My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 44 - Special guest



Chapter sebelumnya


Sekali lagi dia berusaha menangkap suara itu. Mengkosongkan pikirannya dan merilekskan tubuhnya.


Re...


Te...kan..


Revon.. Temukan keberadaan Erica.. Mereka sedang dalam bahaya..


Seketika Revon membuka mata dan menarik nafas panjang. Sepersekian detik dia sempat merasakan seperti tertarik sesuatu yang membuatnya tidak bisa bernafas.


Dan suara itu, suara yang sangat dia kenal.


"Roseline" Ujar Revon dengan menatap wanita yang masih setia terbaring di ranjang.


•••



Revon POV


Rose.. Itu benar-benar suara Rose..


Tapi kenapa dia tiba-tiba muncul di pikiranku dan berkata bahwa Robert dan Erica sedang dalam bahaya.


Memang Robert belum memberitahu keberadaan dia sekarang. Lebih baik aku coba menghubungi ponsel mereka.


Panggilan pertama tertuju kepada Robert. Namun ponselnya tidak tersambung dan hanya terdengar suara operator dengan ocehannya yang monoton.


Aku akan mencoba sekali lagi, mungkin mereka sedang tidak ada sinyal. Kembali aku menekan tombol panggilan kepada Robert. 


What the ****! 


Ponselnya sama sekali tidak dapat dihubungi. Dimana dia sebenarnya?


Aku harus menghubungi ponsel Erica. Tunggu dulu! Aku lupa meminta nomor ponsel Erica.


Damn!


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus berbicara dengannya melalui pikiran? Tapi aku tidak pernah melakukannya selain dengan Rose.


Baiklah, setidaknya aku harus mencobanya. Ya, Aku harus mencobanya.


Aku kembali duduk di sofa dengan rileks dan mencoba mengosongkan pikiranku. Menutup mata dan menghembuskan nafas secara perlahan. Sambil menghitung detik demi detik, aku mencoba membayangkan Robert sedang berada di depanku. 


1 menit...


2 menit..


Hingga 5 menit..


Lalu secara tiba-tiba, terdapat lorong gelap. Dengan penuh waspada aku mulai memasuki lorong gelap itu. 


Cklek.


Namun secara tiba-tiba seseorang masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu. Dari aroma yang memenuhi indra penciumanku, dia adalah salah satu dari kawanan anjing itu.


That f*cking dog!


"Apa yang kamu lakukan disini?" Ujarku dengan nada tidak suka.


"Oh, aku kira kamu sedang tertidur lelap. The Sleeping Beast." Ujar lelaki brengsek yang aku tidak ingin sebut namanya.


"Aku sedang tidak menerima tamu. Kamu tahu pintu keluarnya, kan?" Ujarku dengan menaikkan kedua alis.


"Apa aku terlihat seperti tamu? Tamu tidak akan masuk ke dalam rumah orang tanpa meminta izin terlebih dahulu. Tidak kusangka kamu sangat Bodoh! Revon." Ujar lelaki itu dengan santainya.


Apa dia sedang menantangku?! Dasar Anjing!


"Kamu ingin keluar dengan kedua kakimu atau… aku akan membawamu keluar dengan kaki lebih dulu lalu potongan demi potongan tubuhmu selanjutnya." Ujarku dengan menatapnya tajam.


Aku bisa merasakan adrenalin dalam tubuhku yang berpacu dengan riang. 


"Huuhh.. menakutkan sekali. Apa kamu beralih profesi menjadi tukang jagal? Ah.. Apa karena aku tidak menerima kamu menjadi pelatih kepribadian membuatmu mencoba pekerjaan lain? Hmm.. Aku sungguh kasihan kepadamu." Ujarnya dengan tatapan yang tidak bisa aku terima.


Tatapan iba, tatapan kasihan, tatapan yang menjijikkan!


Seketika amarahku mendidih dan membuatku hilang akal. Tanpa ragu, aku menerjangnya dan mengeratkan jari-jariku di lehernya.


"Arrgghhh!!" Erangan kesakitan yang terdengar merdu membuatku semakin senang.


Dia memukul dan menendang ke segala arah. Tapi tidak ada satupun yang mengenaiku. Dia terlalu panik dan dia seperti tidak menyangka aku menyerangnya.


"Alex.. Bagaimana jika aku membunuhmu sekarang?" Ujarku dengan berbisik di telinganya.


Dia kembali memberontak, aku semakin mengeratkan cengkramanku di lehernya. Wajahnya perlahan membiru dan memucat.


Namun dia memanjangkan kukunya dan menusuk pergelangan tanganku dengan kuku itu.


Dia semakin menancapkan kukunya dan mengoyak tanganku dengan mudah. Racun dari kuku itu mulai berpindah kepadaku membuat cengkramanku melonggar.


"Hah! Aku tidak akan kalah untuk yang kedua kalinya, Revon!" Ujar Alex dengan nafas yang memburu.


****!


Racunnya semakin menyebar kedalam tubuhku. Seluruh sarafku seperti terbakar. Perlahan syarafku menjadi menghitam, mulai dari luka cengkraman kuku itu.


Sret.


Ketika kewaspadaanku melonggar, dia kembali menggoreskan kukunya memanjang dari dada hingga ke perut.


Tubuhku merasakan nyeri yang hebat dan membuatku hilang keseimbangan. Cairan merah sangat pekat mulai mengalir dengan deras. Aku terduduk dan merasakan darah yang mengucur dari tubuhku itu.


"Revon.. Revon.. Revon.. Kamu masih saja bodoh! Hahaha. Hmm.. apa kamu sedang mencariku?" Ujar Alex yang perlahan memudar dan wajahnya berubah menjadi lelaki yang selama ini ingin aku temui.


What the hell! Tadi aku yakin sekali mencium aroma anjing itu. Tapi sekarang tidak ada sama sekali?!!


Aku hanya bisa memandangnya tidak percaya. Ingin sekali aku membunuhnya sekarang. Mengambil jantungnya dan membakarnya di perapian. 


Namun tubuhku terlalu lemah akibat racun ini. Racun apa yang dia gunakan?


"Aaaarrgghh" Teriakan kesakitan keluar dari mulutku. Tubuhku seakan sedang berperang melawan racun yang ganas.


Perlahan syarafku berubah warna menjadi hitam. Nafasku semakin sesak dan pandanganku perlahan mengabur.


"Aku akan membunuhmu, Stevan. Aku pasti akan membunuhmu" Ujarku kepadanya tepat di sisa-sisa kesadaranku.