My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 6 - Who is he?



Ruangan CEO


"Apa syarat yang kamu maksud?" Tanya Stevan dengan menatap Rose.


Aku belum memikirkan apa saja syarat yang harus aku ajukan. Pikir Rose.


"Aku akan memberikannya besok. Dan aku ingin ini menjadi perjanjian yang harus kita berdua ikuti. Jika kamu melanggar, aku akan berhenti dari posisi asisten pribadimu." Ujar Rose dengan wajah serius.


"Hmm. Aku akan memutuskannya setelah melihat isi dari syarat yang kamu ajukan." Jawab Stevan dengan tenang.


"Alright. Kalau begitu aku pergi dulu." Ujar Rose dan berjalan menuju pintu keluar.


"Apa kamu merindukan dia?" Tanya Stevan tiba-tiba.


Kaki Rose seketika berhenti dan pandangannya menjadi sendu.


"Bukan urusanmu." Jawab Rose dingin tanpa menoleh ke arah Stevan.


Wanita itu melanjutkan berjalan ke pintu. Tapi saat akan membuka pintunya, Stevan kembali berkata,


"Tidak ada gunanya terus mengingat orang yang sudah mati. Lupakan dia." Ujar Stevan dengan tangan yang terlipat di dada dan tersenyum smirk.


Rose lanjut membuka pintu dan keluar, sebelum menutup pintu dia menatap tajam Stevan dan berkata,


"Bahkan yang sudah mati lebih layak untuk diingat dari pada yang masih hidup." Ujar Rose dengan percaya diri.


Mendengar itu, Stevan merasa emosi. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal erat. Dia melempar semua barang di meja, menyisakan keramik name tagnya.


•••


Di Cafe



Rose pergi ke cafe untuk makan chocolate mousse kesukaanya sore ini. Tadi siang dia hanya memiliki jadwal pemotretan sedikit sehingga membuatnya lebi banyak waktu luang.


Setelah memesan dan memilih tempat duduk di sudut ruangan. Dia melihat lalu lalang orang berjalan. Selang beberapa menit pelayan datang.


"1 Chocolate mousse and 1 lemon tea." Ujar pelayan wanita itu.


"Thank you." Jawab Rose dengan ramah.


Di tengah acara makannya, dia melihat sepasang kekasih yang sedang duduk di seberang kanannya. Mereka tampak bahagia dan terlihat dimabuk cinta.


Di meja mereka terdapat makanan yang sama dengannya. Sambil berbincang, si wanita mencoba memberikan suapan kuenya. Dan si lelaki tampak senang hati menerimanya.


Melihat pemandangan itu, seketika Rose ingat akan kenangan bersama Revon. Malam dimana lelaki itu mengajaknya makan malam di restoran.


Dia ingat tingkah Revon yang tidak ingin memakan chocolate moussenya. Melainkan ingin memakan chocolate mousse miliknya. Tanpa sadar air matanya mengalir di pipinya.


Revon.. Ternyata seperti ini rasanya tidak ada kamu. Sepi dan hampa. Pikir Rose.


"Apa chocolate mousse ini terlalu enak hingga membuat nona menangis?" Ujar seorang lelaki sambil mengulurkan sapu tangan. Dia pun menerima sapu tangan itu.


Rose mencoba tertawa akan lelucon dia, tapi malah terdengar aneh ditelinganya. Saat wanita itu menaikkan pandangannya. Dia terdiam sejenak.


Wajah lelaki itu pun sedikit terkejut. Namun dengan cepat dia mengembalikan raut wajahnya. Kini dia terlihat tertarik dengan Rose.


"Apa kita pernah bertemu?" Tanya Rose kepada lelaki di depannya.


"Yang benar saja. Kamu melupakan lelaki setampan aku? " Jawab lelaki itu dengan nada humornya.


Rose hanya menatapnya bingung dan tidak ikut tertawa sama sekali.


"Sorry. Tapi aku sama sekali tidak ingat siapa kamu." Jawab Rose.


"Okay okay. Akan aku beritahu. Namaku Alex Keihler. Tim keamanan dari taman bermain di daerah xxx. Kamu pernah kesana dulu sekitar 1 tahun lalu." Ujar Alex sambil memiringkan kepalanya.


"Oh, iya. Aku ingat, kamu pernah berkelahi dengan Revon, kan?" Tanya Rose.


Bagian itu yang teringat jelas di otak Rose. Yah semua tentang Revon dia mengingatnya sangat jelas. Dan itu membuatnya ingin menangis lagi, tapi dia mencoba menahannya.


"Yeah, that's right. Btw dimana pacar kamu? kenapa kamu sendirian disini?" Tanya Alex lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh cafe. Tapi tidak ada tanda-tanda lelaki itu.


Rose memilih mengakhiri makannya dan segera pulang ke hotelnya. Dia tidak ingin membuat masalah baru dengan Alex.


"Hey! kamu mau kemana?" Ujar Alex sambil mencoba menahan Rose.


"Aku sudah selesai. Jadi aku ingin pulang sekarang." Ujar Rose. Dia melewati Alex dan berjalan menuju pintu keluar cafe.


"Apa kamu membawa mobil? Aku akan mengantarmu." Bujuk Alex sambil mengikuti Rose.


Alex tetap membujuknya hingga sampai di luar cafe. Rose risih karena sekarang banyak orang yang melirik ke arah mereka.


"Stop! Bisakah kamu pergi saja?!" Ujar Rose dengan kesal.


"Aku tidak akan berhenti sebelum kamu mau aku antar. Aku berjanji tidak akan melakukan sesuatu yang membuatmu kesal ataupun risih." Ujar Alex dengan tatapan memohon.


"Kamu seperti ini malah membuatku kesal dan risih." Jawab Rose sambil menyisirkan jarinya di rambutnya.


"Rose, aku hanya ingin mengantarmu. That's it." Bujuk Alex lagi.


Rose berpikir sejenak. Dia melihat ke arah jalanan yang tidak ada taksi lewat. Kalaupun ada taksi itu sedang ada penumpangnya. Sementara kalau menunggu pasti akan lama.


Apa aku terima saja ya? Tapi kalau aku terima dia, bagaimana kalau dia punya maksud lain? Lalu aku harus menjawab apa kalau dia tanya soal Revon? Pikir Rose dengan cemas.


"Rose? Bagaimana? Kamu mau kan?" Tanya Alex.


Sekali ini saja. Kali ini saja, Rose. Pikir Rose.


"Okay. Hanya kali ini saja." Ujar Rose menatap Alex serius.


"Fine. Mobilku ada di sebelah sana." Ujar Alex sambil menunjuk mobil di depan. Ada senyum tipis di bibirnya.


Alex berjalan lebih dulu dan Rose mengikuti dari belakang. Saat sampai mobil, Alex membukakan pintu mobil untuk Rose.


Wanita itu naik dan disusul Alex yang naik ke kursi pengemudi. Tanpa berlama-lama mobil pun melaju meninggalkan area cafe.