
Sejak pagi Rose merasakan kegembiraan luar biasa. Bagaimana tidak? Revon selalu memanjakannya, lelaki itu beberapa kali membuatkan makanan untuknya, menyuapinya hingga memijat tubuhnya. Walaupun Revon selalu mengajaknya berolahraga di atas ranjang hampir setiap hari. Tapi itu cukup sepadan bagi Rose.
Karena Revon mendapat kabar penting dari perusahaan yang mengharuskannya pergi, Rose merasa kesepian. Akhirnya Rose terpikirkan ide. Wanita itu mencoba mengajak seseorang untuk pergi jalan-jalan keluar. Orang pertama yang dia ajak adalah Wen. Tapi, Wen sedang ada pemotretan model di salah satu studio.
"Aku baru bisa menemanimu saat sore nanti," ungkap Wen.
"Tapi, aku ingin pergi sekarang. Ya sudahlah, kamu lanjut bekerja saja," kesal Rose. Wanita itu memutuskan panggilan secara sepihak.
Pilihan selanjutnya adalah Erica. Dering pertama Erica belum menerima panggilannya. Dering kedua masih tidak ada jawaban. Hingga dering ketiga. "Rose, maaf aku tidak tahu kamu memanggil."
"Jeez, untung saja kamu mengangkat tepat di dering ketiga. Jadi begini, aku ingin mengajakmu pergi keluar. Sekedar jalan-jalan atau shopping. Bagaimana?"
"Oh, Rose. Tapi hari ini aku harus pergi bekerja sebentar lagi. Aku akan menggantikan shift temanku. Apa kamu sudah coba mengajak Teresa?"
"Hmm … belum. Aku baru menelpon kamu dan satu temanku lagi. Tapi, aku akan mencoba mengajak Teresa," tutur Rose.
"Baiklah. Aku harus pergi sekarang. Bye-bye." Erica memutus panggilannya.
Rose mulai merasa kesal karena percobaan ajakan dia dua kali ditolak. Rose tidak yakin apakah akan mengajak Teresa juga. Tapi, dia ingin sekali pergi keluar. Rose pun memutuskan untuk memanggil Teresa.
Tuuutt.
"Halo, Rose!" sapa Teresa.
"Halo, Teresa. Apa kamu sibuk?"
"Tidak-tidak, ada apa?"
Kenapa dia tampak sangat antusias? Pikir Rose.
"Aku ingin mengajakmu pergi keluar. Karena Revon sedang bekerja, jadi aku sangat bosan sekarang."
Teresa terdiam sesaat. "Ah, tentu. Aku juga sedang luang sekarang. Jadi, pukul berapa kita akan pergi?"
"Aku akan bersiap dan menjemputmu tepat pukul 10. Bagaimana?"
"Okay. Aku akan mengirimkan alamat rumahku melalui pesan. Ah, aku benar-benar tidak sabar."
"Hmm … sudah dulu ya, sampai ketemu nanti."
"Sampai ketemu nanti," balas Teresa.
Panggilan pun dimatikan. Kini, Rose harus meminta izin kepada Revon. Rose mencoba menghubungi ponsel Revon.
Tuuttt
"Bae," sapa Revon.
"Honey, sementara kamu di kantor. Aku ingin pergi keluar untuk jalan-jalan dengan seseorang."
"Dengan siapa? Tunggu, aku akan meminta Robert menemanimu."
"Tidak. Tidak usah. Aku sudah mengajak Teresa. Dan aku akan mengajak beberapa orangmu disini. Bagaimana? Boleh?"
Revon tampak terdiam selama beberapa detik, membuat Rose kembali bersuara. "Honey? Apa kamu mendengarku?"
"Kenapa kamu tidak mengajak Wen atau Erica saja?"
Rose menghembuskan nafas kasar. "Aku sudah mencobanya. Mereka sedang sibuk. Kamu juga sibuk. Hanya Teresa yang sedang luang."
"My Rose, apa kamu merajuk?" goda Revon.
"Tidak. Jadi bagaimana? Aku boleh pergi, kan?" ketus Rose.
Revon terkekeh mendengar nada ketus Rose. "Bae, kamu tahu? Mendengarmu merajuk membuatku ingin segera memakanmu."
"Revon!"
"Okay. Kamu boleh pergi, tapi kembali ke rumah sore nanti."
Rose tersenyum. "Love you, Honey!"
"Kabari aku setiap saat. Jangan matikan ponselmu," tegas Revon.
"Iya, aku akan selalu mengabarimu. Aku harus siap-siap sekarang."
"Take care, Bae. Love you," balas Revon sebelum memutuskan panggilan.
•••
Di suatu restoran seafood, Rose dan Teresa tampak menikmati makan siangnya. Berbagai olahan laut tersedia di meja.
