My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 80 - What the hell?



Sejak pagi buta, beberapa pelayan sudah membangunkan Rose dari tidurnya. Dia mencari keberadaan Revon disampingnya, namun Revon sudah tidak ada. Hanya ada sisi tempat tidur Revon yang kosong di sana.


"Nona, kami akan mempersiapkan air untuk nona mandi," ucap pelayan wanita yang terlihat sangat muda.


Rose hanya tersenyum ramah menanggapi pelayan itu. Sambil menunggu pelayan itu kembali, Rose berniat mencari ponselnya. Tanpa disangka, ponsel miliknya sudah ada di atas laci dengan secarik kertas disana.


Tidak sabar untuk bertemu denganmu, Bae. Jangan lupakan sarapanmu.


Soon, Mrs. Dent. ♥️


Rose bisa merasakan pipinya merona membaca note dari Revon. Senyumannya seakan tidak ingin pergi. Hatinya sangat senang walaupun rasa gugup masih ada, dia berusaha untuk tetap tenang agar semua acara hari ini menjadi lancar tanpa ada hambatan.


"Nona, silahkan," ajak pelayan muda itu. Rose pun beranjak dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi. 


Aroma lavender memenuhi seluruh kamar mandi. Senyuman mengembang di bibir Rose. Dari kejauhan, uap air bermunculan dari dalam bathtub. Rose mulai menanggalkan gaun tidurnya lalu masuk ke dalam bathtub dengan perlahan.


"Nona, saya akan menyiapkan makanan untuk anda. Robert tadi memberitahu saya jika 10 menit lagi akan ada beberapa orang yang datang merias anda," jelas pelayan dengan sopan.


Rose mengangguk dan tersenyum. "Aku akan mempercepat mandiku."


Setelah mendengar itu pelayan pergi meninggalkan Rose untuk menyiapkan makanan. Beberapa menit kemudian, Rose menyelesaikan ritual mandinya. Namun dia terkejut melihat seseorang masuk ke kamarnya dengan terburu-buru. 


"Rose!" panggil Wen dengan suara yang sangat keras.


"Jeez, Wen. Tidak bisakah kamu pelan sedikit? Kamu ingin membuatku mati di hari pernikahanku, huh?" kesal Rose yang mencengkram erat handuk yang melilit tubuhnya.


"Sorry, aku terlalu semangat untuk menjadi bridesmaidmu. Ah ya, kamu tidak perlu khawatir. Aku dan suamiku akan mendampingimu nanti di detik-detik menuju altar. Orang tuamu pasti senang jika mereka masih hidup. Sebentar lagi … kamu akan menikah. Kamu tidak akan sendiri lagi. Atau mungkin nanti kamu tidak memerlukanku lagi," terang Wen lembut. 


"Kamu selalu ada untukku. Aku … tidak akan melupakanmu. Kamu sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri. Wen, kamu membuatku ingin menangis … Oh God!" lirih Rose dengan mata yang berkaca-kaca.


Wen tersenyum dan mendekati Rose. Wen memeluk tubuh Rose lalu tanpa sadar air matanya pun jatuh. "Kamu tidak boleh menangis. Kamu tidak mau kan kedua matamu terlihat bengkak saat acara pernikahan nanti? Apalagi saat di depan Revon."


"Ini salahmu, My Step Mother."


"Hey! Aku tidak pernah menikahi ayahmu. Aku wanita yang setia, okay? Suamiku bahkan sangat tampan, aku yakin kamu pasti akan sependapat denganku nanti saat kamu melihat dia."


"Kamu lupa? Kamu pernah melihat CEO kita dengan tatapan terpesona itu." tambah Rose.


"CEO kita? Maksudmu Revon? Aku hanya sekedar cuci mata. Lagipula sikap dia sangat dingin saat itu, bukan tipeku," elak Wen.


Tok. Tok. Tok.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. "Nona, bisa saya masuk?"


Rose yang mengenali suara pelayan itu segera menjawab. "Ah, iya. Masuk saja."


Cklek.


Pintu terbuka memperlihatkan pelayan muda itu membawa nampan. Tapi bukan hanya itu, di belakangnya terlihat wanita yang terasa familiar untuk Rose.


"Nona, silahkan sarapannya sudah siap. Nona Luca Smith yang akan merias anda juga sudah datang. Kalau begitu saya permisi, Nona." ucap pelayan itu lalu menghilang di balik pintu.


Rose masih menatap wanita yang berdiri di dekat pintu. Sekarang dia tahu siapa wanita itu. Amarah Rose terasa mendidih melihat wanita yang sangat tidak dia sukai itu. "Kenapa kamu kesini?!"


