
"Kalian tambahkan dekorasi bunganya di sekitar sini. Yang lain sudah oke. Kerja bagus," ucap Revon kepada tim Wedding Organizer.
Menjelang waktu makan malam, semua persiapan pernikahan sudah hampir sempurna. Revon merasa sangat senang. Besok dia dan Rose akan saling mengikat janji. Hari yang sangat spesial seumur hidupnya.
Karena merasa rindu dengan Rose, Revon pun berniat menelepon Rose untuk sekedar mendengar suaranya. Revon pergi menjauh dari orang-orang yang sedang mendekorasi venue untuk mencari tempat yang tenang. Akhirnya dia menemukan tempat cocok di bawah pohon dekat danau.
Revon mengambil ponselnya lalu menghubungi Rose. Sambil melihat pantulan cahaya bulan di danau, Revon menunggu Rose mengangkat panggilannya.
Tuuut
Tuuut
Tuuut
Waktu berlalu beberapa menit, tapi Rose tidak kunjung mengangkat panggilannya. Revon mulai khawatir, tidak biasanya dia akan lama mengangkat panggilan darinya.
Revon mencoba sekali lagi. Namun masih sama, tidak ada jawaban dari Rose. "Apa terjadi sesuatu dengannya?"
Tanpa berpikir panjang, Revon menuju mobilnya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang di atas normal. Pikirannya dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan buruk.
Apa aku membuatnya berubah pikiran?
Apa aku terlalu berlebihan?
Dia tidak mungkin pergi meninggalkanku, kan?
Revon mencengkram erat kemudinya dan semakin mempercepat laju mobilnya.
•••
Screeecchh
Suara decit ban mobil membuat Robert yang berada di dalam rumah segera mendatangi sumber suara. Ternyata asal suara decitan itu dari ban mobil yang dikendarai Revon.
Dengan raut wajah panik, Revon keluar dari mobil lalu mencengkram kerah kemeja Robert. "Katakan, dimana Rose!"
"Nona tadi sedang ada di kamarnya–"
Tanpa mendengar ucapan Robert hingga selesai, Revon berlari ke dalam rumah menuju kamar Rose.
Cklek.
Pandangan Revon menelusuri setiap inci bagian kamar. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Rose.
"Ponselnya masih disini," gumam Revon melihat ponsel Rose yang berada di atas laci.
Revon menghembuskan nafas kasar. Karena penasaran, Robert pun mendatangi Revon di kamar. "Ada apa, Boss?"
"Apa kamu melihat Rose keluar rumah?" tanya Revon.
"Tidak, Nona tidak keluar rumah. Tadi sore saya melihat kalau Nona masuk ke dalam kamar," ungkap Robert.
"Kamu lihat sendiri, kan? Kamar ini kosong dan hanya ada ponsel miliknya yang tertinggal. Kamu cari di seluruh kamar sini. Aku akan mencari di lantai 1." pinta Revon.
Robert pun segera melakukan perintah Revon. Robert mencari di seluruh kamar lantai 2. Sementara Revon kembali ke lantai 1. Menelusuri kolam renang, dapur, dan ruang olahraga. Tapi Revon tetap tidak menemukan Rose.
Kini hanya 1 tempat yang belum dia datangi. Taman.
Cklek.
Revon membuka pintu kaca menuju taman. Dengan langkah panjang, Revon mendekat ke gazebo yang berada di tengah taman. Di salah satu sofa panjang, dia melihat seseorang yang sedang dia cari tertidur di sana.
"Oh God! Disini rupanya kamu," desah Revon lega.
Revon membuka jasnya, lalu menutupi tubuh Rose yang sedikit kedinginan. Tidak ingin membuat Rose semakin lama berada di luar ruangan, Revon pun menggendong tubuh Rose masuk ke dalam rumah.
Robert yang baru saja turun dari tangga, melihat Revon berjalan sambil menggendong Rose dari arah taman.
"Robert, apa makan malam sudah siap?" tanya Revon saat sudah di depan Robert.
"Para pelayan baru saja pulang, Boss. Jadi mereka belum sempat membuat makan malam," terang Robert.
"Baik, Boss," balas Robert.
•••
Suara gemercik air di kamar mandi membangunkan Rose dari tidur nyenyaknya. Rose membuka mata perlahan dan mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kamar.
Tanpa dia sadari, Revon yang baru saja selesai mandi menghampiri dirinya di ranjang. "Kenapa kamu tidur di taman, Rose? Apa kamar ini tidak nyaman atau tidak sesuai dengan seleramu?"
