pria bernama Yami Tanaka membantu kami, dirinya mengatakan bahwa dia seorang Shaman..." Ucap Miruno yang menjelaskan semua hal yang terjadi, mengenai pertarungan dirinya dan Takeshi melawan Beast, yang dapat memutar waktu ke sepuluh detik ke masa lalu.
"Beast yang mengalami evolusi jarang sekali terjadi, apa lagi jika mengalami evolusi dua kali, dari level dua langsung ke level empat, hal ini sangat jarang terjadi..." Gumam Karina sambil memejamkan kedua matanya.
"Lalu ketua apakah kita akan mencari Yami? Untuk mengetahui siapa dia sebenarnya? Apa tujuannya? Dan apa sebenarnya kemampuannya?" Ucap seorang wanita memakai kacamata dan menatap ke arah Karina.
"Hem... Baik... Mari kita lakukan itu, tapi usahakan jangan membuat pertarungan, kita tidak tahu siapa dia sebenarnya, dan seberapa kuat dirinya, oleh karena aku itu tidak ingin dia menjadi musuh kita..." Ucap Karina yang memberikan perintah kepada semua orang yang berada di dalam ruangan.
"Baik ketua..." Ucap perempuan berkacamata, yang menganggukkan kepalanya.
"Ehm... Lalu apakah aku sudah bisa menjalankan misi? Bagaimanapun juga sekarang aku sudah mencapai level tiga?" Ucap Takeshi yang bertanya dengan ragu-ragu.
"...Tentu saja, Silvia kau akan mengajarinya mengenai masalah teori sejarah para pahlawan masa lalu, serta kemampuan, kelemahan, dan cerita mengenai mereka." Ucap Karina yang berbicara kepada perempuan berkacamata.
"Saya mengerti ketua." Ucap perempuan berkacamata yang bernama Silvia.
"Ah! Namanya adalah Silvia Gilrina, dia memiliki Spirit yang ahli dalam menggunakan busur dan anak panah." Ucap Karina yang menunjuk ke arah Silvia, mendengar perkataan dari Karina, membuat Takeshi segera mengalihkan pandangannya kepada Silvia.
"Olcisa kau akan mengajarinya mengenai permasalahan energi atau Animae, itu merupakan energi yang kita para Bearer gunakan, meski Takeshi sudah dapat menggunakannya."
"Tapi dari kontrol, keefisien, serta kegunaan lainnya, masih belum dirinya ketahui bukan? Oleh karena itu Olcisa di sini akan mengajarimu semua itu, nama lengkapnya adalah Olcisa Bruniyera, dan Spiritnya merupakan seorang penyihir." Ucap Karina yang menunjuk ke arah Olcisa yang mengenakan topi tidur, dan penutup mata tepat di dahinya.
"Huam... Baiklah ketua..." Ucap Olcisa yang menguap sebelum akhirnya mengusap mata kanannya, melihat tingkah laku dari Olcisa, dirinya mendapatkan tatapan tajam dari Silvia.
"Bertingkah laku yang baik, kau sedang berhadapan dengan ketua..." Ucap Silvia yang menatap tajam ke arah Olcisa, yang di mana Olcisa balas dengan wajah datar.
"Sudah jangan berkelahi, aku tidak masalah, lalu-" Sebelum Karina menyelesaikan perkataannya dirinya segera di sela, oleh seorang perempuan yang berjalan ke depan, dirinya terlihat cantik di tambah kedua gunungnya terlihat sangat besar, dan dirinya memiliki rambut merah tua yang panjang.
"Namaku Furutayusa Bomino! Aku akan mengajarimu bagaimana caranya menjadi petarung yang kuat, aku akan melatih otot-otot lemah yang kau miliki itu!" Ucap perempuan berambut merah tersebut, yang bernama Furutayusa.
"... Berarti aku harus berlatih lagi?" Ucap Takeshi yang bertanya dengan menatap ke tiga perempuan, yang berada di dalam ruangan, yang namanya baru saja dirinya ketahui.
"Benar, ah! Dan Diana akan mengajarimu dalam bertarung menggunakan senjata, meski Spiritnya merupakan seseorang yang menggunakan tombak, dan kau menggunakan pedang, tapi dirinya lebih berpengalaman dari pada dirimu dan juga Miruno." Ucap Karina yang menunjuk ke arah Diana.
