My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 30 - Still unconscious



Revon POV


"Robert! Robert... Panggil dokter sekarang!" Teriakku dari kamar Rose.


"Bos, Stevan kabur.." Ujar Robert yang baru masuk ke kamar.


"Shut the **** up Robert! Panggil dokter! cepat!"


"Yes! Bos!" Jawab Robert lalu berlari keluar kamar.


Aku segera mengganti baju Rose yang basah kuyup dan mengeringkan seluruh tubuhnya dengan handuk.


Sesudah ganti baju, aku membaringkannya di ranjang. Dia sangat pucat dan suhu tubuhnya sangat dingin.


Apa yang sudah Stevan lakukan kepadamu? Harusnya aku membunuhnya waktu itu.. dengan begitu kamu tidak akan menjadi seperti ini. Pikirku dengan cemas dan takut.


Aku mencoba menyembuhkannya dengan kekuatanku. Tapi, tubuhnya menolak sihir penyembuhanku.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Gumamku dengan lirih.


Semua pikiran buruk memenuhi kepalaku. Aku tidak bisa kehilangan dia. Setelah beratus-ratus tahun aku mencoba membuat hidupku lebih bermakna. Mencari seseorang yang membuat hidupku bermakna.


Tidak. Aku tidak bisa kehilangan dia!


"Stevan. Aku akan mencarimu hingga ke ujung dunia sekalipun. Kali ini aku tidak akan bermain-main lagi. I'll kill you." Ujarku dengan marah.


Shit! Rose, aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku secepat ini. Aku akan melakukan apapun agar kamu kembali padaku. Pikirku dengan frustasi.


Aku menariknya ke pelukanku dan mencoba memberikan sedikit kehangatan di tubuhnya. Nafasku terasa sesak, jantungku terasa diremas dengan kuat.


"Please.. please.. Rose.."


"Buka matamu.. dan peluk aku.. "


"Kamu tahu? Aku punya rencana hari ini untukmu.."


"Aku ingin membawamu ke pantai.. kita bisa melihat sunset yang indah.. "


"Kita bisa makan berdua di sana.. aku telah menyiapkan bunga dan lilin... itu terlihat sangat indah jika malam tiba.. "


"Apa kamu tidak ingin melihatnya? Dan lagi... aku.. aku.. aku membeli sepasang cincin.. satu untukmu dan satu untukku.. "


"Oh, Rose.. please.. setidakya berikan aku kesempatan mengatakannya.. "


Tanpa sadar air mata telah membasahi pipiku.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.


Tok. Tok. Tok.


Aku kembali membaringkan Rose dan mengusap wajahku dengan asal.


"Masuk." Teriakku dengan suara serak.


"Bos, saya sudah membawa dokter yang anda minta." Ujar Robert yang membawa seorang wanita parubaya.


"Tolong, anda periksa keadaan kekasih saya. Dia tadi tenggelam di bathub dan sempat tidak bernafas." Jelasku singkat.


"Baik, saya akan memeriksanya." Jawab dokter itu lalu mendekat ke arah Rose.


Setelah serangkaian pemeriksaan, dokter itu tiba-tiba memanggilku.


"Maaf. Kenapa di tangan nona ini bisa ada luka sayatan dengan pola aneh? " Tanya dokter itu.


Aku mengerutkan dahi dan mendekat untuk melihat luka sayatan di telapak tangan Rose. Luka sayatan itu membentuk pola yang membekas di telapak tangannya.


*Polanya seperti dibawah ini.



"Stevan.. Apa yang dia lakukan kepada Rose.." Gumamku lirih.


"Maaf, apa anda mengatakan sesuatu?" Tanya dokter itu.


"Saya tidak tahu bagaimana itu bisa ada di sana. Tapi bagaimana keadaannya?" Tanyaku dengan cemas.


"Apa anda tadi sudah melakukan pertolongan pertama pada nona?"


"Ya. Saya sudah mengeluarkan airnya." Jawabku.


"Saat ini nona sudah membaik harusnya. Namun saya tidak mengerti kenapa nona belum bangun. Saya akan membawakan alat bantu pernafasan dan infus bila nona masih belum sadar sampai malam ini. Ini resepnya." Ujar dokter itu.


"Baik, terimakasih dok." Ujarku dengan singkat.


Aku tidak terkejut jika dia tahu namaku. Setelah itu Robert mengantar dokter itu keluar dan meninggalkanku yang sedang berpikir keras.


