My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 25 - Girls talk



Rose POV


Aku menarik tangan Revon sehingga membuatnya berhenti berjalan dan menatapku dengan tatapan tanya.


"Ada apa, bae?"


"Bisakah aku bertemu dengan Wen sebentar?" Tanyaku kepada Revon.


Revon tampak berpikir sejenak, membuatku menunggu dengan penasaran.


"Katakan kepadanya untuk menemui kita di Garden Cafe dalam... 10 menit ke depan." Ujar Revon sambil mengecek jam tangannya.


"Okay. Wait! Kamu bilang kita?"


Hell no. Dia tidak bisa ikut denganku bertemu Wen. Jeez, dia tidak boleh mendengarkan aku bercerita tentangnya. Aku yakin Wen pasti bertanya semuanya hingga detail terkecilpun. Pikirku.


"Yes! Aku tidak akan membiarkanmu lepas dari penglihatanku. Sesuatu yang tidak diinginkan bisa terjadi kapan saja. Untuk itu aku harus selalu berada di sisimu." Ujar Revon dengan tegas.


"Tapi hon, Wen bukan orang yang berbahaya bagiku. Dan aku bisa menjaga diriku sendiri..." Ujarku yang mulai kesal, tapi lelaki itu memotong perkataanku.


"I know. Bukan Wen yang aku khawatirkan tapi... Rose, dengar.. aku tidak ingin berdebat denganmu disini. Orang-orang sedang melihat ke arah kita. Kita bicarakan ini di mobil." Ujar lelaki itu dengan raut wajah yang kesal.


Begitu aku masuk mobil. Pasti dia tidak akan melakukan permintaanku. Pikirku sambil menatap punggung lelaki itu.


Aku hanya diam di tempat dan melipat kedua tanganku di dada.


Dia menoleh ke arahku dan alisnya berkerut tidak suka. Dengan langkah panjang, dia mendekat ke arahku dan berdiri tepat di hadapanku.


"Kamu ingin masuk ke dalam mobil sendiri atau aku akan menggendongmu masuk ke dalam mobil?" Bisik Revon dengan suara rendah.


Dia menatapku dengan satu alis terangkat. Aku hanya menatapnya tidak percaya.


Detik selanjutnya, dia benar-benar menggendongku di bahunya membuatku berteriak kaget. Posisi kepalaku menatap ke bawah membuat rambutku menjadi berantakan.


What the hell! Teriak alam bawah sadarku.


"Revon! turunkan aku!" Ujarku setengah teriak.


Dia tidak menjawab dan terus berjalan. Aku sedikit mengangkat kepalaku berharap tidak ada orang yang melihat kami.


Tapi harapanku tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka semua, bahkan cleaning service pun melihat dengan ekspresi terkejut ke arah kami.


Wajahku seketika memerah menahan malu dan marah.


Setelah beberapa saat, Revon menurunkanku tepat di samping mobil. Kepalaku terasa pusing karena perbedaan posisi yang tiba-tiba.


"Masuk." Perintah Revon singkat.


Aku menatapnya tajam dan masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia pun ikut masuk dan meminta supir menjalankan mobil.


Karena kesal, aku hanya menatap ke luar jendela mobil. Tidak ada diantara kami yang memulai pembicaraan selama beberapa menit.


"Sir, kemana tujuan kita sekarang?" Tanya supir memecah keheningan.


Beberapa menit tidak ada jawaban, Revon menghembuskan nafas dengan kasar.


"Okay, Rose. Kamu boleh bertemu berdua saja dengan Wen. Tapi, aku ingin ponsel kamu selalu aktif dan hubungi aku jika terjadi sesuatu." Ujarnya dengan pasrah.


"Sungguh?" Tanyaku dengan antusias.


"Ya. Tapi ingat, telpon aku jika terjadi sesuatu. Mengerti?" Ujar Revon dengan serius.


"Yes, my sweet honey. Terima kasih." Jawabku sambil memeluknya dengan erat.