Wanita yang Rose ajak bicara itu pun berjalan mendekat. Senyuman di bibirnya menjadi pemandangan paling mengesalkan bagi Rose.


"Kamu sudah dengar tujuan aku kesini. Aku hanya menuruti permintaan Revon," terang Luca.


Wen yang tidak tahu mengenai permasalahan Rose dan Luca merasa bingung. 


"Rose, ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat tidak suka dengannya?" bisik Wen kepada Rose.


"Aku akan menjelaskan padamu nanti. Sebentar, aku harus menghubungi Revon," balas Rose lalu pergi ke kamar mandi membawa ponsel di tangannya.


Setelah menutup pintu kamar mandi, Rose segera menghubungi nomor ponsel Revon. Rose menunggu cukup lama hingga Revon mengangkat panggilan darinya.


"Ada apa, Bae? Apa terjadi sesuatu?" tanya Revon dengan cemas.


"Kenapa Luca yang datang ke rumah? Aku tidak mau dia yang meriasku," kesal Rose.


"Bae, jangan khawatir–"


"Bagaimana aku tidak khawatir? Dia jelas-jelas suka denganmu. Bagaimana kalau dia ingin merusak wajahku atau menyabotase pernikahan kita?" 


"Tenang, Bae. Dia tidak akan berani melakukan hal itu. Sekarang kamu duduk dengan tenang dan biarkan dia meriasmu. Luca memiliki kemampuan merias terbaik di kota ini–"


"Kamu baru saja memujinya, huh? Yang benar saja. Dengar, aku tidak akan mau dekat-dekat dengannya apalagi membiarkannya merias wajahku. Bye!" geram Rose lalu mematikan panggilan secara sepihak.


Rose keluar dari kamar mandi lalu mengusir Luca. "Aku tidak membutuhkanmu disini. Jadi, pergi dari rumahku. Sekarang!" 


"Rose, tenang," ucap Wen berusaha menenangkan Rose.


"Sorry. Tapi aku tidak akan pergi, Revon yang memintaku datang. Aku akan pergi jika Revon yang memintaku pergi," tolak Luca.


"Keluar, Luca!" murka Rose, meraih bathrobe untuk menutupi tubuhnya. Dia siap untuk menyeret Luca keluar.


Rose menarik tangan Luca dengan kasar. Wen yang melihat Rose, tidak menyangka jika dia bisa semarah ini. Wen pun membantu Rose, dia mengambil kotak make up milik Luca yang tertinggal. 


Tepat saat membuka pintu kamar, ternyata Revon sudah ada depan kamar dengan kemeja putih yang terlihat kusut. "Rose, kita perlu bicara sebentar."


"Tidak ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Kamu bicara saja dengan dia. Wen, berikan kotak itu. Ayo kita masuk ke kamar lagi," ketus Rose kepada Revon.


"Rose …. "


Pintu kamar tertutup dengan kencang. Revon mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Luca yang masih berdiri di sampingnya. "Pergi."


"Pergi? Aku bahkan belum melakukan apapun?" tolak Luca.


"Pergi! Jangan membuatku mengatakannya untuk yang ketiga kali."


"Oke, fine!" Luca pun pergi dari rumah.


Dia merasa senang dengan adanya permasalahan antara Rose dan Revon.


"Lihat saja, kalian tidak akan jadi menikah."


•••


"Rose, aku sudah mengusir Luca. Buka pintunya Rose," ucap Revon.


Namun tidak ada sahutan dari Rose. Pintu pun masih terkunci dari dalam. Revon melihat jam tangannya, waktu sudah semakin siang. "Rose, jangan seperti ini. I'm sorry, okay? Aku tidak akan menghubungi Luca lagi. Sekarang, buka pintunya. Kamu ingat pernikahan kita sebentar lagi, kan–"


Cklek.


Tiba-tiba pintu terbuka dan Rose keluar kamar dengan riasan yang lengkap, natural dan elegan. Tidak lupa juga, gaun pengantin sudah melekat di tubuh rampingnya. Tapi, Rose masih terlihat kesal dan tidak menghiraukan Revon. 


"Bae, I'm sorry," ucap Revon mengikuti Rose di sampingnya.


Rose tidak menjawab. Dia mulai melangkah menuruni tangga. Dengan gaun yang dia pakai, cukup susah untuk melangkahkan kaki menuruni tangga. Baru beberapa langkah, dia hampir saja terpeleset. Membuat Wen panik seketika.


Beruntung Revon secara refleks meraih pinggang Rose. Karena tidak ingin terjadi apa-apa dengan Rose, Revon pun menggendong Rose. "Turunkan aku!"


