
Saat Yami sedang duduk di bangku ala protagonis dalam manga dan novel, yaitu di paling belakang pojok kiri, yang dekat dengan jendela dan memperlihatkan pemandangan lapangan sekolah.
Tidak lama kemudian datanglah seorang guru perempuan, yang sangat cantik dengan rambut merah panjang, tubuh yang sangat menggoda, dengan dua gunung kembar yang sangat besar, bemper bagian bawah yang sangat mengunggah selera para pria, tidak lupa pinggul yang sangat pas.
"Halo, Sensei bernama Iruna Hanakawa, mulai saat ini sampai satu tahun mendatang kita akan terus bersama, jadi mohon bantuannya..." Ucap Iruna dengan nada menggoda dan dengan gaya yang menggoda.
Biasanya di sekolah-sekolah Yami sebelumnya, jika terdapat guru yang sangat cantik atau tampan pasti para pria atau perempuan, akan berteriak dengan sangat keras, sangking bahagianya, tapi kali ini seluruh kelas Yami terlihat tenang, hal ini membuat Yami terdiam, dirinya tidak menyangka bahwa sekolah bergengsi maka para muridnya juga harus terlihat elit.
Padahal Yami sangat ingin berteriak, seperti saat dirinya masih SMP dulu dengan teman-teman sekelasnya, tapi sepertinya itu tidak akan terjadi di sekolah SMAnya.
"Baiklah mari kita mulai dari perkenalan, kalau begitu di mulai dari..." Kemudian masa perkenalan diri di mulai.
Yami tidak terlalu mendengarkan, sebab dirinya fokus dengan hal yang saat ini terus muncul dalam benaknya.
'Mengapa ada begitu banyak individu dari berbagai kalangan di kelas ini, apakah ini ada hubungannya dengan Hikari yang pernah Roh Jahat sebelumnya katakan, tidak, itu tidak mungkin, tapi jika itu benar, Hikari itu maksudnya apa, apakah itu benar-benar cahaya lampu atau semacamnya?' Pikir Yami sambil terus berpikir keras, dan memandang ke arah luar.
"Perkenalkan namaku Hikari Oishu, hobiku membaca buku, senang bertemu dengan kalian..." Ucap perempuan yang sebelumnya Yami lihat, dengan memiliki afinitas elemen cahaya yang sangat kuat.
Entah itu takdir atau semacam kebetulan semata, atau karena campur tangan seseorang, Yami yang sebelumnya kebingungan dengan kata Hikari, tiba-tiba saja muncul seseorang yang memiliki nama yang sama, dengan yang sedang Yami pikirkan.
'Hikari! Apakah perempuan ini yang di maksud dengan para Roh Jahat sebelumnya, tidak ini tidak mungkin, tapi ini terlalu sempurna, seolah-olah ini takdir atau... hanya kebetulan semata saja, tapi ini terlalu sempurna apa lagi dengan elemen cahayanya yang tersegel, dan juga elemen cahayanya yang sangat kuat, ini tidak dapat di katakan sebagai kebetulan, ini adalah takdir!' Pikir Yami sambil menatap ke arah Hikari dengan tatapan tajam.
Tapi Yami segera berhenti menatap, dan mengalihkan pandangannya karena tidak mau menarik terlalu banyak perhatian.
"Namaku Lily Crisien, aku dari Inggris tapi orangtuaku memiliki pekerjaan di Jepang, jadi kami sekeluarga pindah ke sini, mohon bantuannya mulai sekarang." Ucap perempuan yang sebelumnya Yami lihat memiliki Mana dan kontrol yang sangat luar biasa.
"Namaku Kazane Amasuka, tolong bantuannya selama satu tahun kedepan semuanya..." Ucap perempuan yang Yami rasakan memiliki garis keturunan setengah iblis, dan setengah manusia.
"Namaku Kenma Asihito, semoga kita dapat berteman baik, mulai sekarang semuanya..." Ucap pria yang memiliki aura Naga di dalam tubuhnya.
Lalu kemudian akhirnya giliran Yami, saat ini Yami sedang melihat ke sekitar kelas, lalu dirinya menarik nafas panjang kemudian berbicara.
"Namaku Yami... Tanaka... Itu saja." Ucap Yami yang kemudian segera duduk kembali, para siswa yang melihat perkenalan aneh dari Yami menjadi terdiam, sebelum akhirnya mereka mulai berbisik-bisik satu sama lain.
"O-ouh baiklah karena perkenalan sudah, maka kita akan memulai hari ini." Ucap Iruna yang mencoba menghilangkan suasana tegang.
Lalu kelaspun di mulai, selama pembelajaran Yami berusaha untuk memperhatikan, tapi lama-kelamaan dirinya menjadi bosan dan akhirnya memilih untuk melihat pemandangan luar dari jendela.