"Jade. Antar ke Garden Cafe." Perintah Revon kepada supir.


"Yes, sir." Jawab supir itu yang diketahui bernama Jade.


"Aku harus menelpon Wen." Ujarku sambil melepaskan pelukanku.


Dengan penuh semangat, aku menelpon Wen. Tidak perlu waktu lama dia langsung menjawab telponku.


"Wen, temui aku di Garden Cafe. Sekarang aku sedang menuju kesana." Ujarku.


"Wow. Aku tidak mengira kamu akan menghubungiku secepat ini. Beri aku waktu 10 menit." Ujar Wen dengan senang.


"Okay. Sampai ketemu nanti."


"Yaaaa, aku sudah tidak sabar bertemu denganmu Roseee. Pokoknya kamu harus ceritakan semuaaaanya." Teriak Wen yang terdengar hingga ke seluruh mobil.


Gila! Dia mengatakan itu saat Revon duduk di sebelahku sekarang. Revon pasti mendengar semuanya. Pikirku dengan pipi yang memanas.


Dan benar saja, saat aku melirik ke arahnya. Dia sedang menatapku tertarik, dengan tubuh yang bersandar di pintu mobil dan tangan yang terlipat di depan dada.


"What?" Bisikku dengan lirih lalu mengakhiri panggilanku.


"Kamu tahu, membicarakan seseorang di belakang adalah perilaku yang tidak pantas." Ujar lelaki itu dengan smirknya.


"Kamu sedang di sampingku bukan di belakangku." Balasku dengan mengangkat kedua bahuku.


"Hmm.. Apa memang semua wanita seperti itu?" Tanyanya dengan tertarik.


"Seperti apa?" Ujarku yang tidak mengerti.


"Saling menceritakan apa yang mereka alami satu sama lain. Aku rasa itu tindakan yang... aneh." Ujar Revon dengan kedua alis terangkat.


"Itu disebut curhat. Dan satu lagi, kami tidak akan menceritakan semua kejadian yang dialami kepada sembarang orang. Hanya kepada orang yang terpercaya saja. Seperti sahabat." Jelasku dengan tenang.


"Kenapa kamu tidak curhat kepadaku saja? Apa kamu tidak percaya kepadaku?" Tanyanya lagi.


Tiba-tiba mobil berhenti, dan kita sudah sampai di depan cafe.


"Itu akan terasa berbeda. Just give me some time with her, okay? Dan Revon.... kamu tidak perlu khawatir, aku sangat percaya denganmu. Aku pergi dulu." Ujarku dengan tersenyum dan mengecup pipinya.


Dia terlihat belum puas dengan jawabanku. Tapi aku segera turun dan berjalan menuju cafe.


Aku mencari tempat duduk yang nyaman sambil melihat mobil Revon yang kembali melaju ke jalanan.


10 menit kemudian


"Roseeee... Oh god, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi." Teriak Wen sambil berlari ke arahku.


Dia benar-benar membuatku malu karena semua orang melihat ke arah kita.


"Ssstt.. Bisakah kamu tidak teriak!" Bisikku dengan kesal.


"Jangan hiraukan mereka. Sekarang ceritakan padaku. Bagaimana lelaki hot itu kembali bertemu denganmu? Apa kalian sudah melakukan sek...hmmm.."


Aku menutup mulutnya dengan chocolate muffin yang ada di meja. Dia bisa-bisanya bertanya soal sek* di tempat ramai seperti ini.


"What a bit*h! Untung muffin ini kesukaanku. Kalau tidak, aku akan memuntahkannya di depanmu." Ujar Wen sambil mengunyah muffin di mulutnya.


"Salahmu sendiri. Jangan menanyakan hal "itu" dengan suara yang keras. Lagipula aku tahu itu muffin kesukaanmu jadi kamu tidak mungkin memuntahkannya." Jawabku dengan menatapnya kesal.


Dia hanya tersenyum tanpa dosa.


