Reincarnation: System Shaman

Reincarnation: System Shaman
Chapter 78 - Masa Lalu Part 3



"Ah kalau kau ingin beristirahat, maka aku akan pergi keluar untuk membeli beberapa bahan makanan..." Ucap Karina yang berbicara kepada Yami, setelah dirinya selesai mencuci piring, sendok, garpu, mangkuk, serta peralatan memasak.


"Baiklah." Ucap Yami yang menganggukkan kepalanya, lalu Karina segera pergi keluar dari rumah, Yami kemudian segera kembali ke kamarnya.


Sesampainya di kamar Yami segera beranjak ke atas tempat tidur, dirinya kemudian berbaring dan memikirkan hal yang sebelumnya dikatakan oleh Karina, bahwa sihir tidak ada di dunia ini.


"Yami..." Tiba-tiba saja sebuah suara terdengar di dalam benak Yami.


"Hanobusho? Ada apa?" Ucap Yami dengan mengkerutkan alisnya.


"Sepertinya perempuan itu terkena kutukan." Ucap Hanobusho yang membuat Yami terkejut, sampai-sampai dirinya segera terduduk.


"Benar! Kutukan, hal-hal yang sangat mistis, layaknya Takdir dan Karma, di kehidupan sebelumnya aku tidak mendalami hal-hal yang seperti ini, sebab aku lebih sering terlibat dengan Roh dan Arwah, serta ras Supranatural lainnya." Ucap Yami yang baru ingat mengenai penyebab kaki Karina tidak dapat digunakan.


"Sepertinya dia mengalami Kutukan Garis Keturunan." Ucap Hanobusho dengan nada ragu-ragu.


"Kutukan Garis Keturunan... Maksudmu alasan dirinya tidak dapat menggunakan kakinya, karena nenek moyangnya terkena kutukan, yang di mana kutukan tersebut akan terus mengalir bahkan ke keturunannya?" Ucap Yami dengan wajah terkejut.


"Benar... Meski hal itu sangat jarang, tapi bukan hal yang tidak mungkin... Hanya saja biasanya orang yang memiliki Kutukan Garis Keturunan biasanya sangat cepat mati, dan mereka biasanya sangat jarang mendapatkan keturunan, juga tidak semua generasi memiliki Garis Keturunan, pasti ada yang tidak mendapatkan Kutukan Garis Keturunan, tapi mereka yang tidak mendapatkan Kutukan Garis Keturunan, biasanya memiliki tubuh yang sangat lemah atau rapuh." Ucap Hanobusho yang menjelaskan mengenai konsep Kutukan Garis Keturunan.


"... Haaah... Apakah kau dapat menyembuhkan kutukan itu Hanobusho?" Ucap Yami dengan menghela nafas panjang.


"... Tidak... Aku ini tidak berada di bidang Kutukan, Takdir dan Karma, oleh karena itu aku tidak dapat membantu." Ucap Hanobusho yang menjawab dengan nada datar.


"Sigh... Kurasa-!" Sebelum sempat Yami menyelesaikan kata-katanya, dirinya segera mendengar sebuah suara dari dalam benaknya.


"Yami! Apakah kau dapat mendengarku!"


"... Nana?" Ucap Yami dengan wajah terkejut.


"Benar! Berhasil! Apakah kau baik-baik saja, kau berada di mana sekarang?" Ucap Nana yang bertanya dengan nada khawatir.


"Aku berada di dunia lain..." Ucap Yami yang tersenyum kecut.


"Dunia lain? Benarkah! Apakah itu dunia yang sangat berbahaya?" Ucap Nana yang khawatir bahwa Yami, terlempar ke tempat yang sangat berbahaya.


"Aku baik-baik saja, dan dunia ini tidak terlalu bahaya, sebab sepertinya sihir sudah hampir punah di dunia ini." Yami mengatakan bahwa sihir hampir punah sebab dari perkataan Karina sebelumnya, seharusnya tidak ada lagi orang atau makhluk yang dapat menggunakan sihir di dunia ini, tapi melihat kutukan yang dimiliki oleh Karina, Yami tahu bahwa sihir seharusnya masih ada.


"Ouh... Syukurlah..." Ucap Nana yang menghela nafas dengan lega.


"Bagaimana, apakah kalian sudah pergi menuju ke klan Sukainaito?" Ucap Yami yang bertanya dengan nada penasaran.


"... Saat ini kami sedang berada di klan Sukainaito, dan... Kami tidak dapat menyembuhkannya... Ini... Sepertinya bukan penyakit... Atau racun... Aku tidak tahu apa ini, tapi yang pasti ini sangatlah aneh dan berbahaya, oleh karena itu kami memutuskan untuk menghubungimu, apakah kau dapat menyembuh atau tahu cara menyembuhkannya?" Ucap Nana yang bertanya dengan nada ragu-ragu.


Di dalam ruangan, terdapat Nana, Kina, Hikari, Lily, Kazane, Kenma, Chizu, Farayaka, Haruki, Airis, seorang pria tua berambut hitam panjang, dan seorang perempuan yang berambut hitam yang terlihat berumur dua puluhan, dengan beberapa pria tua, yang sepertinya anggota klan Sukainaito, lalu di tengah terbaring seorang perempuan cantik yang terlihat agak kurus, dengan rambut berwarna hitam pekat, dan lekuk tubuh yang sangat panas.


