Reincarnation: System Shaman

Reincarnation: System Shaman
Chapter 41 - Terlahirnya Anak Yami



"Sigh... Aku dapat menyembuhkannya..." Ucap Yami yang menghela nafasnya.


Hal ini membuat Ai menatap Yami dengan wajah terkejut, dirinya bergegas ke arah Yami, lalu menarik kerah baju Yami, dan kemudian menatap tajam ke arah matanya.


"Kau jangan bercanda!" Ucap Ai dengan nada dingin, hal ini membuat Yami sedikit terkejut, sementara yang lainnya sangat sangat terkejut, dengan tingkah Ai yang baru pertama kali mereka lihat.


"Ada caranya, dan aku tidak bercanda." Ucap Yami yang melepaskan tangan Ai dari kerah bajunya.


"Benarkah itu?" Ucap Yon yang tiba-tiba saja membuka kedua matanya, dan berbicara dengan nada lemah.


"Yap, meskipun ini agak terbilang cukup aneh, tapi karena Energi Negatif telah membakar Dna dari pria tua Kim itu, maka jiwa dari putramu telah tiada, jika terus dibiarkan maka kau juga akan tiada, dan cara satu-satunya adalah dengan cara, seorang pria menjadi suami atau lebih tepatnya ayah untuk anakmu."


"Pria itu akan memberikan darah miliknya kepadamu, yang akan di gunakan sebagai DNA baru untuk anakmu yang akan segera lahir, saat anakmu sudah memiliki DNA seorang pria, lebih tepatnya DNA yang dianggap sebagai seorang ayah, maka akan terbentuk jiwa baru."


"Yang secara perlahan mengisi tubuh tanpa jiwa milik anakmu itu, dan anakmu bisa terlahir dan akan hidup, jika anakmu terlahir maka kau juga akan hidup, inilah cara satu-satunya... Masalahnya siapa yang ingin menjadi ayah dari anakmu itu?" Ucap Yami yang telah selesai menjelaskan secara panjang lebar.


Semua orang yang mendengar penjelasan dari Yami menjadi terdiam, mereka lalu saling memandang sebelum akhirnya Ai menatap tajam ke arah Yami.


"Apakah itu benar cara satu-satunya?" Ucap Ai dengan wajah tidak percaya.


"Ada cara lain, gugurkan anak tersebut?" Ucap Yami yang segera mendapatkan tamparan dari Ai.


"Bukan cara itu!" Ucap Ai dengan wajah kesal.


"Aduh, hanya ada dua cara itu agar perempuan itu dapat bertahan hidup, selamatkan si bayi atau bunuh si bayi, gampangkan...?" Ucap Yami dengan wajah bingung, sambil mengelus-elus pipinya yang baru saja di tampar.


"Kalau begitu kau yang akan menjadi ayahnya...!" Ucap Ai dengan nada memerintah.


Mendengar hal ini membuat semua orang yang berada di dalam ruangan menjadi sangat terkejut, mereka semua menatap ke arah Ai dengan tatapan tidak percaya.


"Hei! Apa-apaan ini, aku belum menikah, bahkan aku belum lulus sekolah, lebih penting lagi aku bahkan belum menanam benih di ladang miliknya! Dan tiba-tiba saja aku harus menjadi ayah dari anaknya?" Ucap Yami yang segera menolak.


"Tapi karena kau pergi begitu saja, hal ini terjadi, jika kau tidak pergi begitu saja, maka hal ini tidak akan terjadi, dan kau tidak perlu bertanggung jawab." Ucap Ai dengan nada dingin.


"Uh itu... Baiklah baiklah!" Ucap Yami yang menerimanya.


"Apakah ini baik-baik saja Yami-kun?" Ucap Aishu yang bertanya tentang pendapat Yami.


"Tentu saja tidak, tapi mau bagaimana lagi..." Ucap Yami dengan nada datar.


"Aku bisa melakukannya?" Ucap Aoma yang berinisiatif.


"Tidak!" Ucap Rin yang segera berteriak.


"Heh? Kenapa Rin?" Ucap Aoma sengan wajah bingung.


"Eh itu... Pokoknya tidak, bukan kau yang melakukan kesalahan, jadi kau tidak perlu bertanggung jawab!" Ucap Rin yang mencoba memberikan alasan.


"Kalau begitu, aku saja?" Ucap Yuu yang kali ini berinisiatif.


Yami yang melihat kedua hal tersebut, menjadi terdiam dirinya langsung berpikir, dan menemukan sebuah kemungkinan.