Rose tampak memberontak, Revon yang merasa gemas pun semakin mendekatkan tubuh Rose dengan tubuhnya. Hal itu membuat wajah Rose sangat dekat dengan wajah Revon. 


Setelah beberapa saat, mereka sampai di mobil masing-masing. Wen di mobilnya bersama sang suami. Sementara Rose dan Revon di mobil lain dengan Robert yang berada di kursi kemudi.


"Jalan, Robert." 


"Baik, Boss."


Rose masih saja terlihat kesal. Dia duduk berjauhan dengan Revon dan selalu menatap ke luar jendela.


"I'm so sorry ... Bae, ini hari pernikahan kita–"


"Ya, hari pernikahan kita. Tapi kamu malah membawa wanita lain, aku benar-benar tidak habis pikir," sela Rose.


"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Luca. Aku hanya ingin memberikan semua yang terbaik untukmu. Hanya itu," terang Revon.


"Revon, semua yang berhubungan dengan wanita itu tidak ada yang aku anggap baik! Kamu tahu? Dia tersenyum sejak masuk ke dalam kamarku. Aku tidak bodoh, aku tahu arti senyuman itu," murka Rose.


Revon menghembuskan nafas kasar lalu mendekati Rose. "Baiklah. Aku memang salah. Maafkan aku, aku tidak memikirkan bagaimana perasaanmu saat bertemu Luca tadi. Aku minta maaf. Kamu mau memaafkanku, kan?"


Revon menggenggam tangan Rose. Rasa panik menyelimuti hati Revon. Dia tidak akan bisa menerima penolakan dari Rose apalagi di menit-menit menuju pernikahan. "Bae, lihat aku. Aku janji, aku tidak akan melakukan hal seperti ini lagi. Aku akan lebih memperhatikan perasaanmu lagi."


Rose masih terdiam. Namun dirinya tidak bisa untuk tidak memaafkannya. Apalagi, sebentar lagi dia akan sepenuhnya memiliki lelaki itu. Sebentar lagi, dirinya akan menikah. Pernikahan yang sangat dia impikan.


"Kamu janji tidak akan berhubungan lagi dengan Luca? Tidak peduli hubungan bisnis atau apapun," tanya Rose.


"Ya, aku janji. Kalau perlu, aku akan memindahkan butiknya ke negara lain–"


"Jangan! Kamu tidak perlu melakukan itu. Aku tidak ingin merusak karir atau bisnis siapapun."


Tiba-tiba Robert menghentikan mobil di halaman hotel megah bergaya victorian. Halaman luas itu dipenuhi padang rumput hijau yang segar. Di depan hotel terdapat hiasan bunga mawar merah dan sebuah tulisan tertera di plang berbentuk persegi panjang.


...Revonelle Dent & Roseline Mint...


...Wedding Ceremony...


...Last and Forever...


"Boss," panggil Robert. 


"Ada beberapa wartawan yang sudah datang," tambah Robert.


Rose melihat di area depan hotel terdapat beberapa wartawan yang bersiap untuk meliput. Rose memikirkan bagaimana jika wartawan itu tau bahwa Revon ada di mobil bersamanya. Apalagi Revon masih belum memakai setelan jasnya.


"Rose, Wen akan menemanimu masuk ke dalam," jelas Revon singkat.


Saat Revon ingin keluar dari mobil dari pintu lain, Rose menarik tangan Revon. "Tunggu! Apa mereka tidak akan melihatmu? Bagaimana kalau ternyata mereka tahu kalau kamu baru datang bersamaku? Dengan pakaianmu yang seperti …." Rose menunjuk kemeja Revon yang terlihat kusut.


"Jadi, kamu sudah tidak marah lagi?" goda Revon sambil tersenyum.


"Kamu mau aku marah lagi?!"


"Tidak! Jangan! Maksudku jangan marah lagi. Aku harus pergi. Love you, Bae." Revon keluar dari mobil dengan mengendap-endap. Lalu berlari kencang ke arah belakang hotel setelah memastikan wartawan tidak melihatnya.


Selang beberapa menit, Wen masuk ke dalam mobil menemui Rose. "Ready?"


"Kenapa aku merasa gugup sekarang?" desah Rose.


"Tarik nafas, keluarkan. Ini hari bahagiamu. Ayo kita temui CEO tampan nan brengsek yang baru saja membuatmu kesal!" teriak Wen seperti sedang menyemangati temannya yang akan presentasi ke atasan. Heboh.


"Sstt! Wen! Kamu bisa menarik perhatian wartawan itu kesini," ucap Rose.


Namun terlambat, semua wartawan itu mendengar teriakan heboh Wen dan segera mendekati mobil Rose.