Reincarnation: System Shaman

Reincarnation: System Shaman
Chapter 34 - Shaman Tidak Waras Part 1



"Ibu siapa orang yang paling ibu cintai?"


"Tentu saja kau, Aishu kecilku."


"Heh, benarkah...?"


"Tentu saja benar, oleh karena itu ibu rela mengorbankan apapun demi putri kecilku ini, jadi kau harus hidup dengan bahagia dan terus tersenyum!"


"Baiklah!"


Mengingat kenangan tersebut, air mata keluar dari kedua mata Aishu, dirinya berteriak sangat keras, lalu dirinya mendaki lebih cepat, tidak terasa waktu telah berlalu satu hari, meski tangan Aishu sudah tidak kuat, dan tubuhnya sangat lelah, dirinya tetap terus mendaki, sampai akhirnya tangan kanannya menyentuh permukaan, yang berbeda.


Merasakan itu Aishu segera mencoba naik ke atas, tapi tebing yang dirinya pegang di bagian tangan kanannya yang telah menyentuh puncak, tiba-tiba saja tebing tersebut retak, dan membuat Aishu hampir terjatuh, tapi untungnya Aishu masih sempat menggunakan tangan kirinya untuk mencapai puncak, dan akhirnya berhasil menyelesaikan ujian garis keturunan tersebut.


Saat Aishu membuka kedua matanya, dirinya sudah kembali ke lapangan yang berada tidak jauh dari rumahnya, Aishu merasakan dirinya dipenuhi oleh kekuatan yang meluap-luap.


Kemudian Aishu melihat ke arah tubuhnya yang terlihat dikelilingi oleh aura kehitaman, dan kukunya bertambah panjang, telinganya berubah menjadi telinga kucing, dirinya juga terlihat memiliki tiga ekor, yang terbuat dari aura kehitaman.


Aishu juga merasa dirinya dapat melihat lebih baik dari sebelumnya, saat Aishu melihat ke sekitar dirinya melihat Yami yang tergeletak, dan terlihat seperti habis terhempas oleh sesuatu.


"Kau berhasil..." Ucap Yami dengan suara pelan, dan kemudian Yami mengeluarkan Kertas Jimat untuk memulihkan diri.


"Shāman jumon: Sutēji ichi: U~ōmuhīrā."


Aishu yang melihat Yami memulihkan diri, merasa bahwa dirinyalah penyebab Yami dapat terluka seperti itu.


"Hem... Maafkan aku, karena akulah yang membuatmu terluka bukan?" Ucap Aishu yang bergegas berjalan menuju ke arah Yami.


"Tidak apa-apa, lagi pula kau akhirnya dapat memperkuat garis keturunan yang kau miliki, dengan kabar ini saja membuatku senang." Ucap Yami sambil tersenyum.


"... Terimakasih banyak, karena telah menolongku dan yang lainnya, terimakasih..." Ucap Aishu dengan nada suara lirih, dan siap untuk menangis, hal ini membuat Yami terdiam, sebelum akhirnya Yami berjalan mendekati Aishu, lalu menepuk kepalanya, kemudian mengusapnya secara perlahan-lahan.


"Baiklah sudah waktunya kita berangkat, dengan kalian semua yang telah berhasil memperkuat diri, sekarang saatnya bagi kita untuk pergi ke tempat dari Shaman itu." Ucap Yami yang berdiri lalu membuka Dimensi Mistis, yang di mana dirinya dan Aishu sudah di tunggu oleh Aoma, Yuu, Rin, dan Emi.


Kemudian mereka pergi ke suatu rumah, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, tapi cukup sederhana, dan yang lebih penting lagi, setiap orang yang berada di dekat rumah tersebut, seseorang akan mengalami kebahagiaan yang tidak wajar, dan akan mulai tidak dapat berpikir dengan jernih.


Yami dan yang lainnya dapat bertahan, sebab mereka memiliki pikiran yang lebih kuat, di bandingkan dengan manusia biasa.


"Ayo, aku akan membuat tempat ini terlindungi, agar tidak ada yang dapat keluar dari tempat ini, dan tidak ada yang dapat masuk." Ucap Yami yang menyuruh mereka berlima untuk masuk terlebih dahulu.