'Apakah Rin menyukai Aoma, dan Emi menyukai Yuu?' Pikir Yami dengan menatap ke arah mereka dengan tatapan intens.


"Itu benar, ini kesalahanku, jadi kalian berdua tidak perlu bertanggung jawab atas kesalahanku ini..." Ucap Yami yang mencoba dramatis, sambil melirik Rin dan Emi, yang di mana mereka berdua menatap ke arah Yami, dan memberikan kedipan mata ucapan terimakasih.


"Begitukah, baiklah kau bisa melakukannya Yami-san." Ucap Yuu yang menyuruh Yami untuk memulai.


Yami kemudian meminta sebuah pisau dari Ai, yang di mana Ai segera mencarinya, lalu memberikannya kepada Yami, kemudian Yami menggores tangan kirinya, lebih tepatnya di bagian telapak tangannya, dan darah mulai keluar dan turun ke perut Yon.


Lalu Yami mulai menggunakan sebuah Mantra, yang di mana darah miliknya masuk ke dalam tubuh Yon, dan mulai secara perlahan bergerak ke arah bayi dari Yon, kemudian darah Yami masuk kedalam tubuh bayi Yon, dan secara perlahan menjadi bagian dari Dna bayi tersebut.


Kemudian Yami membuat Mantra lain, lalu secara perlahan mulai terbentuk sebuah jiwa di dalam tubuh bayi dari Yon, Yami memperhatikan bayi tersebut dengan seksama dan penuh konsentrasi penuh, dirinya terlihat mengeluarkan begitu banyak keringat, yang di mana seluruh pakaiannya telah basah kuyup.


Lalu tiba-tiba saja saat Yami berkonsentrasi penuh, Yami melihat sebuah hal yang menakjubkan, Jiwa yang baru saja di bentuk tersebut, terlihat layak sudah dewasa, lebih tepatnya Jiwa itu begitu besar, Yami berpikir keras tentang hal ini, sampai Yami menemukan sebuah ide yang cukup mengejutkan bagi dirinya sendiri.


'Reinkarnasi!'


'Tidak! Apakah ini Transmigrasi?'


'Sialan bodo amat yang mana, terserah aku tidak peduli, yang aku tahu bahwa aku sedang melihat suatu hal yang sangat menakjubkan!'


'Jiwanya terlihat begitu suci, dan sangat terang, dengan kata lain di kehidupan sebelumnya Jiwa ini sangatlah baik hati, dan suka menolong orang lain...!'


'Dia akan menjadi orang yang sangat hebat! Ini adalah keyakinanku! Sebab dia adalah putraku! Dia akan menjadi orang yang paling di cintai oleh keluarganya! Itu pasti!' Pikir Yami dengan wajah penuh tekad, untuk pertama kalinya dalam kehidupan keduanya, Yami menetapkan sebuah keyakinan yang belum pernah dirinya lakukan, semenjak kehidupan keduanya.


Lalu Jiwa tersebut akhirnya menyatu dengan tubuh, kemudian entah bagaimana Yon merasakan sakit di bagian perutnya, dirinya segera merasa bahwa sudah waktunya anaknya terlahir.


Karena hal itu keributan terjadi, Ai segera membantu persalinan dari Yon, dirinya pernah melahirkan sebelumnya, oleh karena itu dirinya tahu caranya membantu melahirkan.


Yami akhirnya memberhentikan Mantranya, kemudian Yon berjuang sekuat tenaga untuk mengeluarkan putranya, sementara Ai mencoba untuk membantunya, lalu Aishu, Rin, dan Emi mencoba untuk membantu Ai.


Yami, Aoma, dan Yuu menunggu di luar kamar, dan terus mendengar suara dari dalam kamar, yang begitu berisik, untungnya Ai pernah memberikan suatu Mantra khusus peredam suara, di dalam rumahnya, agar suara berisik tidak keluar dari dalam rumahnya.


Setelah beberapa saat suara berisik akhirnya berhenti, dan Yami segera masuk ke dalam, di sana terlihat seorang anak kecil yang baru saja terlahir.


Yami berjalan mendekat dan melihat ke arah bayi tersebut, dengan tatapan tajam sebelum dirinya menjadi melembut dan menggendong bayi tersebut.


"Kono sekai e yōkoso." Ucap Yami dengan nada pelan.


(Note: Artinya, Kono sekai e yōkoso \= Selamat Datang di dunia ini)


...___________________________________...


...Jangan Lupa LIKE, COMMENT, SHARE, FAVORITE!...