"Aku bertemu dengannya di kamar hotelku. Dia menyelamatkanku dari Stevan yang ingin memperkosaku..."


"What? Stevan? Dia datang ke kamarmu dan ingin memperkosamu?" Tanya Wen dengan marah.


"Iya. Malam itu dia mendatangiku dan tiba-tiba mengatakan kalau dia menginginkanku.. Mungkin itu kesalahanku juga yang tanpa sengaja menciumnya saat mabuk di club. Jadi malam itu setelah aku bertemu denganmu di balkon saat acara penyambutan, aku mengajak dia pergi ke club. Aku mencoba saranmu untuk membuatnya mabuk agar aku bisa mendapatkan informasi tentang Revon. Tapi.. Aku malah mabuk dan menciumnya, aku kira dia adalah Revon. Namun aku salah. Setelah itu aku merasa tidak percaya dengan apa yang sudah aku lakukan, aku marah pada diriku sendiri.. Aku pergi keluar club ditengah hujan deras."


"Oh my god! Rose, maafkan aku. Karena saran bodohku kamu jadi melalui hal ini.. That fucking bastard. Aku akan menendang selangkangannya nanti jika bertemu dengannya." Ujar Wen dengan marah.


"Wen. Jangan lakukan itu. Dia bukan manusia. Entah dia mahluk apa, tapi yang aku tahu dia bisa mengontrol pikiran. Jadi jangan pernah dekati dia." Pintaku dengan serius.


"Okay okay. Lalu.. bagaimana kamu pulang malam itu?"


"Aku bertemu Alex. Dia seseorang yang aku kenal beberapa tahun lalu. Dia sedang lewat dan melihatku berjalan sendirian di tengah hujan. Karena tidak tega, dia menghampiriku yang sudah mau pingsan. Paginya aku terbangun di rumahnya. Tapi dia tidak melakukan hal-hal aneh padaku, dan aku percaya hal itu karena bukti-bukti yang dia berikan. Setelah itu aku memintanya mengantarku kembali ke hotel. Ah ya, Stevan datang di malam setelah aku pulang dari rumah Alex ini." Jelasku.


"Kamu sepertinya punya banyak lelaki tampan di sekitarmu. Ceritakan, bagaimana lelaki yang bernama Alex ini?" Tanyanya dengan antusias.


"Dia terlihat baik dan... ramah." Jawabku dengan berpikir sejenak.


"Bukan itu yang aku tanyakan. Bagaimana penampilannya?"


"Hey! ingat kamu sudah punya suami."


"Oh, ayolah Rose. Beritahu aku." Ujar Wen dengan tatapan memohon


"No!"


"Aku akan mentraktirmu chocolate mousse." Bujuknya.


"No!"


"2 chocolate mousse"


"Okay, i'll tell you." Jawabku dengan tersenyum lebar.


"Dia lelaki berkulit sawo matang dengan tubuh yang kekar. Iris matanya coklat dan bertato. Kira-kira seperti itu." Ujarku dengan mengangkat kedua bahuku.


Dia hanya tersenyum seperti orang bodoh.


"Hanya membayangkannya saja membuatku berdebar-debar. Okay, aku akan pesan chocolate mousse untukmu. Kamu ingin memakan dua-duanya sekaligus?" Tanya Wen.


"Aku akan memakannya satu disini. Satunya dibungkus saja nanti."


"Alright." Setelah itu dia memanggil pelayan dan memesan chocolate mousse juga ice mocca latte.


"Hampir saja aku lupa. Jadi... Bagaimana Revon? Berapa size dia? Apa dia hebat di ranjang?" Ujar Wen dengan suara pelan.


Damn!


Seketika seluruh tubuhku merasakan gelenyar aneh mengingat aktivitas kami siang ini di elevator. Pipiku terasa memanas.


"Ah, pipimu memerah seketika. Aku tebak, kamu sedang memikirkannya sekarang" Godanya dengan tertawa keras.


