My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 94 - bergulat



Tidak terasa beberapa jam telah berlalu dengan cukup menguras kesabaran Revon. Pasalnya wanita yang sedang tidur di sampingnya sangat aktif sekali. Sudah berulang kali Revon mengumpat pelan sambil menahan diri untuk tidak pergi dari ranjang saat itu juga. Di ujung rasa frustasinya, Revon hanya pasrah dan memejamkan mata.


"Hmm… Jam berapa sekarang?" gumam Rose sambil menggeliat.


Rose menatap wajah Revon karena tidak kunjung mendapat jawaban dari lelaki itu. Saat Rose sedikit menggeser pinggulnya, tiba-tiba tangan Revon memegang pinggul Rose agar semakin menekan titik vital Revon yang sedang mengeras.


Rose menelan ludah sambil menunduk ke bawah dengan raut wajah kaget. Tangan Revon yang lain meraih dagu Rose, menatap kedua netra hitamnya dalam-dalam.


"Kamu harus bertanggung jawab, Bae."


Rose menggigit bibir bawahnya sambil menatap Revon. Sebenarnya Rose juga tidak tahu apa yang dia lakukan hingga membuat Revon sangat menegang di bawah sana.


Posisi Rose yang menduduki tubuh Revon sangat pas untuk menyulut api dengan sangat cepat. Api hasrat yang membara sudah membakar tubuh Revon.


Rose menggenggam tangan Revon yang berada di dagunya. "Kejahatan apa yang sudah aku perbuat sehingga harus bertanggung jawab?"


Revon mengeluarkan smirknya. Tangan Revon meremas belahan kenyal bawah Rose dengan gemas. Tindakan itu membuat Rose sedikit kaget. Tanpa aba-aba, Revon membalik posisi menjadi Rose di bawah kungkungannya.


"Aku tidak punya waktu untuk menyebutkan kejahatanmu. Tapi yang pasti, kamu menggodaku dengan sangat baik," lirih Revon.


Setelah itu, Revon membuka baju Rose. Revon ingin Rose juga merasakan hasrat yang sama dengannya. Revon menciumi setiap inci kulit Rose, sekaligus memberi tanda kepemilikannya. Rose yang tadinya masih merasa sedikit dingin, mulai terbawa suasana. Rose merasa panas di sekujur tubuhnya. Nafasnya mulai tidak beraturan.


Pikiran Rose di bawa melayang dengan semua perlakuan Revon. Kini Revon mencium bibir Rose dengan rakus. Rose bisa merasakan kejantanan Revon yang sudah berada di pintu masuk. Sekali hentakan, Revon memasukkan seluruh miliknya.


"Aaahh, " desah Rose.


Revon menatap mata Rose yang terlihat sayu. Lelaki itu mencium pipi Rose dan kembali menggerakkan pinggulnya. Hentakan yang dalam dengan ritme yang agak cepat. Rose memeluk tubuh Revon erat, tidak ingin lepas.


"Rose, Rose, Rose, My Rose!"


Revon membisikkan nama Rose berulang kali. Tangan Rose meremas rambut Revon merasakan gerakan Revon yang semakin cepat. Nafas mereka berdua semakin memburu. Puncak kenikmatan akan segera datang. Revon menyatukan dahinya dengan Rose sambil menatap satu sama lain. Mereka mencapai puncak secara bersamaan.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar. "Rose, aku datang."


Rose mengenali suara seseorang yang berada di seberang pintu kamar. Rose melihat Revon lalu bergantian ke arah pintu kamar. Sementara Revon masih tidak berpindah sedikitpun. Revon malah sibuk memberikan kecupan-kecupan ke wajah Rose.


"Revon, sepertinya Erica sudah datang."


"Hmhm."


Revon masih sibuk memberikan kecupan hingga ke leher Rose.


"Revon?"


Tiba-tiba Rose merasakan Revon meremas belahan kenyal atasnya sambil menggigit kecil lehernya. Tidak sampai disitu, Revon juga kembali memasukkan miliknya yang mengeras. Merasakan sensasi itu, Rose mendesah keras.


"Aaahh!"