"Eh aku juga?" Ucap Diana yang mengkerutkan keningnya.
"Tentu saja, nah itu saja hal yang kita bahas, kau Takeshi dapat kembali ke rumahmu, besok karena kau akan masuk sekolah, kau tidak perlu datang kemari." Ucap Karina yang mengalihkan pandangannya kepada Takeshi.
"Baiklah ketua..." Ucap Takeshi yang membukukkan tubuhnya sedikit, lalu segera pergi dari sana.
"Ketua..." Tepat setelah Takeshi pergi, Silvia berbalik arah dan ingin bertanya kepada Karina.
"Aku tahu... Aku harap itu benar-benar Yami... Aku... Ingin meminta maaf kepadanya... Oleh karena itu... Aku harap itu benar-benar Yami yang selama ini kucari..." Ucap Karina yang menundukkan kepalanya, melihat Karina yang seperti itu, membuat Silvia, Miruno, Diana, Olcisa, dan Furutayusa menjadi sedih.
"Kami akan meningkatkan pencarian mengenai dirinya, karena terakhir kali dia terlihat berada di kota Foshel, maka kami akan melakukan pencarian menyeluruh di kota tersebut." Ucap Silvia yang berbicara untuk mencoba agar Karina tidak terlalu banyak berpikir, dan menghilangkan rasa sedih dan khawatir yang dimiliki oleh Karina.
"Terimakasih... Semoga itu benar-benar Yami yang selama ini kucari..." Ucap Karina yang mencoba untuk tersenyum.
"..." Miruno yang melihat Karina, memiliki banyak pertanyaan di dalam benaknya, sebab ada hal yang hanya dirinya dan Yami ketahui, tapi dirinya enggan untuk bertanya kepada Karina.
"Apakah kau ingin berbicara Miruno?" Ucap Karina yang memperhatikan kegelisahan Miruno, meski Miruno tidak menunjukkan sedikitpun kegelisahan di wajah atau gerak tubuhnya, tapi entah bagaimana Karina dapat mengetahuinya.
"Tidak ketua..." Ucap Miruno yang menggelengkan kepalanya.
"Aku tahu kau ingin berbicara, katakan saja aku tidak akan menyalahkanmu jika kau ingin bertanya." Ucap Karina dengan nada lembut dan tersenyum kecil.
"Ketua... Sebenarnya... Yami itu siapanya anda... Jika saya boleh tahu? Sepertinya ketua memiliki hubungan yang kurang baik dengannya?" Ucap Miruno yang bertanya dengan ragu-ragu.
"Yami adalah... Eh bagaimana menjelaskannya ya... Ah... Agak sulit untuk mengatakannya, jika aku sebut suami tapi kami belum menikah, jika di bilang kekasih, yah... Sebenarnya aku ragu bahwa dirinya menganggapku sebagai kekasihnya, mungkin lebih tepat untuk menyebutnya teman, tapi..." Karina yang ingin menjawab pertanyaan dari Miruno menjadi ragu, sebelum akhirnya bingung sendiri mengenai hubungannya dengan Yami.
"...Begitu saya mengerti, hubungan anda sedikit rumit, tapi juga tidak memiliki hubungan yang buruk, hanya saja sedikit bermasalah begitu?" Ucap Miruno yang menyimpulkan perkataan dari Karina.
"...Kurasa seperti itu... Mungkin... Benar apakah dia terlihat tua?" Ucap Karina yang tiba-tiba saja bertanya mengenai rupa wajah dan umur Yami.
"Ehm... Dia terlihat muda, seperti seorang pria remaja berumur enam belas atau tujuh belas tahun." Ucap Miruno yang menjelaskan rupa dari penampilan Yami serta umurnya.
"Ini sedikit aneh... Seharusnya dia sudah terlihat seperti kakek-kakek ah! Benar... Apakah ini karena kemampuannya... Bagaimanapun juga aku bertemu dengannya seratus tahun yang lalu..." Ucap Karina yang berpikir sejenak.
"Seratus tahun...?" Gumam Miruno sambil mengangkat alisnya.
...___________________________________...
...Jangan Lupa LIKE, COMMENT, SHARE, FAVORITE!...