My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 77 - Suit



Chapter sebelumnya


"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Bae. Dia adalah desainer gaun terbaik di Paris," balas Revon.


"Kamu lihat, dia bahkan tidak mengatakan apapun padaku tentang gaun yang kamu sudah pesan–"


"Bae, tenang. Jangan pikirkan Luca. Aku akan mengurus dia nanti. Sekarang kamu coba dulu gaunnya, okay?"


"Cukup sekali ini aku datang kesini. Tidak akan ada lain kali," ucap Rose.


Revon tersenyum. Luca sudah kembali dengan membawa gaun pengantin yang sangat cantik. Revon pun mengajak Rose mendekat untuk melihat gaunnya.


"Apa perlu aku temani?" tawar Luca.


"Aku bisa sendiri," balas Rose cepat.


Rose menatap Revon sejenak, lalu mengambil gaun itu untuk dicoba. Sementara Rose masih di ruang ganti, Revon pun mengajak Luca bicara.


"Kenapa kamu tidak memberikan langsung gaun itu kepadanya?" tanya Revon.


"Gaun itu baru saja selesai. Jadi tadinya aku berniat menawarkan gaun lain sambil menunggu gaun itu," balas Luca sambil berjalan mendekati Revon.


"Luca, hapus rencana apapun yang ada di pikiranmu itu. Kecuali kamu sudah bosan hidup," desis Revon. 


"Aku tidak butuh rencana. Aku hanya tinggal melakukannya," ucap Luca dengan santai.


Mendengar itu, Revon seketika panik. Dia teringat Rose yang masih belum selesai mengganti baju. Revon segera masuk ke dalam ruang ganti tempat Rose berada.


Cklek


"Oh God, kamu mengejutkanku!" pekik Rose menatap Revon dari cermin yang ada di depannya.


Revon bernafas lega, "Apa ada sesuatu dengan gaunnya?" 


"Tidak. Hanya saja aku kesusahan menarik resletingnya. Bisa kamu membantuku?"


Revon segera mendekat ke punggung Rose. Lelaki itu menarik resleting gaun Rose hingga menutup sempurna.


"Kenapa kamu tidak memanggilku dari tadi?" tanya Revon.


"Aku pikir aku bisa, tapi nyatanya tidak," balas Rose.


Revon menatap pantulan bayangan Rose yang terlihat semakin mempesona. Gaun yang dia pakai sangat melekat pas di tubuhnya.


"Oke, aku suka gaun ini," lirih Rose lalu tersenyum menatap Revon.


"Aku senang mendengarnya," ucap Revon mengecup pipi Rose.


"Apa kamu juga memesan jasnya disini?"


"Tidak, Bae. Aku sudah pesan di tempat lain. Jika sudah selesai, temui aku di luar," ucap Revon lalu keluar dari ruang ganti.


Setelah selesai berganti baju, Rose menemui Revon yang sedang berbicara dengan Luca. Gaun yang tadi dia coba, sudah dikemas dalam kotak.


"Aku sudah mengirim pembayarannya, kami permisi." Revon lalu mengajak Rose keluar dari butik. Di luar, Robert sudah menunggu di samping mobil. 


"Kamu pergi ke kantor saja," ucap Revon kepada Robert.


"Baik," balas Robert lalu pergi meninggalkan mereka.


•••


Sampai di butik selanjutnya, Revon dan Rose segera masuk ke butik. Seorang lelaki dengan gaya feminimnya menyambut mereka berdua dengan gaya khasnya.


"Nelle. Tidak seperti biasanya kamu datang terlambat …." kesal lelaki feminim itu memanggil Revon dengan sebutan Nelle.


Nelle dari kata Revonelle.


Saat lelaki feminim itu melihat bahwa Revon membawa seorang wanita, lelaki itu seketika terlihat antusias. Dia segera meninggalkan kegiatan memeriksa jas-jas hasil buah tangannya dan beranjak mendekat ke arah Revon.


"Aku tidak pernah melihatmu membawa wanita kesini. Dan lihat sekarang, kamu bahkan membawa bidadari ke butik sederhanaku," ucap lelaki feminim itu.


"Aku tidak pernah salah memilih, benar 'kan Melvin?" balas Revon dengan menatap intens Rose.


Ma Belle dalam bahasa perancis berarti Cantik.


Suara Melvin terdengar lembut, namun masih bercampur dengan suara bass khas dari seorang lelaki. Senyuman menghiasi wajah ramah Melvin.


Revon melirik Rose dan menampilkan smirknya. "Aku memesan jas lebih dulu, Melvin. Setidaknya berikan dulu jasku sebelum kamu menawarkan customer lain. Lagipula, kamu bukan desainer gaun pengantin." 