"Tidak."


"Benarkah? Aku bisa melihat kamu mulai gelisah, Rose. Btw, kamu belum menjawab pertanyaanku."


Dia seksi, pintar, manis, dan romantis. Dia memiliki size yang large. Dan satu lagi, dia sangat ahli di ranjang dan dimanapun yang dia inginkan. Teriak alam bawah sadarku.


Tapi, aku tidak bisa mengatakan semua itu.


"He's ... great." Ujarku lalu meminum jus jerukku.


"Really? Itu belum menjawab semua pertanyaanku tadi." Jawab Wen dengan tatapan tidak percaya.


Tiba-tiba pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Lalu terdengar bunyi ponselku yang menandakan adanya panggilan.


Aku melihat nama pemanggilnya yang tidak lain adalah My Sweety Honey.


"Hallo, bae." Suara Revon yang membuatku tersenyum senang.


"Hallo, honey." Jawabku. Aku melihat Wen yang menatapku penuh arti.


"Apa kamu sudah bertemu Wen?"


"Sudah. Ini aku sedang makan bersamanya."


"Masih di cafe tadi, kan?"


"Yes! Apa kamu mau aku bawakan sesuatu nanti?"


"Tidak perlu. Aku akan memesannya sendiri nanti." Jawabnya. Samar-samar terdengar suara Jade yang berbicara.


"Maksudmu, kamu akan datang kesini?"


"Yeah. Aku tidak bisa lama-lama jauh darimu, bae." Jawabnya dengan nada menggoda.


"Hmm. Hmm."


"Hanya hmm? Kamu sangat menyakiti hatiku, bae." Ujarnya dengan nada sedih yang dibuat-buat.


Aku menahan tawaku dan melirik Wen yang masih setia menatapku. Kali ini dia juga menahan tawa.


"Berhenti menggodaku dan cepat datang. Aku sedang memakan chocolate mousse sekarang, jadi jangan menggangguku makan." Ujarku lalu menyuapkan sesendok chocolate mousse ke dalam mulutku.


"Okay okay. Aku sudah hampir sampai. See you soon, bae." Ujar Revon lalu mengakhiri panggilan.


"Dia akan kesini, kan?" Ujar Wen tiba-tiba.


"Hmm yeah. Setelah ini kamu akan kemana?"


"Ini sudah sore. Jadi aku akan pulang saja."


"Biar aku antar. Aku akan bilang ke Revon."


"Tidak usah, Rose. Aku membawa mobil tadi." Jawab Wen dengan tersenyum.


"Ah, i see. Bagaimana keadaan suami dan anak kamu? Maaf, Aku sampai lupa bertanya."


"Ampun, kamu tidak perlu meminta maaf. Aku sudah merasa senang bisa bertemu lagi denganmu. Keluargaku semuanya sehat. Rose, aku senang melihatmu bisa bertemu dengan lelaki yang kamu cintai dan mencintaimu kembali dengan sepenuh hati. Aku bisa melihat kalau Revon adalah lelaki yang baik dan tulus mencintaimu. Aku harap kalian akan secepatnya menikah."


Tanpa sadar aku tersenyum sambil meneteskan air mata.


"Yeah. Aku sangat beruntung mendapatkan lelaki sepertinya. Aku juga beruntung mendapatkan sahabat sepertimu.. Ah Wen, kamu membuat terharu. Semoga aku bisa menyusulmu nanti yaa.." Ujarku dengan menangis.


"Hey! jangan menangis. Nanti Pak CEO bisa membunuhku karena membuatmu menangis." Ujar Wen dengan nada humornya.


Aku pun tertawa mendengarnya.


Cklek.


Suara pintu cafe terbuka. Dan disana aku melihat Revon berjalan kearahku dengan langkah panjangnya.


Aku segera mengusap air mataku dengan tisu. Tapi sepertinya dia sudah melihatnya karena alisnya terlihat berkerut tidak suka.


Apa dia akan marah?