
"... Berisik..." Ucap Yami sebelum mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah luar kelas, Yami melihat banyak anak-anak yang sedang berkeliling di sekitar, terutama di lapangan.
"Kau! Beraninya kau!" Ucap perempuan tersebut dengan wajah kesal, sebelum dirinya berjalan ke arah Yami, lalu menarik kerah baju belakang Yami, yang membuat Yami kehilangan keseimbangan dan terseret ke arah belakang, entah bagaimana kepala Yami mengenai kedua gunung kembar dari perempuan tersebut.
Hal ini membuat perempuan tersebut tersipu malu dan menjadi sangat merah, dirinya segera melepaskan kerah baju Yami, yang membuat Yami terjatuh tepat di bawahnya, hal ini malah membuat Yami dapat melihat ****** ***** dari perempuan tersebut, yang bermotif merah muda dengan gambar beruang yang terlihat imut.
"Merah muda..." Gumam Yami sambil menahan diri untuk tidak mimisan, perempuan tersebut yang mendengar gumaman dari Yami, segera mundur ke belakang dan segera mencoba untuk menutupi roknya, dirinya menjadi sangat malu.
"Dasar pria berhidung belang!" Ucap perempuan tersebut dengan wajah merah, entah karena marah atau malu, atau mungkin keduanya.
"Uh aku tidak salah apapun, kau yang menarikku, yang membuat kepalaku menyentuh gunung kembarmu, kau juga yang menjatuhkan tubuhku yang membuat aku dapat melihat celana dalammu, jadi bukan salahku tapi ini semua kesalahanmu." Ucap Yami yang kembali duduk.
"Ta-tapikan kau duluan yang menghinaku!" Ucap perempuan tersebut dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Yami.
"Eh kalau begitu kau hanya perlu membalas menghinaku, tidak perlu sampai menarik kerah bajuku..." Ucap Yami yang di mana hal ini membuat perempuan tersebut terdiam.
"Po-pokoknya kau harus bertanggung jawab!" Ucap perempuan tersebut dengan nada tinggi.
"Eh sudah kubilang-"
"Kau harus bertanggungjawab... Hiks... Hiks... Kau... Hiks... Kau harus..." Ucap perempuan tersebut yang mulai menangis.
"Sigh... Baik-baik, apa yang harus aku lakukan... Menikahimu?" Ucap Yami dengan wajah menyerah.
"Tidak... Kau hanya harus menjadi kekasih palsuku..." Ucap perempuan tersebut yang segera berhenti menangis dan tersenyum penuh kemenangan.
"Kau...! Kau menipuku!" Ucap Yami dengan wajah kesal.
"Hehe, apa? Kau tidak mau? Ya sudah aku tinggal melaporkannya ke para guru, bahwa ada seorang pria berhidung belang yang telah mengintip ****** *****, dan menyentuh gunung kembarku..." Ucap perempuan tersebut yang tersenyum penuh kemenangan.
"Cih! Baiklah... Aku hanya harus menjadi kekasih palsumu bukan?" Ucap Yami dengan wajah kesal.
"Ya, kau hanya harus menjadi kekasih palsuku di depan kedua orangtuaku, hari ini akan ada makan malam keluarga dan aku ingin kau datang sebagai kekasih palsuku..." Ucap perempuan tersebut yang kembali duduk di bangkunya.
"Haah... Jika aku tidak datang, kau akan dijodohkan?" Ucap Yami dengan wajah kesal.
"Benar... Bagaimana kau tahu?" Ucap perempuan tersebut yang menatap Yami dengan curiga.
"Haah, banyak cerita di novel atau manga yang seperti ini, sungguh aku heran kenapa kau tidak mau dijodohkan, bukankah itu hal yang bagus, jadi kau tidak perlu khawatir mendapatkan masalah untuk mencari kekasih?" Ucap Yami dengan wajah bingung.
"Aku tidak mau seperti itu, aku maunya mencari kekasihku sendiri, aku tidak mau menjalin perasaan tanpa mengenal satu sama lain, jadi aku tidak mau dijodohkan..." Ucap perempuan tersebut yang menundukkan kepalanya.
"Begitukah... Maka aku akan melakukannya dengan baik... Hanya kali ini saja..." Ucap Yami yang menerima hal tersebut.
"Baiklah malam ini kau harus datang ke restoran Hachiyonan jam tujuh malam..." Ucap perempuan tersebut menatap ke arah Yami.
