My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 89 - Strawberry Toast



Mentari telah usai melaksanakan tugasnya. Kini saatnya rembulan menggantikan tugasnya memberikan pancaran sinarnya. 


Di sebuah kamar yang mewah, terlihat sepasang kekasih yang kini sudah menjadi suami-istri sedang menikmati istirahat tidurnya. Saling mencari kehangatan di balik pelukan nyaman dari masing-masing tubuh mereka. 


Siapakah pasangan suami-istri ini?


Yah, siapa lagi kalau bukan Revon dan Rose.


Rose terbangun dari tidurnya karena tiba-tiba sel lapar di dalam perutnya meminta jatah. Wanita itu mengerjapkan kedua netranya berulang kali. Saat sudah kembali kesadarannya, wajah Revon adalah pemandangan pertama kali yang dia lihat.


Ternyata, mereka tidur sambil berpelukan. Rose tersenyum lebar mengetahui hal ini. Lengan Revon melingkar posesif di pinggang Rose. Melihat wajah Revon yang terlihat sangat damai, tertidur dengan nyenyak adalah pemandangan langka. 


Tangan Rose terulur untuk menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Revon. Tanpa diduga, lengan Revon yang melingkar di pinggang wanita itu semakin menariknya mendekat.


"Apa kamu sudah puas melihat wajahku saat tidur?" lirih Revon dengan suara khas bangun tidur.


"Aku curiga … kamu hanya pura-pura tidur," balas Rose.


Revon membuka matanya dan tersenyum tipis. "Tidak ada bedanya. Aku tetap tampan."


Krruughh 


Suara nyaring keluar dari perut Rose. Membuat wanita itu menggigit bibir untuk menahan malu. Sementara Revon tertawa kecil mendengar itu.


"Kamu ingin makan apa, hmm?" tanya Revon. Lelaki itu mengecup kening Rose.


"Aku ingin makan di restoran yang dulu pernah kita datangi saat kencan pertama."


"Oh, yang itu. Bisa, tapi berikan aku ciuman dulu."


"Tidak mau. Kamu sudah banyak menguras tenagaku hari ini," balas Rose.


"Hanya ciuman saja, setelah itu kamu bisa bersiap-siap."


Rose menatap Revon yang terlihat serius dengan ucapannya. Lelaki itu duduk bersandar di headboard sambil menunggu keputusan Rose. 


"Hanya ciuman." 


Revon mengangguk. "Hanya ciuman. Tapi bukan kecupan, okay?"


"Aku bukan anak kecil," protes Rose.


"Aku tahu. Sangat tahu."


Rose tersenyum manis lalu mendekati Revon. Wanita itu menangkup wajah Revon. Perlahan Rose menyatukan dahinya dengan dahi lelaki yang ada di hadapannya. Rose bisa merasakan tatapan intens dari Revon.


Berawal dari ke kecupan-kecupan ringan lalu beralih menjadi *******-******* lembut. Rose melakukannya dengan sangat pelan dan lembut seperti sedang menguji kesabaran Revon. Seketika tangan Revon meraih tengkuk Rose dan memperdalam ciuman mereka.


Setelah puas menikmati bibir Rose, Revon menghentikan ciumannya. "Kamu bisa pergi bersiap-siap sekarang."


Rose tersenyum, lalu beranjak dari ranjang. Revon menatap Rose sampai menghilang di balik pintu kamar mandi. Teringat akan restoran itu, Revon pun melakukan reservasi terlebih dahulu. Karena restoran itu adalah salah satu restoran dengan makanan terbaik di Paris.


Setelah reservasi, Revon pergi untuk bersiap-siap juga. Dia memilih mandi di kamar lain. Dia tidak ingin membuang waktu.


Beberapa menit kemudian Revon selesai mandi dan berjalan menuju kamarnya menemui Rose. Di tengah jalan, Revon berpapasan dengan Robert.


"Robert, kamu siapkan mobil. Aku dan Rose akan pergi hari ini," ungkap Revon.


"Baik, Mr. Dent."


•••


Saat sampai di restoran, Revon dan Rose segera disambut oleh pelayan. Karena Revon yang juga pelanggan istimewa di sana, mereka menjadi mendapatkan pelayanan istimewa juga. 


Revon membiarkan Rose untuk memesan makanan. Sedangkan lelaki itu hanya memesan wine seperti biasanya.


Revon cukup terkejut melihat Rose memesan banyak makanan. 


"Apa?" tanya Rose.


"Tidak. Tidak apa-apa." balas Revon cepat.


Tidak berapa lama, makanan pun datang. Bersamaan dengan wine yang Revon pesan. Revon mengambil botol wine lalu menuangnya untuk Rose dan dirinya sendiri.


Rose mulai menyantap hidangan pertama. Wanita itu menutup mata dan sedikit menggerakkan tangannya kegirangan ketika merasakan hidangan yang enak dan lezat.