"Kamu harus coba yang ini. Ini enak!" ucap Rose kepada Teresa. Rose memberikan olahan kerang dengan saus yang terlihat menggiurkan.
Teresa tersenyum sambil mencoba makanannya. Setelah menyelesaikan makan siangnya, mereka berencana untuk pergi ke pusat perbelanjaan tidak jauh dari restoran.
Selama beberapa jam Rose dan Teresa berkelana dari satu toko ke toko lain. Masing-masing tangan mereka telah menenteng beberapa paper bag.
Rose sempat memotret beberapa kali hanya untuk mengirimkannya kepada Revon. Lalu saat melihat jam di layar ponselnya yang menunjukkan sore hari, Rose pun mengajak Teresa pulang.
"Kamu sudah selesai belanjanya?" tanya Rose.
"Ah ya, sepertinya sudah. Kenapa? Revon sudah mencarimu, ya?" goda Teresa.
Rose tersenyum. "Hmm ya … dia memintaku pulang saat sore."
"Kenapa terburu-buru? Kita jarang bertemu berdua seperti ini. Sebelum kamu pulang, kita minum teh dulu di rumahku."
"Hanya sebentar, aku tidak bisa lama-lama."
"Tentu. Aku punya teh yang enak. Kamu pasti suka." Teresa tersenyum sambil menarik tangan Rose pergi dari pusat perbelanjaan.
•••
Sesampainya di rumah, Teresa mengajak Rose masuk kedalam rumahnya. Disana supir dan orang yang bertugas menjaga Rose diminta Teresa untuk pulang, karena dia sendiri yang nanti akan mengantar Rose pulang. Awalnya mereka tidak ingin pergi, tapi Teresa terus meyakinkan mereka hingga mereka pun menuruti permintaannya.
Teresa kembali masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, Rose sedang melihat beberapa foto Teresa bersama orangtuanya.
"Itu foto sebelum mereka bercerai. Aku ikut tinggal bersama ayahku," jelas Teresa.
"Lalu, apa kamu masih sering berkomunikasi dengan mereka?"
"Ibuku sudah menikahi orang lain. Lalu ayahku suka berpergian, dan kembali dengan wanita baru."
"Wanita baru?"
Teresa tersenyum miris. "Aku lebih suka menyebutnya ****** baru. Karena mereka selalu berganti-ganti setiap minggu."
Rose merasa tidak enak telah membahas hal seperti ini. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kamu bilang ingin membuatkanku teh yang enak. Aku penasaran, apakah itu seenak yang kamu katakan?" ucap Rose.
"Ah, kamu tunggu disini. Aku akan membuatkannya khusus untukmu," balas Teresa. Dia lalu pergi menuju dapur.
Sambil menunggu Teresa, Rose pun bermain ponsel miliknya. Rose berniat untuk mengabari Revon jika dia sedang berkunjung ke rumah Teresa.
Tapi, aku hanya berkunjung sebentar. Kurasa tidak perlu memberi kabar kepadanya. Pikir Rose.
Tidak lama kemudian, Teresa datang membawa nampan berisi teh dan kue. Tapi, Teresa juga membawa sesuatu di tangannya.
"Maaf membuatmu menunggu," sesal Teresa.
"Tidak apa. Apa yang kamu bawa?"
"Ah, ini? Aku berpikir untuk menunjukkan kepadamu beberapa fotoku. Sambil meminum teh dan memakan kue."
Rose merasa tertarik dengan album foto milik Teresa. Mungkin karena Rose tidak memiliki banyak kenangan bersama orangtuanya, dia berpikir untuk melihat kenangan milik Teresa bersama orangtuanya.
Teresa memberikan teh hangat itu kepada Rose. Rose segera menyesap teh hangat yang memiliki aroma harum itu.
"Hmm … ini enak sekali," ungkap Rose.
Teresa tersenyum lebar melihat Rose yang sangat menyukai tehnya. Sambil menyesap teh, Teresa membuka album fotonya dan sedikit menceritakan hal dibalik foto itu.
Hingga Rose menangkap figure seseorang yang sangat membekas di ingatannya berada di satu foto bersama Teresa. Lalu, tidak hanya itu. Rose juga melihat Teresa bersama seseorang itu di beberapa foto lain, bahkan terlihat memiliki hubungan dekat antara satu sama lain.
Pyar.
Rose menjatuhkan gelas teh yang ada di tangannya. Wanita itu merasa seluruh tubuhnya lemas.
"Kamu pasti mengenal dia, kan? Ah, aku sangat merindukan dia. Andai saja kekasihmu, oh bukan … maksudku suamimu itu tidak membunuhnya. Aku pasti sudah menikah dengannya saat ini," tutur Teresa.
Rose benar-benar tidak menduga hal seperti ini. "Tidak …."