"Racun? Tidak ini bukan racun... Kutukan? Tidak tidak, ini terlalu aneh jika di sebut kutukan, lalu..." Mendengar suara dari salinan Yami, membuat semua orang yang berada di dalam ruangan menjadi sangat terkejut.


"Apa! Kutukan!" Ucap pria tua yang duduk di dekat perempuan berumur dua puluhan.


"Ehem itu bukan kutukan... Tapi hampir sama, hanya berbeda dalam beberapa hal saja... Benar-benar aneh... Tidak... Kurasa ini prototipe Kutukan versi racun? Eh itu tidak mungkin... Hem..." Mendengar gumaman dari Yami membuat semua orang menjadi lebih terkejut.


Sebab para tabib ahli sekalipun tidak tahu racun apa itu, tapi Yami terlihat seperti paham, tapi tidak terlalu yakin.


"Hei Yami! Bukankah itu Racun Gorjion?" Tiba-tiba saja Hanobusho berbicara kepada Yami, mendengar hal yang dikatakan oleh Hanobusho membuat Yami tersentak, dirinya segera bergegas ke arah perempuan yang berbaring, melihat tingkah laku Yami membuat anggota klan Sukainaito menjadi waspada, dan bersiap untuk mencegah Yami untuk berniat melukai putri dari kepala klan Sukainaito.


"Benar! Ini Racun Gorjion!" Ucap Yami dengan wajah terkejut saat dirinya meletakkan tangannya di kepala perempuan yang sedang berbaring, dirinya segera berteriak dengan wajah terkejut, mendengar perkataan dari Yami membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut menjadi bingung, mengenai apa itu Racun Gorjion.


"Apa itu Racun Gorjion?" Ucap perempuan yang terlihat berumur dua puluhan, yang duduk di dekat pria tua yang sebelumnya terkejut mengenai kutukan dan berteriak.


"Racun Gorjion merupakan sebuah racun yang tidak berbahaya bagi tubuh, tapi berbahaya bagi jiwa-! Ah! Apa ini!" Ucap Yami dengan wajah terkejut yang segera melepaskan tangannya dari dahi perempuan tersebut.


"Apa yang terjadi!" Ucap perempuan yang sebelumnya bertanya, dengan wajah khawatir.


"... Di dalam tubuhnya terdapat sesosok? Eh seekor? Jiwa yang sangat kuat? Entah jiwa milik siapa itu, tapi satu hal yang dapat aku pastikan itu jiwa seorang perempuan yang sangat kuat, sepertinya jiwa itulah yang membuat perempuan ini dapat bertahan sampai sekarang..." Ucap Yami yang menggosok kepalanya dengan bingung.


"Jiwa? Ada seseorang yang menempati tubuh putriku?!" Ucap pria tua yang bertanya dengan wajah marah.


"Ehem tenanglah pak tua, karena jiwa inilah putrimu masih dapat hidup, kau seharusnya bersyukur, dan juga kurasa jiwa itu adalah semacam... Anggota klan Sukainaito dari jaman dulu... Kurasa... Sebab tidak mungkin sesosok jiwa kuat dapat berada di dalam tubuh seseorang tanpa mengalami bentrokan." Ucap Yami yang menjelaskan mengenai jiwa yang berada di dalam tubuh perempuan yang dirinya periksa.


"Hem... Anggota klan Sukainaito dari jaman dulu? Siapa?" Ucap pria tua tersebut dengan wajah bingung.


"Mana kutahu, ini klanmu bukan klanku, mana kutahu?" Ucap Yami secara blak-blakan.


"..."


"Kembali ke topik, Racun Gorjion merupakan sebuah racun yang seharusnya tidak berada di dunia ini, sebab Racun tersebut seharusnya berasal dari dunia bernama Rakagosi, sebuah dunia atau lebih tepatnya planet kecil, yang sangat berbahaya yang berisi berbagai Monster kuat dan mematikan, yang dapat membunuh seseorang dengan sangat mudah."


"Racun ini berasal dari penguasa planet tersebut, atau lebih tepatnya dewa dunia itu, yang bernama Gorjion, dia adalah Dewa Monster, Dewa Racun, Dewa Sombong, Dewa Pertandingan, hanya dialah yang bisa menciptakan Racun Gorjion, dia akan memberikan barang yang dirinya miliki kepada seseorang, yang berhasil mengalahkan petarung monster terkuat yang dimilikinya."


"Racun yang dimilikinya tidak menyebabkan luka luar, tapi menyebabkan luka jiwa, orang yang terluka, jiwanya secara perlahan akan terkikis, dari tidak dapat berbicara, lalu tidak dapat melihat, tidak dapat mendengar, tidak dapat bergerak, lalu akhirnya tidak dapat berpikir, orang yang terkena racun ini biasanya selalu berakhir menjadi boneka orang lain." Ucap Yami dengan santai, tapi berbeda dengan anggota klan Sukainaito, kemarahan mereka segera meletus.


...___________________________________...


...Jangan Lupa LIKE, COMMENT, SHARE, FAVORITE!...