"Baik-baik, benar aku belum mengetahui siapa namamu?" Ucap Yami melihat ke arah perempuan tersebut.
"Namaku...? Eiko Fujimaru... Siapa namamu!" Ucap Eiko dengan wajah sombong.
"Namaku Yami... Yami Tanaka... Salam kenal Kekasih palsuku..." Ucap Yami sambil menyeringai lebar.
"Cih! Ini hanya pura-pura jika tidak bersama dengan orang tuaku, jangan bertingkah seperti kita sepasang kekasih!" Ucap Eiko dengan wajah kesal.
"Baik-baik..." Ucap Yami dengan nada datar.
"Kau lama sekali..." Ucap Yami dengan menguap.
"Hehe aku memiliki beberapa teman baru, lagi pula kau seharusnya juga mencoba untuk memiliki beberapa teman..." Ucap Nana sambil melihat ke arah Yami.
"Aku tidak terlalu memikirkan hal itu... Lagi pula aku sudah memiliki banyak kenalan di SD dan SMP." Ucap Yami dengan nada santai.
"Sigh... Benar apakah hari ini kau ada acara?" Ucap Nana dengan wajah datar, tapi sebenarnya di dalam benaknya dirinya sedang berharap, bahwa Yami tidak memiliki acara dan dapat ikut dengannya.
"Jam tujuh malam aku ada acara, memang ada keperluan apa?" Ucap Yami dengan bingung.
"Ouh... Kalau begitu ayo ikut denganku ke rumah, kita akan bermain di kamarku!" Ucap Nana dengan wajah bahagia.
"Hem bermain di kamarmu? untuk apa?" Ucap Yami yang bertambah bingung.
"Pokoknya kau harus ikut, ayo!" Ucap Nana yang segera menarik tangan Yami.
...
...
...
Yami akhirnya sampai di rumah Nana, dirinya di sambut dengan rumah Nana yang kosong, Nana bilang bahwa mamanya sedang pergi keluar dan akan kembali jam tujuh malam.
Yami akhirnya sampai ke kamar Nana, yang penuh dengan boneka berwarna pink, yang lucu dan imut.
"Uh... Kita akan bermain apa...?" Ucap Yami dengan menatap ke arah Nana, sambil di dalam kepalanya dirinya mulai berpikiran kotor.
"Kita akan main ini..." Ucap Nana sambil menunjuk ke sebuah video game fantasi, dirinya terlihat begitu senang.
"Cih... Kupikir hal lain..." Gumam Yami dengan sangat pelan, hal ini tidak dapat Nana dengar, sebab dirinya sedang fokus menyalakan video game ke televisi.
"Baiklah ayo kita mulai main!" Ucap Nana dengan wajah bersemangat, akhirnya mereka mulai bermain selama berjam-jam sambil makan makanan ringan.
Lalu Nana akhirnya tertidur dengan sangat lelap, Yami yang melihat hal itu segera menghela nafas panjang, dirinya kemudian menggendong Nana dan membawanya ke arah ranjang tempat tidur, lalu Yami melihat ke arah jam, melihat bahwa sebentar lagi akan jam tujuh malam, Yami akhirnya mengambil tasnya, lalu beranjak keluar dari rumah Nana.
Saat Yami ingin keluar dari kamar Nana, dirinya bertemu dengan mama dari Nana yaitu Noumi.
"Halo Noumi-san..." Ucap Yami sambil membukukan badannya.
"Halo Yami-kun, fufu aku tidak menyangka kalian bermain sampai Nana-Chan tertidur lelap, sepertinya staminamu sangat kuat." Ucap Noumi dengan senyum menggoda.
"Uh, kami tidak seperti yang kau pikirkan...!" Ucap Yami yang mengangkat kedua tangannya.
"Fufu, Baik-baik aku tidak akan berpikiran seperti itu, Nene Yami-kun..." Ucap Noumi yang berjalan mendekati Yami.
"Hem...? A-!?" Sebelum Yami sempat menyelesaikan kata-katanya, Noumi sudah mencium pipi kanan Yami, hal ini membuat Yami terdiam sebelum dirinya bergegas pergi berlari menjauh dari rumah Nana.
"Fufu... Yami-kun... Kuharap kau... Bisa memperlakukan aku... Seperti seorang wanita..." Ucap Noumi dengan wajah sedih.
...___________________________________...
...Jangan Lupa LIKE, COMMENT, SHARE, FAVORITE!...