"Hey! Aku bisa mendesain semua pakaian. Jangan meremehkanku, Revon." Melvin memasang wajah marahnya yang membuatnya terlihat lucu.


Rose tidak bisa menahan tawanya ketika melihat Melvin. Akhirnya Revon menyudahi gurauan Melvin dan meminta jas yang dia pesan.


"Baiklah. Aku akan memperlihatkan jas mahakaryaku kepada kalian." tutur Melvin sambil berjalan menuju sebuah tirai hitam.


Saat dibuka, dibalik tirai itu ternyata terdapat satu setelan jas dengan detail berlian di bagian kerahnya. Berlian itu terlihat berkilau, namun tidak terkesan berlebihan. 


"Kamu tidak pernah mengecewakanku, Melvin." puji Revon dengan senyuman.


"Jika aku mengecewakanmu, aku pasti sudah mati sekarang." tutur Melvin.


Rose yang mendengar ucapan Melvin yang terdengar mengerikan, sontak Rose menatap Revon dengan tatapan tajam. 


"Bae, dia hanya bercanda. Melvin?" 


"Hahaha. Kalian benar-benar cocok. Aku yakin kalian akan menjadi pasangan yang saling melengkapi." ungkap Melvin.


Revon memeluk Rose dan mencium bibir wanita itu dengan lembut. Rose yang terkejut hanya diam terpaku. Melvin melihat aksi ciuman Revon dan tertawa.


"Seriously? Revon kamu tidak menganggapku yang masih berada disini?" 


Revon menghentikan ciumannya karena merasakan Rose yang hanya diam mematung. "Kamu selalu punya pilihan, Melvin. Dan kamu memilih untuk melihatnya."


Revon tidak mengalihkan pandangannya kemanapun selama berbicara dengan Melvin. Dia fokus menatap Rose yang juga menatapnya tanpa berkedip.


"Aku harap, kamu terbiasa dengan serangan mendadak seperti ini." bisik Revon lalu mengecup bibir Rose.


Lalu Revon beranjak menuju fitting room dengan Melvin yang mengikutinya sambil membawa setelan jas itu. Entah dari mana, muncul seorang wanita memakai seragam yang menawarinya minuman sambil menunggu Revon.


"Aku ingin teh saja." balas Rose.


"Baiklah, mohon tunggu sebentar." tutur wanita itu.


Duduk di sofa, Rose mengambil paperbag yang tadi Revon berikan. Di dalamnya terdapat sandwich dengan ekstra keju. Rose tersenyum lalu mengambil sandwichnya. 


Tepat saat Rose menyuapkan sandwich ke mulutnya, Revon keluar dari fitting room dengan langkah kakinya yang panjang. Rose hampir menggigit lidahnya sendiri setelah melihat penampilan Revon yang seperti seorang model di sampul majalah fashion.


Melvin tertawa kecil melihat raut wajah Rose yang terlihat kagum dan terkejut hingga melupakan sandwich di dalam mulutnya. Rose tidak mengunyah sandwichnya dan membuat pipinya sedikit mengembung.


Revon melirik Melvin dan memberi isyarat untuk meninggalkan mereka berdua. Melvin tersenyum lebar lalu pergi menuju ruangan pribadinya.


Revon berjalan mendekat ke arah Rose, lelaki itu duduk di meja kayu tepat di hadapan Rose dengan senyuman yang melekat di bibirnya. Saat Revon ingin mendekatkan wajahnya, terdengar suara langkah wanita berseragam tadi yang kembali dengan membawakan teh untuk Rose.


Wanita itu sedikit kikuk saat datang memberikan tehnya. Revon segera menerima teh itu dan menatapnya tajam. Wanita itu takut dan berjalan cepat untuk menjauh dari mereka.


"Kamu membuatnya takut." ucap Rose sambil mulai mengunyah sandwichnya.


Revon tersenyum lalu menatap Rose intens. "Kamu membuatku ingin menciummu."


Pipi Rose merona mendengar itu. "Jas itu cocok denganmu." 


"Hanya cocok? Bukannya kamu tadi memandangku hingga kamu lupa caranya mengunyah?" goda Revon.


Rose tersedak, seketika Revon memberikan teh hangat yang ada di sampingnya. Rose perlahan meminum tehnya hingga terasa membaik.


"Aku sudah tidak berselera makan sekarang." ungkap Rose.


"Kenapa? Apa kamu ingin memakanku sekarang?" canda Revon.


Rose menatap Revon tajam, namun Revon malah tersenyum lalu mengecup bibir Rose. "Jangan marah, Bae. Aku akan segera berganti pakaian. Kamu tunggu disini. Okay?"


Rose menangguk dan melihat Revon berjalan menuju fitting room.