"Cobalah." Rose menyodorkan sepotong ayam mentega kepada Revon.


"Aku cukup ini saja," tolak Revon mengarah ke segelas wine.


"Honey … satu saja. Ya?" 


"Enak, kan?" tanya Rose.


"Biasa saja." 


"Biasa saja?! Coba makan sekali lagi." 


"Bae, kamu saja yang makan. Okay? Aku baik-baik saja dengan wine ini."


"Hmm." Rose agak kesal karena makan sendiri. Tapi lama-lama rasa kesal itu menghilang karena makanan-makanan lezat yang dia makan.


Setelah menyelesaikan makanannya, Revon segera mengurus pembayarannya. Mereka pun berjalan keluar dari restoran. 


•••


Tanpa sadar, Rose tertidur dalam perjalanan pulang. Revon yang sudah memarkirkan mobil di depan rumah, memilih untuk sejenak menatap Rose yang tertidur pulas. 


Revon mengecup kening Rose sebelum membawanya masuk ke dalam rumah.


•••


Rose terbangun ditengah malam. Melihat sekelilingnya, Rose mencari keberadaan Revon. Tapi tidak terlihat lelaki itu sama sekali di dalam kamar.


Rose pun memilih untuk membersihkan sisa makeup di wajahnya. Wanita itu merapikan rambutnya kemudian mengikatnya ala Messy Bun. Rose melepas gaun yang semalam dia pakai, lalu menggantinya dengan gaun tidur.


"Hmm … kenapa aku merasa lapar lagi?" 


Rose memutuskan untuk pergi ke dapur untuk mencari makanan. Ternyata ada banyak bahan makanan di kulkas. Rose melihat strawberry yang terlihat segar dan merah. Itu membuatnya teringat dengan roti panggang strawberry yang pernah dibuat Revon.


Tiba-tiba Rose terkejut mendengar suara di belakangnya. 


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Revon. Lelaki itu sedang berdiri bersandar di counter dengan tangan terlipat di dada.


"Revon! Berhenti mengejutkanku," kesal Rose sambil melemparkan sebuah strawberry dari mangkuk yang dia bawa.


Revon menangkap strawberry itu. "Apa yang akan kamu lakukan malam-malam dengan strawberry ini?"


Revon perlahan menampilkan smirknya. Melihat itu, Rose memukul bahu Revon. "Jangan berpikir aneh-aneh. Aku hanya lapar."


Revon tertawa kecil lalu memakan strawberry yang berada di tangannya. Lelaki itu mengambil sekantong darah dari kotak kecil yang berada di dalam kulkas lalu meminumnya. 


Revon menangkap Rose yang sedang memandanginya minum. Membuang kantong darah yang sudah kosong, Revon berbalik dan masih melihat Rose yang memandanginya. 


"Bae, katakan saja. Ada apa, hmm?" 


Revon menuang air putih ke dalam gelas kemudian meminumnya hingga habis.


"Bagaimana kamu membuat roti panggang strawberry itu?" tanya Rose.


Revon tersenyum lebar lalu mengecup pipi Rose berkali-kali. "Sekarang kamu duduk manis. Aku akan membuatkannya untukmu."


Senang, itulah yang Rose rasakan. Wanita itu mengecup bibir Revon sekilas lalu duduk di kursi. Revon pun mulai membuat roti panggang strawberry yang Rose inginkan. 


Aroma roti panggang sangat menggiurkan memenuhi Indra penciuman Rose. "Sejak kapan kamu bisa membuat roti panggang?"


"Sudah lama sebenarnya. Tapi aku sudah lama juga tidak pernah membuatnya lagi. Saat di hotel, itu pertama kali aku membuatnya untukmu. Apa seenak itu sampai kamu menyukainya?"


"Itu roti panggang strawberry terenak yang pernah aku makan," terang Rose. 


"Really? Tapi … ini tidak gratis," balas Revon sambil mengedipkan sebelah matanya.


Rose mengerucutkan bibirnya sambil menyipitkan mata menatap Revon. Sedangkan Revon semakin tersenyum lebar. 


Revon menata roti panggang dengan selai strawberry di atas piring. Dari aromanya, Rose sudah tidak tahan ingin mencicipinya. Revon juga memberikan beberapa potongan strawberry di samping roti.



"Pesanan spesial sudah siap. Ada lagi yang anda inginkan Mrs. Dent?"


Rose berpikir sejenak. "Bisakah aku memesan coklat panas?"


"Baiklah. Coklat panas segera datang."


Rose tidak bisa menahan tawanya melihat drama kecil ini. Sambil mengambil sepiring penuh roti panggang strawberry, Rose berdiri dari tempat duduknya lalu mendekati Revon.


"Aku akan menunggu di samping kolam renang," bisik Rose sambil mengecup pipi Revon.


Dengan penuh semangat, Rose membawa roti panggang strawberry itu menjauh dari dapur.