Rose menoleh ke arah Revon yang sudah berada di sisi tempat tidur. Revon berdiri dengan tubuh tegapnya yang dipenuhi oleh bulir-bulir air yang menetes dari rambutnya. Sebuah handuk panjang melilit di pinggangnya.
"Roseline Mint? Kamu mendengarku?" tanya Revon dengan nada lebih tegas.
Rose menatap raut wajah Revon yang terlihat kesal. "Tadi sore aku hanya ingin melihat sunset di taman. Lalu tanpa sadar aku tertidur. Jam berapa sekarang?"
Rose menjawab dengan santainya. Saat dia ingin melihat jam dari ponselnya, dia tidak menemukan ponselnya di laci atau di atas ranjang.
"Kamu mencari ini, hmm?" Revon memegang ponsel Rose.
"Ternyata ada di kamu," desah Rose.
"Dengar, aku ingin kamu membawa ponselmu kemanapun. Dan satu lagi, jangan tidur di taman apalagi saat malam. Kamu membuatku panik tadi Rose, kamu tidak menjawab panggilanku berkali-kali … aku pikir kamu pergi, kamu berubah pikiran dan …. "
Rose bangkit dari ranjang dan mendekati Revon. "Aku tidak ada niat untuk pergi atau berubah pikiran. Sama sekali tidak ada, Revon."
"Baguslah. Aku sangat lega kamu masih berada disini," lirih Revon, memeluk tubuh Rose dengan erat.
Revon mencium pucuk kepala Rose berkali-kali. Selama beberapa menit, mereka saling berpelukan tanpa ada yang ingin melepaskan terlebih dahulu.
Tok. Tok. Tok.
Terdengar suara ketukan di pintu kamar. "Boss, makanan sudah datang."
"Kamu harus membuka pintu untuk Robert. Aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Rose melepaskan pelukannya.
Revon mengecup bibir Rose sebelum benar-benar melepaskan pelukannya. Lalu Revon pergi membukakan pintu untuk Robert.
Setelah Robert selesai menata makanan, dia pun segera keluar dari kamar.
"Thanks." ucap Revon.
Rose yang baru selesai dari kamar mandi, melihat makanan di meja seketika membuat perutnya terasa lapar.
"Kamu makan yang banyak ya," ucap Revon yang berjalan mendekati Rose.
Sebuah piyama tidur membalut tubuh atletis Revon. Rose tiba-tiba menatap Revon dengan tatapan kesal. "Kamu pesan makanan sebanyak ini hanya untukku? Kamu ingin membuat berat badanku bertambah?"
"Aku yakin kamu pasti hanya makan sedikit hari ini. Bae, aku tidak ingin kamu sakit. Selain itu … kamu tidak perlu khawatir berat badan kamu bertambah, aku selalu siap menjadi partner bergulatmu. Khususnya di ranjang," goda Revon pada Rose.
"Jika aku menerima tawaranmu itu, yang ada aku tidak akan bisa bangun pagi besok," balas Rose dengan tertawa kecil.
Revon tersenyum lebar mendengar jawaban Rose. "Lebih baik kamu makan sekarang, oke? Aku akan temani kamu makan."
Mereka pun duduk berhadapan dan menikmati makanan berdua. Setelah selesai makan, Revon pun meminta Rose untuk segera kembali beristirahat.
"Aku ingin kamu tidur yang cukup, dan jangan khawatirkan soal apapun. Aku sudah mengurus semuanya. Kamu cukup mengikuti alurnya saja, oke?" ucap Revon sambil membenarkan selimut Rose.
"Kamu semakin membuatku penasaran. Sekarang, aku tidak bisa tidur."
Revon tersenyum tipis, dia naik ke ranjang dan berbaring di samping Rose. Revon mendekat lalu memeluk tubuh Rose. "Apa aku harus menyanyikan lagu pengantar tidur?"
"Aku bukan anak kecil, Revon," balas Rose.
Revon mengecup bibir Rose. "Tidur, Bae. Simpan energimu untuk besok."
"Tapi …."
"Sstt …."
Revon mengusap rambut Rose dengan lembut agar membuatnya nyaman. Hal itu semakin membuat Rose mendekat ke tubuhnya dan memeluknya erat. Perlahan-lahan Rose mulai merasakan kedua kelopak matanya terasa berat, hingga tanpa sadar Rose pun tertidur.