Aku harus mencari penyihir untuk membantuku.... Erica?! Tapi wanita itu menghilang sejak setahun lalu. Shit!


•••


Malam ini memberikan kesedihan dan kesepian yang mendalam bagi Revon. Sejak kejadian tadi pagi, dia sama sekali tidak keluar dari kamar Rose.


Dia terus mengamati wanita itu yang masih saja diam tidak bergerak. Hanya bagian dadanya yang naik dan turun secara perlahan, menandakan dia masih bernafas.


Duduk di kursi yang berada di sudut ruangan, Revon meneguk wine langsung dari botol. Entah sudah berapa botol yang dia habiskan.


Pandangan matanya menggelap, dia tidak tahan hanya berdiam diri tanpa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Rose. Namun dia tidak tahu harus melakukan apa dan kepada siapa dia meminta tolong.


Akhirnya dia melampiaskan amarahnya dengan melempar botol wine ke dinding dengan keras. Pecahan-pecahan kaca seketika berceceran di lantai.


Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel milik Rose yang berada di meja samping ranjang. Karena penasaran, Revon pun mengambil ponselnya dan melihat siapa pemanggilnya.


Tertulis nama "Alex" di ponsel itu.


"Alex? Siapa dia?" Ujar Revon dengan kesal.


Dia mencoba untuk tidak menghiraukannya, tapi lelaki bernama Alex itu terus menelpon. Karena merasa risih akhirnya dia mengangkat telponnya.


"Rose? Kenapa kamu lama sekali menerima telponku? Apa terjadi sesuatu denganmu?" Tanya Alex dengan cemas.


Revon mengkerutkan alis tidak suka mendengar pertanyaan lelaki itu.


"Siapa kamu? Ah, Aku tidak peduli siapa kamu. Dengar! jangan pernah menelpon Rose lagi atau aku akan mencarimu dan membunuhmu sekarang juga." Ujar Revon dengan suara penuh penekanan.


Selang beberapa detik tidak terdengar suara dari seberang sana. Setelah itu Alex menjawab,


"Revonelle Dent. Lama tidak mendengarmu. Sejak kapan kamu kembali? Ah, Apa peti matimu tidak nyaman hingga kamu memutuskan untuk kembali, hah?"


"Dari cara bicaramu, aku tahu kamu adalah anj*ng yang sat itu berteriak ketakutan saat aku mematahkan tanganmu, kan? Kamu mau aku mematahkan tangan satunya juga? Kebetulan aku sedang ingin menyiksa seseorang." Ujar Revon dengan santai seperti sedang membicarakan sesuatu hal yang biasa.


"Aku tidak berminat untuk bertemu denganmu, Revon. Sekarang.. apa kamu sedang bersama Rose?" Tanya Alex.


"Kenapa? Apa kamu ingin melihat adegan ranjang kami?"


"Fu*k you Dent! Aku tidak bercanda. Aku peduli dengan wanita itu dan... aku tidak akan melepaskanmu jika terjadi sesuatu kepadanya karena ulahmu yang tidak bisa menjaganya dengan benar."


Deg!


Seketika Revon terdiam karena perkataan Alex yang bagaikan belati menusuk jantungnya. Dia tidak bisa menyangkal jika memang kejadian ini juga karena dirinya yang lalai.


Tanpa menjawab perkataan Alex, Revon mematikan panggilannya dan melempar ponselnya ke meja.


Melihat botol yang masih berisi wine di tangannya, lelaki itu meminum seluruh isinya lalu melemparkan botolnya ke pintu hingga pecah.


Tanpa mempedulikan langkahnya, Revon berjalan kembali ke arah kursi yang dia duduki tadi. Beberapa pecahan kaca menancap di telapak kakinya, karena dia sudah membuang ke sembarang arah sepatu yang tadi dia pakai beserta kemeja dan jasnya.


Revon kembali duduk dan menelusupkan jari-jarinya di antara helai rambutnya. Kembali memandangi wanita yang terbaring di ranjang dan mulai mengambil botol wine lagi.


"Apa memang aku tidak pantas untukmu, Rose?" Gumam lelaki itu.


•••


Rekomendasi lagu untuk didengarkan


Hold on by Chord Overstreet


🎶🎶🎶


Hold on, I still want you


Come back, I still need you


Let me take your hand, I'll make it right


I swear to love you all my life


Hold on, I still need you


Long endless highway, you're silent beside me


Driving a nightmare I can't escape from


Helplessly praying, the light isn't fading


Hiding the shock and the chill in my bones