'Hem... Gunungnya sangat besar, tapi tubuhnya sangat kecil...?' Pikir Yami sambil memandang ke seorang siswa perempuan, yang terlihat imut dengan memiliki rambut hitam panjang lurus, tubuh kecil dan ramping, dan memiliki gunung yang sangat besar.
'Gunung dan tubuhnya sangat berbeda jauh...' Pikir Yami yang mencoba untuk tidak menatap terlalu banyak.
'Hem... Hem... Hem... Itu? Seorang murid laki-laki? Tubuhnya penuh dengan bekas luka dan baju serta celananya sangat kotor, apakah dia habis di bully?' Pikir Yami sambil menatap ke arah siswa tersebut, kemudian Yami melihat ke tempat yang sebelumnya didatangi siswa tersebut, lalu tiba-tiba saja mulai keluar beberapa siswa pria dari sana juga, dengan memiliki tampang preman.
"Tuan Tanaka... Tuan Tanaka... Tuan Tanaka...!" Ucap Iruna yang mencoba menyadarkan Yami, tapi Yami masih terlalu fokus keluar, hingga akhirnya Iruna-sensei melemparkan spidol ke arah Yami, tapi Yami dapat menangkapnya dengan mudah.
"Aduh ada apa?" Ucap Yami yang melihat ke arah Iruna.
"Sungguh apakah itu sebuah pertanyaan? Saya bertanya kepada anda, apa jawaban dari soal ini, dan mengapa anda sangat fokus menatap ke arah luar." Ucap Iruna dengan nada kesal.
"Ouh... Jawabannya B!" Ucap Yami dengan santai, bukannya mendapatkan pujian karena benar, Yami malah di lempar penghapus papan tulis, yang dapat Yami tangkap dengan mudah.
"Di soal ini tidak ada A, B, C, D ataupun E, jadi kau salah! Kali ini akan kubiarkan tapi perhatikan kelas dengan baik!" Ucap Iruna yang mencoba menenangkan diri, sebab itu baru hari pertama, jika dirinya tidak dapat menahan diri, maka kelas yang dirinya impikan tidak akan terwujud.
"Baik-baik..." Ucap Yami dengan santai.
Kelaspun berlanjut, dan kali ini Yami memperhatikan kelas dengan baik, lalu waktu istirahat tiba, Yami segera tertidur di mejanya, sementara yang lain pergi ke kantin untuk makan.
...
...
...
"Uwaah! Ya ampun kelas ini sepi sekali, kurasa aku tidur cukup lama, tapi masih belum ada yang kembali dari kantin? Apakah jam istirahat itu lama?" Gumam Yami sambil menatap ke sekitar, tepat setelah Yami menyelesaikan kata-katanya, dirinya menemukan bahwa dirinya tidak sendirian di kelas, sebab ada seorang perempuan yang saat ini sedang membaca buku, yang berada tepat di sebelah kanan Yami.
"Uhm... Halo kau tidak pergi ke kantin?" Tanya Yami sambil menatap ke arah perempuan tersebut.
"Aku tidak ingin menghabiskan waktuku untuk makan makanan yang tidak selevel denganku..." Jawab perempuan tersebut dengan nada sombong dan dingin.
Yami yang mendengarnya terdiam, dirinya kemudian membalas perkataan perempuan sombong tersebut.
"...Bilang saja kau tidak punya duit..." Ucap Yami dengan nada pelan, tapi perempuan tersebut sepertinya memiliki pendengaran yang bagus, atau karena dihina makanya dirinya dapat mendengar perkataan pelan Yami.
"Apa! Kau bilang! Dasar orang miskin ketahui tempatmu!" Ucap perempuan tersebut dengan nada dingin, dan menatap tajam ke arah Yami.
...___________________________________...
Hai para pembaca lama tidak bertemu! Bagaimana kabarnya... baik? Akhirnya nih... Semuanya! Arc Sekolah, akhirnya tiba! Sudah cukup lama Author ingin membuat Arc ini, tapi karena takutnya jalan ceritanya kecepatan, makanya Author melakukan pembuatan Arc ini secara perlahan.
Sedikit informasi nih ya, mau baca atau tidak, tidak masalah, ini bisa menjadi spoiler sih, tapi author ingin sekali menyampaikannya, Arc sekolah ini... Akan menjadi Arc paling kacau di bandingkan Arc sebelum-sebelumnya! Arc ini pula yang akan menjadi landasan dari berbagai Arc lainnya, jadi baca terus ya...! Semuanya!
...Jangan Lupa LIKE, COMMENT, SHARE, FAVORITE!...