
"Maaf..." Ucap mereka berempat, sambil menundukkan kepala mereka.
"Haah, kalau begitu... Aku akan mengajari kalian beberapa hal, setelah itu kalian harus sering berlatih, dan mulai mencari tahu tentang dunia ini, ada banyak hal yang dapat di pelajari di dunia ini." Ucap Yami yang menatap ke arah mereka dengan tatapan melankolis.
"Baiklah..." Ucap mereka yang bersemangat.
"Sigh... Hem... Uh aku lapar..." Ucap Yami yang mencium bau harum makanan.
"Ini makanannya sa-yang!" Ucap Ai yang tiba-tiba saja muncul dan bertingkah genit kepada Yami, Aoma, Yuu, Emi, dan Rin terdiam, sementara Aishu tercengang dengan tingkah ibunya, tapi Yami terlihat biasa-biasa saja.
"Terimakasih atas makanannya..." Ucap Yami yang mulai makan nasi dengan telor, lalu setelah selesai makan, Yami menatap ke arah Ai.
"Makanannya enak terimakasih..." Ucap Yami dengan tersenyum tipis, yang menatap Ai dengan tatapan lembut.
"Sama-sama..." Ucap Ai yang membalas tersenyum tipis.
Aoma, Yuu, Emi, Rin, dan Aishu, yang melihat tingkah laku Yami dan Ai menjadi terdiam, mereka memikirkan banyak hal di dalam pikiran mereka, seperti Yami dan Ai yang memiliki perasaan romantis.
"Tidak...!" Ucap Aishu yang berdiri dan mengejutkan mereka semua.
"Ada apa sayang?" Ucap Ai yang bertanya kepada putri kecilnya.
"Ah! Itu... Tidak ada kok, aku hanya... Berpikir jika kami tidak bertemu dengan Yami, kami pasti sudah tiada." Ucap Aishu yang mencoba menyembunyikan hal yang dirinya pikirkan.
"Begitukah?" Ucap Ai yang menatap Aishu dengan tatapan berpikir.
"Benar!" Ucap Aishu yang menganggukkan kepalanya.
...
...
...
"Kau tahu tentang rumah itu?" Ucap Yami yang tiba-tiba saja memecah keheningan.
"Rumah itu?" Ucap Aoma, Yuu, Emi, Rin, dan Aishu, dengan bingung dan wajah bertanya.
"Rumah yang di dalamnya sedang terjadi perdagangan manusia, yang dijalankan oleh seorang Shaman..." Ucap Ai dengan wajah tenang, dan menoleh ke arah Yami.
"Jadi kau tahu..." Ucap Yami yang menatap ke arah Ai.
"Apa!" Ucap Aoma, Yuu, Emi, Rin, dan Aishu, dengan wajah terkejut, mereka tidak tahu tentang hal tersebut.
"Di mana itu!" Ucap Emi dengan wajah tidak senang.
"Tenanglah, itu berada beberapa blok dari tempat ini, kenapa kau terlihat begitu marah?" Ucap Yami dengan nada suara tenang.
"Itu benar dia telah melanggar kode etik Supranatural, tapi kau dapat berbuat apa, kau ini lemah oleh karena itu, kau tidak dapat berbuat banyak hal dengan tersebut..." Ucap Yami dengan wajah tenang, tapi hal itu malah membuatnya di tatap oleh Aoma, Yuu, Emi, Rin, dan Aishu, dengan tatapan tajam.
"Meskipun kami ini lemah, kami tidak akan pernah menyerang yang lebih lemah dari kami, hanya untuk kesenangan semata, dan tujuan tertentu!" Ucap Aoma yang menatap Yami dengan wajah tegas.
"Itu benar, meski aku bukan seorang manusia, aku sudah di didik dengan lingkungan manusia, jadi aku tidak mau melihat mereka diperlakukan tidak layak oleh orang-orang Supranatural!" Ucap Aishu yang menatap Yami dengan wajah serius.
"Yah, untuk saat ini kalian tenang dulu, lagi pula Yami saat ini sedang terluka, di-"
"Kalau begitu ayo kita pergi ke sana." Ucap Yami yang menyela kata-kata dari Ai.
"Tapi kau sedang terluka!" Ucap Ai yang menolak kata-kata Yami.
"Aku akan tetap pergi, bahkan jika itu harus membuat lukaku bertambah parah..." Ucap Yami yang menatap tajam ke arah Ai.