Perbedaan Wilayah Mistis dan Dimensi Mistis adalah, Wilayah Mistis suatu penghalang yang di mana di dalamnya terdapat ruang yang sangat luas atau lebih tepatnya tidak terbatas, Wilayah Mistis dapat di katakan sebagai penghalang untuk menambah ruang di tempat yang sudah sempit.


Sementara Dimensi Mistis, suatu penghalang yang di mana memiliki berbagai macam jenis, ada yang suatu penghalang saja, di mana itu hanya dapat membuat semacam pelindung, ada juga penghalang yang tidak berada di dunia nyata, seperti dungeon, yap layaknya dungeon yang di mana penghalang tersebut berisi beberapa monster di dalamnya.


Yang Yami buat adalah penghalang pelindung, yang dapat merendam suatu energi yang sangat kuat untuk bocor keluar, dan juga suara yang sangat keras bocor keluar, juga Yami memberikan beberapa ilusi yang di mana, tidak akan ada yang berubah bahkan jika terjadi suatu pertarungan di dalam.


"Manusia yang mencoba untuk menghentikan kita, segera hajar hingga tidak sadarkan diri, jika itu benar-benar berbahaya maka kalian harus melakukannya dengan niat membunuh." Ucap Yami dengan nada suara serius, mereka berlima yang mendengarnya terdiam, meski mereka tidak ingin membunuh seseorang, tapi mereka juga tahu bahwa dunia Supranatural sangatlah berbahaya.


"Hei kalian siapa! Bagaimana kalian bisa berada di sini!" Ucap salah seorang penjaga bertubuh kekar, Yami, Aishu dan teman-temannya melihat ke arah pria besar tersebut, sebelum Aoma mengeluarkan listrik di kedua kakinya, lalu secara tiba-tiba saja muncul di depan pria tersebut, dan menendang dagunya, hingga membuatnya berputar dan akhirnya tergeletak di lantai.


Melihat temannya di serang, para penjaga yang lain segera berlari ke arah Aoma, untuk membalas dendam, tetapi tepat sebelum mereka mencapai Aoma, secara tiba-tiba saja Yuu muncul dan memukul bagian perut, dari para pria penjaga tersebut, yang membuat mereka menjadi tidak sadarkan diri.


"Bagus, kalau begitu aku akan pergi duluan, aku harus menemukan Shaman tersebut, sementara itu aku ingin kalian mengalahkan para penjaga, dan menangkap setiap orang yang memiliki hubungan dengan tempat ini, jika kalian menemukan para manusia yang akan dijual, kalian segera selamatkan mereka!" Ucap Yami sebelum akhirnya berlari dengan sangat cepat meninggalkan mereka berlima.


"Kalian mendengar perkataannya, ayo kita hajar para pria besar itu!" Ucap Emi dengan wajah bersemangat.


"Jangan lupa untuk menghancurkan setiap kamera, untuk para penjaga yang mengawasi di ruang kontrol, akan aku urus." Ucap Aishu yang dengan cepat segera mencari ruang kontrol kamera CCTV.


"Sigh... Padahal aku ingin pergi juga..." Ucap Emi yang menatap ke arah Aishu pergi.


"Kalau begitu pergi saja, hajar setiap penjaga dan temukan para manusia yang akan di jual." Ucap Aoma yang melihat ke arah Emi, setelah mengalahkan seorang penjaga yang baru saja datang.


"Benarkah?" Ucap Emi dengan wajah bersemangat.


"Ya, tapi kau harus pergi dengan Yuu, sebab tidak bagus untuk pergi sendirian." Ucap Aoma yang saat ini sedang bertarung dengan dua penjaga yang baru saja datang.


"Baiklah, Yuu ayo kita pergi!" Ucap Emi yang segera menarik Yuu, lalu berlari meninggalkan Aoma bersama dengan Rin.


"Rin! Ayo kita kalahkan mereka!" Ucap Aoma yang tersenyum, lalu melihat ke arah Rin yang sedang menatapnya dengan mata lebar.


"Rin...? Rin...?" Ucap Aoma yang menatap Rin dengan bingung.


"Ah! Ayo kita kalahkan mereka!" Ucap Rin yang tersadar dari lamunannya, lalu mereka akhirnya mulai menghajar para penjaga, sambil terus mencari manusia yang akan di jual, di tempat tersebut.


...___________________________________...


...Jangan Lupa LIKE, COMMENT, SHARE, FAVORITE!...