Erica kembali berteriak. "Revon, apa kamu sengaja membuatku menunggu hah? Aku akan pulang kalau kalian masih lama."


Rose tidak bisa berkata-kata, pasalnya mulutnya dibungkam dengan ciuman oleh Revon. Sementara kenikmatan yang Revon berikan sangat membuat Rose hilang akal. Akhirnya Rose terbuai dengan kenikmatan itu hingga membuatnya pasrah saat Revon belum terlihat ingin menyelesaikan kegiatannya.


•••


"Sekarang, ayo kita ke ruang tamu."


Erica menatap Robert dengan penuh tanya. "Untuk apa ke ruang tamu?"


"Mr. Dent mengirim pesan bahwa kita harus ke ruang tamu."


"Minta saja dia ke sini. Dia sudah mengganggu waktu berdua kita, sekarang dia membuat kita menunggu."


Tanpa berlama-lama, Robert pun menarik tangan Erica untuk ikut bersamanya. Namun Erica memberontak dari genggaman Robert. Alhasil, Robert mengangkat Erica selayaknya karung beras.


"Robert! Turunkan aku!" pinta Erica.


Robert secepat kilat berlari ke ruang tamu, lalu menurunkan Erica di atas sofa. Erica memegangi kepalanya yang terasa berputar-putar karena efek digendong dengan kepala menghadap ke bawah tadi.


"Anjing sialan!" umpat Erica kepada Robert.


"Apa itu panggilan kesayangan mu pada Robert?" ucap Revon.


Tanpa Erica sadari, Revon sedang duduk di sofa berhadapan dengannya. Revon sedang menuangkan wine ke dalam empat gelas. Lalu menempatkan gelas-gelas itu di atas meja yang berada di tengah-tengah.


"Sepertinya Rose sudah sembuh bahkan kamu kuras tenaga dia sekarang. Kalau begitu aku pulang–"


"–aku ingin kamu memeriksa lagi keadaan dia. Setelah itu aku ingin tau perkembangan tentang buku yang sedang kamu pelajari sampai membawa asistenku." sela Revon.


Erica mengambil satu gelas wine terdekat dan meminumnya. "Baru sehari aku membawa buku itu, aku butuh waktu."


"Jangan jadikan izinku untuk membawa Robert itu kamu salah gunakan, Erica. Aku tidak mau terjadi apapun kepada Rose. Jadi, aku perlu tau apa yang sebenarnya terjadi kepada Rose."


"Oke, aku akan lebih serius lagi sekarang. Dimana Rose?" tanya Erica.


"Dia dikamar."


Erica pun pergi ke kamar Revon untuk menemui Rose. Saat masuk ke kamar, Erica melihat Rose yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Namun tepat saat Erica mendekat, Rose merasa mual. Rose lalu kembali masuk ke kamar mandi dan berusaha memuntahkan apapun.


"Rose, sejak kapan kamu mual?"


"Baru sekarang."


Erica mengusap-usap punggung Rose. Tapi tidak kunjung hilang mualnya. Erica merasa harus memanggil Revon. Erica pun berjalan ke arah pintu kamar dan memanggil Revon dari sana.


"Revon!"


Tidak berapa lama, Revon datang dengan alis berkerut tanda khawatir. Erica meminta Revon untuk menghampiri Rose, sementara Erica mengamati dari jarak beberapa meter. Saat Revon mendekat, rasa mual Rose berkurang. Setelah Rose mencuci tangan dan mulutnya, Revon segera memeluk Rose.


"Rose masih sensitif dengan aroma dari orang lain. Dia akan mual ketika dekat dengan orang lain. Kalau seperti itu, aku harus memeriksa Rose. Kamu tetap disini, Revon."


"Baiklah, aku akan disini."


Erica lalu berjalan mendekat ke arah Rose. Erica menggenggam tangan Rose dan memejamkan mata. Rose ikut memejamkan mata ketika rasa hangat menjalar dari tangan Rose yang Erica pegang. Sementara Revon mengamati Erica, dahi Erica berkerut. Erica melepaskan tangan Rose lalu menatap Revon dengan mata melotot.