Ai yang melihat tatapan Yami menjadi terdiam, dirinya melihat mata Yami yang di penuhi oleh tekad, entah kenapa suatu emosi yang telah lama Ai lupakan kembali, perasaan bahagia tidak wajar muncul dalam dirinya, hal ini membuat Ai menjadi panas, karena tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang memerah malu, Ai akhirnya berdiri dan berjalan pergi dari ruang tengah.
Hal itu membuat mereka berenam menjadi kebingungan, kenapa Ai malah berdiri dan berjalan pergi dari sana, Yami entah bagaimana sempat melihat wajah kemerahan dari Ai, walau hanya beberapa detik saja, hal itu membuat Yami langsung tau apa yang terjadi kepada Ai.
"Kalian tunggu sebentar di sini, setelah itu kita langsung pergi ke rumah, yang aku katakan tadi." Ucap Yami yang berdiri dan berjalan ke arah Ai.
Sesampainya di sana, Yami melihat Ai yang sedang duduk di halaman dengan menatap ke arah bulan, dengan wajah lembut dan melankolis.
"Hei, kenapa kau tidak memberitahu Aishu bahwa kau tidak akan bertahan hidup..." Ucap Yami yang duduk tepat di sebelah Ai.
Mendengar yang di katakan oleh Yami, Ai sempat terkejut sebelum dengan tenang menatap ke arah Yami, lalu kembali menatap bulan.
"Aku tidak ingin membuatnya khawatir, aku berasal dari klan yang terkenal, sebab Ras kami terkenal membawa keberuntungan, oleh sebab itu banyak yang mencoba menjalin hubungan dengan klan kami, tapi para pejabat klan tidak menerima orang yang berniat untuk memanfaatkan kami, oleh karena itu klan kami masih dapat bertahan sampai sekarang."
"Sampai suatu hari aku sudah waktunya menikah, tapi tidak ada pria yang membuatku tertarik, oleh karena itu mereka mencoba untuk menjodohkanku, tapi semuanya aku tolak bahkan kupukuli..." Ucap Ai dengan tersenyum, Yami yang mendengarnya sedikit ngeri.
"Aku akhirnya kabur dari klan, tapi aku malah bertemu dengan beberapa orang yang mencoba menangkapku, meski aku berhasil melarikan diri, tapi aku terluka sangat parah, jadi aku mencoba untuk bersembunyi, karena luka-luka yang kuterima, membuat Inti Energiku rusak, meski begitu aku tidak mau kembali ke klan."
"Karena aku tidak mau menikahi seseorang yang tidak kukenal, tapi aku terluka parah, jadi demi membuat lukaku tidak terlalu parah, aku mencoba untuk membuat anak menggunakan kekuatanku yang tersisa, hal itu berhasil dan dapat membuat luka-lukaku sembuh, tapi anak itu terlahir dengan tidak memiliki Inti Energi, karena luka-luka yang aku alami, telah kupindahkan ke tubuh anak tersebut, sebagai gantinya anak itu terlahir dengan sehat tapi tidak memiliki Inti Energi."
"Yap anak tersebut adalah Aishu, itulah kenapa aku namai dia menggunakan sebagian dari namaku, karena dirinya memang adalah sebagian dari diriku."
"Semenjak itu aku mulai mencoba hidup sebagai manusia dengan Aishu, lama-kelamaan aku mulai benar-benar menganggapnya sebagai putriku, cinta keibuan akhirnya tumbuh dan aku menjadi sangat menyayanginya sebagai seorang ibu."
"Tapi suatu hari aku tersadar bahwa hidupku tidak akan lama lagi, sebab aku hanyalah sebagian dari diriku yang sebenarnya, dan Inti Energiku sudah sangat rusak parah, oleh karena itu aku berniat untuk menjadi ibu yang baik baginya selama sisa hidupku, ada satu cara untuk aku dapat bertahan hidup, yaitu dengan cara menyerap kembali Aishu, tapi aku tidak ingin itu terjadi, sebab jika aku lakukan, maka Aishu akan tiada." Ucap Ai dengan wajah sedih, melihat hal itu Yami mendekat lalu menaruh kepala Ai di pundak kanannya.
...___________________________________...
...Jangan Lupa LIKE, COMMENT, SHARE, FAVORITE!...